Terjerat Dengan Suami Palsu

Terjerat Dengan Suami Palsu
SALING PERCAYA


__ADS_3

💌 TERJERAT DENGAN SUAMI PALSU 💌


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Frey berjalan pelan untuk pergi ke sisi kasur yang kosong di sebelah Yara. Ia tidak mau pergerakannya justru mengganggu tidur istrinya itu. Dengan berhati-hati ia naik ke atas kasur dan memiringkan tubuhnya menghadap Yara.


"Sayang."


"Hmm?" Frey mengangkat alisnya. Yara belum tidur? padahal ia sudah sangat berhati-hati agar istrinya tidak terbangun.


"Peluk aku," pinta Yara dengan mata yang masih terpejam.


Frey tersenyum lembut dan mendekat ke arah Yara. Ia mengulurkan tangannya untuk memeluk istrinya itu. Frey lalu mengusap punggung istrinya itu. Yara semakin merapatkan kepalanya ke bawah dagu suaminya.


"Aku pikir kau sudah tidur sayang."


Yara membuka matanya secara perlahan. "Aku tidak bisa tidur jika ada yang mengganggu pikiranku." Yara berbicara setengah bergumam.


Frey berkedip pelan. "Kamu memikirkan apa, sampai tidak bisa tidur."


"Hmmm...." Yara hanya mengembuskan napasnya. "Apa kau sudah bertemu klien-mu?"


"Sudah. Semuanya berjalan dengan baik sesuai yang diharapkan."


Yara tersenyum. Lalu mendongak melihat ke arah Frey. "Baguslah."


Frey kembali mengeratkan pelukan. Yara tersenyum dan melihat ke arah Frey. Wajah senyumnya berubah menjadi senyuman tipis yang serius. "Kau tidak penasaran, apa yang mengganggu pikiranku?"


Frey mengecup puncak kepala istrinya dengan geram. "Sekarang aku ingin tahu apa yang mengganggu pikiranmu?"


Yara menurunkan pandangannya. Ia menarik dan mengembuskan napas panjangnya. Wajahnya nampak sendu. Ia ingin memilih kalimat yang tepat untuk diucapkannya kepada Frey.


"Tadi aku bertemu ibu." ucap Yara dengan wajah sendu.


Frey mengerutkan keningnya. Menatap wajah sendu istrinya. "Kau bertemu ibu? Apa dia menyakitimu?"


Yara menggeleng. "Tidak. Dia tidak menyakitiku." ucapnya berbohong. Dia tidak ingin Frey semakin membenci ibunya.


"Terus? Apa dia memakimu?"


"Hmmm." Yara mengangguk lemah dengan bibir mengerucut. "Ibumu bahkan melempar botol wine ke dinding kamar saat aku mengatakan tidak akan meninggalkanmu."


Frey mengembuskan napas panjang sebelum berbicara. "Victoria memang seperti itu. Besok aku akan bicara kepadanya."


Yara bersandar di dada bidang Frey. Wajahnya tampak serius di sana. Frey mengusap-usap punggung Yara sambil mendengarkan dalam diam. Namun, dari reaksinya, Yara tahu Frey sedang menyimak dengan baik.


"Ada satu hal yang dikatakan ibumu dan sampai saat ini berkecamuk dalam pikiranku sayang."


"Apa itu?"


"Kau tahu kenapa Frey sampai saat ini tidak mengizinkanmu bertemu dengan keluargamu?" Yara menirukan ucapan Victoria.


Wajah Frey tiba-tiba berubah. "Apakah Victoria mengatakan itu?"


"Ya. Ibumu seperti mengetahui sesuatu tentang keluargaku. Apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui?" Yara balas menatap Frey dengan tatapan meminta penjelasan.

__ADS_1


"Jangan terlalu memikirkan perkataan Victoria."


"Benarkah tidak ada yang terjadi dengan orangtuaku, sayang?"


Frey menarik napas panjang lalu menatap Yara. "Tidak ada yang terjadi dengan mereka."


Yara menganggukkan kepalanya. "Aku juga berharap mereka baik-baik saja. Tapi kenapa sampai saat ini aku tidak bisa bertemu dengan mereka?" Mata Yara berkaca-kaca. "Bahkan aku tidak bisa menghubungi mereka sayang."


"Sayang kau harus percaya kepadaku. Jika waktunya sudah tiba, kita akan menemui mereka. Aku sudah berjanji untuk itu." Frey mencoba meyakinkan Yara. Ia tidak mau melihat istrinya menangis.


"Baiklah. Aku akan menunggu dengan sabar. Seperti yang kau katakan. Aku akan percaya kepadamu."


Frey mend*sahkan napas panjang, lalu menarik sebelah tangannya ke atas kepala. Menambah tinggi bantalan di belakang tengkuk dan lengan. Tangan Frey lain mengusap rambut Yara. Mencoba menenangkannya lewat sentuhannya. Ia mengembuskan napas singkat dan melanjutkan penjelasannya. "Aku harap kau kau tetap mempercayaiku sayang. Jangan pernah mendengarkan perkataan Victoria. Dia bisa melakukan apa saja untuk memisahkan kita."


Frey terdiam sejenak dan menarik napas panjang lalu memandang istrinya itu. "Kau tahu, kenapa sampai saat ini aku menunda menemui mereka? Aku pernah mengancam ayahmu dan mengatakan ingin membuatmu menderita. Jadi, aku ingin membuktikan kepada mereka bahwa kau hidup bahagia bersamaku. Percayalah kepadaku sayang."


Mata Yara kembali berkaca-kaca. Air bening menetes di sudut matanya. Frey merasakan itu. "Sayang kau menangis?"


"Pertemuan kita yang awalnya hanya sebagai penebus utang dan kini semuanya berbeda. Dan aku bisa merasakan ketulusan darimu sayang. Aku bahagia hidup bersamamu." Bahu Yara mulai gemetar.


Saat mendengar perkataan istrinya itu. Frey menarik napasnya dalam-dalam lewat mulut yang sedikit terbuka. Ia semakin bersalah pada Yara. Frey semakin merapatkan tubuhnya dan memeluk istrinya. Ia tak berucap apa-apa hanya membiarkan istrinya menangis.


Yara menitikkan air mata dan menenggelamkan wajahnya ke dada Frey. Ya, mungkin ia harus lebih bersabar. Menunggu hingga waktunya tiba.


"Jangan menangis lagi sayang. Aku terlihat buruk jika membiarkan istriku menangis seperti ini." Frey mengusap lagi punggung Yara dengan lembut.


Frey melihat ke arah Yara. Ditariknya tengkuk istrinya dan diciumnya dengan hangat.


Yara mendongak melihat ke arah suaminya yang tersenyum di sana. Ia mengusap sisa-sisa air matanya yang masih mengumpulkan di kelopak matanya.


"Sayang?"


Yara memegang pipi Frey dengan sebelah tangannya "Aku minta maaf." Yara menurunkan pandangannya. Ia merasa sangat bersalah karena sempat tidak mempercayai suaminya itu.


Frey mengerutkan keningnya. "Maaf? untuk apa?"


"Aku sempat kesal dan marah padamu." Bibir Yara mengerucut ke depan sambil memainkan kancing baju kemeja Frey.


Frey tersenyum hangat. "Aku mengerti. Kau pasti bingung siapa yang akan kau percaya antara aku dan Victoria."


"Maaf." Bibir Yara semakin mengerucut ke depan.


"Hmm. Terserah Victoria mau menilaimu seperti apa, yang jelas aku mencintaimu lebih dari hidupku."


Yara tersenyum haru menatap Frey. Frey balas tersenyum. "Oleh karena itu maafmu diterima tapi hukuman selalu ada."


"Heuh?" Yara mendongak. "Hukuman?"


"Ya. Kamu mendapatkan hukuman karena telah berprasangka buruk terhadap suamimu ini."


"Ha? itu tidak adil."


Frey terkekeh. "Kau tetap harus mendapatkan hukuman."


"Tidak. Aku tidak mau." rengek Yara. Ia menyandarkan lagi wajahnya ke dada Frey. Ia masih saja menangis. Menarik-narik cairan hidungnya.


"Jika kau tidak ingin mendapatkan hukuman. Jangan menangis lagi. Jangan pikirkan hal-hal yang membuatmu pusing. Kau mengerti?" Frey mengusap-usap lagi punggung Yara dengan sayang.


"Aku janji tidak akan memikirkan hal itu lagi."

__ADS_1


"Sekarang tidurlah. Besok perasaanmu akan lebih baik."


"Kau bijak sekali sayang." Ucap Yara tersenyum memajukan bibirnya.


Frey langsung mencium bibir ranum sang istri. "Kau baru tahu?"


Yara terkekeh. "Aku mencintaimu, Frey."


"Jangan panggil Frey lagi."


Yara tertawa lepas saat mendengar itu. "Aku mencintaimu sayang."


Frey tersenyum, mencium puncak kepala Yara. "Aku juga mencintaimu, sayang."


⭐⭐⭐⭐⭐


Sekitar pukul enam pagi lebih sedikit, semburat fajar berwarna jingga memenuhi langit. Warnanya hampir sama dengan lembayung senja ketika matahari terbenam, munculnya fajar pagi menyambut kehidupan. Warna orange keemasan sangat indah berpadu dengan langit yang masih gelap dan putihnya awan menjulang di angkasa.


Yara merasa sangat bersyukur masih bisa merasakan fajar pagi dan menyambut matahari terbit dan siap menjalani hari-hari yang panjang. Kini suasananya berbeda. Sekarang Yara bahagia bersama lelaki yang dicintainya.


Yara tersenyum hangat, ia masih merasakan hangatnya dekapan dari Frey. Yara kembali memejamkan matanya, hembusan napas dari Frey begitu terasa menyentuh pipinya. Senyuman mulai terulas di bibirnya. Ia benar-benar terhanyut menikmati aroma tubuh dari lelaki yang selalu membuatnya mabuk cinta itu. Ditambah suasana benar-benar menaburkan energi romantis yang menyenangkan.


Sebuah dekapan hangat membuat mereka terlelap. Malam itu, Frey terus membuatnya tersenyum. Frey tidak mau berhenti menyanyikan lagu untuknya. Yara kembali tersenyum.


Mereka masih berbaring nyaman di kasur yang empuk. Posisi tidur mereka miring. Frey mendekap tubuh mungilnya dari belakang. Saling memberi kehangatan sampai pagi menyingsing.


Ting!


Satu pesan masuk ke handphone Yara. Ia bisa melihat cahaya yang tiba-tiba menyala dari handphonenya itu. Yara bergerak, berusaha lepas dari dekapan Frey untuk mengambil handphonenya.


Namun..baru juga ia bergerak, tangan Frey kembali menariknya semakin dalam dan memeluknya lebih erat lagi.


"Mau kemana sayang?" Frey bergumam di sana.


"Kau tidak ke kantor? James tadi malam menghubungimu dan mengatakan Mr Johan ingin bertemu sebelum beliau pergi." Ujar Yara menyentuh tangan Frey dengan lembut.


"Ehhmm, sebentar lagi. Aku masih nyaman seperti ini."


Yara membalikkan tubuhnya menatap Frey dengan lekat. Ia menyentuh bagian pipi Frey, seakan menikmati pemandangan yang tidak ingin dilewatkannya. Entah mengapa pagi ini, perasannya berbeda. Ia begitu mengagumi suaminya itu. Walau sedang tertidur ia kelihatan tampan sekali.


"Bersiaplah sayang." Bujuk Yara.


"Aku masih ngantuk."


"Oke. Tidurlah dulu. Aku ke dapur menyiapkan sarapanmu dulu."


Yara mengecup bibir Frey dengan singkat. Ia pun bergegas turun dari atas kasur sambil membawa handphonenya keluar. Saat berada diluar kamar, Yara langsung membuka pesan itu dan.....


Deg!


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kesembilan aku 😍


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^

__ADS_1


__ADS_2