
💌 TERJERAT DENGAN SUAMI PALSU 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
VISUAL YARA WYANET.
Universitas Saint Louis.
"Minggu depan kita UTS, persiapkan diri baik-baik, minimal kalian harus dapatkan nilai 80, agar ujian nanti beban kalian tak terlalu berat." Kata pak Thomson ketika akan mengakhiri kelasnya.
"Kalau tidak dapat 80 pak?" Tanya salah satu mahasiswa.
"Ya, tidak masalah. Tapi UAS nanti nilai kalian harus tinggi, kan enak kalau sekarang dapat 80 nanti UAS tinggal kejar target yang tak terlalu tinggi." Jawab sang dosen.
"Katanya minimal dapat B ya pak?” tanya yang lain lagi.
"Bukan B, tapi B+"
"Kalau gak dapat pak?” Tanya pria bertubuh gempal itu menimpali.
"Ya kalian harus ngulang lagi di semester akhir bersama adik kelas kalian. Itu pun kalau kalian tidak malu." Kata pak Thomson membawa bukunya dan melangkah keluar dari ruangan kelas.
"Ahhhhh....." Spontan mahasiswa yang di sana mengeluarkan d*sahan panjang kecuali Yara.
Para mahasiswa lain keluar dari ruangan. Tapi tidak dengan Yara. Yara memalingkan wajahnya, menatap langit gelap yang menumpahkan rintik deras hujan. Begitu deras seakan langit akan jatuh menimpanya. Ini bukan jenis hujan yang ia sukai. Yara menyukai rintik hujan yang terdengar bising namun indah.
Sudah beberapa hari ini Yara merasakan resah begitu dalam, baginya ini menakutkan. Sudah selama sepekan Yara terus memikirkan masalah pernikahan palsu yang disarankan daddy-nya. Beberapa kali mencoba melampiaskan segala keresahan dan kegundahannya dengan semakin aktif dalam kegiatan di kampus. Tetapi, tetap membuatnya terhanyut dalam bayang-bayang pernikahan. Perkataan orangtuanya saat itu tidak lebih dari lima menit tetapi seperti memberikan ledakan yang begitu dahsyat pada Yara.
Yara membuang napasnya sekaligus. Ia memijit pelipisnya sambil mengangkat wajahnya dengan mata terpejam. Ia tidak bisa konsentrasi mengikuti mata kuliah hari ini. Yara menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
Rhani melihat Yara masih duduk di dalam kelas, beberapa hari ini ia menangkap sikap perubahan dari Yara. Tanpa pikir panjang ia melangkah masuk dan menghampiri Yara yang tak kunjung datang ke kantin kampus.
Rhani adalah sahabat terdekat Yara. Rhani, staff Divisi Politik dan kemahasiswaan Saint Louis Universitas. Sosok cewek cantik tapi tomboy, independen dan mandiri. Rhani rajin mempromosikan jualan onlinenya di sela ada kegiatan kampus. Sekalipun dia sangat idialis dan kritis dalam setiap masalah termasuk menjadi garda depan saat demo-demo terjadi.
Tapi jangan salah, salah satu alasan dia menjadi garda depan saat berdemo dan berorasi adalah kegemarannya berkenalan dengan polisi-polisi yang berjaga saat berdemo, entah kenapa Rhani bisa begitu agresif ketika bertemu dengan polisi dan mendekatinya sepertinya tak satu pun polisi yang berhasil dia taksir. Kalaupun bisa, biasanya tak bertahan lama.
Rhani memilih duduk depan Yara, menopang dagu dan menatap ke arah mata sahabatnya itu .
"Hei, aku tungguin kamu kok gak datang ke kantin sih. Bukankah ada yang ingin kau bicarakan?" tanya Rhani menatap gerak-gerik Yara yang sudah satu minggu ini mencurigakan.
"Apa jangan-jangan dia sakit ya? Atau Yara ada permasalahan keluarga? Atau mungkin masalah keuangan? Ah....tidak mungkin." Rhani mencoba menepis prasangka buruknya.
Yara hanya menggeleng lemah, mulutnya mengatup tanpa bersuara.
"Badanmu agak kurusan, dan akhir-akhir ini kau tidak banyak bicara. Bahkan, hanya sekedar jalan ke kantin saja, kau tidak mau. Ada apa denganmu? Kau benar-benar membuatku cemas. Apa semua ini ada hubungannya dengan Ethan?"
Mendengar nama Ethan, hatinya kembali sakit. Bagaimana ia menghadapi pria yang sudah satu tahun dipacarinya, jika pernikahan ini benar-benar terjadi.
"Ini gak ada hubungannya dengan Ethan."
"Benar ini bukan masalah Ethan? Karena aku lihat dari bahasa tubuhmu, kau itu seperti wanita yang putus cinta. Tak ada gairah hidup."
Yara kembali menggeleng, ia memejamkan matanya. Merasakan sakit pada bagian dadanya.
Lagi-lagi Rhani berdecak kesal, ia meletakkan bukunya dengan kasar. Rhani menatap Yara dengan tatapan serius. "Aku mengenalmu Yara, sangat mengenalmu. Semuanya aku tahu tentangmu. Dari raut wajahmu aku bisa tahu kau menyimpan masalah. Jadi kau tidak bisa menyembunyikannya dariku. Jadi sekarang, ceritakan padaku!" Desak Rhani dengan sorot mata tajam. Kali ini ia sangat serius.
Yara menunduk sedih, perasaan tidak karuan. Ia takut dan sangat takut jika pernikahan ini benar-benar terjadi. Bagaimana jika semua orang tahu jika ia menikahi kakek-kakek demi menyelamatkan perusahaan Wyanet? Membayangkannya saja hatinya sakit. Yara benar-benar tidak siap. Ia mengembuskan napas lelah. Tapi di samping itu ia memikirkan orangtunya.
"Yara? Apa kau mendengarkanku? Hei?" Rhani mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Yara.
__ADS_1
Yara menunduk dengan tatapan kosong. Matanya sudah berkaca-kaca. Ia tidak bisa menutupi segala yang bergejolak di dalam dadanya. Semuanya campur aduk.
"Aku ingin dinikahkan, Rhan." Bahu Yara mulai bergetar. Ia terus menunduk dan memejamkan matanya.
Rhani diam membeku, alisnya melengkung dalam. Ia menatap Yara dengan kerutan bingung. "Apa maksudmu, siapa yang ingin dinikahkan?" tanya Rhani dengan ekspresi terkejut sambil menyentuh lengan Yara agar menatap ke arahnya.
Yara mengangkat wajahnya menatap ke arah Rhani dengan pandangan sayu. Matanya kembali berkaca-kaca. Air bening menetes di pipinya. "Maaf Rhani, aku tidak pernah cerita kepadamu. Perusahaan daddy sedang bermasalah dan untuk menyelamatkan perusahaan itu, aku harus menikah."
Rhani terkejut. "Menikah? Menikah dengan siapa, Yara?"
Yara menjepit bibirnya, tatapannya lemah. "Pria jauh lebih tua dari daddy."
Mata Rhani membulat sempurna. "Apaaa?" Ia begitu terkejut sampai menutup mulutnya. "Tunggu dulu!" Rhani mengangkat tangannya. "Jangan katakan Uncle dan aunty memaksamu menikahi pria tua itu?"
"Aku tak tahu harus berkata apa, pilihan ini sangat berat untukku."
"Berat apanya? Kau tinggal menolaknya? Bereskan?"
"Aku tidak bisa. Perusahaan yang dibangun keluargaku akan sita bank, Rhan. Pihak bank sudah memberikan waktu. Jika tidak, rumah, mobil, kantor Wyanet akan disita bank."
"Kau serius?" Rhani meyakinkan pendengarannya.
Yara menganggukkan kepalanya. Air matanya kembali tergelincir di pipinya. Ia menutup wajahnya dengan ke dua tangannya. Bahunya semakin bergetar karena menahan isak tangisnya. Beruntung hanya mereka berdua yang ada di ruangan itu.
Rhani mengembuskan napas lesu. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Membantu? Keluarganya saja pas-pasan. "Jadi bagaimana keputusanmu, apa kamu bersedia?"
"Aku tidak tahu." Yara menggeleng lemah dengan tatapan kosong. Ia menunduk sedih. Beberapa tetesan air matanya sudah terjatuh di pangkuannya.
"Apa kau sudah menceritakannya kepada Ethan?"
Yara lagi-lagi menggeleng lemah. "Aku tidak bisa." Yara kembali menangis.
"Seharusnya kau menceritakannya. Aku yakin Ethan bisa membantumu."
"Apa kau yakin Ethan bisa membantuku?"
Yara mengangguk. Ia mengumpulkan dengan energi yang tersisa dari tubuhnya. Menarik napasnya satu per satu. Ia beruntung mempunyai sahabat seperti Rhani. Kehadirannya bisa membuatnya tenang.
Perhatian mereka teralihkan saat mendengar handphone Yara berdering di atas meja.
Dddrrrttt dddrrrttt....
Yara menatap sekilas layar pipih itu dan melihat ternyata panggilan itu dari mommy-nya. Rhani memberikan akses kepada Yara untuk bicara.
"Hallo, mom."
Terdengar isak tangis dari ujung telepon. Seketika dahi Yara mengerut dan perasannya menjadi tidak enak.
"Ada apa mom, Kenapa mommy menangis?" Alis Yara melengkung. Melihat ekspresi Yara, wajah Rhani ikut tegang.
"Rumah kita sayang..."
"Kenapa dengan rumah kita mom?" Kejar Yara.
"Pihak bank sudah datang dan menyita rumah kita."
"Apa?????" Yara terjengkit dari duduknya yang diikuti oleh Rhani juga.
"Mereka tiba-tiba datang dan menyita semua aset kita." Kata Renata terisak.
DEG
Jantung Yara terpukul kencang. Telinganya seakan berdengung dan ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dadanya seketika sesak. Bahkan sulit untuk bernapas.
"Saat ini, daddy-mu pingsan karena terkejut. Mommy takut terjadi sesuatu kepada daddy-mu juga, sudah satu jam ia tak sadarkan diri." Renata terus menangis di sana.
Tubuh Yara gemetar. Ia berusaha menenangkan dirinya. Ia menarik napas sesaat. Kabar ini bagai tamparan keras untuknya. Yara Terdiam sesaat.
__ADS_1
"Yara, sayang?" Renata masih terisak di ujung telepon.
"Mom jangan menangis lagi. Yara akan segera datang."
Tit!
Panggilan langsung dimatikan Yara.
"Apa yang terjadi, Yara?"
"Nanti aku ceritakan." Yara terburu-buru mengumpulkan buku dan memasukkan ke dalam tasnya. Ia bangkit dan keluar dari mejanya. Setengah berlari keluar dari ruangan kelas.
"Yara, tunggu!" Rhani mencoba mengejarnya. Namun, Yara hanya diam dan terus berjalan. Ia tidak peduli dengan panggilan Rhani.
"Yara, hati-ha....." Rhani tak bisa melanjutkan kalimatnya. Karena Yara sudah begitu cepat menghilang di balik tembok koridor kampus.
"Astaga Yara...." Rhani mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tak bisa menghentikan Yara.
⭐⭐⭐⭐⭐
Dan tak butuh lama Yara sudah tiba dikediaman Wyanet. Ia melihat orang-orang bank masih berada di rumahnya.
"Apa yang kalian lakukan!" Teriak Yara. Sontak membuat mereka berpaling dan melihat kedatangan seorang gadis cantik di sana.
"Kami dari pihak bank."
"Yang saya tanya, apa yang kalian lakukan?"
"Kami datang ke sini untuk menyita rumah ini dan kalian harus segera meninggalkan rumah ini." Ucap salah seorang pria menjawab.
Sudut bibir Yara melengkung ke atas. "Bukankah masih ada waktu enam hari untuk penyitaan rumah dan perkantoran Wyanet?"
"Ini sesuai perintah pak direktur bank."
"Aku bisa melaporkan kalian. Kalian mengganggu ketenangan orang lain merupakan perbuatan yang dapat diancam dengan hukum pidana. Dan surat penyitaan rumah tidak sesuai dengan tanggal tercantum di kertas ini."
"Menunggu enam hari ke depan, apa kalian bisa membayarnya?"
"Aku pastikan bisa membayarnya dalam hitungan jam. Jadi sekarang keluar dari sini!" titah Yara dengan tegas.
"Baiklah, kami tunggu etika baik dari kalian. Dalam hitungan jam, kalian harus bisa melunasinya." Ucapnya kemudian, lalu mereka meninggalkan rumah itu.
Dan saat itu juga Yara terduduk dan menangis.
"Sayang...." Renata mendekat.
"Yara, bersedia menikah mom,"
"Apa?????" Renata terkejut.
"Saya bersedia menikah." Ucap Yara lagi dan saat itu juga tangisannya pecah di ruangan itu.
"Maafkan kami sayang, kami harus mengorbankan kebahagiaanmu."
Yara hanya menunduk dan terus menangis. Napasnya sungguh tidak beraturan. Bahunya terus naik turun dan gemetar. Renata dengan cepat memeluk putrinya.
Ya, hanya menikahlah yang bisa menyelamatkan perusahaan Wyanet. Seperti kata daddy-nya, pria itu hanyalah sebagai status suami palsu.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kesembilan aku 😍
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^.
__ADS_1