
💌 TERJERAT DENGAN SUAMI PALSU 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Cuaca hari ini tak secerah hati Yara. Hari ini adalah acara pernikahannya. Para tamu undangan hanya dipilih dari keluarga saja. Mereka nampak tampak memasuki gereja dan menunggu mempelai wanita memasuki gereja.
Dengan gaun putihnya yang membelai lantai gereja, Yara memasuki gereja didampingi Erland Wyanet. Dengan diiringi musik piano khusus pernikahan. Membuat semua orang terdiam dan fokus menikmati alunan musik dari piano yang dibawakan salah satu pianis yang khusus di undang. Jari jemari yang dimainkan di atas tuts melantunkan nada musik dari piano saat mempelai wanita mulai memasuki altar gereja.
Hati Yara bergejolak. Ia sudah berusaha untuk tersenyum tapi bibir ini begitu sulit untuk menyunggingkan senyum. Erland terus memberikan kekuatan lewat tepukan lembut dari tangannya. Tangan Yara mengepal kuat saat melihat sosok lelaki paruh baya dengan kepala plontos dan perut buncit, lengkap pakai kumis tebal di bawah hidungnya. Postur tubuhnya yang gemuk dan sedikit pendek sedang berdiri menunggunya di depan. Di sebelahnya berdiri seorang pendeta dengan senyum terindahnya. Rasanya ingin berlari meninggalkan tempat itu. Yara tidak siap. Ia kembali menarik napasnya, mencoba menenangkan hatinya. Yara tidak bisa menghancurkan perasaan orangtuanya.
"Jangan takut Yara. Pernikahan ini hanya sementara. Pernikahan ini hanya sementara. Lelaki itu hanyalah status suami palsu." Ucap Yara menguatkan hatinya.
Pria paruh baya itu tersenyum saat melihat melihat pengantinnya begitu cantik dengan gaun putihnya. Wajahnya tersenyum menatap haru ke arah wanita yang akan menjadi istrinya itu.
Kursi-kursi gereja sudah dihiasi bunga bunga.
musik terus menggema membawa langkah Yara pada lelaki paruh baya yang berdiri menunggunya. Yara lagi-lagi tak dapat membendung air matanya. Seandainya Yara menikah dengan lelaki yang dicintainya ia tak sesakit ini. Bisakah pria tua itu tidak tersenyum seperti itu? Tatapannya membuat bulu romanya bergidik ngeri. Erland sudah berdiri di depan. Pria tua itu mengulurkan tangannya untuk menyambut tangan Yara. Erland menyerahkan tangan Yara kepada lelaki yang akan menjadi suami Yara.
Pria tua itu sudah menggenggam tangannya dan acara pun telah dimulai yang dipimpin pendeta. Berbagai acara pun telah dilalui. Kini acara yang ditunggu-tunggu pun datang, pertukaran cincin antara kedua mempelai.
Pria tua itu mengambil cincin pernikahan memasangkan kejari tangan Yara dengan mengucap,
"Saya Frey Miles bersumpah dihadapan Tuhan mengambil Yara Wyanet menjadi istriku untuk saling memiliki menjaga sampai selama-lamanya, baik susah atau pun senang waktu sehat atau pun sakit dan untuk saling menjaga selama-lamanya. Sesuai hukum Allah yang Kudus dan inilah janji setiaku yang tulus."
Sungguh kata-kata yang dibenci Yara. Bagaimana mungkin dengan lantang pria tua itu mengucapkan sumpah itu. Ini suatu kebohongan besar, Tuhan pasti benar-benar membenci pria tua itu dan langsung mengirimnya ke api neraka. Seharusnya dia tidak menikah diusianya yang sudah tua. Dia seharusnya menikmati sisa hidupnya.
Pria tua itu terus menatap Yara yang terus menunduk hingga sumpah itu selesai di ucapkan dan pria itu memasang cincin itu di jari manis Yara.
Kemudian Yara mengambil cincin pernikahan dan memasangkan kejari tangan pria tua itu. Ia mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan sumpahnya di hadapan Tuhan.
__ADS_1
"Saya Yara Wyanet bersumpah dihadapan Tuhan mengambil Frey Miles menjadi suamiku untuk saling memiliki menjaga sampai selama-lamanya, baik susah atau pun senang, waktu sehat atau pun sakit dan untuk saling menjaga sampai selama-lamanya. Sesuai hukum Allah yang Kudus dan inilah janji setiaku yang tulus." Ucap Yara menatap ke arah kancing baju pria yang berdiri di depannya itu. Ia tidak berani menatap mata pria paruh baya itu.
Yara bisa menyelesaikan kata-katanya dengan baik walau di awal kalimat ia sempat terdiam karena gemetar.
Pendeta mengulurkan tangannya mengarahkan ke kepala Frey dan Yara agar mendoakan ke dua mempelai itu. Setelah mengucapkan doa dan mengatakan Amin kedua mempelai menegakkan kepalanya. Yara merasa gugup, ini benar benar momen yang menegangkan. Bagaimana pun ini adalah ciuman tak diharapkan. Bisakah pendeta melewatkan acara ciuman ini?
"Kamu bisa mencium istrimu." Ucap pendeta tersenyum, membuat Yara tegang.
Dengan ragu, akhirnya pria itu mencium kening Yara dan saat itu juga Yara meneteskan air matanya. Pria yang berdiri di depannya itu cocoknya adalah kakeknya bukan suami. Semua para tamu undangan yang ada di gereja tersenyum bahagia. Memberikan tepukan tangan, tanda ikut serta menikmati kebahagiaan kedua mempelai itu.
Waktu berjalan begitu lama. Yara mulai bosan. Segala prosesi pernikahan di gereja telah dilalui dengan baik. Pelepasan burung juga telah dilakukan yang katanya mempunyai arti lah. Burung merpati dilambangkan sebagai lambang cinta, kebahagiaan, kedamaian, dan kesejahteraan. Sementara pelepasan burung ini menandai kepergian para pengantin dari keluarganya masing-masing untuk memulai hidup baru bersama.
Pada malam hari, acara berlanjut di hotel ternama di kota A. Semua tamu undangan datang, mereka memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai. Pria tua itu bersemangat, Ia tersenyum menjabat tangan para tamu yang datang memberikan doa restu kepada mereka. Sementara Yara memaksakan bibirnya untuk tersenyum. Ia terlihat kaku. Karena begitu lelah, Yara memilih meninggalkan cara itu dan masuk ke kamar hotel.
⭐⭐⭐⭐⭐
SEMENTARA DI SISI LAIN.
Frey Miles memacu mobilnya di jalanan ibukota yang mulai lenggang. Ia sekilas melihat jam yang ada dipergelangan tangannya, pukul dua belas malam lewat sepuluh menit. Frey tersenyum penuh arti. Ia baru saja mendapatkan telepon dari asistennya bahwa acara resepsi pernikahan baru saja selesai.
Gadis cantik itu tersenyum meninggalkan lantai dansa saat melihat pujaan hatinya datang. Lekukan tubuhnya yang benar-benar berkeringat.
"Halo, Sayang."
Mendengar kata sayang, Frey berdecak. "Jangan memanggilku dengan kata itu." Ucap Frey dingin.
Wanita itu yang pintar menahlukkan hati para pria hanya terkekeh. "Kau tidak berubah." Ucapnya mengambil minuman dan meneguknya sekaligus. Frey tak menjawab.
"Mau menemaniku malam ini?" Ucap gadis cantik itu tanpa basa-basi. Tak lupa ia membubuhi dengan senyuman penuh menggoda. Dia berharap Frey mau menemaninya malam ini.
Tidak ada respon. Frey hanya memainkan gelas yang ada di tangannya.
Gadis itu mendekatkan wajahnya ke wajah Frey. "Kau tidak ingin tidur denganku." senyumnya menyeringai.
Frey tersenyum kecil. "Aku tidak pernah tertarik dengan wanita penggila malam sepertimu."
__ADS_1
"Aku bukan penggila malam. Kau adalah alasanku berada di sini."
"Untuk apa? Aku tidak pernah memintamu ke sini."
Gadis itu berdecak malas. Apa Frey selugu itu? Tidak mungkin? Tapi yang dia tahu, Frey tidak pernah berkencan dengan wanita manapun. Frey terlalu kaku dalam soal percintaan.
"Apa kau tidak tertarik dengan wanita? Apa kau seorang gay?"
"Jaga mulutmu! Aku tidak pernah tertarik dengan wanita atau pun pria seperti yang kau katakan."
Mendengar itu, Ia tertawa. "Aku sudah menduga itu. Tapi kau tidak tertarik kepadaku?" Dengan sengaja ia membusungkan dadanya, menujukkan belahan dadanya yang menonjol. Ia menggunakan pakaian dengan leher bermodel V. Ia tersenyum penuh kemenangan menatap Frey dengan senyum yang menggoda. Lagi-lagi dengan sengaja ia membuka lebar-lebar kancing bajunya. Sampai membuat bagian dalam itu meluap ingin keluar. Sudut bibirnya naik ke atas sambil mengangkat alisnya. Posisinya masih memangku kakinya ke atas. Sengaja memperlihatkan bentuk pahanya yang kencang dan terawat di balik rok mininya yang mencengkram sempit
Frey tersenyum sambil memalingkan wajahnya dan kemudian menatap gadis yang bernama Amber itu. "Kau terlihat seperti wanita murahan."
Amber tidak perduli, ia sudah biasa mendengar kata-kata pedas dari Frey. Membayangkan tubuhnya yang kekar berada diatasnya membuatnya bisa melakukan hal apapun, termaksud untuk merendahkan dirinya. "Ini akan menjadi malam panjang untuk kita. Kita akan menikmati surga Indah. Bagaimana tuan tampan?"
"Berikan tubuhmu untuk lelaki yang tulus mencintaimu." Ucap Frey dingin.
Ia langsung bangun dari duduknya dan meninggal Amber yang menggeram kesal. Frey ingin pergi ke suatu tempat, sebelum ia mabuk. Frey membawa mobilnya dengan kecepatan sedang sambil menghidupkan audio mobil untuk menemani perjalanannya.
Dalam sekejap Frey sudah tiba ke tempat tujuannya. Ia menarik rem tangan dan memilih tidak langsung turun dari mobil. Ia meremas setir mobilnya sambil merunduk di antara kedua tangannya yang memegang setir mobil.
Frey menarik napas dalam-dalam dan menatap sejenak rumah itu. Frey menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu mengusap wajahnya dengan pelan. Setelah tarikan napas panjang akhirnya Frey memutuskan keluar dari mobilnya.
BRUKKK!
Frey membenarkan jasnya lalu menegakkan badan dan melangkah memasuki rumah itu. Rumah masa kecilnya masih terawat dengan baik. Frey melangkah menuju dapur dan mengambilkan minuman dingin untuknya. Ia kembali menuju sofa. Frey menghempas tubuhnya, menyandarkan punggungnya kesandaran kursi. Ia meletakkan tangannya ke dahinya dan memejamkan matanya. Hari yang begitu melelahkan. Ia menarik napas panjang dan menghembuskan napasnya kembali. Tak beberapa lama, Frey akhirnya tertidur di sofa.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kesembilan aku 😍
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
__ADS_1
^_^.