Terjerat Cinta Sikumbang Malam

Terjerat Cinta Sikumbang Malam
Part_11 Bertemu Lagi


__ADS_3

"Em.. iyakah? Kuharap servis mu tidak mengecewakan nantinya," tutur wanita itu tersenyum liar.


Arkan balas menatap gadis itu jeli.


"Kau ingin menyewaku untuk apa, Nona?" tanya nya melihat kearah para wanita itu.


Wanita itu menyeringai lalu menarik kerah baju Arkan agar semakin mendekat kewajah nya.


"Nampaknya kau sedang khawatir ya?" wanita itu menebak keraguan di hati Arkan.


Arkan mengkerutkan dahi lalu terkekeh.


"Apa aku terlihat ketakutan? Kalian akan jatuh cinta dalam waktu singkat jika sudah mengenalku," ucap Arkan bangga dengan keperkasaannya.


Gadis berwajah sedikit bundar itu mengangguk mengerti.


"Kau sungguh luar biasa, Arkan. Bahkan aku sendiri ingin menjajal ketangguhan pisang raja milik mu. Tapi aku harus bersabar karena tidak malam ini," ucap wanita itu membuat wajah Arkan mendadak berubah heran.


"Apa maksudnya, Nona?" tanya Arkan bingung.


"Orang yang sedang menunggu mu sebenarnya bukanlah aku atau mereka semua tetapi orang lain," jelas Wanita itu.


"Wanita lain?"


"Ya, kau bahkan bukan pria satu-satu yang datang kesini. Lihatlah pintu berjajaran itu!" wanita itu menunjukkan kearah ruangan dalam. Ada beberapa pintu yang memang terlihat dari tempat mereka berdiri. "Semua pintu itu sudah ada penghuninya," desis wanita itu nakal. Wanita itu kemudian memberikan sebuah kunci kamar di tangan Arkan.


"Cari nomor yang tertera di sana. Seorang wanita sudah menunggu mu sejak lama," tutur wanita itu lagi sambil mendaratkan ciuman di pipi Arkan. Arkan meneguk salivanya tidak percaya ternyata wanita yang memakai gaun biru itu rupanya hanya perantara.


Arkan mulai mengayunkan kakinya memeriksa bagian mana kamar yang dimaksudkan. Hal yang tidak Arkan mengerti adalah perasaannya seolah tidak tenang. Jantung nya berdegup cepat. Seperti orang yang ingin menemui orang penting. Sesekali Arkan terpantik dengan suara-suara erangan di balik kamar yang di lalui nya.


Hal itu sudah lumrah Ia dengar di club' tempatnya bekerja namun kali ini berbeda. Ia berada di tempat asing tanpa tahu siapa wanita yang sedang menunggu kehadirannya.


"Enak, Mas. Enak, lanjut lagi!" sayup-sayup suara itu kembali Ia dengar namun berusaha keras Ia abaikan. Ia harus secepatnya menemukan kamar yang tertera di bandul kunci itu.


Tibalah Arkan di bagian ujung ruangan pintu terpencil. Benar, kamar itu adalah tempatnya.


Ceklek!


Arkan mendorong kenop pintu dan tidak melihat cahaya lampu sedikitpun ada disana. Arkan merasa bimbang. Ia was-was jika Ia sedang di jebak seseorang.


"Halo, ada orang?" teriaknya dalam langkah asa.


Klik!

__ADS_1


Lampu mendadak menyala. Menampakan sesosok peri cantik. Mengenakan piyama tipis tembus pandang membelakangi posisi Arkan. Wanita itu duduk di tengah ranjang memeluk kakinya.


Rambutnya tergerai rapi walaupun agak mengeriting. Pastilah itu hasil dari riasan yang sengaja di buat.


Arkan memperhatikan kulit tubuh wanita itu begitu putih dan mulus. Bahkan Ia dapat mencium aroma bunga lili dari tubuh wanita itu.


Arkan mendekat tapi masih belum berani bertindak.


"Nona, apa kau yang sedang menunggu kedatangan ku?"


Wanita berpakaian piyama itu diam.


Arkan mengalah, Ia mendudukkan diri didekat Wanita itu dan kemudian menyibak rambut wanita itu. Arkan menyentuh punggung itu dengan jari telunjuknya untuk menghadirkan sensasi panas.


Gadis itu bereaksi.


Arkan tersenyum, Ia senang mendapat respon. Arkan memegang rambut itu lalu diciuminya. Ia merasa aroma wewangian itu sangatlah tidak asing.


"Nona, kenapa kau diam saja?" tanya Arkan lagi. Ujung hidungnya menjelajahi tangan itu hingga ke ujung lehernya. wanita itu menggeliat, mungkin merasa geli.


Arkan kian penasaran, sejak tadi wanita yang kini berdua di kamar itu belum mau menunjukkan wajahnya walaupun sentuhan-sentuhan ringan untuk memuja gadis itu sudah dimulai.


Arkan menarik pangkal paha kaki wanita yang tadinya dipeluknya hingga terlentang. Ia tidak sabar mau melihat wajah wanita itu. Wanita itu tetap diam dan enggan bersuara.


"Ahk..." Wanita itu memekik cukup keras.


Sebagian rambut hitam itu menutupi wajahnya. Arkan mengamati tubuh tembus pandang memukai Indra penglihatannya. Bahkan ujung dua gundukkan kenyalnya terlihat nyata.


Arkan juga menjelajah pandangannya sampai turun ke inti wanita itu. Bahkan wanita itu tidak mengenakan ****** *****. Bagaimana Arkan tau hal itu, adalah karena piyama itu hanya beberapa sentimeter dari apitan kedua pahanya.


Arkan meleguk salivanya. Tenggorokannya terasa kering. pemandangan indah itu sangat cepat membangkitkan sesuatu di bawah sana. Sungguh sempurnanya kepemilikan wanita itu.


Arkan melepaskan semua yang membungkus tubuhnya lalu mengungkung wanita itu. Wanita itu tetap tak bersuara membiarkan rambut itu menghalangi wajahnya.


Siapa yang tak penasaran bagaimana wajah itu jika tidak segera Ia singkirkan dari rambut menyebalkan itu.


Pelan-pelan tangan Arkan mulai meraih helaian demi helaian rambut indah itu. Arkan dapat merasakan deru nafas gadis di bawahnya naik turun karena perlakuannya.


Kemungkinan nya hanya dua, gadis itu takut dilihat atau malah gairah wanitanya telah memuncak dan tidak sabar mendapatkan sesuatu dari Arkan Arjun. Seorang lelaki tampan bak Arjuna sesuai namanya.


Saat Arkan berhasil mengangkat rambut yang terakhir. Tangan wanita itu menahan lengan Arkan membuat Arkan mengernyit memandangi tangan itu.


"Kenapa, Nona?" tanyanya.

__ADS_1


Sejenak gadis itu diam lagi lalu melepaskan tangan Arkan agar menyelesaikan semuanya.


Arkan terkesima dan membulatkan mata ternyata Ia mengenali wajah gadis dibawah kungkungan nya setelah usai mengalihkan semua rambut penghalang antara Ia dan Wanita itu.


"Kau...?"


"Kau yang_?"


Arkan mencoba mengingat siapa wanita di depannya.


Wanita itu tidak perduli sampai mana ingatan Arkan tentang dirinya Ia menarik tengkuk Arkan dengan cara melingkarkan tangannya di leher Arkan untuk mendekat kewajah nya.


Wanita itu mengul*m bibir tebal milik Arkan dengan buas dan meminta lebih dalam lagi.


Arkan menyesuaikan diri.


Ia membalas permainan wanita di depannya tak kalah brutalnya.


Beberapa saat berlalu gadis itu mendorong tubuh Arkan jatuh kesamping nya lalu menduduk kan diri.


"Kenapa berhenti?" tanya Arkan tak mengerti.


"Maaf, soal waktu itu," ucap wanita itu.


Arkan menyatukan kedua alisnya. Ia peluk wanita itu dari belakang seraya mengelus-elus paha milik wanita itu membuat wanita itu kembali merangs*ng.


"Tak masalah, kau sudah membayar nya dengan sesuatu yang lebih berharga," bisik Arkan lirih. Suaranya terasa lembut dan syahdu ditelinga wanita itu.


"O ya, kenapa kau malah meminta orang menjadi perantaranya?" tanya Arkan. Namun tak menghentikan aktivitasnya memijat kedua gunung cinta milik gadis itu.


"Aku takut kau menolak diriku," jujur gadis itu.


"Kenapa begitu?"


"Terlalu banyak wanita yang mengantri disana. Aku jadi minder," jawabnya lagi. Ia menoleh kewajah Arkan yang menyesapi daun telinganya kemudian menautkan lagi kedua daging merah muda didalam rongga mulut mereka.


...☘️☘️☘️...


Bersambung.....


Jangan lupa,like, komen,Vote and bintang 🌟🌟🌟🌟🌟nya ya...


Love you....

__ADS_1


__ADS_2