Terjerat Dengan Suami Palsu

Terjerat Dengan Suami Palsu
BELAJAR MENCINTAI


__ADS_3

💌 TERJERAT DENGAN SUAMI PALSU 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


BRUKKKK!


Yara terkejut saat Frey menutup pintu. Frey menarik tangan Yara dan menghimpit tubuhnya pada daun pintu. Tangan Frey dengan cepat memutar kunci agar pintu tidak bisa dibuka oleh siapapun. Yara terbelalak karena Frey mengunci pintu. Ia juga terkejut karena mendapatkan perlakuan dari Frey yang secara tiba-tiba membuat jantungnya berdebar. Peredaran darah di tubuhnya mulai tidak stabil. Setiap lirikan dan kontak mata yang dibuat Frey membuat Yara tak berdaya. Tatapan mereka bertemu. Frey merasa menang. Ia sengaja melakukannya untuk menghukum Yara karena membuatnya cemburu pagi ini.


"Aa-aapa yang tuan lakukan?" tanya Yara dengan gugup.


"Menghukummu!" Ucapnya Frey dengan santai. Ia menatapnya begitu dalam, membuat Yara semakin sulit bernapas.


"Meng-hu-hukum?" lagi-lagi Yara terbata.


"Hmm.. Semalaman kau berhasil membuatku gelisah dan terus memikirkanmu. Setiap menit bahkan setiap detik. Dan apa yang kau lakukan di dapur nyonya Miles?" Frey menaikkan alisnya setengah dan tersenyum menyeringai. Frey semakin mendekatkan wajahnya, membuat Yara merasa tersiksa oleh serangan-serangan yang membuatnya tidak bisa melawan. Pesona mata Frey begitu jahat mengunci Yara.


"Heuh..." Yara menahan napasnya dan berkedip cepat.


"Tidak mau menjawab?" tanya Frey. Napasnya berhembus menerpa wajah Yara. Mendekat dan semakin mendekat, namun Frey tidak melakukan apa-apa untuk menyentuh bibir Yara.


Yara mengepalkan tangannya semakin kuat, ia menutup matanya dengan erat dan tidak lupa mengatupkan bibirnya dengan rapat. Ia semakin merasakan jantungnya terpicu dan bahkan ia sulit bernapas. Debaran itu semakin membuatnya tersiksa.


"Ada apa denganku?"


Yara merasakan jika Frey menarik tubuhnya menjauh darinya. Ia pun membuka matanya secara perlahan, agar ia tidak terkejut. Dan dilihatnya Frey tidak ada. Yara berkedip cepat dan melangkah untuk mencari Frey.


"Kemana dia?"


"Kau mencariku?" Frey memeluk Yara dari belakang, Dagunya ia taruh di pundak Yara dan sedikit menunduk karena tubuh Frey begitu tinggi.


Yara kembali terkejut dan sepersekian detik ia menutup matanya. Dekapan hangat dari tubuh pria itu membuatnya seketika tak berdaya.


"Kenapa ada kekacauan di dapur, nyonya Miles?"


"Tapi tolong lepaskan aku. Aku sungguh tidak nyaman." Kata Yara mencoba melepaskan pelukan Frey. Ia tidak nyaman saat Frey menggoyang tubuhnya sehingga tubuh Yara ikut bergoyang.


"Aku sudah bilang ingin menghukummu." Frey membalikkan tubuh yara dan menghadap padanya.

__ADS_1


"Jangan ulangi lagi, ehmm..."


"Aku tidak salah, Jennifer yang datang membuat kekacauan itu." protes Yara.


"Aku tahu. Sejak kau bangun aku tahu aktivitasmu. Tapi sebagai nyonya besar kau tidak pantas berdebat dengan Jennifer." Ucap Frey menatap Yara dengan sayang.


Yara menghindari tatapan Frey dan memilih diam adalah pilihan yang tepat saat ini. Toh juga Ia sudah tahu jika Frey terus memantaunya dari cctv. Frey tersenyum saat melihat wajah Yara yang menunduk.


"Mulai hari ini aku tidak akan membebankanmu menyiapkan segala keperluanku. Baik itu makanan atau keperluan lainnya. Tugasmu adalah menjadi istri yang tetap berada di sampingku."


Yara berdecak malas. "Apa maksudmu?"


"Aku adalah suamimu dan kamu adalah istriku. Tidak ada yang salah kan?"


Yara hanya diam. Ia tak mau menatap lelaki itu.


"Seperti yang aku katakan, aku tidak ingin berdebat dan aku ingin kita memulai dari awal. Seperti pasangan suami istri pada umumnya." ucap Frey menatap manik mata Yara


Lagi-lagi Yara hanya diam. Ia menatap ke arah lain.


"Aku minta maaf karena sudah memperlakukan tidak baik. Kini aku menyadari semuanya bahwa aku sungguh-sungguh menyukaimu." Frey berucap dengan lembut, hingga wanita manapun yang mendengarnya mungkin merasa tersanjung. Tapi tidak bagi Yara. Ia mulai jengah saat Frey kembali memeluknya. Yara mendorong Frey dengan kasar sehingga tangan lelaki itu lepas dari tubuhnya.


"Jangan seperti ini tuan, ini akan membuatku semakin membencimu. Aku hanya sebagai penebus utang keluargaku." ucap Yara beranjak ingin pergi. Namun tangannya dicekal oleh Frey.


"Tapi aku tidak bisa."


Frey melangkah membuka laci nakas dan mengeluarkan beberapa kertas yang ada di dalam amplop coklat. Ia membacanya dengan ekspresi serius. Tubuh Yara menegang, ia tahu kertas itu.


Frey menatap ke arah Yara lagi. "Apa semua karena ini? Dan aku akan membebaskanmu dari semua utang keluargamu." Seperti gerakan slow motion. Frey lalu menyobeknya menjadi beberapa bagian.


Yara menelan salivanya berulang kali. Ia terdiam melihat aksi Frey. Yara masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Frey kembali menyobeknya menjadi beberapa bagian, hingga potongan kertas itu menjadi kecil-kecil. lalu menghaburkan di depan Yara. "Sekarang surat utang piutang itu sudah tidak ada lagi. Apakah kita tidak bisa memulai dari awal? kita mulai dari nol. Kita bisa belajar untuk mencintai." Kata Frey dengan yakin.


Yara diam tak menjawab. Tatapan memohon dan dengan wajah memelasnya ia pasang di depan Yara, berusaha untuk meyakinkan wanita itu. Yara hanya bisa menarik napasnya dalam-dalam.


"Jangan paksa aku untuk menjawabnya sekarang." ujar Yara membalikkan tubuhnya tidak ingin melihat Frey.


Sementara Frey masih berusaha mencerna perkataan Yara. Ia melangkah mendekat dan memutar tubuh Yara agar menghadap dengannya. Dia yakin Yara memberikan waktu untuknya memulai hidup baru. Dengan cepat Frey memeluk Yara.


"Terimakasih telah memberikanku kesempatan, aku berjanji akan selalu membahagiakanmu. jangan khawatirkan apapun. Kita akan sama-sama belajar lagi. Belajar untuk mencintai." Ucap Frey tersenyum.


Yara memejamkan matanya, dia juga tidak bisa menggambarkan perasaannya saat ini. Setelah kejadian malam itu, Frey nampak berubah. Yara pikir itu hanyalah rasa simpatik dan kasihan saja.

__ADS_1


Frey bernapas lega. Setidaknya ini langkah pertama untuk menembus kesalahannya kepada Yara. Ia siap memulai hidup baru dan berjanji akan membahagiakan Yara. Ia terlambat mengetahui kebenaran ini. Tapi ia sudah telanjur menggoreskan luka yang dalam terhadap Yara. Membunuh orang tua Yara adalah hal yang terlalu menyakitkan untuk Yara. Lambat-laun Yara akan mengetahuinya.


Kini Frey menyadari bahwa ia jatuh pada pesona Yara dan jatuh cinta kepada Yara. Ada banyak perasaan yang muncul di dalam diri tanpa disadari dan dirasakan sebelumnya. Perasaan-perasaan itu bahkan muncul secara tiba-tiba dan sering membuat bingung dan kini ia yakin bahwa dirinya tak mau kehilangan wanita itu.


Percaya nggak percaya, jatuh cinta bisa buat merasa sangat bahagia, sedih, dan cemas dalam sekali waktu. Jatuh cinta juga membuat Frey hanya fokus kepada sosok Yara. Tapi Frey masih galau dan bimbang. Apakah ini bentuk perasaan bersalah saja?


CUP


Ciuman mendarat sempurna di bibir Yara. Yara lagi-lagi terkejut saat mendapatkan ciuman itu. Frey tersenyum dan membuka kembali tangannya untuk memeluk Yara. Yara bernapas gugup. Frey mendekap Yara dengan tubuhnya dan mendorong tubuh Yara hingga punggungnya menyentuh dinding. Yara memilih menunduk, ia membuang napasnya lewat mulut, mendesah begitu panjang, sungguh menegangkan.


Frey menatap Yara begitu dalam. Matanya mengarah ke bibir Yara yang sedikit basah. Saat ini mereka sangat dekat. Frey mengambil tangan Yara dan meletakkan tangannya kebagian dadanya.


DEG DEG DEG


Yara bahkan bisa merasakan debaran dari jantung Frey yang berdetak kencang.


"Kau bisa merasakan debaran jantungku? Ini debaran tulus untukmu Yara. Aku sungguh-sungguh mencintaimu." Ucap Frey dengan pelan.


Yara hanya memejamkan matanya, seakan ikut merasakan detak yang seirama dari debaran jantungnya juga. Kedekatan ini membuatnya kejang-kejang. Ia hanya menelan salivanya berulang kali, ketika Frey mulai mengejar bibirnya. Mengecupnya dengan singkat dan berulang kali. Napas Yara semakin terlihat naik turun, ia semakin sulit bernapas. Getaran-getaran hebat ia rasakan dari dalam dan menggetarkan seluruh tubuhnya.


Frey dengan sikap gentleman mengalungkan tangan Yara ke lehernya.


Frey memiringkan wajahnya dan kembali mengejar bibir Yara. Frey mulai MLumat bibir Yara dengan durasi yang begitu lama. Mata Yara memejam seakan menikmati ciuman itu. Frey menuntun Yara agar sedikit membuka mulutnya. Seperti mengerti yang diinginkannya. Frey menarik semua bibirnya. Ciuman itu semakin dalam dan mereka benar-benar terbuai dan merasakan d*sahan-d*sahan kecil. Tanpa sadar Yara meremas rambut Frey. Jantungnya semakin terpukul kencang. Tubuhnya bergetar hebat seperti ada sengatan listrik yang menyetrum di seluruh tubuhnya.


Frey melepaskan tautannya dan memundurkan tubuhnya, napas keduanya saling memburu. Kaki Yara seakan tidak bertulang. Dengan cepat Frey memeluknya dan tersenyum melihat reaksi dari Yara.


Ia membiarkan Yara mengambil oksigen sebanyak-banyaknya. Ia mengeratkan pelukannya dan membelai rambut Yara dengan lembut.


"Terima kasih Yara." Frey kembali memandang wajah Yara dengan hangat.


Tak ada sahutan, Yara hanya menunduk dan tetap terpejam seakan tidak ingin lepas dari dekapan Frey.


"Kenapa detak jantungku tidak bisa diam? Rasanya ingin meledak dari dalam dadaku. Apa jangan-jangan aku sudah menyukainya?"


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kesembilan aku 😍


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^.

__ADS_1


__ADS_2