
๐ TERJERAT DENGAN SUAMI PALSU ๐
ย
๐ HAPPY READING ๐
.
.
Setelah pertimbangan yang cukup matang, akhirnya Renata memutuskan untuk menemui putrinya. Sudah dua minggu, Yara tidak bisa dihubungi. Setelah mendapatkan alamat dari anak buah suaminya. Ia meminta Bray mengantarnya ke alamat yang dituju.
Dalam perjalanan. Renata menarik napas singkat dengan pandangan sayu. Renata bisa merasakan ada yang tak beres dengan Yara.
"Yara, apa kabar kamu sayang? apa kamu bahagia?" Renata bergumam pelan sambil menatap kosong jalanan yang dilewatinya.
Terlihat jelas bahwa ia mencemaskan putrinya. Bagaimana tidak? Merekalah yang sudah mengorbankan kebahagiaan putrinya. Penyesalan itu kian lama kian menghantui pikiran Renata.Tidak ada beban begitu berat yang dapat melebihi penyesalannya saat mereka memaksa Yara menikah demi menyelamatkan perusahaan Wyanet. Setelah perusahaan kembali pulih, seharusnya ia lega, tapi hal itu tidak dirasakan Renata.
Yara seharusnya menikmati masa mudanya. Dengan penampilan fisiknya yang cantik luar biasa, Yara bisa mendapatkan tipe pria idaman yang dia impikan. Selama Yara sekolah, banyak laki-laki yang menyukainya. Dan hanya tipe-tipe tertentu yang menjadi kekasih putrinya itu. Yara sebagai gadis yang lahir dan dibesarkan di lingkungan yang baik, dan dari kecil dimanjakan oleh dongeng-dongeng putri bergaun indah melewati mata kaki.
Renata menarik napasnya yang terasa berat sambil memegang dadanya, mendongak ke atas sambil menutup rapat matanya. Pikirannya berkecamuk dengan segala gejolak. lagi Renata menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya dari mulut.
Ia berharap, Yara diperlakukan dengan baik. Walau pernikahan ini hanyalah status pernikahan palsu. Membayangkan pria tua itu saja membuatnya merinding.
Renata menatap keluar jendela. Pikirannya jauh berkelana. Punggungnya menempel ke kursi. Melihat ke arah jalanan yang dilewati.
Udara sejuk khas pegunungan langsung menyapa mereka saat memasuki area pegunungan. Pepohonan rindang berjajar di sisi kiri dan kanan jalan membuat Renata mengernyit heran.
"Kita mau kemana Bray?" Tanya Renata melihat Bray dari kaca spion yang ada di tengah mobil. Ia bingung saat melihat pemandangan yang meneduhkan matanya.
"Ini adalah alamat yang hendak kita tuju, nyonya."
"Benarkah? Apa tidak salah?" Tanya Renata lagi.
Bray tersenyum saat mendengar perkataan wanita yang sudah lama dikenalnya. "Benar nyonya, ini adalah alamat rumah milik tuan Miles. Semua kawasan ini adalah milik tuan Miles.
"Hah???" Renata terbelalak dengan mulut terbuka. "Kamu serius?"
Bray lagi-lagi tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Ya, nyonya. Semua kawasan ini milik tuan Frey. Beliau bahkan menjadikan kawasan ini tempat wisata karena keindahannya."
"Hmmm, saya juga merasakan itu."
"Keindahannya memang sudah terkenal hingga ke mancanegara. Tempat ini dianggap suci oleh setiap pengunjung yang datang. Anak-anak muda juga sering mengunjungi tempat ini. Mereka datang jauh-jauh hanya untuk melihat paduan warna kuning, oranye, hitam dan biru yang dihasilkan oleh fenomena alam. Apalagi jika kita melakukan perjalanan di pagi hari, kita akan disajikan warna-warna indah berasal dari pasir yang terkena pantulan sinar matahari. Pasir-pasir disini juga seolah berbisik saat tersapu oleh tiupan angin yang berhembus tenang saat pagi menyapa. Sambil berjalan, kita bisa melihat beberapa bangunan yang berdiri di sekitar kawasan ini." Kata Bray mengakhiri penjelasannya dan matanya tetap fokus ke jalan.
Renata menganggukkan kepalanya sambil bergumam. "Pantas saja lelaki tua itu dengan mudahnya mengeluarkan uang untuk membantu perusahaan Wyanet keluar dari kebangkrutan. Ternyata dia bukan orang sembarangan."
Setelah tiga jam perjalanan ditempuh akhirnya mereka tiba.
"Kita sudah sampai, nyonya." Kata Bray menatap wanita paruh baya itu dari kaca spion.
Renata membuka matanya. Melihat penthouse mewah yang ditempati putrinya. Penthouse ini tampak berbeda. Ini seperti bukan rumah biasa, bisa saja dikatakan ini seperti rumah istana raja. Dan penthouse mewah ini memiliki jarak cukup jauh dengan rumah lainnya.
"Apa ini tempatnya?" tanya Renata memastikan lagi. Tadi Renata sempat berpikir rumah yang dikunjunginya tidak semewah yang ada di depannya. Namun, diluar dugaannya, rumah ini mewah dan dijaga ketat oleh security.
__ADS_1
"Benar nyonya, kita sudah sampai di depan penthouse sesuai dengan alamat yang ada di kertas ini." ucap Bray lagi.
Bray segera turun dan membukakan mobil untuk Renata.
"Silakan nyonya,"
"Terima kasih Bray." ucap Renata keluar dari mobil.
Ia mengedarkan pandangannya, menatap sekelilingnya. Penthouseย ini tampak sepi.
"Saya akan menunggu anda di sini nyonya."
"Baiklah,"
Renata menarik napas dalam-dalam. Jantungnya berdetak kencang saat ia melihat keadaan rumah. Security membuka pagar ketika ia mengatakan tujuannya untuk bertemu dengan pemilik rumah yang bernama Frey Miles.
"Saya ingin bertemu dengan tuan Miles."
"Anda siapa?" Tanya pria itu dengan ekspresi datar.
"Saya adalah keluarganya."
"Sebentar saya hubungi dulu."
Renata tersenyum sambil mengangguk. Pria itu tampak menghubungi seseorang.
"Nyonya, anda bisa masuk dan bertemu kepala pelayan keluarga Miles. Beliau akan mengarahkan anda bertemu dengan tuan Miles."
Renata pun berjalan memasuki halaman penthouse yang sangat berkelas itu. Ia mengedarkan pandangannya. Menatap rumah klasik itu, yang menerapkan sentuhan minimalis modern dengan aksen Turki yang sangat kuat. Desain rumah minimalis bertekstur putih dengan suasana terbuka menjadi tampak menarik. Sisi depan rumah di kreasikan secara menarik baik dengan bentuk pasir maupun tanaman hias.
Renata melangkah pelan seirama dengan detak jantungnya yang semakin terpukul kencang. Ia berhenti tepat di depan pintu teras rumah. Sebelum menekan bel, ia menarik napasnya dalam-dalam. Perlahan ia mengangkat tangannya dan menekan Bel rumah itu.
TING NONG
TING NONG
Pintu terbuka pelan. Seketika Jantung Renata berdetak kencang ketika pintu terbuka sempurna. Muncul seorang lelaki paruh baya dari balik pintu. "Siapa dia? apakah lelaki ini adalah tuan Frey?" ucap Renata dalam hati.
"Selamat siang," Sapa Renata dengan sopan.
"Selamat siang. Anda ingin mencari siapa?" Tanya pria itu dengan sopan.
"Saya mau mencari Tuan Miles." ucapnya dengan pelan.
"Maaf, Tuan Miles sedang tidak ada. Beliau lagi perjalanan bisnis keluar kota." Jawab pria itu.
"Keluar kota, kapan Tuan Miles kembali?" tanya Renata lagi.
"Saya kurang tahu, mungkin empat hari." Jawab pria itu berbohong.
Renata semakin gugup, ia sampai mencengkeram tangannya sendiri. "Bagaimana dengan Yara? Saya ingin bertemu dengan Yara Wyanet." Ucap Renata kemudian.
"Yara?" Pria paruh baya itu mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Ya, Yara. Sudah beberapa hari ini Yara tidak bisa dihubungi dan saya sangat mengkhawatirkannya."
"Siapa kamu?"
Deg!
Entah mengapa perasan Renata tidak enak saat melihat ekspresi pria itu. "Saya adalah ibunya."
"Maaf. Anda sepertinya salah alamat." ucap pria itu cepat. Ia langsung memberi kode kepada tiga pria yang ada di sana.
"Bukankah ini alamat rumah tuan Miles? bagaimana anda mengatakan saya salah alamat."
"Maaf. Lebih baik anda meninggalkan tempat ini."
"Tapi saya ingin bertemu dengan putri saya, pertemukan saya dengan putri saya." Renata mulai kehilangan kesabaran.
Tiba-tiba muncul dua orang pria dan menyeret Renata. Renata terkejut saat tangannya dicengkeram kuat.
"Apa yang kalian lakukan? Lepaskan aku!" Renata meronta dan berusaha melepaskan diri. Namun ia sudah diseret paksa sampai keluar pagar. Tubuh Renata di dorong sampai tersungkur ke aspal.
"Jangan pernah mencoba datang ke sini lagi." tegas lelaki itu memberi peringatan kepada Renata. Pintu pagar lalu tertutup.
Renata membuang napas dengan mulut terbuka. Akhirnya ketakutannya terjawab sudah. Kini ia yakin Yara sedang tidak baik-baik saja. Renata menunduk sambil menangis. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. apakah ini hukuman untuknya?
Bray langsung cepat keluar dari mobil saat melihat Nyonya Wyanet didorong dengan kasar keluar dari halaman rumah.
"Apa yang terjadi nyonya?"
Renata tidak menjawab. Ia hanya menangis di sana. Penyesalan selalu datang terlambat. Namun ia segera sadar bahwa masalah yang ia hadapi saat ini tidak dapat terselesaikan hanya dengan mengutuk diri sendiri atau bersedih. Dalam hati ia berkata,
"Kini bukan waktunya untuk bersedih, kesempatan yang sangat kecil ini pun harus aku manfaatkan untuk mencari jalan keluar. Apa yang telah berlalu biarlah berlalu, saat ini yang terpenting adalah bagaimana agar putriku keluar dari rumah itu."
SEMENTARA ITU.
Sebuah kamar mewah dengan tempat tidur dan lemari yang cukup besar terlihat di sana. Semua didominasi warna peach yang lembut dengan warna-warna senada yang saling berkolaborasi. Yara menatap sekelilingnya. Jelas, kamar ini bukan kamar yang ia ditempati sebelumnya.
"Sudah bangun?" ucap pria bermata biru dengan suara yang mendominasi. Suaranya terlihat berat.
Yara langsung mengerjap dan melihat ke sumber suara tersebut. Matanya terbelalak saat melihat sosok pria muda duduk santai di sofa. Sorot matanya terlihat dingin. Postur tubuhnya tegap, atletis, tampan, rambutnya saja disisir rapi ke atas memperlihatkan dahi dengan bentuk yang sempurna. Hidungnya mancung, garis rahang yang tegas dengan garis yang menawan.
"Siapa lagi dia?"
"Apakah dia anak tuan Miles?"
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kesembilan aku ๐
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^.
__ADS_1