
π TERJERAT DENGAN SUAMI PALSU π
Β
π HAPPY READING π
.
.
Dalam perjalanan tenang, Alea membawa mobilnya dengan kecepatan sedang di temani lagu yang dinyanyikan oleh Britney Spears. Ia tersenyum sambil bernyanyi di sana. Lagu ini benar-benar sesuai dengan perasaannya saat ini.Β Pantai adalah salah satu tujuan yang pertama dikunjunginya setelah tiba di kota A. Perasannya sangat bahagia. Alea tersenyum dan terus menatap ke depan menikmati setiap sudut keindahan alam yang disajikan di sepanjang jalan. Begitu menyejukkan mata. Jauh dari kepenatan.
Ban mobilnya berputar menyusuri jalanan yang benar-benar menenangkan. Jalanan pegunungan yang sepi dengan pemandangan pepohonan hijau yang sejuk, membuat Alea menikmati suasana jalan, mampu merilekskan pikirannya setelah satu tahun berada di kota London. Ia membuka kaca mobilnya, sesekali menatap keluar jendela. Senyum di bibirnya tidak mau lepas. Ia terus memandang ke arah depan. Alea akhirnya membuka kup mobilnya dan ia bisa menikmati udara lebih bebas.
Semuanya dimiliki Alea. Cantik, pintar dan memiliki tubuh yang seksi. Alea juga di kenal sebagai gadis pekerja keras, setia dan professional. Alea yang berperawakan mungil yang memiliki tatapan puppy eyes membuat setiap pria menyukainya. Alea tersenyum dan tiba-tiba membayangkan wajah Frey. Seketika hati berbunga-bunga saat mengingat lelaki itu. Lelaki pertama yang berhasil mengisi hatinya.
"Bagaimana kabarmu sekarang, Frey?"
"Apa Frey masih memikirkanku?"
Rasanya Alea ingin mengulang waktu itu kembali. Saat Frey menatapnya begitu dalam. Cinta Frey yang begitu tulus untuknya. Apalagi jika Frey tersenyum, lesung di pipinya terlihat jelas di wajahnya. Ahhhhh...rasa rindu yang terselip kembali mencuat. Rasanya sudah tak sabar ingin melihat pria yang berparas rupawan itu.
Alea Menghembuskan napas untuk menenangkan hatinya. Ia tak boleh menangis. Alea segera menarik cairan hidungnya dan terus mendongak ke atas, menahan air matanya agar tidak keluar.
"Aku akan memperbaiki hatimu yang terluka, Frey." Ia menarik napas singkat, Lalu melepaskan lamunannya yang terus membayangkan Frey.
Alea menghentikan mobilnya tetap di titik GPS yang di setting sahabatnya sebelum ia meninggalkan hotel. Ia membuka kacamatanya dan menaruhnya di kursi. Gadis cantik itu pun membuka pintu dan keluar dari mobilnya. Alea tersenyum mengedarkan pandangannya di sekitar, lalu menutup pintu mobil itu kembali. Pantai terdekat di kota menjadi pilihan pertamanya.
Alea berjalan dan berhenti di tepi pantai. Ia menatap jauh keindahan laut. Terlihat beberapa orang sedang berjemur di sana. Kebiasaan orang-orang lakukan di sini jika tidak ada kegiatannya. Mereka bisa bisa merasakan panasnya matahari pagi di tempat ini.
Di kota ini musim panas masih berlanjut. Biasanya matahari terbit sekitar pukul tujuh pagi dan mulai tenggelam disekitaran sembilan malam. Seiring waktu matahari akan tenggelam lebih cepat dan balik lagi bersinar lebih lama. Namun hari ini matahari tampak berbeda. Matahari pagi hari ini nampak begitu ragu menyapa bumi. Padahal tadi pagi panasnya benar-benar menyengat ke tubuhnya. Matahari kadang meredupkan sinarnya seperti memberi isyarat pada hujan untuk menggantikannya pagi ini.
Di kota A yang biasanya sangat mudah mendapatkan hujan sekarang ini sangat sulit. Masyarakat di sini, sangat menantikan hujan turun. Padahal biasanya hujan mudah sekali untuk datang, walaupun hanya sekedar lewat saja. Rumput-rumput terlihat menguning, karena hujan yang tidak kunjung turun. Di sini musim panas, biasanya masyarakat setempat melakukan ritual untuk mendatangkan hujan.
Alea mendongak ke atas menatap gulungan awan putih di langit. Pikirannya jauh berkelana, entah apa yang dipikirkan gadis itu. Posisi ke dua tangannya ia lipat di depan dadanya. Ia menarik napasnya dalam-dalam. Kembali mengingat bagaimana Victoria Miles begitu marah saat mengetahui Alea belum juga meninggalkan kota A.
FLASH BACK ON.
Edward suruhan Victoria mencabut sepucuk pistol dari sakunya. "Jika kau berteriak, aku akan membunuhmu." ancamnya.
Alea terdiam kaku. Jantungnya langsung terpukul kencang saat pria itu menodongkan senjata ke arahnya. Mulutnya juga dibekap begitu kuat dan pistol itu di arahkan ke bagian pelipisnya.
"Jangan membuatku marah, sekarang ikut aku!" Edward menggeram.
Tak tahan lagi, Alea langsung menggigit tangan Edward dengan kekuatan penuh. Sehingga bekapan tangan Edward terlepas.
"Aaarggghh." Edward meringis kesakitan. Tangannya berdarah karena bekas gigitan Alea. "KAU...?" Edward tampak marah.
__ADS_1
"Siapa kau? Jangan macam-macam, aku akan menghubungi Frey." Geram Alea dengan sorot mata tajam.
"Cih..." Edward tersenyum smrik. "Sekarang kau berani ya? Aku ingin lihat, apa kau berani bertemu dengan orang ini?"
Alis Alea menukik tajam. "Apa maksudmu?"
"Sekarang ikut aku!"
"Tidak. Aku tidak mau."
Edward mengusap bibirnya bawahnya dan mengunci tatapannya ke arah Alea. "Kau tidak mau?"
"Iya, aku tidak mau."
"Itu artinya kau tidak ingin bertemu dengan nyonya Miles?"
"Aa-apa maksudmu?" Wajah Alea menegang dengan napas gugup saat mendengar nama itu.
Edward tersenyum sinis saat melihat perubahan wajah Alea. "Nyonya Miles ingin bertemu denganmu."
"Tidak mungkin!"
"Sekarang kau ikut aku!" Tanpa pikir panjang, Edward menarik tangan Alea dengan kasar.
Alea tidak bisa berbuat apa. Ia hanya menurut saat tangannya di tarik kuat.
"Akhirnya kau datang juga."
Mendengar suara itu, Alea langsung bangun dari duduknya. Ia menunduk hormat saat melihat Victoria sudah berdiri di belakangnya.
"Selamat siang aunty!" Sapa Alea seramah mungkin.
Victoria tersenyum sinis. "Bukankah kau sudah berjanji tidak ingin menemui Frey. Apa aku harus menggunakan cara lain untuk memisahkan kalian?"
Deg....
Deg...
Wajah Alea menegang, kakinya gemetar. Tangannya mengepal kuat untuk menutupi kegugupannya. "Apa maksud aunty?"
"Berapa kali aku aku mengatakan ini. Kau tidak pantas untuk Frey." Victoria duduk sambil melipat tangannya di depan dada, tatapannya begitu mengintimidasi Alea.
Alea mencoba tersenyum. "Kami saling mencintai, aunty. Tidak ada yang salah dengan hubungan kami. Jadi aku tidak ingin berpisah dari Frey."
Victoria tersenyum sinis, ia mengeluarkan amplop dan melempar isinya ke atas meja. Foto telanjang ayah Alea sedang bersama wanita lain terlihat jelas di sana.
Wajah Alea menegang kaku, saat melihat semua foto-foto itu berserakan di atas meja.
__ADS_1
Victoria tersenyum saat melihat perubahan wajah Alea. "Apa kau ingin semua foto-foto aku sebarkan ke media sosial? Atau...." Victoria menjeda kalimatnya, ia tersenyum sinis melihat Alea terdiam di tempatnya. "Atau aku panggilkan saja wartawan? Aku yakin keluargamu tidak bisa menahan malu saat melihat orang yang kalian hormati melakukan hal yang menjijikan seperti ini." Diujung kalimatnya, Victoria sengaja menekan kalimatnya. "Jadi sadarlah, lepaskan Frey. Jangan menahan anakku untuk selalu berada di dekatmu."
Alea mengencangkan rahangnya. Jantungnya seperti terhantam saat ini. Ia memejamkan matanya dengan sejuta rasa sakit di dalam dada.
"Aku tidak ingin kejadian terakhir terulang lagi. Kau masih ingat itu?" Victoria mencondongkan tubuhnya dan setengah berbisik. "Kau tidak perlu mencemaskan Frey, aku pastikan dia bisa melupakanmu secepatnya."
Kata-kata itu seakan mengoyak hati Alea Begitu sakit, hingga untuk bernapas saja sangat sulit baginya.
"Aku sudah memberikanmu waktu. Pergunakan sebaik-baiknya. Jangan sampai hidupmu hancur dalam hitungan detik." Gertak Victoria dengan mata menyorot tajam.
Glek!
Alea menelan salivanya saat melihat tatapan Victoria seakan membunuhnya tanpa menyentuh. Tampang Victoria benar-benar menakutkan. Beberapa detik kemudian Alea tersenyum kecut. Matanya mengedip cepat kemudian berucap.
"Anda salah orang! aku akan tetap mempertahankan hubungan ini. Jadi jangan pernah memisahkan aku dengan Frey." Alea berucap lantang.
Mendengar itu, Victoria langsung bangun dari duduknya dan,
PLAKKK
Dengan kekuatan penuh, Victoria mengayunkan tangannya, menampar pipi Alea dengan begitu keras, suara tamparan tu begitu nyaring sampai membuat mata Alea berkunang-kunang.
"Berani kau mengatakan itu. Dasar sampah!" Jemari kuat Victoria mencengkeram baju Alea hingga membuat tubuhnya terangkat dan kemudian mendorong tubuh Alea sampai membuatnya tersungkur.
Victoria berjongkok agar bisa sejajar dengan Alea, Ia menarik rambut Alea ke belakang.
"Aku tidak mau tahu, dalam tiga hari kau harus meninggalkan negara ini. Jika tidak, aku akan melakukan hal yang lebih buruk dari ini." Ucap Victoria menarik rambut Alea semakin kuat, hingga membuat Alea meringis kesakitan. Air matanya menetes di sudut matanya.
"Apa kau mendengarkanku?" Victoria lagi-lagi menarik rambut Alea.
Dengan keadaan terpaksa, Alea mengangguk pelan. Air matanya kembali tergelincir membasahi pipinya. Sudut bibir Victoria langsung melengkung ke atas.
"Bagus!" Victoria mendorong kepala Alea dengan kasar. Ia berdiri dan terus menatap Alea dengan sinis. "Aku harap kau bisa memegang janjimu."
Setelah mengatakan itu, Victoria langsung pergi meninggalkan Alea di sana. Ia melangkah anggun dan bunyi high heels nya sengaja dibuat dengan tempo yang indah. Agar Alea sadar bahwa status sosial mereka berbeda.
Sementara Alea, menarik napas yang semakin menyesakkan. Matanya terlihat merah menahan semua perasaan yang membuncah. Tenggorokannya terasa tercekat. Ia segera menelan ludah, meski mulutnya terasa kering. Ia tidak ingin menangis di tempat umum seperti ini. Pedih, sakit dan kecewa. Semuanya bercampur menjadi satu. Ia sendiri tidak tahu harus bagaimana lagi. Kenyataan ini terlalu menyakitkan, bahwa ia harus berpisah dari Frey.
FLASH BACK OFF.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kesembilan aku π
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
__ADS_1
^_^