
💌 TERJERAT DENGAN SUAMI PALSU 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
"Mandi kembang?" Yara mengernyit dengan mata melotot sempurna.
"Iya nona! mandi kembang ini salah satu tradisi dari keluarga Miles." Wanita paruh baya itu menatap Yara tak berkedip. Kemudian ia berseru memanggil kedua pelayan yang sedang berdiri tidak jauh dari mereka.
Sementara Yara menggeleng tak percaya. "Di zaman modern sekarang ini? bahkan semua barang yang dipakai sudah serba digital? tapi masih ada yang percaya dengan ritual mandi kembang? Apa yang mereka pikirkan? Apa mereka sudah gila? atau memang cara berpikirnya masih kuno?" Yara mengumpat dalam hati sambil meremas tangannya dengan erat. Yara bergidik. Bukannya ritual mandi kembang ini diyakini menguatkan aura mistis? Aaaahhh.... Ini tidak bisa dibiarkan. Ia mengembuskan napasnya dengan kesal
"Apa semuanya sudah siap?" Tanya Brigitta mengulurkan tangannya menyambut handuk putih yang diberikan salah satu pelayan kepadanya.
"Semuanya sudah siap ibu Gitta."
Brigitta tersenyum mengangguk. "Baiklah, sekarang kalian bisa kembali. Persiapkan untuk makan malam nanti."
"Baik bu." Jawab mereka serentak, lalu mereka berlalu meninggalkan Brigitta dan Yara.
Brigitta membalikkan badannya dan tersenyum melihat Yara yang terdiam terpaku di sana.
"Nona, sekarang ikut aku." Brigitta membuka pintu dan melangkah terlebih dahulu yang diikuti oleh Yara.
Kamarnya sangat luas. Yara mengedarkan pandangannya. Warna hitam dan warna emas mendominasi ruangan ini. Interiornya sangat modern dan mewah.
"Nona, anda bisa mengganti pakaian anda dan menggunakan ini." Brigitta memberikan bathrobe kepada Yara.
Yara menarik napasnya dengan mulut terbuka. Ini tidak bisa dibiarkan. Dengan cepat Yara menolak saat melihat bathub yang dilapisi keramik putih dan emas sudah di penuhi bunga-bunga di dalamnya.
"Aku tidak percaya dengan semua ini." Ucap Yara dengan suara nyaring.
Brigitta terkejut dan menatap Yara dengan heran. "Heuh? Apa ada yang salah nona?"
"Tentu Ini salah! Semua ini tidak benar. Bagaimana kalian bisa memintaku mandi kembang? Kalau ingin bertemu dengan tuan Miles. Bertemu saja, tidak perlu melakukan hal konyol seperti ini. Astaga.... kalian membuatku gila."
"Tapi anda harus melakukan ini nona, anda tidak bisa menolak. Saya tunggu lima menit, nanti saya akan kembali lagi." Setelah mengatakan itu, Brigitta langsung meninggalkan ruangan itu.
" Astaga dia benar benar pergi?" Yara menatap pintu yang sudah tertutup. Ia memutar bola matanya seakan tidak percaya.
"Bukankah semua ini aneh?"
"Bukankah semua ini tidak wajar?"
"Tidak ada pernikahan seperti ini bukan, walau statusnya sebagai suami palsu."
"Mandi kembang? untuk apa?"
Berbagai spekulasi bodoh sudah terpatri diotak kecil Yara. Ia mengkerutkan dahinya dan berpikir keras.
"Bukankah ini terasa tidak adil baginya?"
"Kapan semua ini akan berakhir?"
__ADS_1
Yara kembali menarik napasnya dengan berat. Untuk saat ini, ia memang tidak bisa menolak. Bagaimana caranya Yara harus bertemu dengan lelaki tua bangka itu. Tidak ingin ditunggu, akhirnya Yara mengganti pakaian sesuai perintah ibu Brigitta.
Lima menit telah berlalu, Brigitta kembali masuk menemui Yara.
"Sudah siap, nona....?"
"Seperti yang anda lihat." Yara menunjuk bathrobe yang dikenakannya.
"Baiklah. Sekarang anda bisa merebahkan tubuh anda di atas tempat tidur ini."
"Untuk apa?" Kejar Yara dengan mata memicing tajam. Otaknya langsung dipenuhi pikiran kotor.
Brigitta tersenyum. "Saya akan melulur badan anda."
"Jangan macam-macam ibu Brigitta, saya bisa melaporkan anda ke tuan Miles." Ancam Yara.
"Saya hanya melaksanakan tugas seperti yang diperintahkan tuan Miles."
"Bisakah anda tidak menyebut nama itu?"
"Silakan nona!" Ucap Brigitta tanpa menghiraukan perkataan Yara.
Yara terlihat kesal. Ia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur berukuran kecil itu.
Brigitta mulai mengoleskannya bagian punggung Yara dan menggosoknya dengan lembut.
"Sebelum bertemu tuan Miles anda memang harus luluran untuk merilekskan tubuh anda. Agar anda tidak tegang."
"Tegang?"
"What???? tidak bisa tidur? aku justru berencana membuatnya tertidur dan tidak bisa bangun lagi."
"Jadi malam ini anda harus cantik, nona."
Yara memutar bola matanya, ia memilih mengalihkan pembicaraan. "Ibu Brigitta sudah berapa lama bekerja di sini?" Tanya Yara dengan mata terpejam. Ia menikmati pijatan ibu Brigitta.
"20 tahun."
"Ha? 20 tahun? Anda tidak bosan tinggal di sini? Apa anda tidak berniat kabur dari rumah ini?"
"Kabur? untuk apa kabur. Saya diperlakukan dengan baik oleh tuan saya. Mereka sudah menganggap saya bagian dari keluarga mereka."
"Ck! Bagian dari keluarga? apa aku gak salah dengar? jangan terlalu memuji mereka bu. Mereka itu jahat!" umpat Yara dalam hati.
Tidak ada pembicaraan setelah itu. Yara sempat terlelap. Usai melakukan luluran. Brigitta meminta Yara mengenakan masker di wajahnya dengan mentimun segar untuk merilekskan mata. Tidak butuh waktu lama Yara sudah selesai melakukan perawatan, Ia sudah terlihat segar.
Dan diakhir, Yara melihat ibu Brigitta kembali menaburkan bunga ke dalam bathub. Yara persilakan duduk sebelum membersihkan tubuhnya.
Guyuran demi guyuran air perlahan menyentuh permukaan kulit Yara. Mulai dari kepala hingga ujung kaki. Hati Yara bergejolak. Sungguh baru kali ini ia mandi kembang seperti ini. Ya hanya pasrah saja, mungkin itu pilihan yang terbaik untuk saat ini. Setelah selesai mandi kembang. Yara pun membersihkan tubuhnya. Membasuh tubuhnya dengan air hangat. Bulir-bulir air shower mengguyur kepala Yara hingga mengalir deras ke kaki. Ia sengaja membesarkan volume air yang keluar. Hingga perlu membuka mulut agar dapat menarik oksigen untuk bernapas. Yara mengusap sabun ke wajah dan seluruh tubuhnya sambil memejamkan mata. Tak ingin berlama-lama. Ia pun membersihkan tubuhnya dengan air hangat. Ternyata benar, tubuhnya jauh lebih segar. Yara kini siap bertemu dengan tuan Miles.
⭐⭐⭐⭐⭐
Frey menuruni anak tangga tanpa ekspresi.
"Makan malam anda sudah siap tuan!" Ucap seorang pelayan dengan sopan.
Tidak ada sahutan, Frey terus melangkah melewati sang pelayan menuju dapur. Di sana Frey melihat posisi Victoria duduk di kepala meja. Menunjukkan ia sebagai kepala keluarga di sana. Jennifer juga ikut bergabung di meja makan. Jennifer adalah tamu Victoria yang sudah dua hari tinggal di rumah ini. Sementara pak Bram berdiri tepat di belakang Victoria dengan jarak satu meter.
__ADS_1
"Kau sudah datang sayang, mari bergabung." ucap Victoria tersenyum.
Sementara Jennifer bangun dan menyapa Frey. Lelaki yang sudah lama ditaksirnya.
"Hai, Frey...." Tangannya melambai manja.
Tidak ada respon dari Frey sama sekali. Pelayan segera menggeser kursi dan mempersilakan tuannya duduk.
"Mommy meminta mereka menyiapkan makanan kesukaanmu, Frey." Victoria berbicara sambil mencondongkan badannya. "Kalian bisa menyajikannya!" Perintah Victoria tersenyum menatap ke arah Frey.
Para koki dengan cepat mengatur makanan itu sesuai urutannya. Makanan berkelas para kalangan atas tentunya.
"Apa ini perayaan khusus? Makanannya terlalu berlebihan." kata Frey protes menatap semua makanan yang dihidangkan di atas meja.
Victoria hanya tersenyum tipis. "Tidak ada perayaan khusus Frey, ini hanya makan malam sederhana saja."
"Ini tidak sederhana, ini terlalu berlebihan."
"Ayolah sayang, jangan memulai lagi." Victoria berucap dengan berdecak. "Aku ingin makan dalam ketenangan." keluhnya menatap tak suka.
Mendengar itu Frey tersenyum samar. Entah apa yang dipikirkan Victoria saat ini. Tiba-tiba ia bersikap manis di depannya. Makan bersama dalam kehangatan? Cih... namun dalam hatinya Ia ingin menangis. Ia selalu bisa memainkan peranan dengan baik. Tapi sejujurnya Frey tersiksa. Frey menarik napas dalam diam. Merasakan perih di dalam hatinya yang begitu sakit.
Pelayan sedikit membungkuk memberi hormat. Makanannya sudah siap nyonya dan tuan, selamat menikmati." ucap pelayan dengan sopan, lalu mundur beberapa langkah ke belakang. Mereka tidak langsung meninggalkan meja. Pelayan tetap stand by di sana. Berdiri di belakang mereka dan siap menunggu instruksi jika di minta.
Mereka menikmati makanan sesuai urutannya. Frey sendiri hanya diam menikmati setiap menu yang ada. Hanya Victoria yang selalu bicara dengan Jennifer. Seperti biasa mereka bercerita tentang masalah wanita dan ujung-ujungnya memuji Frey yang sama sekali tidak berubah. Ia selalu tampan dan mempesona.
"Bagaimana masalah pekerjaanmu Frey?" Tatapan Jennifer sarat akan makna.
Frey mengangkat wajahnya melihat ke arah Jennifer sekilas. Ia langsung menghentikan aktifitas makannya. "Semuanya berjalan baik." Ucapnya datar. Ia mengambil gelas yang berisi wine lalu menyesapnya dengan perlahan.
"Aku dengar dari aunty kau sudah menikah? dimana istrimu? kenapa dia tidak bergabung bersama kita?" Tanya Jennifer dengan wajah angkuhnya.
Frey tidak menjawab. Ia hanya memotong daging dan memakannya.
"Apakah istrimu tidak sesuai harapanmu? sehingga kau malu untuk menunjukkannya. Jadi kau mengurungnya di dalam kamar. Cih... menyedihkan!"
Mendengar itu Victoria tertawa. Tawanya begitu menggema di sana.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki menggema di ruangan itu. Pandangan mereka teralihkan. Jennifer mengernyit menatap ke arah Victoria.
"Siapa dia aunty?"
.
.
Jeng....jeng.....siapakah dia?
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kesembilan aku 😍
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^.
__ADS_1