
💌 TERJERAT DENGAN SUAMI PALSU 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
TIGA BULAN KEMUDIAN.
PAGI DATANG MENYAPA.
Kriiingggg….! Kriiingggg…! Kringgggg…!
Yara mengumpat dengan mata terpejam. Dering jam weker ini seperti menertawakannya. Dari balik selimut, tangannya mencari-cari jam weker yang terus berbunyi di atas nakas. Begitu Ia mendapatkan apa yang diinginkan, segera ditekannya kencang-kencang jam weker yang mengganggu tidurnya itu.
Rasa kantuk masih menguasainya. Tadi malam Yara menemani Frey lembur. Lelaki sialan itu bahkan tidak mengizinkannya duduk. Dasar tidak punya perasaan! Yara masih bergulung diri di dalam selimut. Ia memicingkan matanya, menatap jam weker yang ada di tangannya. Namun rasa malas masih menguasainya.
"Astaga aku masih ngantuk!" Yara kembali membenamkan wajahnya di antara bantal.
Tapi ia tidak bisa bermalas-malasan. Pekerjaan rumah sudah menunggunya. Yara harus mempersiapkan makan pagi khusus untuk Frey Miles, belum lagi membersihkan rumah. Rutinitas pagi yang wajib Ia kerjakan.
Yara kembali mengingat perkataan Frey saat ia meminta untuk menembus kesalahan daddy-nya. Yara memejamkan matanya saat mengingat lelaki itu begitu tenang mengatakannya.
"LAYANI AKU SEUMUR HIDUPMU."
"Haaaaa...." Yara membuang napas dengan mulut terbuka. Kata-kata itu menyengat di batinnya, dalam sekejap menguasai dentum-dentum sesak yang tak berperi.
Bagaimana ia bisa diperlakukan seperti ini. Selama dua bulan menjalani tugasnya. Ini benar-benar tidak adil. Perlakuan Frey mulai aneh kepadanya. Bukan perlakuan kasar atau pelecahan, tapi perlakuan ini membuat Yara merasa tidak nyaman. Mungkin awalnya tidak, tapi ini sudah berjalan dua bulan tapi perlakuannya masih sama.
Frey meminta Yara untuk menemaninya makan, baik itu makan di rumah atau di restoran. Jika Yara menolak, Frey akan marah dan mengancamnya. Terkadang dia juga memberikan senyuman yang mempesona padanya saat pekerjaan Yara memuaskan, hingga membuat Nyonya Miles begitu marah kepadanya.
Yara juga pernah menemukan bunga di dalam kamar yang entah dari siapa. Kapan di tanya, ibu Brigitta tidak tahu apa-apa dan ujung-ujungnya Yara tidak mendapatkan jawabannya. Dan lebih membuat Yara tidak nyaman adalah ketika Frey marah tanpa alasan yang jelas. Yara ingat saat itu dimana ia sedang berbincang-bincang dengan James, asisten pribadinya. Padahal perbincangan itu hanya biasa-biasa saja. Tapi bisa-bisanya Frey begitu marah. Yara bisa melihat jelas perubahan wajah Frey saat itu. Wajahnya begitu dingin dan menyeramkan.
Yara mengerutkan dahinya berpikir keras. Bukankah ini terasa tidak adil baginya. Banyaknya pembantu diluar sana, tidak ada diperlakukan seperti itu. Tapi Frey Miles benar-benar berbeda. Atau jangan-jangan Frey....menyuk.....oh...tidak mungkin! Yara mengenyahkan hal demi hal yang ia pikirkan di otak kecilnya.
__ADS_1
Yara tidak ingin menunggu. Ia langsung mengulat lalu merenggangkan otot-otot tubuhnya. Tangannya di tarik ke atas. Melewati kepala dan menyelusup di sela-sela bantal sambil dikencangkan ke atas. Ia menyipitkan mata dan melihat ke arah jam weker yang ada di atas nakas. Pukul 5.30, waktunya bersiap. Yara berjalan lesu ke arah kamar mandi. Mengambil odol dan sikat gigi, lalu menggigitnya pelan. Ia membuka mata sedikit lebih lebar dan memandang pantulan dirinya di kaca.
"Oh my God. Ini mata kok masih ngantuk banget Ya.." Yara menyudahi aksi malasnya.
Setelah membersihkan wajah dan menyikat giginya. Ia keluar dan segera membersihkan kamarnya. Dengan cekatan Yara merapikan sekaligus membersihkan seprai dan menutupi permukaan kasurnya. Ia lalu merapikan posisi bantal. Meja tempat biasa Yara menghabiskan waktunya untuk menulis. Ia bersihkan juga. Boneka pemberian ibu Brigitta yang selalu menemaninya, di susun dengan rapi dan Ia letakkan di sisi kanan paling ujung. Yara tersenyum sambil menunjukkan deretan giginya yang putih. Ia mengedarkan pandangannya dan menganggukkan kepalanya tanda ia puas dengan hasil kerjanya.
"Sudah rapi, sekarang kita masak. Tapi menu apa ya tuan Miles hari ini?" Yara mengetuk-ngetuk dahinya dengan gestur berpikir.
"Aha..." Tangan Yara mengacung ke atas. "Sepertinya aku harus menyiapkan croissant." Terakhir kali, Frey memuji masakannya.
Yara langsung menuju dapur. Menyiapkan croissant sebagai menu sarapan Frey pagi ini. Roti yang berbentuk tanduk ini dan diisi dengan kacang almond, mentega, cokelat, krim dengan segelas kopi hitam hangat sudah siap.
Pagi yang tenang. Setelah selesai menyiapkan sarapan, ia lalu membersihkan rumah. Merapikan ruang kerja yang bahkan tadi malam tak sempat Ia rapikan.
Setiap Pagi selalu menawarkan cerita baru untuknya, baik kepada yang bangun di awal ataupun kepada yang bangun kesiangan. Ia tak pernah mengeluh soal pagi. Yara bersyukur karena masih bisa bertemu dengan pagi, Ia ingin menyambutnya dengan hati ikhlas. Yara yakin hari ini akan lebih baik lagi. Ia menarik napasnya dalam-dalam, udara pagi begitu menenangkan pikirannya.
"Semangat pagi nona Yara!" Sapa ibu Brigitta keluar dari ruang doa. Rutinitas setiap pagi. Ibu Brigitta selalu menjalankan doa novenanya.
"Selamat pagi juga ibu Brigitta!" Yara tersenyum balik menyapa. Ibu Brigitta berjalan ke arah dapur untuk menyiapkan sarapan untuk seisi rumah kecuali Tuan Frey Miles. Sarapan Frey adalah tanggung jawab Yara.
"Astaga...Aku lupa membersihkan kamar tuan Miles." Yara menatap ke arah pintu kamar Frey yang masih tertutup. Ia menghembuskan napas dengan pipi menggembung.
Tok...tok....tok
Yara mengetuk pintu dengan pelan sebanyak tiga kali. Lalu membuka kenop pintu itu dengan perlahan.
CEKLEK!
Yara melangkah dengan pelan. Semaksimal mungkin meminimalisasi suara dari derap langkah kakinya. Frey nampak berbaring dan tertidur nyenyak di kasur.
Menurutnya kamar ini begitu mewah. Lantainya saja beralaskan karpet abu-abu. Terlihat begitu elegan dengan pendaran lembut cahaya kuning dari lampu yang dipasang melekat di dinding. Konsep desain interior yang hanya menggunakan satu warna atau monokrom, permainan tekstur sangat berpengaruh untuk menjadikan setiap detailnya terlihat menarik. Tak lepas beberapa rak yang terlihat elegan. Ada beberapa lukisan yang menghias dinding ruangan itu. Kemudian penggunaan kacanya, serta tekstur kayu menampilkan hasil desain yang lebih ekspresif. Terlihat fresh sekaligus tidak terlihat kaku. Tapi yang menempati kamar ini terlihat kaku. Yara langsung mendekat semakin mendekat dan memandang wajah Frey yang masih tertidur pulas. Rambutnya terangkat ke atas pada bantal. Napasnya berembus stabil, lembut tanpa dengkuran. Ia benar-benar tertidur seperti bayi. Hal itu jelas menandakan bahwa pria ini tertidur dengan nyaman.
Fiuhhhhh....pipi Yara tiba-tiba merona. Napas hangat berembus dari mulutnya.
Yara segera mengembalikan pikirannya. Ia melangkah menuju tempat ruang ganti. Dimana Yara akan memilih pakaian yang akan digunakan Frey hari ini. Ruangan itu penuh dengan lemari simestris dengan kaca transparan di beberapa bagian. Setiap lemari memanjang seukuran dinding kamar berposisi leter U jika dipandang dari pintu masuk. Setiap sisi sekat dan sorotan cahaya lampunya sendiri. Berbagai pakaian mahal dan bermerek berjejer rapi di sana. Yara memulai dengan deretan kemeja yang digantung beberapa senti di atas kepala, namun masih bisa digapai dengan tubuh Yara yang tinggi.
Deretan kemeja dengan berbagai jenis bahan di susun dengan berkelompok sesuai warna. Yara pertama kali menyiapkan pakaian Frey, lelaki itu sangat marah karena semua pakaian yang dipilihnya tidak sesuai yang diharapkan. Tapi sekarang Yara sudah lihai dalam pemilihan warna. Yara tersenyum saat memilih salah satu kemeja berwarna biru yang lembut. Ia menggapai kemeja itu sambil terus memandangnya. Membawanya turun dan membalikkan badan.
__ADS_1
"Eh!" Yara terkejut saat membalikkan badannya. Frey sudah berdiri diujung pintu menatapnya dengan lekat.
Dengan cepat Yara menundukkan kepalanya. "Maaf, saya sedang menyiapkan pakaian anda." ucapnya sambil memeluk kemeja yang ada di tangannya.
Seketika mata Frey tertuju pada kemeja yang dipeluk Yara. Sudut bibirnya langsung melengkung ke atas.
"Oke...Lanjutkan!" Kata Frey tersenyum penuh arti. Ia pun berbalik dan langsung bersiap untuk membersihkan tubuhnya. Namun, sebelum itu terjadi Frey berbalik dan menatap Yara dengan sejuta pesona paginya.
"Jangan pergi sebelum aku selesai." Titah Frey pelan namun penuh penekanan. Lalu ia melangkah meninggalkan Yara yang tampak bingung seperti orang bodoh. Tentu saja melihat ekspresi itu membuat Frey tersenyum menikmatinya. Frey sudah gila, entah sejak kapan ia gila.
Yara yang mendengarnya menaikkan alis bingung dan berkata "Apa? tadi dia bilang apa?"
Yara terdiam sejenak dan mengedipkan matanya secara cepat. Sepersekian detik wajah Yara menegang. Ia mengerti maksud ucapan Frey.
"Apa jangan-jangan....?"
Deg...deg.... deg....!
Jantung Yara terpicu dengan kencang. Ia ingat perkataan Frey terakhir kali.
"TIDAK ADA PENOLAKAN."
Semua rasa seketika berkecamuk dalam batinnya. Rasa gugupnya membuat jantungnya memukul tidak stabil.
"Apa yang sebenarnya diinginkannya?"
Yara mengembuskan napas panjangnya. Namun itu tidak sedikit pun menenangkan kerisauan yang timbul dalam hatinya. Perkataan Frey membuat otaknya benar-benar kosong. Yara kembali menatap pintu yang sudah tertutup itu.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kesembilan aku 😍
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^.
__ADS_1