
π TERJERAT DENGAN SUAMI PALSU π
Β
π HAPPY READING π
.
.
Victoria bertambah emosi saat mendengar kata-kata itu. Ia mendorong tubuh Yara hingga terhuyung ke belakang.
"Siapa yang mengizinkanmu datang ke sini?"
Yara menarik napasnya dengan kesal, memperbaiki postur tubuhnya yang hampir terjatuh.
"Aku tak perlu minta izin darimu."
Emosinya semakin tersulut saat mendengar perkataan Yara. "Berani sekali kau."
Plaakkkk......!!!!!
Victoria mengayunkan tangannya menampar pipi Yara dengan begitu keras. Suara tamparan membahana membuat Yara terhuyung mundur sampai hampir kehilangan keseimbangan. Pipinya meninggalkan ruam merah pada kulitnya.
Yara menyentuh pipinya, napasnya tersengal karena menahan emosi. Ia menatap Victoria dengan gaharnya.
"Sombong sekali kau brengsek. Apa karena Frey sudah berbaik hati? Dan kau sekarang menjadi wanita yang tidak tahu diri, begitu?" ucap Victoria menunjukkan kilatan kemarahan yang jelas terpancar di wajahnya. Dia sudah benar-benar sangat kesal melihat sikap Yara.
Sungguh ia tidak percaya, ia harus rela datang ke sini demi menemui wanita sialan ini. Victoria menunjukkan kekesalannya, ia meluapkan kemarahannya yang menumpuk di dalam dada. Sikap Frey yang tidak mau mendengarkannya, membuat nilai plus untuk menghukum wanita sialan ini. Ini tidak bisa di diamkan. Ia tidak akan membiarkan siapa pun untuk mengambil hati Frey. Frey hanyalah miliknya. Selamanya hanya miliknya.
"Sekarang apa maumu?" Tanya Victoria dengan nada dingin.
Yara mencoba bersabar, dua kali ia diperlakukan seperti ini. Harga dirinya seperti diinjak-injak. "Apa maksudmu?" kata Yara tak kalah dinginnya.
"Dasar wanita rendahan, berani kau bertanya?" Victoria menghardik dengan nada penuh emosi.
"Kau tidak tahu malu, kau merubah sifat Frey menjadi anak yang tidak patuh. Kau tidak sadar, Frey tidak pernah mencintaimu. Dan satu hal yang perlu kau ingat, aku hanya menginginkan menantu yang sederajat dengan kami. Sementara kau? Kau hanya wanita yang tidak punya apa-apa dan tiba-tiba kau masuk ke keluarga Miles."
Tangan Yara mengepal kuat. Butiran air matanya sudah tergelincir di pipinya. Ia memilih diam tak menjawab.
"Kau tidak berhak mendapatkan cinta anakku, sampai kapan pun tidak akan bisa, Frey tidak pernah mencintaimu." Ucap Victoria dengan sinis. Ia tidak perduli, ia benar-benar sudah emosi.
Yara hanya bisa diam dan menunduk, ia berusaha menahan air matanya agar tidak terjatuh lagi. Namun perkataan Victoria sangat menyakitkan hatinya. Sungguh ia tidak bisa menahan rasa sedihnya lagi.
Sementara Frey berlari keluar mencari Yara. Sudah dua puluh menit ia menunggunya. Tapi Yara tak juga kembali dari toilet.
"Ingat wanita brengsek, kau hanya wanita rendahan yang tak pantas mendapatkan cinta anakku. Berhenti bermimpi untuk menjadi nyonya Miles. Tinggalkan Frey!" Titah Victoria dengan tegas.
Yara mengangkat wajahnya, menatap Victoria dengan tatapan kebencian. "Bagaimana jika aku tidak ingin melakukannya?"
__ADS_1
"Aku tidak mau tahu, tinggalkan Frey dan pergilah jauh. Jangan sampai Frey mengetahui kepergianmu dan menghilanglah dan jangan pernah kembali lagi....!" ucap Victoria dengan nada penuh ancaman.
Frey sudah masuk mendobrak pintu secara kasar. Membuat mereka terkejut. Yara sudah melihat Frey masuk. Antara senang atau tidak, Yara serasa terlindungi.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Frey menatap Victoria. Sebisa mungkin ia meredam emosinya agar kantor tidak menimbulkan keributan. Dia tahu seperti apa ibunya jika sudah marah. Ia rela mempermalukan dirinya sendiri.
Victoria memalingkan wajahnya menatap ke arah lain. Dia tidak menghiraukan perkataan Frey.
"Jawab aku mom! apa yang mommy lakukan kepada istriku?" Selembut mungkin ia mengulangi pertanyaannya.
"Istri?" Mata Yara berkedip cepat.
"Ibu ingin mengusirnya, menyadarkan dia bahwa tempat ini tidak layak untuknya." jawab Victoria dingin dan kaku. Sama sekali ia tidak menatap Frey. Ia hanya menatap sinis ke arah Yara yang menunduk. Victoria melangkah mendekati Yara dan menekan lengan Yara dengan jari telunjuknya.
"Jangan bersandiwara kamu. Lihat, sebelum kamu datang, dia mengancam mommy. Sekarang, di depanmu dia berpura-pura menangis untuk mencari perhatianmu." ucap Victoria ketika melihat Yara menangis di depan Frey.
"Mommy....!!!!" bentak Frey. "Aku tidak ingin mommy buat masalah di kantor ini. Sekarang, lebih baik mommy pulang."
"Apa? Mommy pulang? Kau tidak sadar perusahaan ini milik siapa? Seharusnya yang pergi itu adalah dia. Wanita j*lang yang tak tahu asal usulnya itu."
Frey memejamkan matanya, perkataan Victoria itu sudah melukai hati wanita yang ada di sampingnya.
"Dia adalah istriku. Wanita yang sekarang menjadi menantumu. Apa alasannya mommy ingin mengusirnya?" Ucap Frey dengan tatapan yakin, bahwa wanita ini adalah istrinya.
Sementara Yara di tengah kepura-puraannya, diam-diam menatap Frey. hatinya tersentuh. Jiwanya bergetar oleh gejolak perasaan yang tak bisa diartikannya.
"Alea? siapa lagi Alea?" Yara bergumam pada dirinya sendiri.
"Alea masa laluku, aku tak ingin membicarakan dia dalam pembahasan ini, bahkan jangan menyebut nama itu di depanku lagi." Tegas Frey. Walau ketegangan wajahnya terlihat dengan jelas.
"Apa aku tidak salah dengar? Frey sudah melupakan Alea? Aku tahu betul bagaimana perasaannya kepada Alea. Ini sungguh tak bisa percaya ini."
Victoria merasa kalah. Ia akhirnya meninggal Frey dan Yara dengan perasaan kesal. Pikirannya berkecamuk apa yang sebenarnya terjadi dengan Frey. Kenapa Frey bisa berubah secepat itu. Sementara yang dia tahu Frey jika sudah mencintai seseorang dan pernah menyakitinya, ia tidak akan mudah jatuh hati.
Frey melangkah mendekat ke arah Yara. Ia melihat pipi Yara terdapat ruam merah di wajahnya. Frey tahu, itu pasti perbuatan Victoria.
"Sekarang ikut aku!"
Tak ingin berlama-lama Frey segera meraih tangan Yara. Memasukkan jari-jarinya ke sela-sela jari tangan milik Yara. Jantung Yara berdegup kencang. Ia hanya terus berjalan mengikuti langkah kaki lelaki itu. Semua rasa seketika berkecamuk dalam batinnya.
βββββ
Frey kembali ke ruangan yang bertuliskan CEO itu. Ia membawa wadah yang berisikan batu es. Ia memintanya kebagian pantry.
CEKLEK!
Frey masuk ke dalam ruangannya dan melihat Yara sedang duduk di sofa sambil menundukkan kepala.
"Yara?"
__ADS_1
Yara memalingkan wajahnya tak mengucapkan sepatah kata. Ia terlalu gugup dengan situasi ini.
Frey mendekat ke depan Yara dan duduk di sampingnya. "Biar aku periksa memar di wajahmu."
Dengan ragu Yara duduk menghadap Frey sambil memegang pipinya yang terasa nyeri. Setidaknya ia menghargai usaha lelaki yang duduk di sampingnya itu.
Frey mengangkat dagu Yara dengan tangannya. Ia tampak serius memeriksa wajah Yara. "Biar aku kompres," kata Frey mengambil wadah yang berisikan batu es.
Lagi-lagi Yara hanya bisa diam. Tapi tidak dengan jantungnya yang terus berdebar begitu kuat karena kedekatan ini.
"Tadi aku ke pantry untuk meminta ini. Semoga ini bisa membantu." kata Frey dengan wajah tanpa ekspresi. Ia mulai mengompres bagian pipi Yara yang memar akibat bekas tamparan yang cukup keras itu.
Yara hanya menurut, Ia menatap Frey dalam diam. Yara mencoba mengumpulkan keberanian untuk bertanya. Namun lidahnya seperti keluh dan tak sanggup untuk bertanya. Ya setidaknya bertanya tentang wanita yang bernama Alea.
"Kau ingin bertanya?" Kata Frey di sela-sela aktifitasnya.
Yara mengerjap saat Frey bisa membaca pikirannya. Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat. Yara sadar, mereka tidak sedekat yang dipikirkan.
Frey menjeda aktivitasnya dan menurunkan tangannya. Ia menatap Yara lagi. "Kau pasti bertanya kenapa aku tidak dekat dengan wanita yang melahirkan aku." Perkataan Frey begitu lembut dan tenang.
GLEK!
Yara menatap ke arah mata Frey yang ingin berbicara. Tiba-tiba perasannya tidak enak. Namun ia tetap bersikap tenang.
"Setelah daddy meninggal, aku membenci mommy." ucap Frey menatap lurus tanpa memandang ke arah Yara. "Tapi aku harus berkata jujur kepadamu. Setidaknya kau tahu bagaimana aku bisa membenci ayahmu."
Yara tidak menjawab, ia diam dan terus menatap pria itu. Ia merasa gugup saat Frey mulai menarik napasnya dan berbicara. Frey menaruh wadah yang berisikan batu es itu ke lantai.
"Saat ...aku duduk di bangku sekolah menengah pertama, daddy sudah pergi meninggalkanku untuk selamanya. Bukan karena sakit atau kecelakaan. Tapi beliau meninggal karena di bunuh."
Wajah Yara berubah. "Di-bunuh?" ucapnya dengan ekspresi terkejut. "Apakah daddy pelakunya?"
Frey menunduk dan menjeda kalimatnya. Lalu mengembuskan napas singkat, menatap Yara dan melanjutkan kalimatnya. "Setelah aku menyelidiki kasus kematian daddy. Ternyata bukan Erland pelakunya dan kejadian itu sudah bagian masa lalu yang harus aku lupakan. Dan aku tidak perlu menjelaskannya lagi. Yang jelas aku minta maaf untuk semua ini."
Yara meremas tangannya. Ia terlalu takut untuk mengatakannya. "Tapi bisakah kau jelaskan sedikit? kenapa kau bisa yakin hal itu."
Frey menarik napasnya dengan berat, lalu berkata. "Saat kejadian pembunuhan itu, daddy menghubungi ayahmu. Ayahmu terekam cctv memegang pisau yang tertancap di dada daddy. Saat aku mencari tahu kebenarannya lagi. Bahwa sebelumnya ia bertemu dengan seseorang dan setelah ditelusuri bahwa pelaku sebenarnya adalah sahabat daddy sendiri."
"Jadi bukan daddy pelakunya?" tanya Yara diliputi rasa bahagia.
"Hmm...Aku minta maaf untuk kesalahan pahaman ini."
Mata Yara berkaca-kaca mengedip pelan. Ia hanya membuka mulutnya tanpa mengeluarkan suara. Hatinya begitu bahagia. Itu artinya ia akan bebas dari jeratan suami palsu ini.
BERSAMBUNG.....
Lagi-lagi saya minta maaf, untuk satu minggu ke depan saya tidak bisa update...βΊοΈβΊοΈ
TERIMA KASIH
__ADS_1