
"Ini untukmu, apa kau suka?" pertanyaan itu sontak dengan cekatan diangguki Rachel. Dipeluknya beruang panda itu dengan wajah bahagia.
"Biar ku antar pulang," tawar Arkan secara spontan.
Rachel tersenyum malu-malu.
"Boleh, Kak. Tapi kita makan dulu ya?"
"Oke, Ayo." Arkan menyambar tangan Rachel membuat Rachel makin tersipu.
Cukup jauh menaiki motor gede itu dari toko buku, Arkan dan Rachel melihat tukang bakso di tepi jalan.
"Kak, kita makan bakso saja, gimana?" usul Rachel menyarankan.
"Rachel yakin? Apa Rachel tidak akan sakit perut nantinya?" tanya Arkan sembari menoleh sedikit.
"Enggak dong Kak, Rachel sudah terbiasa dengan Ayah dan Bunda. Yang penting kan tempatnya higienis," jawab Rachel di balut kekehan kecilnya.
Setelah mendapat kesepakatan bersama keduanya berhenti di warung bakso lalu memesan dua mangkok bakso dan dua gelas es campur.
Rachel menyeruput es buah miliknya hingga pipinya mengembung. Arkan tak berhenti tersenyum melihat polah dari gadis polos itu.
"Kamu tidak seperti tabiat orang kaya kebanyakan, Hel," tutur Arkan sambil melahap satu buah pentol bakso berukuran kecil.
"Kakak jangan ngomong gitu, ahk. Rachel tidak pernah membedakan gaya hidup dan status sosial. Bukankah kita sama-sama manusia."
Arkan terkagum-kagum menatap Rachel.
"Hel, apa orang tuamu Rachel sudah kembali?"
"Belum, mereka sangat sibuk, Kak. Rachel sering sekali kesepian tanpa mereka walaupun ada Bi Ira dan Pak Ujang di rumah," jawab Rachel manyun.
Arkan mengernyit menautkan kedua alisnya.
"Kenapa begitu? apa Mereka bukan orang?"
"Hehehe... orang Kak, tapi aku gak mungkin kan Full time ngajak mereka ngobrol," jawab Rachel nyengir memperlihatkan pentol bakso yang renyuk di dalam mulutnya.
Cukup lama di warung bakso super jumbo Arkan membayar pesanan mereka dan melanjutkan perjalanan kerumah Rachel. Rachel yang merasa motor Arkan semakin kencang membuatnya sedikit merinding di tiup angin.
__ADS_1
Dengan rasa canggung dan gugup bercampur deg-degan Rachel melingkarkan kedua tangannya di pinggang Arkan dan membiarkan buku yang Ia bawa berada ditengah sebagai penghalang tubuhnya dan Arkan menempel. Sedangkan beruang panda ada di atas pangkuan Arkan terbungkus plastik.
Arkan mengulas senyum melirik tangan Rachel, Ia merasakan kehangatan yang merongrong tulang sum-sum nya.
Arkan semakin semangat menarik gas agar mereka cepat sampai. Dua puluh menit perjalanan, Arkan dan Rachel berhenti di depan rumah Rachel.
"Ayo kak, masuk. Aku kecewa kalau Kakak menolak," sungut Rachel membuat Arkan tak bisa menolak ajakan itu.
Arkan mengikuti Rachel masuk kedalam rumah mewah itu, Arkan mengedarkan pandangan keseluruhan dinding marmer mengkilat dengan berbagai bentuk ukiran menarik. Arkan juga melihat semua benda dirumah itu memiliki nilai jual yang sangat tinggi.
"Ayo Kak, duduk. Rachel ganti baju dulu sebentar." Rachel naik kelantai dua meninggalkan Arkan yang mengikuti keinginan tuan rumah. Rachel meletakkan bukunya di atas rak buku dan menidurkan si Panda di ranjang yang akan menjadi hadiah istimewa di dalam hidupnya. Rachel kemudian bergegas ganti baju semacam dress tanpa lengan.
Di patutnya wajahnya di cermin dan berias diri. Ia ingin semaksimal mungkin bisa terlihat cantik di mata Arkan.
Rambut yang tadi nya terikat keatas Ia gerai jatuh ke bahu. Rachel membubuhkan sebuah vitamin ke rambut hitam alami miliknya agar terlihat segar lalu di sisirnya dengan rapi.
Tak lupa juga lipstik merah muda Ia bubuhkan di sepasang bibirnya untuk menambah keanggunan penampilannya.
Rachel kembali diserang gugup tapi Ia memberanikan diri untuk menemui Arkan yang menunggunya di bawah.
Tap!
Tap!
Tap!
Jujur saja, Arkan tidak menampik kalau Ia benar-benar pria beruntung dan itu berulang-ulang Ia pikirkan didalam hati.
"Kakak...," Kata Rachel.
"Rachel cantik," puji Arkan.
"Terima kasih, ini sangat jarang Rachel lakukan tapi Rachel ingin melakukan di depan Kak Arkan," tutur Rachel tersenyum manis.
Rachel kemudian duduk di samping Arkan dan terus memandangi wajah Arkan dengan lekat sambil menopang dagunya dengan sebelah tangannya.
Rachel tidak tahu kalau Arkan jadi tidak nyaman mendapat tatapan itu. "Rachel..," desis Arkan.
"Kenapa, Kak?" tanyanya masih diposisi sama.
__ADS_1
"Apa Rachel memperhatikan sesuatu?" tanya Arkan tergelak.
Rachel menunduk dan menurunkan tangannya karena malu. Ia mengaku tidak bebas pada lelaki tapi hari ini Ia khilaf memandangi wajah Arkan tanpa pernah bosan.
"Oh iya, Kakak harus menemani Rachel makan dulu," ucap Rachel mengalihkan pembicaraan.
Arkan sebenarnya tidak nyaman bukan karena Rachel melihatnya tapi Ia merasa tubuhnya amatlah lengket. Semalam Ia telah mengurang tenaganya demi seorang perempuan tapi tak sempat membersihkan diri sejenak saja.
"Boleh, Hel. Tapi bolehkah kakak menumpang membersihkan diri. Ehk .. tapi kalau Rachel keberatan tidak masalah kok," ucap Arkan setelah melihat mimik wajah Rachel berubah.
Rachel kemudian mengulas senyum indahnya.
"Kakak santai saja dong, Kakak bisa mandi kok dikamar Rachel airnya penuh di bak mandi soalnya air di kamar mandi lainnya lagi macet," desis Rachel.
"Terima kasih, Hel."
"Tidak masalah, ayo Rachel antar!" Rachel membawa Arkan masuk ke kamarnya. Kamar Rachel tidak bermotif pink seperti kebanyakan cewek-cewek. Tapi motif kamar Rachel semuanya hampir berwarna oranye itu menandakan Rachel bukanlah tipe cewek manja. Ia sudah cukup mandiri dalam kesendirian akibat kesibukan orang tuanya.
Arkan termangu melihat beruang panda yang Ia dapatkan dalam permainan ada ditempat dimana akan menemani Rachel tadi, kebahagian tersendiri di dalam hati Arkan karena merasa di spesial kan.
"Kak, ini handuknya." Rachel mengulurkan handuk ke hadapan Arkan. Handuk itu sangat wangi tidak jauh beda dengan wanginya tubuh Rachel yang terkesan lembut dan tidak menyengat.
"Terima kasih, Hel."
"Sama-sama."
Tak lama Rachel yang duduk di tepi ranjang mendengar pintu terbuka. Ia melihat betapa bersih dan gagahnya saat Arkan bertelanjang dada membuatnya meneguk saliva.
"Rachel, mana bajuku?" tanya Arkan itu karena Ia tidak melihat baju yang Ia letakkan di atas ranjang sudah tidak ada.
"Biarkan saja nanti aku cuci, Kak Arkan bisa memakai baju Kak Radit. Kakak tenang saja ini masih baru dan belum pernah terpakai," ucap Rachel kembali mengulurkan satu setel pakaian sembari menunduk. Takut jika berlama-lama melihat tubuh Arkan.
Arkan malah menjadi usil, di angkatnya dagu Rachel supaya tetap melihatnya.
Arkan mendekatkan wajahnya ke wajah Rachel membuat tubuh Rachel mendadak panas dingin hingga mata itu terpejam merasai hembusan nafas Arkan kian mendekat. .
Cup!
Arkan melabuhkan ciuman nya ke bibir Rachel yang sejak tadi menggoda nalurinya sebagai lelaki normal. Pastinya itu adalah ciuman pertama yang Rachel dapatkan dari seorang pria.
__ADS_1
Arkan mengulas senyum melihat Rachel menggigit bibir bawahnya. Pasti jantung Rachel berdebar-debar saat ini. Kejadian itu begitu saja terjadi tanpa mereka rencanakan.
Arkan sudah biasa menghadapi Perempuan jal**ng tapi Ia merasakan sesuatu tak biasa setelah menyentuh Rachel.