
π TERJERAT DENGAN SUAMI PALSU π
Β
π HAPPY READING π
.
.
Setelah tujuh jam lebih perjalanan udara, Frey dan Yara akhirnya tiba di Cerulean Tower Tokyu Hotel. Saat berada di bandara, seorang Lelaki Jepang langsung menyambut mereka. Lelaki ini bisa menguasai semua bahasa. Jadi tidak membuat mereka kesulitan untuk berkomunikasi. Dengan pakaian rapi dan senyum ramahnya. Frey dan Yara di arahkan langsung menuju ke hotel.
"Silakan masuk Tuan, ini adalah kamar anda. Perkenalkan nama saya adalah Seika. Saya yang akan membawa ada berjalan-jalan menikmati keindahan kota Jepang. Anda bisa langsung menghubungi saya." Kata pria itu memberikan kartu namanya.
"Terima kasih, Seika." Jawab Frey ramah.
"Baik, saya pamit undur diri tuan." Kata Seika dengan sopan.
Frey tersenyum saat melihat istrinya sudah tidak ada di sampingnya lagi. Ia sudah lebih dulu masuk. Kamar hotel terbesar yang memiliki fasilitas yang lengkap.
"Astaga, luas sekali." Ujar Yara yang sedang terpesona dengan keadaan kamar yang mereka tempati. Ruangannya berukuran sekitar 7 x 5 meter. Terdapat sebuah ranjang besarΒ dengan 4 bantal dibalut dengan sprei berwarna putih dan juga selimut dengan warna senada. Di kedua sisi sampingnya terdapat meja kecil dan juga lampu meja dengan motif etnik yang terlihat sangat menarik. Di ruangan ini juga terdapat sofa berwarna putih tepat di depan LCD berukuran lumayan besar. Yara berjalan menuju kamar mandi yang juga sangat luas, di sana terdapat bath tub yang berukuran lumayan besar.
Yara kemudian menyibak gorden untuk melihat pemandangan kota Tokyo. Meski sudah sore dan langit sudah berubah orange. Pemandangan ini masih memanjakan mata dengan panorama alam yang indah. Di sana ada kolam renang pribadi. Kolam berbentuk bundar dan tempat berjemur pribadi.
"Kau suka?"
"Ehm, aku suka sekali. Aku sudah tidak sabar mengunjungi tempat wisata di sini dan melihat bunga sakura juga."
Bunga sakura adalah simbol musim semi di Jepang. Banyak orang dari seluruh Jepang berkumpul di bawah pohon sakura untuk melihat keindahan dari bunga itu.
"Ah...aku lelah." Yara melangkahkan kakinya menuju ke ranjang dan menjatuhkan tubuhnya ke atasnya.
Frey melirik ke arah Yara yang terlihat agak kaku dan benar-benar gugup. Ada apa dengannya? Frey tersenyum melangkah mendekat ke arah ranjang yang ada di kamar. Ia membuka jaket yang masih melekat di tubuhnya. Tiba-tiba Yara menjadi salah tingkah ketika menyadari tangan kanannya yang sedang bergerak untuk membuka kancing kemejanya.
"Tidak!!!!" Yara segera bangun dari tidurnya.
Suara teriakan Yara membuat Frey mengernyit heran. "Kamu kenapa Yara?"
__ADS_1
"Aku hanya bingung apa yang harus aku lakukan sekarang." Jawabnya dengan suara pelan.
"Astaga..dia terlihat sangat menggemaskan."
"Mandilah." Ujar Frey kemudian melangkahkan kakinya mendekat ke arah Yara. Membuat Yara menjadi salah tingkah karena Frey mengulurkan tangan kanannya untuk membelai rambut panjang Yara.
"Ah.. Jangan Frey." Yara menolak dengan suara yang terbata-bata.
"Haha, istriku ini benar-benar polos."
"Hei, kau ini kenapa? Aku hanya menyuruhmu mandi, setelah itu kita turun untuk makan malam. Apa kau tidak lapar?" Ujar Frey dengan nada suara seperti biasa, membuat Yara menghembuskan napas lega. Terlihat sekali kalau Yara memang sedang gugup.
"Ehm. Ya, kita em⦠makan malam. Ya benar, hanya makan malam." Yara mengernyitkan dahinya dan memainkan tali dari tas selempang yang dipakainya.
Frey tak tahan lagi, ia mendekat dan memeluknya dari belakang. "Aku suamimu Yara, kenapa kau begitu takut?" Tanya Frey tersenyum lembut sambil mengeratkan pelukannya.
Yara reflek memejamkan matanya. Tiba-tiba debaran jantungnya terpompa kencang di dalam rongga dadanya.
"Apakah aku menakutkan? dan reaksi tubuhmu terlihat tegang saat aku memelukmu sayang."
"Hmm. Aku tahu, aku juga tidak memaksamu untuk melakukan itu."
"Terima kasih Frey, karena sudah mengerti."
"Jadi tujuan kita hari ini mau kemana?" Frey mengalihkan pembicaraan untuk mencairkan suasana yang terlihat kaku itu.
"Kemanapun kau membawaku, aku siap."
"Jadi kau menyukai tempat ini?" Tanya Frey lagi, seakan ia kehabisan topik pembicaraan.
"Hmm. Tempat ini sungguh indah dan membuatku senang. Tidak salah James memilih tempat ini. Aku menyukainya." Kata Yara merasakan pelukan Frey semakin menggetarkan hatinya. Ia memejamkan matanya tanpa sadar menikmatinya. Jantungnya kembali berdebar-debar. Seperti ada aliran listrik yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Hati Frey seketika berubah hangat, Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan membahagiakan Yara.
"Tetaplah bahagia seperti ini Yara dan berjanjilah kepadaku." pinta Frey.
Yara membalikkan badannya dan menatap Frey dengan penuh tanda tanya. "Kenapa kau selalu mengatakan itu Frey, apa ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku?" Tanya Yara dengan nada hati-hati. Sesungguhnya ia tidak mau merusak momen yang membuatnya bahagia.
__ADS_1
Frey membelai pipi Yara dengan lembut. "Tidak ada yang aku sembunyikan darimu Yara. Aku hanya ingin membuatmu bahagia. Maafkan aku terlambat menyadari cinta ini. Seharusnya saat mengikat janji suci pernikahan itu, aku yang harusnya berada di altar itu. Kita bersama-sama mengikat janji suci pernikahan dihadapan Tuhan. Untuk saling memiliki menjaga sampai selama-lamanya, baik susah atau pun senang waktu sehat atau pun sakit. Saling mengasihi dan menghargai. Sesuai hukum Allah yang Kudus. Dan di sinilah, aku berjanji dengan tulus di hadapanmu. Aku akan mengingat janji ini selama sisa hidupku." Kata Frey dengan lembut.
Tiba-tiba hati Yara menghangat. Ia tersenyum tipis. Tatapan mereka kembali bertemu.
DEG...DEG...DEG
Jantung mereka kembali berdetak terpompa lebih kencang hingga membuat wajah mereka bersemu merah. Beberapa menit pun berlalu dengan hanya saling memandang. Frey merangkul pinggang Yara dan Frey menuntun Yara meletakkan tangannya di dada Frey . Pandangan mata Yara mengarah ke bawah. Ia tidak berani menatap mata Frey, seperti magnet kuat.
Frey semakin tersenyum terus melihat wajah Yara yang tertunduk. "Jangan sembunyikan wajah cantikmu itu, sayang." Frey mengangkat dagu Yara.
Yara menatap mata Frey lagi, Ia melepaskan napasnya yang terbata-bata. Mata Frey terus menggodanya dan kini mampu menembus jantungnya saat ini.
Heeeehhh... Yara membuang napasnya dari mulut, mendesah begitu panjang. Ia begitu gugup, karena tatapan Frey seperti melumpuhkannya. Tangannya masih memegang lembut bagian dada suaminya. Merasakan detak jantungnya yang terpukul di sana. Sikap Frey begitu tenang. Pria tampan itu, menyusuri wajah Yara. Memandangnya dari dahi, hidung, mata, pipi dan bibir. Frey mengedip cepat, seakan menikmati wajah cantik Yara. Frey memajukan wajahnya dan mengejar bibir ranum milik Yara. Kecupannya sangat pelan. Lmatannya lembut mampu menggetarkan tubuh Yara. Hari ini ciuman Frey nampak berbeda. Lelaki yang sudah menjadi suaminya itu, sangat-sangat menginginkan tubuhnya. Tapi Yara belum siap. Ciuman itu semakin lama semakin menuntun, lebih dalam dan penuh kenikmatan. Demi apapun Frey sangat bahagia. Tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Seluruh tubuhnya gemetar menikmati semua ini.
Kali ini Yara menyambut ciuman dari Frey. Mereka melakukannya dengan tempo cepat, saling membalas satu sama lain. Frey semakin menarik tubuh Yara merapatkan ke tubuhnya. Menyentuh bagian punggung Yara dengan memberikan usapan lembut dari atas hingga ke bawah. Ciuman itu semakin dalam dan menghanyutkan. Terbuai dengan gelora asmara yang membakar jiwa. Mereka saling mengerang dan saling menutup mata. Sensasi ini benar-benar berbeda dan sangat menggetarkan. Seperti ada kedutaan-kedutaan yang menjalar ke seluruh tubuh mereka. Frey terus membelai bibir Yara dengan lembut, mengecapnya berulang-ulang. Ia semakin memperdalam ciumannya. Menjelajah setiap bagian lembut di sana. Yara mendesah sesak namun nikmat. Ia terbuai dengan menghilangkan kesadaran secara total. Yara membalasnya, tangannya bergerak meremas bagian belakang kepala Frey. Seluruh otot menegang, mengencang dan bergetar.
Frey mengakhiri ciuman panas itu. Membiarkan Yara bernapas. Ia mengusap pipi Yara dengan lembut. Napas mereka sama-sama menggebu-gebu keluar dengan cepat dari mulut. Mata Yara berubah sendu. Ia sebenarnya malu pada dirinya. Saat Frey menciumnya, Yara begitu menikmatinya.
"Aku mandi dulu." Yara tidak berani menatap Frey. Ia melangkah cepat meninggalkan Frey.
Frey tersenyum kemudian kembali duduk di pinggir ranjang. Ia melirik jam yang terletak di meja samping tempat tidur, pukul setengah delapan malam. Frey merebahkan tubuhnya sambil menatap langit-langit kamar.
SATU JAM KEMUDIAN.
Selesai makan malam mereka kembali masuk ke dalam kamar. Kurasa malam ini akan tidur dengan nyenyak, karena perjalanan mereka sangat melelahkan. Yara dan Frey segera merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Masih dengan pakaian rapi yang mereka kenakan untuk makan malam. Yara melihat Frey membuka koper untuk mengambil baju tidur dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi. Yara lagi-lagi bernapas lega, karena Frey tidak melakukannya di depannya. Dengan cepat Yara pun melakukan hal yang sama dengan mengganti bajunya juga. Setelah itu Yara dengan sigap kembali ke atas kasur dan berpura-pura tidur.
Good night my readers
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kesembilan aku π
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^.
__ADS_1