
Bu Irma yang menerima hasil tes DNA di hari yang sama tercengang. Ternyata benar adanya jika Arkan adalah putra kandungnya yang hilang.
Rachel yang memasuki kamar Sang Bunda juga tak sengaja masuk tanpa izin. Ia penasaran akan surat yang di baca oleh Bunda Irma.
"Apa, Ma. I_ itu Kak Arkan si penerima bayaran. Jadi dia adalah Kakak Rachel?"
"Apa? Arkan, Arkan siapa? A_ anak kamu dari mana, Bun?" sahut Sang Ayah yang juga baru masuk.
Ayah Restu merebut surat itu dari tangan Bunda Irma, tapi Ia tidak kaget.
Ayah Restu sudah tahu kalau Bunda Irma sudah pernah menikah dan memiliki seorang putra. Ayah Restu juga membawa Radit saat pernikahan mereka.
"Hiks.. Maaf, Yah. Tolong bantu saya, Yah. Jangan biarkan Arkan berada di tempat itu. Semua yang dia lakukan semata-mata hanya untuk hidup. Ini salah Bunda, Yah. Aku telah gagal menjadi Ibu."
Bunda Irma berlutut di kaki Restu mengharap belas kasihan.
"Sudah, Bun. Jangan begini, aku akan menyelamatkan anak kita demi kamu." Ayah Restu mengangkat Bunda Irma dan memeluknya.
Rachel tersenyum getir, siapa sangka orang yang sudah Ia goda dan cintai selama ini adalah saudara nya sendiri. Untunglah karena kebaikan Arkan mereka tak sampai melakukan hubungan terlarang.
"Jadi, Arkan adalah saudara tiri ku," gumam Radit yang menguping dari balik pintu.
Ayah Restu, Bunda Irma dan Rachel pergi ke Club mami Deby. Sayangnya, Arkan sudah tidak disana. Mami Deby sudah memberi tahukan perihal kesehatan Arkan.
"Ya Allah, Yah. Betapa malang nasib anak itu. Dia tinggal di mana sekarang?" Bunda Irma di bawa Ayah Restu masuk kemobil tak sengaja Raka melihat Rachel.
"Hel, tumben kemari? cari siapa?" tanya Raka.
"Bang Raka, Ini Bang. Kami sedang mencari Kak Arkan, apa Abang tahu?" tanya Rachel balik.
__ADS_1
"Iya, Nak. Dia adalah putra Tante," sahut Bu Irma berterus terang.
"Oh, jadi_?" Raka berbinar mendengar kabar itu.
"Ada ponsel?" tanya Raka lagi.
"Raka menuliskan sebuah alamat tempat Arkan berada sekarang.
"Ini, Tante. Anda akan menemukannya disana?"
Di Kontrakan...
"Kan, aku punya kabar gembira?" kata Dara jujur.
"Apa, Sayang?" Tentu saja Arkan tak sabar mengetahuinya.
"Ha? kamu hamil, Sayang?"
Dara mengangguk bahagia, keduanya berpelukan. Arkan merasa sedih, Ia mengkhawarirkan hari esok tidak yakin masih tetap bisa bernafas.
"Dara..."
"Hem?"
Arkan menyerahkan selebaran di tangannya, Ia tak mau berbohong lagi dan ingin lebih baik lagi.
Dara justru tersenyum setelah membacanya, Ia sudah bisa menebak akan hal itu.
"Ini salahku, Arkan. Akulah penyebab kau sampai tertular," terang Dara.
__ADS_1
"Maksud mu?"
"Raymond yang membuat aku seperti ini di malam kedua aku menyewanya lewat temanku. Dia memperk*sa aku. Sejak itu aku sering sakit-sakitan," Ulas Dara.
Arkan mengangguk paham.
"Aku tak menyalahkan kamu, Dara. Takdir yang sudah membawa kita pada kenyataan ini." Arkan mengusap-usap pucuk kepala Dara dengan tulus. "Kita pasti bisa lewati sama-sama."
Dara menyungging senyum.
Baru saja Arkan hendak melabuhkan ciuman di bibir Dara. Hentakan pintu mengagetkan mereka.
"Bawa Nona, Dara!" perintah seseorang.
"Hey, siapa kalian?" Arkan tidak suka akan sikap mereka.
"Kami utusan Tuan Raymond, hari ini juga Anda harus menikah dengan Tuan kami."
"Tidak bisa, dia sudah menjadi istriku," cegah Arkan.
"Serang pemuda itu!" perintah si ketua pada anak buahnya.
Bag! Bug! Bag! Bug!
Pertikaian sengit terjadi. Kondisi Arkan yang masih lemah membuatnya tergeletak tak berdaya.
"Arkan! Arkan kamu baik-baik saja?" Dara berlari dan memeluk erat-erat tubuh Arkan tapi Dara di tarik paksa oleh anak buah Raymond.
"Tidak, lepasin! Aku gak mau pergi!" Dara memberontak tapi Ia kalah kuat.
__ADS_1