
Malam itu, seperti biasa Arkan berkunjung lagi ke Club. Ia bertemu Sheila hari itu. Kemungkinan ada kabar baru tentang Dara atau sebaliknya Sheila datang ingin menjajal keperkasaan dirinya.
"Hai, Arjuna!" sheila yang duduk di salah satu meja penjual minuman beralkohol melambaikan tangan.
"Hei, Sheil. Apa kabarmu? kau sendiri?" Arkan berharap Sheila datang bersama wanita yang sejatinya selalu Ia rindukan. Namun kerinduan itu tidaklah sepenuhnya kentara.
"Tidak, aku datang untuk diri ku sendiri. Apa kau keberatan?" balas Sheila mencebik lembut.
Arkan tergelak pastinya, Sheila menusuk nya sangat dalam.
"Bisa saja kau, apa kau ingin sesuatu?" ganti Arkan yang menghujam.
"Is, kau ini. Benar-benar ya," ucap Sheila diselingi senyuman kecut.
Wine adalah ciri khas, Sheila menuang satu gelas kecil untuk Arkan.
"Cheers..."
Keduanya membenturkan gelas itu dan menegak nya hingga tandas.
Sejenak Sheila terkesima memandangi wajah Arkan. Wajah pria yang sangat sedap di jadikan pengobat resah.
Arkan yang notabennya murah senyum membalas senyuman itu.
"Sheil, aku akan memberimu gratis, tapi bisakah kau membantuku?"
Sheila berdecak pelan.
"Apa itu?"
__ADS_1
"Aku mohon berikan nomor Dara padaku?"
Sheila terkekeh kecil. tebakannya tidak salah lagi kalau Arkan memang merindukan Dara.
"Untuk apa, Arkan? percuma, besok pesta pernikahannya akan di gelar," ungkap Sheila memberi tahu. Sheila bukan tipe orang yang menutupi sebuah perkara. Sheila sangat terbuka jika seseorang memohon padanya.
Arkan menghembuskan nafas kasar.
"Oke, kau ingin sesuatu dari ku?" Arkan mengalihkan pembicaraan karena tak ingin larut dalam resah.
"Temani saja aku sebentar, aku tidak lam, ambil ini." Sheila memberikan sebuah surat pada tangan Arkan. Surat itu Sheila berikan karena Orang yang menitipkannya adalah sahabat terbaiknya.
Sheila sebenarnya kekasih simpanan Raymond, Sheila tak menginginkan pernikahan Dara dan kekasihnya itu karena Ia sangat mencinta Raymond. oleh sebab itu Sheila akan membantu Arkan bersatu dengan Dara bagaimana pun caranya.
"Temui dia di tempat yang ada di surat itu, Kan. Maka kau akan bahagia setelahnya."
Arkan mengamati kertas itu. Rasa penasaran dari isi surat itu membuatnya tidak sabar ingin membacanya.
Baru mulai membuka, Arkan di gaet seorang perempuan dari belakang.
"Ayo, Mas. Kita maen!"
Arkan tak dapat menolak Ia memasukkan kertas itu kedalam saku bajunya.
Penyatuanya dengan perempuan itu terasa aneh, Ia Mudah sekali merasa lelah bahkan keringat dingin dan lengket membuatnya gelisah.
"Mas, kok berhenti sih? lagi enak ni?" protes perempuan itu tidak puas.
"Iya, Maaf. Tubuhku kurang sehat," jawab Arkan pelan seraya menghela nafas.
__ADS_1
"Ya udah lanjutin!"
Arkan memompa kembali pinggulnya sekuat tenaga tapi Ia malah terbatuk-batuk.
Uhuk.. Uhuk...
Arkan menghentikan gerakannya dan mencabut miliknya.
"Ya ampun, Mas. Tumben banget sih, servis mu kurang joss malam ini. Udah ahk capek nunggunya."
Perempuan itu memakai bajunya sambil bersungut-sungut.
Baru kaki ini Arkan mengecewakan pelanggannya. Perempuan itu hanya meninggalkan dua juta untuk bayarannya diatas meja.
"Ini bayaran mu, kita main lagi kalau kamu sudah sembuh," ketus perempuan itu sinis. Perempuan itu membanting pintu dengan kesal.
Arkan tidak menjawab, itu bukan sesuatu yang baik untuk pekerjaannya.
Uhuk.. Uhuk...
"Ada apa ini, kenapa belakangan ini kesehatan ku sering menurun. Kaki ku benar-benar terasa lemas?" gumam Arkan seorang diri. Bingung oleh kondisi tubuhnya.
Arkan akhirnya mengenakan bajunya dan teringat lagi akan surat yang di berikan Sheila.
Arkan tidak sabar untuk membaca surat itu.
Hanya sepenggal kalimat pendek yang Ia baca meninggalkan sejuta teka-teka yang harus Ia cari jawabannya.
Tunggu aku di tepi rel kereta api di selatan jam delapan pagi...
__ADS_1