
"Apa? berarti dia sudah membuat mu lupa diri ya. Itu tidak baik untuk pendapatan ku. Kalian harus buat perempuan itu menjauh, Richo!" perintah Mami Deby.
"Jangan, Mi. Tolong jangan lakukan apa pun pada nya." Arkan mendekat dan memeluk kaki Mami Deby.
"Hem?" Mami Deby berpikir kemudian melanjutkan ucapannya. "Oke, perempuan itu akan aman. Asal kau melakukan pekerjaan mu sebaik mungkin," tutur Mami Deby.
Terpaksa Arkan mengangguk, keselamatan Dara lebih penting dari segalanya.
Malam itu Club di penuhi oleh kedatangan pengunjung lagi. Semua itu mereka lakukan karena rasa rindu mereka pada Arkan.
Arkan masih mematut diri di depan cermin, Ia merindukan Dara. Tapi Ia tak tahu cara menghubungi Dara untuk memastikan istrinya baik-baik saja.
Maafkan aku, Dara. Aku tak dapat memenuhi janji. Aku harus masuk lagi ke neraka ini. Semoga kau baik-baik saja ya...
"Arkan, ayo. Mereka sudah mengantri!" teriak Richo dari pintu luar.
"Iya, sebentar."
Kaki itu mengayun ke tempat utama bagian Club' itu. Semua perempuan sudah menunggu kehadiran dirinya.
"Nah itu, dia. Arjuna nya!"
"Arkan, kamu kemana saja sih? kita kangen tauk?"
Para perempuan itu berseru.
Arkan mengembang kan senyum. Kemudian menarik seorang wanita yang berdiri paling depan dan langsung mencium pipinya.
"Kau cantik malam ini!" pujinya.
"Wah, aku mau dong. Masak dia saja," protes salah seorang lainnya.
__ADS_1
Arkan melambaikan tangannya meminta gadis itu kesamping nya. Tentu gadis itu tak akan menunda dekat dengan Arkan.
Arkan memberikan lagi kecupan terbaiknya.
"Ayo kita main!" ajak keduanya yamg kini dalam dekapannya.
Arkan mengiyakan dan membawa mereka kekamar.
"Kita main bertiga ya, ini pasti lebih seru," tawar perempuan berambut ikal.
"Oke, tu. Aku juga mau," jawab yang satunya.
Arkan tak menjawab dan hanya melucuti pakaiannya. Meski badan nya disini tapi jiwanya jauh melayang memikirkan keadaan istrinya.
Keduanya berebut memegang kejantanan Arkan dan bergantian memainkannya kedalam mulut mereka.
"Aduh, ini ma Jantan bener," puji si Ikal. Siapa tak bergetar dan terperdaya melihat pejantan semenantang itu berdiri tegak.
"Aduh, enak bener dah ini," Seru wanita lainnya.
Arkan memijat gunung mereka. Iya, dia harus adil juga memainkan milik kedua perempuan itu.
"Ahk.. ini enak," ucap mereka lagi begidik nikmat.
Arkan memuaskan mereka sampai mereka lemah dan meminta menyudahi itu.
Keduanya membayar Arkan dua kali lipat dari harga yang ditetapkan.
"Makasih, Kumbang. Kami akan datang lagi nanti," ucap mereka berpamitan.
"Oke, aku tunggu. Emz.. boleh pinjam ponsel?" Arkan nekat meminta bantuan.
__ADS_1
Kedua nya saling pandang.
"O iya, Boleh. Pakai saja," jawab yang berambut ikal. Mengeluarkan ponselnya dari tas mini dipundak nya.
"Terima kasih."
Arkan menelpon Dara. Nomor ponsel nya yang ia ingat betul angkanya.
Dara baru saja turun dari kereta api. Ia menghampiri keberadaan motor gede Arkan.
Dara menghentikan langkahnya menerima siapa yang memanggil nya jam lima subuh.
"Halo!" sapanya.
"Apa kabarmu?" Arkan tak mungkin menyebutkan nama.
"Ini Arkan?" tanya Dara girang.
"Iya, apa kau baik-baik saja?"
"Aku baru saja turun dari Bis dan hendak mengambil motormu di post satpam," jawab Dara.
"Kau jual saja jika butuh uang," kata Arkan.
"Jangan pikirkan aku, kerjakan saja tugas mu."
Dara mematikan ponselnya sepihak.
"Da_?" Arkan yang hendak memanggil wanitanya urung. Kedua gadis itu terus memperhatikan kesibukannya.
"Terima Kasih." Arkan menyerahkan ponsel mereka.
__ADS_1