
💌 TERJERAT DENGAN SUAMI PALSU 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Victoria menginjak pedal gas lebih dalam lagi. Memacu mobilnya begitu cepat agar ia tiba di kantor Miles. Victoria menarik napasnya dalam-dalam beberapa kali, lalu membuang napas lewat mulut. Bersikap tenang adalah pilihan yang terbaik untuk saat ini. Hal yang paling tidak disukai Frey adalah membuat keributan di kantor Miles.
DI KANTOR MILES.
Victoria memarkir mobilnya dengan asal. Ia turun dengan terburu-buru
BRAKKKK!
Pintu mobil dibantingnya dengan cepat. Lalu berjalan dengan penasaran dan jantung yang terus memicu dengan kencang. Victoria melewati lift khusus, agar Frey tidak mengetahui kedatangannya.
TING!
Pintu lift terbuka.
Melihat kedatangan nyonya Victoria. Mark dengan cepat menundukkan kepalanya untuk memberi hormat. Ia tersenyum ramah kepada ibu pemilik perusahaan Miles tempatnya bekerja.
"Selamat sore nyonya Miles." Sapa Mark dengan senyum bahagia.
"Saya ingin bertemu dengan wanita yang datang dengan direktur Miles." Victoria to the point menanyakan keberadaan Yara.
"Maaf nyonya. Pak direktur hari ini ada acara penting di auditorium."
Victoria mengembuskan napasnya dengan kesal, menatap pria itu dengan tajam. "Saya tidak ingin bertemu dengan pemimpin perusahaan ini. Saya ingin bertemu dengan Yara. Bawa dia ke sini!"
"Maaf, nyonya. Saya tidak berani melakukannya."
Victoria menarik napas dengan mata terpejam. Ia memandang ke arah pria itu lagi. "Baiklah, lanjutkan pekerjaanmu." Kata Victoria akhirnya.
"Apa saya menghubungi asisten direktur saja. Saya rasa beliau akan bersedia membantu anda.
"Tidak. Saya akan menemuinya langsung." Ucap Victoria dingin.
"Baiklah kalau begitu, nyonya." Mark tersenyum dengan anggukan kecil.
Victoria langsung pergi tanpa mengucapkan apa-apa. Mark tersenyum sambil membungkukkan badannya untuk memberi hormat. Ia menatap punggung Victoria yang hilang dibalik tembok.
Victoria melangkah cepat menuju auditorium. Dengan tarikan napas yang panjang. Ia kembali menghubungi James, asisten Frey.
"NOMOR YANG ANDA TUJU SEDANG TIDAK AKTIF ATAU BERADA DI LUAR JANGKAUAN. COBALAH BEBERAPA SAAT LAGI."
Victoria mencengkeram handphonenya dengan kesal. Ia semakin tak tahan dengan semua ini. Ia berjalan cepat menuju auditorium. Ia harus menemui wanita yang tidak tahu diri itu. Apapun alasannya, Victoria semakin yakin jika Frey menyukai wanita itu.
SEMENTARA ITU.
Tap...tap...
Tap...!
__ADS_1
Entah mengapa, semakin mendekat ke ruangan auditorium, detak jantung Yara semakin terpukul kencang. Ia meremas tangannya yang terasa dingin. Kenapa tiba-tiba Frey mengajaknya ke acara seperti ini. Menyiapkan pakaian dari butik terkenal di kota ini dan penata rambut yang profesional. Apakah ini bentuk dari hukumannya juga?
Yara berdiri di samping Frey, mengikuti langkah kaki pria berkuasa itu. Langkah kakinya seirama dengan detak jantungnya saat ini. Perasaan berkecamuk memenuhi dadanya, kembang kempis sampai ingin keluar dari rongga dadanya. Mereka memelankan langkah kakinya tepat di depan di pintu auditorium. Frey tersenyum sambil mengangguk kepalanya ke arah James. Meminta James membukakan pintu itu untuk mereka.
CEKLEK!
Pintu terbuka. Daun pintu langsung di dorong James agar terbuka lebih lebar. Ia menahannya dan segera mempersilakan Frey dan Yara masuk.
Melihat kedatangan direktur dari perusahaan Miles, para pejabat di sana langsung bangun dari duduknya.
"Selamat sore, tuan Miles. Senang bertemu dengan anda." Ia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Selamat sore juga pak. Senang bertemu dengan anda juga." Frey ikut tersenyum.
"Wah istri anda cantik sekali tuan, senang bertemu dengan anda, nyonya Miles." Pria itu tersenyum menjabat tangan Yara.
Pipi Yara langsung merah merona saat mendengar kalimat itu. Ia tersenyum canggung mengulurkan tangannya untuk berjabatan tangan.
"Saya sudah mendengar tentang anda. Anda seorang pemimpin yang bijaksana."
"Ah..." Frey tersenyum. "Terima kasih pak," Kata Frey mempererat jabatan tangannya.
Saat melihat senyum Frey, Yara terkesima sesaat. Sementara Frey saat melihat reaksi Yara, sudut bibirnya melengkung ke atas. Frey kembali berjalan menyalami tamu undangan yang lain.
Acara pun telah di mulai. Frey memberikan pidato singkatnya, terkait kerjasama yang baik antara mereka. Ia hanya menyampaikan rasa terima kasihnya atas kehadiran para undangan. Banyak bantuan yang diterima selama ini untuk perusahaan Miles. Harapan Frey ke depannya semoga perusahaan Miles bisa lebih sukses lagi.Tak ingin lama-lama memberikan kata sambutannya. Frey pun mengakhiri kata sambutannya. Semua bertepuk tangan saat mendengar kata sambutan dari seorang pemimpin perusahaan Miles itu.
Acara makan pun berlangsung. Sementara Yara sedari tadi tidak nyaman mengikuti acara seperti ini. Ini seperti siksaan yang begitu nyata untuknya.
"Sebentar biar aku ambilkan minuman." Bisik Frey ke telinga Yara. Hembusan napas Frey membuat Yara bergidik. Yara hanya diam tak menjawab.
Frey melangkah ke meja untuk mengambil minum untuk Yara yang sedari tadi diam tak bergeming dari kursinya.
Yara merasa canggung dengan kedekatan ini. Sungguh membuatnya benar-benar tidak nyaman.
"Mulai hari ini kau harus terbiasa mengikuti acara seperti ini. Layaknya seperti seorang istri."
"Uuhukkkk...! Uuhukkk...!" Yara tersedak, wajahnya berubah merah saat Frey mengatakan kalimat 'istri' lagi.
"Tidak, bukan istri tapi saya adalah pelayanmu seumur hidup, tuan."
"Kamu tidak apa-apa?" dengan cepat Frey mengambil tissue yang ada di atas meja.
Yara masih terbatuk. Ia masih tidak mengerti dengan sikap Frey yang tak bisa ditebak itu.
"Yara, kau tidak apa-apa?" ulang Frey kembali sambil menyentuh lengan Yara. Ia memiringkan kepalanya untuk menatap wajah Wanita itu secara dekat.
"Maaf, aku tidak apa-apa." Yara membuang mukanya setelah mengambil tissue dari tangan Frey.
"Sungguh, kau tidak apa-apa. Wajahmu sempat merah. Aku takut minuman anggur itu masuk ke dalam paru-paru mu."
"Aku bilang aku tidak apa-apa. Jangan memperbesar masalah. Lagian kau yang memaksaku ikut ke acara seperti ini. Aku tidak terbiasa." Keluh Yara menatap malas kepada Frey.
"Upsss." Yara menutup mulutnya, ia menyadari ucapannya.
"Astaga apa yang aku katakan tadi. Kamu gila Yara." Yara lagi-lagi hanya bisa mengumpat dirinya. Untung saja Frey tidak terlalu menanggapi ucapannya.
"Aku mau ke toilet." Yara bangun dari duduknya dan langsung meninggalkan Frey.
__ADS_1
⭐⭐⭐⭐⭐
Saat di tengah acara, Victoria melihat Frey berjalan beriringan bersama Frey. Wanita sialan itu terlihat cantik dengan gaun yang membalut indah di tubuhnya. Victoria penasaran. Ia masuk ke ruang auditorium itu.
Wajah Victoria langsung berubah saat Frey mengumumkan kepada tamu undangannya, bahwa selama ini Frey mendapat dukungan dari istrinya. Frey tidak mengatakan apa-apa mengenai dirinya. Bahkan ada yang bertanya soal hubungannya dengan Victoria. Tapi Frey memilih tidak menjawabnya.
"Dasar anak sialan. Apa karena wanita sialan itu kau meremehkan mommy?"
Tangannya mengepal kuat. Seakan ada aliran listrik yang menjalar ke seluruh tubuhnya dan membuatnya marah dan emosi. Victoria berusaha menenangkan dirinya. Ia menarik napas dalam, saat Frey dengan suka rela mengambilkan minuman untuk wanita itu. Frey memperlakukan Yara seperti wanita paling berharga di sana. Dan yang membuat Victoria tidak terima, wanita itu bahkan terlihat santai dan tenang. Ia tersenyum merasa dirinya paling bahagia di dunia.
Matanya tidak lepas menatap ke arah Frey dan Yara. Dadanya benar-benar terbakar saat melihat kemesraan mereka. Victoria tidak ingin melihat Frey hidup bahagia bersama wanita yang dicintainya. Bukankah seperti itu yang ia lakukan kepada wanita yang dicintai Frey dulu. Victoria melakukan apa saya untuk menghilangkan jejak wanita itu.
Victoria meremas tangannya sendiri. Rahangnya mengencang kuat.
"Apa kau sengaja melakukan itu, Frey?"
Emosi Victoria benar-benar tersulut. Api amarah kini membakarnya habis. Victoria menarik napas dalam-dalam dan terus memperhatikan mereka dari jauh.
Sepertinya kebaikan berpihak kepada Victoria. Yara tiba-tiba bangun dari duduknya dan keluar dari ruangan itu.
"Mau kemana dia?" Dengan cepat Victoria mengikutinya.
Sementara itu, Yara kebingungan mencari toilet. Karena memang harus keluar dari area itu. Dari pada tersesat dan muter-muter di sana, Yara pun bertanya kepada petugas yang ada di sana.
"Permisi pak, toilet dimana ya?"
"Oh, anda lurus saja nona, paling ujung sebelah kanan." Ucap lelaki itu dengan sopan.
"Terima kasih pak," Ucap Yara menunduk sopan. Ia pun melangkah mengikuti petunjuk seperti yang dikatakan lelaki itu. Namun, saat langkahnya nyaris mencapai toilet, seseorang tiba-tiba menarik tangannya dengan kasar. Yara terbelalak terkejut.
"Tanganku.... " Yara berbalik dan ingin melihat siapa yang berani mencekal tangannya.
"Siapa kau....?" Suara Yara tiba-tiba tertelan. Bibirnya terkatup rapat. Kedua matanya pun membola sempurna saat mengetahui yang menarik tangannya adalah Ibunya Frey. Wanita yang ditakutinya.
Victoria tak menjawab, ia hanya terus menarik tangan Yara dan membawanya ke jalur khusus.
"Nyonya, lepaskan tangan saya!" Kata Yara belum bisa menutupi rasa terkejutnya.
"Kamu diam!!!!" bentak Victoria.
Suara Victoria nyaris menyakiti gendang telinganya sampai membuat Yara memejamkan mata berulang kali.
"Lepaskan aku! tuan Miles akan marah jika aku belum kembali."
Victoria bertambah emosi saat mendengar kata-kata itu. Ia semakin menarik tangan Yara.
"Dasar wanita murahan. Hari ini, aku pastikan kau tidak akan bertemu dengan Frey lagi."
DEG!
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kesembilan aku 😍
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
__ADS_1
^_^.