Terjerat Dengan Suami Palsu

Terjerat Dengan Suami Palsu
MEMBERIKAN PERTOLONGAN


__ADS_3

💌 TERJERAT DENGAN SUAMI PALSU 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Mobil yang mengantar Frey berhenti di halaman luas kediaman Miles. Frey perlahan-lahan membuka matanya dan kemudian menarik napasnya dalam-dalam. James keluar terlebih dulu dari mobil untuk membuka pintu untuk bosnya itu.


"Kita sudah sampai,tuan." James tersenyum. Tangannya mengulur mempersilakan.


Frey mengangguk, lalu keluar dari mobil. "Terima kasih, James. Kau bisa pulang dan beristirahatlah." ucapnya dengan seulas senyuman singkat.


"Baik tuan. Besok saya akan kembali menjemput anda." Kata James tersenyum kecil sambil membungkukkan badannya.


"Oh, ya. Untuk masalah hari ini, saya tidak ingin mendengar berita mengenai kejadian di klub itu."


"Semua sudah dibereskan tuan. Anda tidak perlu khawatir."


Frey menganggukkan kepalanya. Ia lalu mundur beberapa langkah ke belakang agar mobil itu bisa memutar. James kembali masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi. Ia lalu menginjak pedal gas untuk membawa mobilnya keluar dari halaman kediaman Miles.


Frey menarik napasnya dalam-dalam dan menatap sejenak rumah mewah itu. Lalu melangkah masuk ketika pak Bram membukakan pintu untuknya.


"Selamat malam tuan," sapa pak Bram menunduk sopan. Lelaki paruh baya itu adalah pak Bram yang sudah lama bekerja dikediaman Miles.


"Selamat malam. Anda bisa istirahat sekarang." kata Frey tersenyum dan melangkah lagi.


Namun panggilan pak Bram menghentikan langkah Frey "Tuan,"


Frey membalikkan badannya untuk melihat ke arah lelaki paruh baya itu. "Hmmm? kenapa pak Bram?"


"Sejam yang lalu nyonya Miles membanting semua barang-barang yang ada di kamarnya. Beliau bahkan pergi ke gudang bawah tanah dan membawa benda tajam ke sana. Maafkan saya tuan, saya tidak menghentikan kemarahan Nyonya Miles." Ucap pria itu menunduk dengan penyesalan.


Frey terdiam dan mematung di tempatnya. "Ke gudang bawah tanah? Untuk apa mommy membawa benda tajam ke sana?"


Deg!


Tiba-tiba ia teringat wanita yang dikurung Victoria di bawah tanah. Wanita yang dinikahinya beberapa hari yang lalu.


"Apa jangan-jangan....?"


Frey menarik napas singkat dan menatap manik mata lelaki paruh baya itu.


"Sekarang dimana mommy?"


"Sekarang beliau berada di kamarnya, tuan." Jawab pak Bram dengan pelan.


Frey mengangguk. "Baiklah, aku langsung ke sana. Terima kasih pak Bram, sekarang anda bisa istirahat."

__ADS_1


Bram membungkukkan badannya memberi hormat. "Kalau begitu saya permisi tuan."


Frey hanya mengangguk dan tersenyum ke arah pak Bram. Ia menunggu sampai lelaki itu benar masuk ke dalam kamarnya. Frey menarik napasnya lagi, lalu melangkah ke arah pintu kamar Victoria.


Tok...tok...tok...


Frey mengetuk tiga kali pintu itu. Tidak ada sahutan. Frey menyiapkan hatinya kembali. Ia melakukan ritualnya. Menghembuskan napasnya lewat mulut. Mencoba menstabilkan napasnya untuk menghadapi Victoria. Dia sangat yakin, Victoria tahu bahwa Bastian sudah tewas di tangannya. Frey lalu membuka pintu tersebut secara perlahan.


CEKLEK!


Belum lagi badannya masuk ke kamar, Victoria sudah melempar gelas ke arahnya.


" Praaangggg!!! "


Gelagar suara gelas pecah, menghantam dinding ketika Frey membuka kenop pintu. Frey memejamkan matanya, ia masih mengatur napasnya untuk menghentikan debaran jantungnya karena terkejut.


Siapa lagi pelakunya kalau bukan Victoria kalau lagi marah pasti melemparkan gelas itu kepadanya. Suara yang memekakan telinga itu sayup-sayup berhenti, sekarang yang tertinggal hanya rasa keheningan yang mencekam. Sorot mata Victoria yang tajam seakan mampu menembus jantung Frey saat ini.


"Apa yang kau lakukan mommy?"


"Membunuhmu." Ucap Victoria tenang tanpa beban.


"Kenapa mommy ingin membunuhku?"


Victoria tersenyum sinis. Ia melangkah panjang dan mendekat untuk memberikan pukulan tepat di bagian dada Frey. Hingga membuat Frey terhuyung ke belakang.


"Kau masih berani bertanya setelah apa yang kau lakukan?" teriak Victoria dengan emosi yang membuncah. Frey masih tetap tenang. Ia tersenyum kecut di sana.


"Apa kamu pikir, aku tidak tahu apa yang kau lakukan dengan Bastian. Sampai kapan kau seperti ini?" sengit Victoria menatapnya dengan tajam.


Frey meremas tangannya dengan kuat, Ia kembali membalas menatap Victoria dengan tajam. Lagi-lagi kata itu yang ia dengarkan dari wanita yang melahirkannya itu. Frey kembali menarik napas sambil terpejam.


"Apa mommy tidak pernah malu dengan dirimu seperti ini? Kau mengencani lelaki yang jauh di bawah umurmu? Apa mommy wanita normal?" teriak Frey, membuat Victoria tersentak.


"Sampai kapan mommy seperti ini?"


"Kau berani membentakku! Dasar brengsek! " teriak Victoria mengayunkan tangannya untuk menampar pipi Frey. Namun, sebelum itu terjadi Frey sudah lebih dulu menangkap tangan Victoria. Frey memberikan tatapan tajam, sehingga membuat rasa tidak nyaman.


"Aku bukan anak kecil yang selalu kau pukul mom. semua itu aku lakukan agar mommy menyadari kesalahan. Berhentilah menjadi wanita j*lang. Jadilah wanita yang berharga di mata anakmu."


"Apa????"


Setelah mengatakan itu, Frey berbalik ingin meninggalkan kamar.


"Kau tidak lihat seperti apa istrimu sekarang Frey." ucap Victoria dengan senyum sinis.


Langkah Frey mendadak berhenti. Posisinya masih memunggungi.


"Kau pikir hanya kamu yang bisa melakukan itu? Aku juga bisa melakukannya kepada wanita yang sekarang menjadi istrimu." kata Victoria dengan wajah gaharnya.


Frey masih mencoba mencerna. Namun, sepersekian detik wajahnya tiba-tiba berubah. "Apa jangan-jangan benda tajam yang dibawa mommy untuk...." Frey tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Ia segera berbalik dan mendekat ke arah Victoria.

__ADS_1


"Apa maksudmu?" Kata Frey dengan ekspresi was-was. Jika sesuatu terjadi pada wanita itu, ia tidak bisa membalaskan dendamnya kepada keluarga Wyanet.


Victoria melipat tangan di depan dada, dengan tenang ia menjawabnya. "Kau lihat saja sendiri!"


Tanpa pikir panjang, Frey melangkah panjang meninggalkan kamar.


"Frey, kuncinya sudah aku buang ke kloset. Kau tidak akan bisa membuka pintunya." teriak Victoria dengan diiringi suara tawa. Sepersekian detik tawanya hilang bersama kesunyian malam.


"Frey...apa kau mendengarkanku?" Teriaknya lagi.


Karena tidak ada respon dari Frey. Victoria kembali meluapkan kemarahannya.


"Aaaarrrrrgggghh..!" Teriak Victoria dengan histeris.


PRANG!


Keramik kristal yang ada di atas nakas ia hempas begitu saja. Serpihan-serpihan tajam berterbangan dan berserakan di atas lantai putih. Emosinya tak juga membaik. Napasnya tersengal karena menahan emosi.


Sinar lampu di atas nakas seolah terus mengejarnya, menertawakannya. Victoria benci dengan sorotan-sorotan lampu kamar yang seolah-olah menelanjanginya itu.


Victoria mencengkram rambutnya dengan frustasi. "Dasar anak brengsek! Kau berani melakukan itu kepada mommy, Frey? akulah penghuni rumah ini dan aku berkuasa atas semua yang ada di sini. Tidak ada yang aku takuti. Termaksud kau anak sialan!"


Tak juga puas, Victoria melangkah panjang untuk mengambil lampu itu. Dan beberapa detik kemudian lampu itu dihantamnya ke dinding kamarnya. Semua parfum mahalnya pecah tanpa sisa. Kamarnya kembali berubah menjadi berantakan. Victoria menarik napas marah. Rahangnya mengencang kuat. Sorot matanya bersinar tajam.


"Apa hanya kau yang bisa melakukan itu Frey? Jika kau seperti ini terus. Kau juga tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan. Kita lihat saja!" ucapnya dengan nada geram.


⭐⭐⭐⭐⭐


Frey melangkah panjang dan sedikit berlari menuju ruang bawah tanah. Ia penasaran apa yang dilakukan Victoria kepada wanita itu. Pintu ruang bawah tanah yang terkunci oleh sebuah gembok besar yang terletak di belakang dapur rumah. Pintu itu memancarkan cahaya kuning yang menerobos keluar melalui sela-sela pintu. Terdengar suara yang samar dari dalam pintu ruang bawah tanah itu.


Rasa penasaran dan putus asa membuat Frey untuk mendobrak pintu itu. Namun, tidak berhasil. Dengan sebuah palu yang besar, Frey menghancurkan gembok itu. Akhirnya pintu itu dapat dibuka dan Frey bisa memasukinya. Ruang bawah tanah yang pengap dan gelap membuat Frey tak bisa menemukan stop kontak. Dia tidak pernah ke ruang bawah tanah ini.


Dengan bantuan cahaya lampu dari handphonenya, Frey menuruni anak tangga dengan perlahan.


"Hei...apa kau mendengarkanku?" panggil Frey pelan. Tidak ada sahutan. Hening, yang terdengar hanyalah suara langkah kakinya.


"Hei kau dimana?" Frey menyorot senternya ke setiap sudut ruangan.


Tiba-tiba cahaya senter mengarah ke sosok wanita yang sedang tergeletak tak berdaya. Posisi tangannya terikat ke belakang. Wanita itu bergumam tidak jelas dengan mata terpejam.


Frey panik dan langsung berlari. Ia mengangkat wajah wanita itu dan menepuk pipinya berulang kali. Ia mengambil sesuatu untuk melepaskan tali yang mengikat tangan wanita yang sedang tak sadarkan diri itu.


Frey berhasil melepaskan tali itu dan menarik tubuh Yara ke dalam rangkulannya. "Hei bangun...Kau belum bisa mati. Kau masih berurusan denganku." Kata Frey menepuk pipi wanita itu dengan kuat.


Tidak ada sahutan. Tanpa pikir panjang, Frey langsung menggendong tubuh Yara dengan kedua tangannya dan membawa Yara keluar dari ruang bawah tanah itu. Ia segera meminta bantuan kepada pak Bram yang tiba-tiba muncul di sana. Pak Bram tidak bisa tidur, karena mendengar suara keributan dari kamar Nyonya Miles. Dengan cepat pak Bram menghubungi dokter keluarga. Memberikan pertolongan pertama kepada wanita yang tidak sadarkan diri itu.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kesembilan aku 😍

__ADS_1


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^.


__ADS_2