
"Aaaa....."
Arkan terkejut mendengar Dara berteriak histeris.
Arkan bangkit dari rebahan nya dan berlari masuk kekamar Mandi tanpa permisi.
Di lihatnya Dara menangis sesenggukan di dalam buthup.
"Dara, ada apa?" tanya Arkan yang mendekatkan langkahnya.
"Aku benci hidupku, Arkan. Aku benci..," ucapnya seraya memukul air busa itu dengan kesal.
Arkan meraih handuk di gantungan dan membantu Dara keluar dari dalam air.
"Ayo keluar, kurasa kau sudah cukup untuk berendam."
Dara menurut dan turun dari tempat itu.
Arkan merangkul Dara keluar lalu mendudukkan Dara di tepi ranjang. Air mata gadis itu terus meleleh tanpa henti. Entah apa yang sudah Ia alami membuat suasana hatinya mendadak rusak.
Arkan duduk berjongkok di hadapan Dara dan menggenggam tangan gadis itu erat-erat.
Arkan iba menatap manik sayu gadis di hadapannya. Pasti gadis itu sangat menderita.
"Aku belum mau mati, aku masih ingin hidup," ucap Dara tiba-tiba seperti melantur.
Arkan mengernyit heran.
"Tenanglah, kau baik-baik saja di sini, Dara. Ada apa dengan mu? apa ada yang hendak menyakiti mu, ha?" Arkan mencoba bertanya berharap Dara sudi untuk jujur.
__ADS_1
Gadis itu mengulum bibir sepertinya Ia ragu menceritakan betapa peliknya hidup Ia saat ini.
"Kau tidak akan mengerti, Arkan. Semua orang tidak ada yang sayang sama aku. Mereka ingin melihat aku hancur," jujur Dara terisak-isak hingga pipinya berurai basah.
Arkan mengusap air mata gadis itu. Ia kelu melihatnya.
"Kau bisa berbagi dengan ku, Dara," ucap Arkan menenangkan.
Dara menatap bola mata Arkan lalu menjatuhkan diri di pelukan Arkan.
"Aku sudah lelah. Hidupku penuh dengan derita. Mungkin benar aku tidak di takdir kan untuk bahagia," ucap Dara lesu.
Arkan menjimpit wajah Dara. Sejuta luka memang terpancar di sana.
Perasaan itu membuat Arkan turut bersedih. Ia tidak ingin gadis itu menderita.
Arkan ingin memberikan kehangatan hanya itu yang Ia mampu setidaknya membuat Dara sedikit lebih baik.
"Kau akan baik-baik saja. Percayalah dengan ku, Dara," tukas Arkan. Ia berniat ingin membantu gadis itu.
"Aku tidak yakin," seloroh Dara yang bangun dari posisi mereka.
"Mengapa? asal kau mau terbuka dengan ku?" ujar Arkan.
"Ini bukan sesuatu yang biasa, Arkan. Kau tidak akan mampu menolongku," ucap Dara sedih.
Arkan memeluk Dara dari belakang. Ia merasa sudah jatuh hati pada Gadis itu dan tak ingin melihatnya menderita.
"Dara, aku mencintai mu," kata Arkan merongrong desiran halus di sanubari Dara.
__ADS_1
"Kau sudah gila, apa kau pikir_?"
"Aku akan berhenti dari pekerjaan itu jika kamu memintanya," tukas Arkan bersungguh-sungguh.
Dara membalikan tubuhnya dan memandangi seluruh wajah Arkan. Ada kilahan cahaya disana.
"Ini tidak mudah," ucap Dara lagi tak ingin terhanyut lebih jauh.
"Mengapa? setiap kau menghilang setelah kita memadu kasih aku selalu merindukan mu," ucap Arkan ber sungguh-sungguh.
Arkan menahan tengkuk Dara dan melabuhkan ciuman kasar ke bibir Dara namun Dara mendorong dadanya.
"Jangan lakukan, Arkan. Aku tidak punya uang untuk membayar mu sekarang," tukas Dara menolak.
Ada sesuatu yang Ia tidak ingin Arkan turut merasakan kesakitan nya.
Dara memegang pundak Dara dan mencium Dara untuk ketiga kalinya.
"Aku akan berikan gratis untukmu," jawab Arkan menekankan.
Dara berupaya menahan perlakuan Arkan tapi Arkan membuainya dengan sentuhan lembut sampai Ia tak sanggup menolak. Ia menikmati pangutan Arkan di bibir ranumnya dan itu membuai nya dengan tentram.
Cukup lama sentuhan itu, keluh kesah hatinya sedikit berkurang.
"Biarkan kita habiskan malam ini bersama, Dara. Aku mohon jangan menghilang lagi," ucap Arkan setelah menghentikan aksinya.
Dara meneteskan lagi air matanya. Ia tidak ingin Arkan merasakan duka yang sama tapi Arkan sudah membuatnya tidak peduli lagi akan hal itu.
Semua sudah tergantikan oleh sentuhan-sentuhan lembut dari Arkan yang sudah lebih dulu menarik ujung handuknya hingga polos.
__ADS_1
Dara ingin sekali menolak tapi hatinya mencegahnya.
Ia ingin Arkan membahagiakan nya dari kesengsaraan hidupnya.