
💌 TERJERAT DENGAN SUAMI PALSU 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Cahaya bulan terlihat remang. Awan gelap telah menutupi pesona sang ratu malam. Dari atas balkon kediaman miles, jalan masih terlihat ramai oleh kendaraan. Desir angin yang lumayan kencang membuat Frey memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celananya. Dokter yang menangani Yara, baru saja pergi. Penjelasan dokter Steven membuat Frey menggeram tanpa bersuara.
"Bagaimana mommy bisa melakukan itu?" Frey menarik napas dengan mata terpejam.
"Aku membencimu, mom."
Satu kalimat itu terlontar dengan nada pelan. Ingatan yang menyeruak membuat dirinya kembali tersenyum miris. Frey benci ingatan menyakitkan itu. Dia benci suara cacian itu. Dia benci bentakan dan tamparan keras itu. Tapi dia lebih benci. Dia lebih benci pada dirinya sendiri.
Ingatan Frey kembali mengulang kejadian dua tahun yang lalu. Dimana ia mencintai wanita yang tiba-tiba hilang entah kemana. Pertemuan dengan Alea di panti asuhan membuat Frey tak pernah mengunjungi tempat itu lagi. Sampai saat ini panti asuhan itu dikelola oleh kongregasi Hati Kudus.
FLASH BACK ON
Frey menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi. Kabar yang dia dapatkan dari asistennya bahwa ada yang melakukan korupsi pengurusan dana panti asuhan yang dibangun oleh sang Daddy, yang kini telah menjadi miliknya, membuat lelaki itu emosi.
Frey tahu ada yang tidak beres dengan panti asuhan itu. Orang yang ditunjuk sebagai ketua pengurus panti ternyata bukan orang baik-baik. Dia harus menemukan cara agar kejahatan ketua pengurus panti terbongkar. Tapi bagaimana caranya? Frey sedang malas turun tangan langsung.
Jalan yang sepi membuat Frey leluasa menyetir. Lelaki itu kemudian menghentikan laju mobilnya untuk memastikan sesuatu.
"Siapa yang berani sendirian di jalan sepi saat dini hari begini?" Gumam lelaki itu.
Lelaki itu turun dari mobil, di pinggangnya yang tertutup jas telah terselip pistol. Setidaknya jika itu orang jahat, Frey dapat menembaknya. Dia sedang malas untuk bertengkar dengan penjahat. Tanpa suara, Frey berjalan mendekat.
"Aku membencimu, kak...."
Frey menaikkan alis mendengar ungkapan itu. Tetapi masih tetap bergeming. Tanpa suara sedikit pun.
"Aku benci panti asuhan. Hiks...aku benci semua orang."
"Aku benci dilahirkan. Kenapa orangtuaku tidak membunuhku saja sebelum aku lahir ke dunia? Kenapa mereka membuangku?"
Seseorang yang ternyata seorang gadis itu makin meringkuk kedinginan di sudut halte.
"Tuan Frey. Apa dia memang pemilik panti asuhan? Kenapa dia tidak pernah datang? Aku akan mengadu padanya bahwa kakak membuat pesta berisik di panti."
"Siapapun, tolong culik aku. Bunuh aku juga tidak apa-apa. Atau setidaknya, bawa aku pergi dari sini. Aku lelah hidup dengan luka."
Bagi Frey, itu adalah permintaan yang aneh dari seorang gadis yang mungkin berumur 23 tahun. Tetapi, bukankah lebih aneh, Frey malah merasa tertarik pada gadis yang sedang menangis di hadapannya itu.
__ADS_1
"Shhh, sakitt …"
Gadis dengan dress hijau daun itu tiba-tiba mendongak, memegang kepalanya. Mengerang pelan. "Akhhh, sakitt …"
Tetesan darah dari hidung sang gadis berhasil membuat Frey tersentak. Dengan sinar bulan purnama dan lampu halte, Frey dapat melihat dengan jelas wajah penuh luka, entah luka lebam atau luka bekas berdarah, raut pucat dan mata sembab, pancaran netra kecokelatan yang redup.
Hati Frey terasa nyeri sesaat. Apalagi saat gadis di hadapannya mendongak ke arahnya. Menatap Frey dengan netranya yang redup. Gadis itu tersenyum simpul pada Frey sebelum akhirnya hilang kesadaran. Refleks, Frey menangkap tubuh lemah itu sebelum menghantam lantai halte yang dingin.
"Dia???"
Frey tidak mampu berkata-kata lagi saat teringat sesuatu. Gadis ini, bukankah gadis yang dilihatnya siang tadi?
"James, bersihkan apartemenku. Aku akan pulang ke apartemen sekarang."
Setelah menyimpan ponsel, Frey mengangkat tubuh gadis bergaun hijau menuju mobilnya. Tanpa kesulitan, lelaki itu membuka pintu mobil bagian penumpang. Membaringkan tubuh gadis yang entah siapa namanya lalu menyelimuti dengan jaket.
"Gadis cantik," gumam Frey sembari menatap wajah gadis itu. Seringai lelaki itu muncul saat mengingat perkataan gadis yang ditolongnya itu.
"Bagaimana jika aku yang menculikmu, nona? Apakah kau akan berusaha kabur dariku?" Tanya Frey sembari menjalankan mobil meninggalkan halte itu. Sejak itu Frey mencintai wanita yang ditemui di halte. Alea gadis yang kini menghilang dan tidak ada kabar sampai saat ini. Frey memerlukan waktu untuk menyembuhkan lukanya. Ia benar-benar berjuang sampai bisa melanjutkan kehidupan, meski semua tidak akan lagi sama seperti sebelumnya.
Cinta tidak pernah mati secara alami. Ia mati karena kita tidak tahu bagaimana mengisi kembali sumbernya. Ia mati karena kebutaan dan kesalahan serta pengkhianatan. Ia mati karena penyakit dan luka. Perlahan-lahan cinta itu akan layu, karena sudah ternoda.
Flash back off.
Frey melepaskan lamunannya, menarik napas dalam-dalam untuk mengurangi rasa sesak di dada. Setelah cukup tenang, ia pun melangkah masuk ke dalam kamar dimana Yara sedang tertidur lemah. Tangannya sudah di pasang infus. Setidaknya ia sudah memberi pertolongan kepada wanita itu.
"Baik tuan."
"Jangan biarkan ia meninggalkan kamar ini, sebelum ada perintah dariku." Setelah mengatakan itu, Frey langsung pergi meninggalkan kamar itu.
⭐⭐⭐⭐⭐
Yara terbangun saat mendengar suara hujan yang mengguyur hebat. Kepalanya terasa berat. Tunggu? Apa ini? Sebuah kain? Yara meraba puncak kepalanya. Mengabaikan dahinya yang terdapat kain basah.
"Anda sudah bangun nona?" Panggil seorang wanita paruh baya tepat berdiri di samping tempat tidurnya.
Yara tiba-tiba panik, saat mendengar suara seorang wanita. Ia tahu wanita itu. Dia pasti suruhan wanita yang telah melukainya tadi. Dengan cepat Yara menyentuh luka pada bagian kakinya.
"Tadi malam tuan membawa anda....." Reflek Yara menarik tangannya saat wanita itu ingin menyentuhnya.
Yara merubah dirinya ke posisi duduk, lalu mendorong tubuhnya ke belakang sampai berhenti pada sandaran kasur, Ia menarik kakinya menekuk, seakan sedang melindungi diri. Ketakutan itu jelas terpancar di wajahnya.
"Aku ingin pulang."
"Pulang?" Wanita itu mengerutkan keningnya.
"Ya. Aku ingin pulang." Yara menjawabnya dengan cepat. "Dimana tuan Frey? Aku ingin bertemu dengan beliau. Aku berjanji akan melunasi semua utangku?" Ucap Yara memohon.
__ADS_1
"Hmmm???" Wanita itu semakin mengerutkan dahinya dengan bingung. Ia terus menatap ke arah gadis dengan penuh tanya. "Saya datang ke sini hanya membawa makan malam untuk anda."
Yara menggeleng. "Aku tidak mau makan, aku hanya ingin pulang. Jadi aku mohon, pertemukan aku dengan tuan Frey." Yara berucap tegas, namun bibirnya gemetar ketakutan. Mata Yara berkaca-kaca dan menggeleng cepat. Dia ingat kejadian di ruang bawah tanah itu. Istri tuan Frey begitu kejam menyiksanya. Yara memeluk kakinya sambil menelungkup. Ia membenamkan wajahnya di antara ke dua kakinya. Yara tidak mau mengangkat wajahnya. Tubuhnya terlihat gemetar.
Yara tiba-tiba mengerang pelan, merasakan kepalanya nyeri seperti ditusuk-tusuk.
"Nona, lebih baik anda istirahat dulu. Jangan pikirkan hal yang lain." Wanita itu mendekat. Namun, Yara menolak.
"Aku benci tempat ini. Aku ingin pulang!" Teriak Yara.
"Tapi anda tidak bisa keluar dari sini, tuan bisa marah."
"Tolong aku," Yara dengan cepat memegang tangan wanita itu. "Pertemukan aku dengan tuan Frey!" Pinta Yara dengan wajah memelas.
"Maaf. saya tidak bisa membantu anda. Tuan Frey bisa membunuhku."
"Jika anda tidak mempertemukanku dengan tuan Frey, aku akan mencabut selang infus ini." ancam Yara.
"Anda tidak bisa melakukan itu."
"Sekarang pilih, pertemukan saya dengan tuan Frey atau saya akan melepaskan ini..." Yara memegang selang infus yang tertancap di punggung tangannya.
"Maafkan saya, saya benar-benar tidak bisa membantu anda." Diiringi suara hujan yang masih mengguyur hebat, wanita itu tak perduli dengan ancaman Yara. Ia langsung bergegas meninggalkan kamar itu.
"Jangan tinggalkan aku...."
Saat itu pula Yara turun dari kasur dengan bantuan ke dua tangannya. Kakinya masih terasa perih, namun Yara tidak memperdulikan rasa nyeri yang mencuat dari lukanya. Ia terus mencoba turun dari atas kasur. Yara berjalan sambil membawa tiang infusnya menuju pintu kamar. Namun, apa daya pintu kamar sudah terkunci dari luar.
"Buka pintunya!" Teriak Yara mengetuk pintu dengan telapak tangannya. Tidak ada sahutan dari luar.
"Pertemukan aku dengan tuan Frey. Aku mohon!" Suara Yara semakin pelan.
Yara menutup mulutnya dan menangis lagi. Air matanya membanjiri pipinya. Bahunya gemetar. Ia hanya memilih menangis saja. Untuk berteriak ia sudah tidak sanggup lagi.
Lama Yara tak sadarkan diri, Yara berpikir kalau Ia sudah mati. Yara menyesal. Tapi apa guna menyesal. Semuanya sudah terlambat. Ia telah melakukan kesalahan hingga akhir hayatnya. Hingga akhir nafasnya.
Yara menarik napasnya dalam-dalam. Ia tak perlu meratapi nasibnya. Sekarang yang ia pikirkan adalah bagaimana caranya Ia harus keluar dari rumah ini. Rumah yang baginya seperti neraka itu.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kesembilan aku 😍
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^.
__ADS_1