Terjerat Dengan Suami Palsu

Terjerat Dengan Suami Palsu
MENIKMATI SARAPAN


__ADS_3

💌 TERJERAT DENGAN SUAMI PALSU 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Frey masih terkekeh geli sembari memasangkan kancing kemejanya dan menggunakan jaket yang sama dengan Yara.


"Haha, kau benar-benar lucu sayang, aku hanya menggodanya tapi dia sudah gugup sampai mau pingsan seperti itu."


Frey menggigit bibir bawahnya sambil memperhatikan dirinya di cermin. Ia hanya berniat menggodanya dengan cara memeluknya dari belakang. Bahunya yang terbuka, juga leher jenjangnya yang terpampang indah di hadapannya, Frey mulai kehilangan akal sehatnya. Hingga akhirnya menjadi seperti itu. Untung saja Yara bisa menghentikannya. Ah, jika tidak. Entah apa yang akan terjadi di pagi yang cerah ini. Astaga, memikirkannya saja membuat Frey hampir gila.


Frey menghampiri koper berwarna merah yang tergeletak dalam posisi terbuka di atas ranjang. Lagi-lagi Frey tersenyum saat melihat semua keperluannya sudah rapi di susun di dalam koper.


"Hem, istri yang baik."


Frey segera meraih koper merah itu dan memeriksa satu-persatu, apa saja yang ia masukan ke dalam koper itu


"Kemeja biru, jeans biru,  hoddie  biru, baju tidur biru. Astaga kenapa warna biru mendominasi koperku?" Gumam Frey sembari mengacak-ngacak isi koper yang sudah dia rapikan itu. Tapi tunggu sebentar. Aku tidak menemukan barang-barang paling pribadi milikku. Mengapa ia bisa lupa hal terpenting seperti itu?" Frey menggelengkan kepalanya.


Setelah selesai membereskan barang-barangnya, frey segera turun dan di sambut oleh anak buahnya untuk membawa kopernya ke dalam mobil.


Hem, akhirnya hari ini tiba juga. Hari yang paling di tunggu Frey. Karena Yara belum keluar dari kamar, Frey kembali menyusul Yara ke atas.


"Kau sudah siap sayang?" Frey sudah rapi dengan pakaiannya. Ia berjalan mendekat ke arah Yara yang tengah duduk di depan cermin. Seperti wanita pada umumnya, Yara tentunya salah satu wanita yang ingin berpenampilan cantik di depan suaminya. Frey memegang ke dua lengan Yara dan mencium puncak kepala Yara dengan lembut.


"Ehmm, aku sudah siap." Kata Yara tersenyum di depan cermin. Ia merapikan baju dan jaketnya. Ia sengaja memakai hadiah pemberian Frey beberapa hari yang lalu saat mereka berbelanja ke mall. Jaket ini edisi terbatas. Ini adalah salah satu jaket yang dirancang untuk musim tertentu. Jaket berbahan kulit dari Mango Faux Shearling Jacket. Bahan kulit imitasi berkualitas tinggi dan berukuran regular fit. Harganya benar-benar wow. Namun tidak mengurungkan niat Frey untuk membelikannya untuk Yara. Kata Frey, Ia harus tetap tampil modis karena ini perjalanan liburan mereka yang pertama. Bahannya saja tidak terlalu bulky dan sangat nyaman digunakan. Yara tersenyum saat Frey mencium pelipisnya lagi.


"Kau sangat cantik sayang."


Yara terkekeh. "Benarkah?"


"Hmm, semua tentangmu aku suka. Tidak terkecuali. Aku sangat mencintaimu Yara." Frey membisikkan kalimat manis yang membuat rona wajah Yara memerah.


"Terima kasih atas pujiannya." Yara tersenyum malu-malu membalas menatap Frey dari cermin.


"Sekarang kita keluar," Kata Frey lagi.


"Aku malu." Wajah Yara bersemu merah dan Ia sudah berdiri di samping Frey. Ia membawa tas kecilnya di tangan kiri sementara tangan kanannya memeluk tangan Frey.


"Heuh, kenapa harus malu? Di sana hanya ada ibu Brigitta dan mommy kalau ia sudah keluar dari kamarnya. Buat apa malu?" Frey terkekeh sambil menatap istrinya dengan sayang.


"Bukan itu?" nada Yara mendayu manja. Ia kini berdiri menghadap Frey.

__ADS_1


"Jadi apa?" Frey mengerutkan keningnya. Ia bingung tiba-tiba Yara mengatakan malu. Tiba-tiba Frey tersenyum dan menemukan jawabannya, Ia tersenyum dengan seringai nakal. Frey langsung memeluk pinggang istrinya agar posisi mereka semakin dekat.


Yara terbelalak dengan kedekatan ini, wajahnya bersemu merah. Tatapan mata elang Frey memicing dengan sudut bibirnya yang naik ke atas. Frey seperti bisa membaca pikirannya. Yara langsung menggeleng cepat.


"Tidak apa-apa. Aku tidak memikirkan itu, sumpah. Sungguh..." Yara berusaha membela diri. Agar tidak menjadi tersangka karena ketahuan berpikiran yang aneh.


"Memangnya kau memikirkan apa?" Frey menyeringai tipis. Yara memberikan jarak lagi di antara wajah mereka. Ia berusaha menghindari tatapan itu.


"Hah?" Yara terperangkap sendiri dengan pikiran khayalnya. "Astaga, dia benar-benar pintar." Yara mengigit bibir bawahnya.


Frey tersenyum nakal, ia memeluk pinggang Yara agar semakin merapat ke dirinya. "Kau tidak perlu persiapan sayang, apalagi jika mengatakan malu. Aku suamimu, aku akan membuatmu bahagia. Itu adalah tujuan hidupku."


"Heuh?" mata Yara melotot sempurna. Wajahnya lagi-lagi bersemu merah.


Frey kembali tersenyum nakal, Ia sedikit mendesah dan berbisik lagi. "Jika kau mengizinkannya, biarkan kita melakukannya di sana. Aku pastikan tidak ada yang mengganggu. Kita bebas melakukannya kapan saja." Frey berbisik begitu sensual di telinga Yara, dengan penuh gairah, napasnya berembus panas, suaranya sangat berat.


Yara tersenyum, Ia tidak mau kalah dengan suaminya. Ia sengaja memberikan sedikit usapan di dada Frey dan bergelayut manja. Ia pun meraba dada suaminya seakan melukis namanya di sana. "Benarkah? Bukankah tujuan kita hanya untuk berlibur saja?" Kata Yara tersenyum smrik dengan menggigit bibir bawahnya.


DEG DEG DEG.


Frey terdiam kaget saat Yara mulai nakal meraba bagian dadanya. Mereka saling berpandangan. Frey menikmati debaran-debaran yang tercipta dari detak jantungnya


"Sayang?"


"Hmmm."


⭐⭐⭐⭐⭐


Yara dan Frey menuju ke meja makan. Frey duduk membuka tablet untuk membuka beberapa email yang masuk. Sementara Yara berjalan menghampiri ibu Brigitta yang tengah menyiapkan sarapan.


"Hmmm..." Wangi bitterballen yang dibuat jadi adonan roti dan diisi dengan daging cincang yang sudah dibumbui. Menu favorit Yara langsung tercium oleh hidungnya. Ia langsung tersenyum bahagia.


"Selamat pagi ibu Brigitta," sapa Yara memeluk Brigitta dari belakang. Wanita paruh baya yang selalu mengerti akan dirinya. Ibu Brigitta selalu memberikan perhatiannya layaknya seorang ibu kepada anaknya. Yara sangat bersyukur akan itu.


Ibu Brigitta tersenyum dan segera membalikkan badannya. "Anda sudah siap nyonya?"


"Hmmm," Yara bergumam pelan sambil melepaskan pelukannya.


"Heuh? anda sepertinya sudah benar-benar membuka hati, nyonya." Brigitta setengah berbisik dengan memberikan senyum terbaiknya.


"Hahahaha." Yara tertawa, "Apa terlihat seperti itu ibu?"


"Hmmm." Ibu Brigitta menganggukkan kepalanya.


Yara tersenyum mengambil baki untuk menyiapkan sarapan.


"Tuan Frey sangat beruntung memiliki istri seperti anda. Anda baik dan penyayang." timpal ibu Brigitta lagi.

__ADS_1


Yara hanya tersenyum sambil menunjukkan deretan giginya. "Tapi hatiku belum sepenuhnya terbuka, ibu. Aku belum mempercayai dia." ucap Yara pelan hampir tidak terdengar.


Brigitta mengangkat alisnya sekilas, saat melihat ekspresi Yara yang tadinya cerah tiba-tiba suram. "Apa karena tuan Frey belum mengizinkan anda bertemu dengan orang tuamu?"


Yara menarik napas berat sambil bergumam. "Hmmm. Sepertinya Frey menyimpan sesuatu dariku. Tapi untuk bertanya langsung aku tidak berani."


"Kenapa?"


"Frey selalu tahu apa yang aku pikirkan. Sebelum aku mengatakannya, Frey sudah lebih dulu mengalihkan pembicaraan."


Brigitta menarik napasnya. Ia lalu memberikan baki yang berisikan bitterballen dan kopi. "Tuan Frey sudah menunggu sarapannya."


Yara melepaskan senyumannya. Ia menerima baki itu dari tangan ibu Brigitta. "Baiklah, terima kasih ibu." Yara pun membawa sarapan itu ke atas meja.


Yara melihat ke arah Frey, masih bergeming dengan tablet digital yang ada di tangannya. Wajahnya tampak serius.


"Sayang, sarapan dulu." Yara meletakkan baki berwarna emas itu dan menaruh sarapan itu ke hadapan Frey.


Frey tersenyum melepaskan tatapannya dari tablet yang ada di tangannya. Ia langsung menyingkirkan tablet digital itu.


"Terima kasih, sayang."


Yara tersenyum sambil mengangguk. Ia pun duduk di hadapan Frey. Mereka menikmati sarapannya dengan tenang. Sesekali Frey menatap ke arah tablet yang posisi masih terbuka.


"Ibu sudah pulang dari luar kota?" Tanya Frey menatap Brigitta yang tengah menuang teh hangat ke dalam gelas Yara.


"Sudah tuan. Beliau berada di kamarnya. Apa perlu saya panggilkan?"


"Tidak perlu." Jawab Frey dengan cepat. "Mommy tidak akan suka makan bersama kami."


Yara menatap Frey dan memberikan kode kepada suaminya itu. Tapi Frey pura-pura tidak melihatnya. Ia kembali menikmati sarapannya. Tiba-tiba mata Frey tertuju ke arah leher Yara.


"Kau tidak memakai kalungmu?" Tanya Frey ketika menyadari benda itu tidak ada di leher indah istrinya. Yara pernah cerita kalung itu adalah pemberian ibunya saat ia lulus sekolah menengah atas. Yara bahkan sangat menyukainya dan selalu memakainya setiap hari.


"Aku melepaskannya. Aku takut kalung itu hilang, jadi aku menaruhnya di tempat yang aman. Aku tidak mau mengenakan kalung itu dan akhirnya hilang." Yara tersenyum sambil meneguk air putih beberapa kali.


"Apa kalung itu benar-benar berharga untukmu istriku sayang. Sampai kau tidak ingin jika kalung itu hilang. Apa yang akan terjadi padamu jika kau tahu bahwa ayah dan ibumu telah mati di tanganku?"


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kesembilan aku 😍


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^.

__ADS_1


__ADS_2