Terjerat Dengan Suami Palsu

Terjerat Dengan Suami Palsu
BERSABARLAH


__ADS_3

💌 TERJERAT DENGAN SUAMI PALSU 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Layaknya pasangan normal, mereka tersenyum dan saling bergandengan tangan. Mereka memasuki taman bermain yang ada disekitar restoran jepang itu. Udara dingin begitu menusuk tulang, beruntung mereka menggunakan jaket tebal yang bisa menghangatkan tubuh mereka. Yara mengambil duduk di tempat ayunan. Dengan perlahan ia bergerak mengayunkan tubuhnya.


"Kau tahu, aku sering mengunjungi taman bermain bersama daddy. Daddy selalu menyempatkan dirinya menemaniku bermain, walau kadang daddy rela meninggalkan jadwal rapat penting di kantor." Yara tersenyum membuka memori kenangannya semasa kecilnya. "Cih....aku sungguh egois, bukan? Aku bahkan merengek dan menangis jika daddy tidak menuruti permintaanku." Yara melepaskan tawa kecilnya.


"Pasti menyenangkan jika kita pergi bersama orang yang kita sayangi." ucap Frey ikut tersenyum di sana. Yara pasti bersyukur mempunyai orang tua yang baik.


"Hmmm. Daddy selalu tahu apa yang aku inginkan. Dia adalah sosok lelaki yang overprotektive. Bisa dikatakan daddy seperti bodyguard waktu jaman kuliahku dulu. Daddy begitu teliti dengan siapa aku berteman. Jika aku bepergian, ada semacam prosedur yang harus semua temanku lakukan. Bukan sekadar ke mana aku akan pergi dan bersama siapa? Tetapi aku juga harus meninggalkan catatan berisi nama lengkap, alamat rumah, nomor telepon, dan nama orang tua dari teman yang akan pergi bersamaku."


"Wow....ayah yang hebat."


"Hmmm...tentu saja. Tapi terkadang aku kesal Frey, dia seperti penguntit." Yara tersenyum lagi. "Kamu tahu, bahkan di perjalanan, aku juga harus siaga untuk mengangkat teleponnya atau menjawab pesannya. Dia bahkan sudah siaga menunggu di depan rumah menungguku jika aku terlambat pulang."


"Benarkah?"


Yara membuang napas panjangnya. "Terkadang sikap daddy menjengkelkan. Tapi lama-lama, aku nyaman. Daddy melakukan itu karena dia menyayangiku."


"Betul." Frey menimpali perkataan Yara.


Yara tersenyum, sambil bergerak mengayunkan tubuhnya. "Iya, dia juga akan cerewet kalau dia tahu lelaki yang aku kencani tidak baik. Daddy pernah menghajarnya dan mengancam lelaki itu agar jangan pernah menggangguku lagi."


Yara memperlambat kecepatan ayunannya. Ia menatap Frey lagi. "Tapi aku bersyukur mempunyai daddy yang selalu memberikan perhatiannya kepadaku."


Frey hanya diam tak memberi komentar. Ia hanya terus menatap Yara.


Yara melangkah mendekat ke arah Frey sambil memeluk tangannya. Mereka kembali berjalan ke arah kursi panjang yang tidak jauh dari ayunan. "Oh, Iya...apa kamu suka langit biru?"


Frey menoleh sekilas lalu tersenyum menganggukkan kepalanya. "Semua orang pasti menyukai langit biru, sayang."


"Bagaimana perasaanmu saat melihat langit biru itu?"


"Perasaanku saat melihat langit biru?"


"Hmmm. Apakah sedih atau bahagia? Mungkin kamu bisa menjelaskannya."


Sejenak Frey berpikir untuk mencari jawaban. "Apa ya?" Kemudian ia tersenyum lalu berbicara. "Langit biru bisa dikaitkan dengan ruang terbuka, kebebasan, intuisi, imajinasi, luas, inspirasi, dan kepekaan. Biru juga mewakili makna kedalaman, kepercayaan, kesetiaan, ketulusan, kebijaksanaan, kepercayaan, stabilitas, iman, surga, dan juga kecerdasan."


Yara tersenyum sambil manggut-manggut. "Jawaban yang bagus. Kau bisa menggambarkan perasaanmu hanya dengan menatap langit biru yang anggun tanpa awan yang menggantung di sana." Yara menarik napasnya dengan pelan dan kembali melanjutkan kalimatnya.

__ADS_1


"Tapi aku tidak merasakan kebahagiaan itu saat menatap langit biru, Frey. Aku hanya merasakan rindu dan sedih. Bahkan rindu dan sedih itu tidak bisa aku lukiskan dengan kata-kata."


Langkah Frey berhenti. Ia memandang punggung istrinya yang masih berjalan beberapa langkah dan hingga membuat jarak di antara mereka. "Yara?" Panggil Frey begitu lembut.


Yara menunduk, bahunya gemetar. Frey dapat melihatnya dengan jelas. Ia menarik napas dan masih diam di posisinya.


"Apa yang kau rasakan saat menatap langit biru itu?" tanya Frey lagi.


Yara memutar tubuhnya dan melihat ke arah Frey. Matanya sudah berair, berkaca-kaca dengan pandangan nanar. "Aku merindukan orangtuaku Frey. Aku sangat merindukan mereka. Bisakah aku bertemu dengan mereka?"


Deg!


"Heeehh....." Frey melepaskan napas panjang, menatap Yara dengan lekat. "Sayang, aku sudah pernah katakan kepadamu untuk tidak membahas itu."


Seketika tangan Yara mengepal kuat. "Kenapa Frey? Bukankah kau sudah menerimaku dan kita berjanji untuk memulainya dari awal. Jadi kenapa aku tidak bisa bertemu dengan mereka?" Yara tidak terima jawaban Frey.


"Tapi tidak sekarang, sayang. Aku ingin membuktikannya kepadamu. Aku ingin menunjukkan bahwa aku sungguh-sungguh mencintaimu dan perasaan ini tulus untukmu. Setelah itu, kita mengunjungi orang tuamu."


Yara menarik napas dengan berat. Ia menggeleng sambil menjepit bibirnya dengan erat. "Tapi aku sangat merindukan mereka, Frey." Wajah Yara mengerut, menahan rasa perih yang keluar dari hidungnya. Yara memilih duduk, kakinya seperti tak sanggup untuk berdiri.


Frey melangkah cepat dan langsung merangkul bahu Yara. Memberikan kehangatan dalam pelukannya. Ia lalu


mengecup erat puncak kepala istrinya. Dia tahu Yara sangat merindukan orang tuanya. Tapi untuk saat ini Frey belum siap untuk mengatakannya. "Aku tahu kau sangat merindukan mereka. Bersabarlah, aku berjanji akan menepati janjiku."


Yara memilih diam, air matanya jatuh membasahi pipinya.


Frey menatapnya dengan penuh cinta, penuh kagum, dan juga sayang. Yara hanya menganggukkan kepalanya. Ya, dia harus menunggu lagi. Menunggu agar Frey mengizinkannya bertemu dengan orangtuanya. Frey menjatuhkan kepala Yara agar bersandar di bahunya dengan nyaman. Jari-jari tangannya membuka lalu mencengkeram erat tangan Yara. Frey tersenyum sambil merapatkan pelipisnya di puncak kepala Yara. Ia melapisi tangan Yara yang menggenggamnya, mengusapnya dengan pelan dan lembut.


⭐⭐⭐⭐⭐


CEKLEK!


Frey keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk putih yang melingkar di pinggangnya. Ia terkejut saat melihat Yara belum menggunakan pakaiannya. Yara masih menggunakan handuk kimono.


"Sayang, kenapa belum...."


Belum lagi Frey selesai bicara, Yara sudah memotongnya. "Aku menginginkanmu!" Ucap Yara dengan lantang. "Aku siap memberikan hidupku untukmu, Frey. Mungkin dengan cara memilikiku seutuhnya, kau bisa membawaku menemui orang tuaku."


Frey seketika melepaskan tawanya. Ekspresi Yara begitu menggemaskan. Frey melangkah mendekat kepada Yara dan memberikan,


Kiss!


Ciuman tiga detik berhasil membuat tubuh Yara menegang kaku dan matanya terbelalak sempurna.


"Kau begitu menggemaskan."


"Hk!" Sepersekian detik mata Yara berubah sayu. Jantungnya terpukul kencang di dalam rongga dadanya.

__ADS_1


Frey terkekeh, ia mengusap lembut pipi Yara dan menjaga jarak dengan posisi bersedekap di sana. Yara menatap ke arah Frey. Mata mereka saling mengunci begitu dalam. Seakan waktu berhenti hanya untuk saling melihat satu sama yang lain. Yara kini benar-benar terjebak pesona Frey. Tatapan menginginkan dan tatapan kagum.


Frey mengulum senyum dan kembali mendekatkan wajahnya ke arah Yara. Jiwa usilnya datang lagi.


"Kau menginginkanku?"


GLEK!


Yara menelan salivanya. Menyadari Frey semakin mendekat. Jantungnya seketika terpicu kencang. Tatapan Frey selalu berhasil mengaktifkan mode jantungnya.


Deg....deg....deg....deg.....!


Frey semakin maju, jarak mereka semakin dekat. Napas Yara semakin tertahan di dada. Ia spontan menahan tangannya di dada Frey.


Frey mengangkat setengah alisnya. ia tersenyum smrik dan langsung menangkup pipi istrinya. Mengecup bibir Yara secara singkat dan berulang-ulang.


Cup.....cup....cup....!


Frey tidak mempertahankan ciuman yang lama. Ia hanya mengulangnya secara intens. Sampai membuat Yara terbelalak. Sekujur tubuhnya merinding. Merasakan sesuatu dari dalam tubuhnya, karena rasa gugup yang teramat sangat. Selena membuang napas pelan dengan d*sahan. Wajahnya bersemu merah. Frey tersenyum dan masih menatapnya dengan sayang. Ia mengusap bibir istrinya dengan jari jempolnya yang basah karena salivanya.


"Aku tidak ingin kau melakukannya karena terpaksa, Yara. Aku akan menunggu sampai kau benar-benar siap." ucap Frey tersenyum. Ia menjauhkan wajahnya setelah memberikan Lmatan singkat pada bibir sang istri.


Yara reflek ia menjepit bibirnya. Setelah menatapnya dengan tatapan menggoda, kini pria yang menjadi suaminya itu memberikan sensasi ciuman yang mendebarkan.


Frey tersenyum. "Kau ingin seperti ini terus?" Bisikannya begitu lembut di telinga Yara dan membuat bulu kuduknya berdiri.


"Heuh?" Otak Yara tiba-tiba blank.


"Bersiaplah, kita akan makan di restoran terdekat." Frey membelai rambut Yara dengan lembut.


Yara menggeleng, "Tidak. Aku mau makan di sini saja."


Alis Frey mengerut dan beberapa detik kemudian ia tersenyum. "Maksudmu kita makan di kamar saja?"


"Hmm. Aku lagi malas keluar, Frey." Suara Yara mendayu manja.


Frey terkekeh. "Baiklah. 30 menit, waktu yang tidak lama menurutku untuk memesan makanan." Ucap Frey mengedipkan salah satu matanya. Ia segera membalikkan badannya, melangkah mengambil pakaiannya di dalam koper.


Sementara Yara mengembuskan napasnya dengan pipi mengembung. Jantungnya masih berdegup kencang. Ia menyentuh bagian dadanya yang terpompa lebih kencang karena detak jantungnya yang semakin bergemuruh di dalam dadanya. Setelah hembusan napas panjang, Yara pun ikut mengenakan dipakainya.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kesembilan aku 😍


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.

__ADS_1


^_^.


__ADS_2