Terjerat Dengan Suami Palsu

Terjerat Dengan Suami Palsu
NASI SUDAH JADI BUBUR


__ADS_3

💌 TERJERAT DENGAN SUAMI PALSU 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Setelah cukup aman, Yara kembali melangkah menuju pantry. Membuatkan kopi untuknya dan juga tuan Miles. Rasa kantuknya langsung hilang, ketika bertemu dengan Rhanie. Ada rasa bahagia yang tak bisa ia jelaskan. Dan ada rasa penasaran yang tak bisa ia tutupi. Baru juga tiga bulan tidak bertemu dengan Rhanie. Tapi Rhanie sudah memberikan kejutan. Berbagai pertanyaan pun muncul dipikirannya.


"Rhanie dan James sudah tunangan?"


"Tapi sejak kapan mereka saling mengenal? Tiga bulan hal yang tidak mungkin bagi mereka untuk mantap melanjutkan hubungan ke tahap yang lebih serius."


"Dan Rhanie tidak pernah cerita masalah lelaki yang dekat dengannya." Yara berbicara sendiri sambil mengaduk gula dan kopi di dalam gelas. Tiba-tiba ia teringat perkataan Rhanie.


"Tapi apa yang ingin dikatakan Rhanie, kenapa ia minta maaf?"


"Ahhhh...." Yara menepis prasangka buruknya. Ia menyelesaikan aktifitasnya dan berjalan membawa baki dan dua kelas di atasnya yang berisikan dua cangkir kopi.


TOK TOK TOK


"Permisi, tuan." Yara mengintip diujung pintu.


" Ehm, masuk!" kata Frey dari dalam, ia masih terlihat serius dengan berkas-berkasnya.


Yara mengernyitkan wajahnya, melihat makanan sudah tersaji dengan rapi di atas meja.


"Makanan sebanyak ini untuk siapa?" Yara bergumam pada dirinya. Ia melangkah mendekat ke arah meja kerja Frey.


"Saya buatkan kopi anda tuan." Kata Yara tersenyum singkat.


"Ehmm, terima kasih Yara." Kata Frey memandang sekilas.


"Ta-tapi tuan, makanan ini untuk siapa?" Tanya Yara sedikit takut. Dia takut terlalu lancang untuk bertanya.


"Untuk kita."


"Hueh? untuk kita?" Wajah Yara bersemu merah saat Frey mengatakan 'Kita'


"Bukankah kamu belum makan? Sekarang ikut aku, kita makan bersama." Frey bangun dari duduknya dan melangkah menuju sofa.


Sementara Yara mengeluarkan napas dari mulut secara perlahan. Merasa terbebas dari situasi tegang ini. Ya mau gak mau, ia harus makan. Yara juga sangat kelaparan. Ia pun menarik napasnya, mengangkat wajahnya dan memberikan senyuman tipis. Cara ini begitu ampuh untuk menutupi rasa gugupnya.


"Aku ingin kau duduk di sampingku." Kata Frey tanpa ekspresi.


Dan saat itu juga jantung Yara terpukul kencang.


"A-apa?"


"Duduk di sampingku!" Frey menepuk sofa tepat di sampingnya.

__ADS_1


Deg!


Deg!


Detak jantung Yara kembali berdetak saat mendengar itu. "Aku bisa duduk di sini, tuan." Yara menunjuk sofa tepat di hadapan Frey. Cara halus untuk menolak.


"Aku tidak suka dibantah Yara. Duduklah di sampingku!" Kali ini tekanan intonasi Frey begitu tegas.


"Astaga, apa yang aku pikirkan? Ingat Yara, kamu hanyalah sebagai budak untuk melunasi hutang orangtuamu. Jadi jangan pikirkan hal yang bukan-bukan."


Yara berulang kali menarik napasnya, ia pun melangkah perlahan menuju sofa. Semakin mendekati sofa, jantungnya semakin terpicu cepat dan ia terlihat gugup. Yara menarik napasnya dalam-dalam untuk memenuhi paru-paru dengan oksigen, namun ia semakin sulit untuk bernapas.


Frey sudah lebih dulu makan. Namun Yara hanya bergeming saat duduk di samping Frey. Ia bahkan hanya melihat makanan yang tersaji di depannya.


Melihat Yara tidak mau makan, Frey pun mulai kesal. "Apa dengan melihat makanan itu, kau bisa kenyang Yara? Apa kau mau disuap?"


Mendengar itu dengan cepat Yara mengibaskan tangannya dengan cepat. "Tidak tuan, saya bisa makan sendiri." Yara pun mulai mengambil makanan untuknya.


Melihat tingkah Yara, tanpa sadar Frey tersenyum. "Kapan-kapan aku ingin mengajakmu makan di restoran yang biasa aku kunjungi. Di sana makanannya enak-enak dan kamu pasti menyukainya."


Yara hanya diam tak menjawab. Ia memilih menikmati makanannya. Entah apa yang dipikirkan Frey. Tiba-tiba ia mengecup pipi Yara.


Cup!


Yara membeku, masih mencerna apa yang terjadi. Seketika mata Yara membulat. Ia shock bukan main, lalu menoleh dan menatap Frey yang menatapnya begitu dalam.


DEG...


Jantung Yara langsung terpompa berdetak lebih kencang, darahnya seperti mengalir cepat hingga membuatnya panas dingin saat melihat tatapan itu berbeda dari tatapan Frey yang biasanya.


DEG!


Kalimat yang keluar dari bibir Frey membuat Yara lebih shock lagi.


"Apa? Pria brengsek ini menyukaiku?" Kalimat itu terus diulang-ulang Yara dalam otaknya. Ini gila, benar-benar gila.


"Bagaimana mungkin Frey bisa menyukaiku? apa ini bagian dari rencananya? membuatku mencintainya dan pada akhirnya membuangku begitu saja?"


Jujur, Frey memang tampan. Semua wanita pasti tergila-gila dengan ketampanannya. Dan aku????? Yara langsung menepis hal itu. Dia sadar dua hal. Pertama, Yara hanyalah seorang gadis yang menikah karena utang. Kedua, pernikahan mereka tidak sah, karena Frey bukan lelaki yang berjanji di altar bersamanya. Dan semua ini tidak bisa diteruskan. Tujuan utama Frey hanyalah untuk membalaskan dendamnya kepada keluarga Wyanet.


Jadi, Yara masih memiliki otak waras, tidak semudah itu ia percaya dengan pengakuan Frey. Yara tertawa hambar. Ia menganggap kalimat yang dilontarkan Frey hanyalah lelucon saja. Yara kembali dengan makanannya.


"Aku serius Yara." Tutur Frey sambil menggenggam tangan Yara hingga membuat Yara tersentak. Ia menatap mata Frey yang menyaratkan keseriusan membuat Yara bertambah gelisah.


"Aku tidak bisa." Ucap Yara menarik tangannya dan bangun dari duduknya. "Aku ingin pulang."


"Baiklah. Biar supir yang mengantarmu pulang."


Yara tak menjawab, ia langsung meninggalkan Frey di ruangan itu.


⭐⭐⭐⭐⭐


Frey melupakan kopi yang telah disediakan Yara untuknya. Dua jam telah berlalu setelah Yara minta pulang. Frey menarik napas dalam-dalam, kemudian mengusap wajahnya dengan tangan. Ia merenggangkan otot-ototnya, lalu menatap langit-langit ruangannya. Mencoba untuk melupakan kejadian malam yang mencekam itu. Semua sudah terlambat, nasi sudah menjadi bubur dan Yara tidak bisa tahu hal ini.

__ADS_1


Huuuuffft! Frey membuang napas panjang. Ia mencoba untuk tenang. Walau ia tahu akan sulit melakukan itu. Setelah cukup tenang, Frey akhirnya meninggalkan kantor Miles. Ia mengendarai mobilnya sendiri. Tidak butuh lama, Frey sudah tiba dikemudian Miles.


Victoria tersenyum kecut sambil melempar bungkus rokok setelah meloloskannya satu lantas membakarnya, mengisapnya dengan cepat dan mengembuskannya dengan cepat pula. Seperti ada yang memburunya.


"Kau sudah pulang?" Tanyanya sambil mengembuskan kepulan asap ke udara.


Perlahan Frey memejamkan mata dan kembali menatap ibunya. Hal yang paling dibencinya adalah melihat Victoria merokok. Victoria tersenyum sinis, Ia kembali mengisapnya dan membuangnya ke udara. Victoria yang sedang menikmati rokok yang katanya bisa menenangkan itu. Tiba-tiba Victoria tersendak batuk. Frey bisa melihat jika Victoria belum mahir merokok.


"Apa kau sengaja melakukannya mom?" Tanya Frey memasukkannya tangannya ke dalam kantong celananya.


Victoria tertawa kecil. "Aku belum merasakan nikmat yang mengusir kegelisahan seperti yang dulu ku ceritakan, Frey. Katanya dengan mengisap ini...." Victoria memerhatikan rokok yang ada di jarinya. "Aku bisa tenang, Frey."


Frey menarik napasnya dalam-dalam dan menatap Victoria sejenak. "Lakukan apa yang membuatmu bisa tenang dan bahagia." Ia pun melangkah meninggalkan ruang tamu.


"Apa? Dasar anak kurang ajar kamu Frey. Kamu sudah gila! Bagaimana kau menganggap mommymu seperti ini!" Teriak Victoria ditengah keheningan malam.


Frey tak peduli, ia hanya terus melangkah meninggalkan ruangan itu.


" Lihat saja Frey, apa yang akan kulakukan nanti." Ucap Victoria dengan tangan mengepal kuat. Kilatan kemarahan terlihat jelas di matanya. Awalnya ia ingin mendapatkan perhatian dari Frey dengan membuat hatinya kesal. Ternyata semua yang dilakukan hanyalah sia-sia.


Sementara Frey melangkah menuju kamarnya. Ia membuka kenop pintu dengan pelan agar tidak mengganggu Yara yang sudah tertidur.


Frey melangkah masuk...


DEG...


Saat melihat posisi tidur Yara meringkuk di sofa. Hati Frey terenyuh. Ia mendekat, tidurnya begitu tenang, hembusan napasnya terdengar stabil. Rambutnya ia kuncir sampai ke atas. Frey berjongkok menatap Yara lebih dekat lagi. Ia seperti terhipnotis menatap lama ke arah wajah wanita yang kini sudah menjadi istrinya itu. Frey tersenyum samar. Memperhatikan setiap lekuk wajah Yara yang begitu mulus. Matanya yang indah, alisnya yang tertata rapi, bibirnya berwarna merah muda dan wangi tubuhnya yang begitu memikat.


Frey sengaja menghukum Yara. Dengan cara tidur bersamanya agar bisa dekat dengannya. Ia tersenyum dan menarik tangannya kembali, ketika ia ingin menyentuh wajah Yara. Frey takut jika Yara bangun dan menyadari kedekatan mereka. Tanpa pikir panjang Frey akhirnya memilih mengalah, ia mengangkat tubuh Yara seperti ala bridal style. Membawanya ke atas kasur.


Mata Frey membulat saat menyadari posisinya. Yara merangkul lehernya dan bergumam tidak jelas.


"Aku tidak bodoh..." Gumam Yara meracau.


Saat posisi tubuh Yara sudah di atas kasur. Yara membalikkan badannya, ia membawa serta Frey menyamping dalam rangkulannya.


"Ahhh...." Frey menelan salivanya, lalu mencoba bangun dari sana.


"Aku tidak percaya denganmu...." Yara kembali meracau.


"Ssshhhh....Ssshhh.... tidurlah...." Ucap Frey pelan, agar Yara kembali tertidur.


Yara nampak mulai nyaman. Ia mulai tenang dan berhenti mengigau. Mendapat kesempatan itu, Frey kembali bangun dan duduk di tepi kasur. Badan Yara tertidur menyamping. Ia menatap wajah Yara lagi, lalu menarik bahu Yara. Mengubah posisi tidur wanita itu menjadi telentang nyaman dan mengatur bantal di kepalanya. Lalu menutupi tubuh Yara dengan selimut dan berucap.


"Maafkan aku Yara...."


"Aku sungguh-sungguh minta maaf."


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kesembilan aku 😍

__ADS_1


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^


__ADS_2