Terjerat Dengan Suami Palsu

Terjerat Dengan Suami Palsu
TERLAMBAT BANGUN


__ADS_3

πŸ’Œ TERJERAT DENGAN SUAMI PALSU πŸ’Œ


Β 


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


.


Di dalam kamar, Yara mengembuskan napas panjangnya. Ia lalu melangkah menuju toilet kamar mandi. Mengeluarkan kertas yang ia simpan di kantong celananya. Yara pun duduk di atas kloset yang masih tertutup. Ia duduk nyaman di sana. Ia membuka perlahan catatan berharganya itu.


"Yara, bagaimana keadaanmu? aku sudah menerima suratmu. Aku harap kau tetap bertahan di sana. Aku baru saja memasukkan orang yang akan membantumu keluar dari kediaman Miles. Tapi sepertinya kau harus bersabar dulu. Dua hari yang lalu, di depan pagar kediaman Miles. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, Frey membunuh anak buahnya yang berkhianat. Jadi kamu harus lebih berhati-hati. Aku berjanji akan mengeluarkanmu dari sana. Bertahanlah sebentar lagi. Oh iya, aku punya kabar baik. Ayah dan ibumu baik-baik. Jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan mereka. Dari Ethan."


"Heeeeeeehhhh." Yara kembali mengembuskan napas panjang. Ia memeluk kertas itu sejenak. Lalu menarik kembali napasnya. Sepertinya ia memang harus bersabar keluar dari istana megah ini.


Setelah membaca isi pesan. Yara pun memotong kertas itu menjadi potongan kecil-kecil. Ia berdiri dari atas kloset, membuka cover kloset dan membuang kertas itu di sana. Ia menekan tombol flush dan seketika, air menyapu bersih semua kertas itu hingga masuk ke dalam kloset. Yara memeriksa lagi agar tidak ada serpihan kertas yang tertinggal di dalamnya. Sudah bersih. Ia memang harus lebih berhati-hati lagi. Ini adalah kesempatan terakhirnya untuk kabur dan menghilang dari Frey. Masalah utang, Yara bisa memikirkannya lagi.


Setelah melakukan aksinya. Yara pun keluar dari toilet. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Setiap hari harus dilaluinya seperti ini. Sendiri lagi, menyendiri lagi. Tidak ada kegiatan kecuali membersihkan rumah dan memasak. Dan tidak lupa melayani pria angkuh dan sok berkuasa itu.


"Huuufffftttt," Yara mengembuskan napas dengan pipi yang menggembung sambil menatap langit-langit kamarnya.


Beberapa detik kemudian. "Aaarghhhhh...." Yara menendang-nendang kakinya ke atas. Lalu mengusap wajahnya dengan kasar. "Aku merindukan kalian mom, dad. Aku ingin secepatnya keluar dari sini..." Teriak Yara dengan frustasi. Yara memandang jam yang ada di kamarnya, Sudah pukul 03.15 wib.


"Astaga.. mie yang aku makan?" Yara tiba-tiba teringat makan malamnya bersama Billy.


"Badanku....aku tidak mau gemuk. Seharusnya aku tidak makan di jam seperti ini. Ini semua karena Billy." Yara mengumpat Billy.


"Seharusnya aku tidak membuat alasan itu." Wajah Yara cemberut. Ia seperti anak kecil yang sedang membuat kesalahan. Ia menangkup kedua pipinya sambil mengembuskan napas lesu.


"Terserahlah!!! Mau gemuk apa enggak. Biarkan saja. Sekarang tujuanmu adalah keluar dari rumah ini." Ucapnya dengan mantap sambil menatap langit-langit kamar.


"Hoaaaammmmm, aku ngantuk!" Yara beberapa kali menguap. Tidak lama kemudian, Yara akhirnya terlelap.


⭐⭐⭐⭐⭐


"Nona Yara, non....non... Kenapa anda belum bangun juga. Ini sudah jam enam non." Ibu Brigitta mengetuk pintu kamar Yara berulang kali.


Yara hanya bergumam pelan dengan mata yang masih terpejam. Ia bahkan mengganti posisi tidurnya agar lebih nyaman. Ia memeluk bantal gulingnya dan kembali tertidur lagi. Mungkin ini karena efek makan mie bersama Billy kali. Jadi tidurnya nyenyak.


Ibu Brigitta tidak juga beranjak dari tempatnya. Ia masih berusaha membangunkan Yara. Dia tahu seperti apa tuannya. Yara akan mendapatkan masalah. Ibu Brigitta sudah menganggap Yara seperti anaknya sendiri, jadi sebisa mungkin ia melindungi Yara dari kemarahan tuan Miles.


β€œNona Yara, bangunlah... ini sudah jam berapa? bukankah anda harus menyiapkan sarapan tuan Miles dan mempersiapkan keperluannya."


Saat mendengar 'Menyiapkan sarapan dan menyiapkan keperluan tuan Miles' mata Yara langsung terbuka lebar. Seketika itu juga Yara terkejut, Ia melihat jam telah menunjukan pukul 06.05, sedangkan tuan Miles berangkat ke kantor pukul 07.00. Dengan pandangan mata buram setelah bangun tidur, Yara melompat dari tempat tidurnya dan langsung berlari membuka pintu.


CEK...CEK...CEK...!


Bunyi kunci di buka paksa.

__ADS_1


BRAKKKKKK!


Yara membuka pintu dengan kasar. "Ibu Brigitta kenapa tidak dari tadi membangunkanku? Astaga...bagaimana ini, tuan Miles bisa membunuhku..." keluh Yara berlari ke kamar mandi. Ketika sampai di pintu kamar mandi, Ia hampir saja terpeleset karena tidak memperhatikan jalan. Beruntung Yara tidak jatuh hanya saja jantungnya saja yang berdebar sangat kencang dan mengumpat segala kecerobohannya.


BRAKKKKKK!


Lagi-lagi Yara menutup pintu dengan kasar. Sampai membuat ibu Brigitta memejamkan matanya karena terkejut. Ia lalu menggeleng melihat tingkah Yara yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri.


"Dari tadi, saya sudah membangunkanmu nona, tapi anda tak bangun-bangun." Ibu Brigitta berbicara sambil merapikan tempat tidur Yara.


"Ahhhhh.... Ibu Brigitta tahu bagaimana tuan Miles jika sudah marah. Tamat hidupku bu.." Seru Yara dari dalam kamar mandi.


"Anda tidak perlu mandi, non. Anda masih harus menyiapkan sarapan dan pakaian tuan Miles."


"Gak bisa bu. Aku lagi dapat bulan."


Ibu Brigitta tersenyum. Ia melipat selimut dan mengembalikan ke tempatnya. "Gak biasanya anda bangun terlambat, non."


"Jam dua pagi, Billy mengajakku makan bu. Marahi saja dia." Yara seperti mengadu. Ia keluar dari kamar mandi dan sudah menggunakan bathrobe.


"Ha? Billy mengajakmu makan?" Ibu Brigitta sedikit terkejut.


"Hmmm." Yara mengangguk. Ia menggunakan pakaiannya sedikit terburu-buru. "Gara-gara Billy aku terlambat bangun bu." Ucapnya lagi.


"Maafkan aku Billy, terpaksa aku berbohong. Aku yakin ibu Brigitta tidak akan memarahimu." Batinnya.


⭐⭐⭐⭐⭐


Yara nampak terburu-buru melangkah, setelah mendapat kabar tuan Miles sudah bangun lebih awal dari perkiraannya. Ia langsung menuju dapur untuk menyiapkan kopi.


Setelah menyiapkannya, Yara kembali membawa baki dengan secangkir kopi. Ia melangkah cepat menuju kamar Frey. Yara menarik napas gugup, lalu mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu.


Tok tok tok!


"Permisi, tuan." Yara mengintip dari ujung pintu.


Tidak ada jawaban.


Yara memilih masuk. Ia melihat tuan Miles tengah berdiri memandang keluar dinding kaca untuk melihat pemandangan kota. Ia memasukkan tangannya ke dalam kantong celananya. Posisinya membelakangi Yara. Ia mengerutkan keningnya, Frey sudah menggunakan jas. Tapi warnanya berbenturan dengan celananya.


Glek! Yara menelan salivanya begitu susah. Ia merasa hawa di ruangan ini terasa berbeda. Dingin dan serasa menakutkan.


Yara maju perlahan meletakkan kopi di atas meja. Ia lalu melangkah pelan mendekati Frey. Langkah kakinya terdengar oleh Frey. Yara sudah berdiri dengan jarak dua meter di belakang Frey. Namun Frey tidak juga membalikkan badannya.


"Tuan, Izinkan saya membuka jas yang anda pakai."


Frey masih terdiam dengan kepalan tangan yang kuat.


"Jas yang anda gunakan tidak sesuai dengan celana yang anda pakai, jadi Izinkan saya..."

__ADS_1


Belum juga Yara menyelesaikan kalimatnya. Frey sudah mengangkat tangannya, gestur yang dipahami Yara. Mengisyaratkan Yara untuk tidak bicara.


Deg!


Jantung Yara terpukul kuat. Ia meremas tangannya dan diam di posisinya dengan satu tarikan napas.


"Huuuuuhhhh baru juga terlambat bangun, tampangnya sudah begitu. Astaga...aku gak percaya ini. Selama aku hidup, daddy tidak pernah memperlakukan aku seperti ini. Dasar lelaki sialan." Yara mengumpat Frey dalam hati.


Kamar itu kembali hening, bahkan suara jantungnya sampai terdengar. Yara benar-benar tidak nyaman dengan suasana ini. Frey masih tetap diam dan tidak mau bicara.


SEPULUH MENIT TELAH BERLALU.


Frey menarik napasnya dalam-dalam dan langsung membalikkan badannya. Ia duduk di kursi beroda empat itu tanpa memandang Yara.


Yara langsung merubah posisinya menghadap ke arah Frey. Ia menyatukan ke dua tangannya di depan dan menunggu instruksi dari lelaki yang berkuasa itu.


"Aku ingin kau membuka laptop ini di sini. Lihat sampai selesai. Aku harap kau tidak melewatkan sedikit pun." ucap Frey membuka laptopnya. Tatapan tajamnya saat ini siap menghunus jantung Yara.


Yara belum menyadari apa-apa. Ia menatap Frey dengan kerutan dahi.


"Apa ini, tuan?" Tanya Yara sedikit tergagap. Tatapan Frey saat ini benar-benar mengintimidasinya.


"Periksa sekarang!" Frey mengangkat alisnya menatap Yara. Ia mengarahkan laptopnya ke hadapan Yara.


Dengan cepat Yara memeriksanya.


Deg...


Deg...


Deg...


Jantung Yara berdetak begitu kuat. Wajahnya menegang, matanya membulat sempurna dengan mulut yang terbuka. Napasnya terdengar naik turun. Tangannya gemetar. Wajahnya terlihat pucat. Semua kejadian tadi malam terlihat jelas di dalam video itu. Ia mundur beberapa langkah dan menggeleng. Matanya sayu dan terus melihat ke bawah.


"Apa jangan-jangan......?"


BERSAMBUNG.....


^_^


Maaf my readers tersayang, lagi-lagi terlambat ngirim. Author benar-benar sibuk banget di dunia nyata πŸ˜‚ Anak paling besar masuk SMA, anak paling kecil masuk TK. Jadi author itu harus membagi waktu dengan baik. Harap maklum ya πŸ₯°


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kesembilan aku 😍


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^.

__ADS_1


__ADS_2