
Temen-teman Radit tertawa.
"Masak gitu aja gak tahu sih, Bro. Partner ranjang cewek-cewek jablay dong."
Hati Radit memanas mengetahui itu, Mana mungkin Ia membiarkan Rachel bergaul dengan pria seperti Arkan.
Rupanya wajahnya saja yang polos ternyata lelaki itu liar...
Radit meraih benda pipih di sakunya dan mengambil foto Arkan sebagai bukti untuk adiknya Rachel
"Ayo kita pergi, aku tidak menyukai tempat ini," tegas Radit.
"Aduh, payah lo, Bro. Kita nongkrong di kafe aja deh kalau gitu," tawar yang lainnya.
"Oke kalau itu aku setuju. Ini tempat maksiat risih rasanya kakiku menginjak tempat laknat ini," kecam Radit melangkah keluar diikuti ke tiga temanya.
Di sepertiga sore, Arkan dan Raka berkeliling mall. Mereka sedang berbelanja barang pribadi tak sengaja pula mereka bertemu Rachel dan Olivia yang juga sedang main-main kesana sepulang dari kampus.
"Walah, Hel. Itukan Arkan sama Raka ya," tutur Olivia dari arah yang tak jauh dari Arkan dan Raka.
"Gimana, Raka. Apa aku cocok pakai ini?" tanya Arkan meletakan sebuah baju kemeja di tubuhnya dan meminta penilaian Raka.
"Pas, Kan. Kamu pantes pakek apa aja karena kegantengan mu," puji Raka sedikit menarik baju itu agar melekat sempurna pada tubuh Arkan.
"Aku ambil ini ya, kamu ambil mana?" tanya Arkan.
"Itu dua," tunjuk Raka pada kaos dan jaket di atas gantungan baju.
Arkan yang sudah memilih beberapa potong baju menggaet milik Raka.
"Biar aku bayar," ucapnya.
Olivia berinisiatif menarik lengan Rachel dan menyapa mereka.
__ADS_1
"Hey, lagi belanja ya?" sapa Olivia.
Raka dan Arkan yang masih sibuk totalan berbalik.
"Hai, pucuk di cinta ulam pun tiba, jodoh ni bau-baunya," jawab Raka senang.
"Iya, Raka. Gak nyangka ketemu disini."
Rachel menunduk dan tak mau melihat Arkan, Ia masih kesal soal kemaren. Sepertinya Arkan tengah menghindari dirinya.
Arkan tersenyum, Ia sudah membaca perasaan Rachel.
Setelah urusan membayar selesai Arkan memberikan belanjaan itu pada Raka dan menarik lengan Rachel pergi.
"Pulang lah dengan Oliv biar Rachel aku yang antar," kata Arkan tanpa menoleh.
Rachel merasa bingung atas tindakan Arkan begitu pula Olivia dan Raka.
"Mereka kenapa?" tanya Olivia menyenggol lengan Raka.
"Aku tidak cari apa pun. Lebih baik kita pulang saja," kata Olivia.
"Oke, mari." Raka mempersilakan Olivia berjalan lebih dulu.
"Kak, tunggu. Kenapa Kakak menarik tangan ku?" protes Rachel lelah mengikuti irama cepat kaki Arkan.
Mereka masuk kedalam lift kelantai bawah karena enggan turun lewat tangga berjalan.
Berdua di dalam lift membuat keduanya bungkam. Sesekali Arkan melirik Rachel dan ingin jujur pada Rachel tentang dirinya.
Arkan tahu kalau Rachel suka dengan nya. Tapi Arkan bingung harus memulai semuanya dari mana.
Cup!
__ADS_1
Lancangnya Rachel memeluk Arkan dan mencium pipi Arkan.
"Aku mencintai mu, Kak. Bisakah kakak membalasnya," mohon Rachel. Ia menyembunyikan wajahnya di dada bidang Arkan.
Arkan meneguk liurnya, tak sampai hati jika Ia harus menyakiti gadis polos itu.
"Kak, Setiap malam Rachel tidak bisa tidur. Rachel selalu membayangkan wajah Kakak. Kurasa Rachel benar-benar jatuh cinta. Benarkah Kakak tidak punya rasa sama Rachel?" jujur Rachel ingin jawaban kali ini.
Arkan terpaksa melingkarkan tanganya di pundak Rachel. Ia tidak menyangka Rachel jatuh hati padanya dalam waktu singkat.
"Kak, ayo jawab," pinta Rachel seraya mendongak kewajah Arkan.
Arkan menatap lekat bola mata bening itu. Ia tidak tahu, Ia harus mengatakan apa. Sulit baginya mengungkap kebenaran nya bahwa Ia tidak mungkin jatuh cinta.
Pekerjaan nya tidak membiarkan Ia memilih seseorang yang spesial dan hanya boleh memilih siapa wanita yang berani memberinya uang yang banyak.
Klik!
Pintu lift terbuka.
Arkan dan Rachel keluar karena sudah ada orang lain yang akan masuk.
Arkan dan Rachel menyetop taksi di tepi jalan. Di dalam mobil pun sama mereka masih saling diam. Rachel tidak mau lagi bertanya.
Ia sadar diri, Mungkin Arkan sudah punya kekasih itu sebabnya Arkan menolak dirinya atau malah Arkan ingin Ia berjuang lebih dari itu.
Setibanya di sebuah rumah kosong, Rachel menyetop taksi. Ia mengajak Arkan masuk tanpa berkata.
Penuh pertanyaan janggal di benak Arkan tapi Arkan menurut.
Setelah masuk, Rachel menatap tajam wajah Arkan dan tiba-tiba hendak membuka bajunya di depan Arkan.
Arkan mengernyitkan dahi, Ia yang mengerti maksud Rachel segera mencegahnya.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan, Hel?" tanya Arkan.
"Aku ingin berkorban untuk mendapatkan cintaku, Kak. Aku ingin lakukan seperti wanita-wanita itu. Biar ku lakukan saja, asal Kakak mau mencintai aku," ucap Rachel setengah berputus asa.