
💌 TERJERAT DENGAN SUAMI PALSU 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Matahari pagi menyapa kamar penginapan Yara dan Frey. Frey membuka matanya, ada cahaya kecil panjang dan vertikal terpancar di balik gorden. Frey menyipitkan matanya. Ia terlelap dua jam, namun rasanya sangat nyenyak. Frey tersenyum melihat Yara tertidur di sampingnya.
Frey tidak tahu sihir apa yang Yara punya hingga bisa membuat ia tergila-gila seperti ini. "Yara, tidak kah kau tau, bahwa kau itu terlalu mempengaruhi hidupku. Kau selalu saja terlibat dalam setiap hari-hariku, bahkan ketika kau sedang tidak ada di sampingku. Bayanganmu terus saja berkeliaran di dalam pikiranku. Ikatanmu terlalu kuat hingga aku tidak bisa terlepas sama sekali. Aku sungguh-sungguh mencintaimu Yara."
Frey menarik napasnya dalam-dalam dan terus memandang wajah Yara. Kebahagiaan dan syukur yang teramat sangat.
"Selamat pagi sayang," Sapa Frey membangunkan Yara, Ia memeluk istrinya yang masih tertidur di sampingnya.
Tidak ada respon. Mata Yara masih terpejam. Frey memajukan wajahnya dan memberikan kecupan-kecupan kecil yang lembut dan dingin mendarat di pipi Yara. Ia sengaja melakukannya agar Yara terbangun. Pelukan yang hangat darinya justru membuat Yara semakin nyaman dengan tidur lelapnya. Frey lagi-lagi tersenyum, telunjuknya kini bermain-main di sekitar wajah Yara. Semua ia lakukan untuk mengganggu Yara. Ada respon, Yara menggeliat dalam tidurnya.
"Hmmmpppp.... Hhhhmmppp...." Yara hanya bergumam, memberi reaksi saat Frey menyentuh.
Frey tersenyum sambil menjepit bibirnya. Keisengannya belum juga mau pergi. Ia menaikkan sebelah tangannya membelai rambut Yara dengan lembut. Turun perlahan ke hidung menyapu panjang hidung istrinya itu. Ia bermain-main di sana seperti papan seluncur. Terjun bebas di hidung mancung milik suaminya itu. lalu menyentuh bibir Yara dengan jari jempolnya. Gerakan halus Jari-jarinya Frey bergeser sedikit menyapu atas dan bawah yang sangat menggoda itu. Jari-jarinya masih berada di pipi Yara, mengakses setiap lekukan wajah wanita yang memiliki kecantikan yang sempurna.
Mata Yara masih memejam dengan napas halus yang berembus dari hidungnya. Frey masih terus menikmati wajah Yara dari hidung dan alis, bibirnya yang sensual, halus dan lembut. Pemberian Tuhan yang tercipta untuknya. Frey tersenyum samar. Frey memajukan wajahnya mengecup bibir Yara, menekannya berulang-ulang. Kali ini tubuh Yara merespon.
Saat melihat respon itu, Frey langsung berbisik. "Bangun sayang,"
"Ehmm, ini masih malam." Gumam Yara seperti bermimpi. Suaranya serak khas bangun tidur. Matanya masih tetap terpejam.
Frey tersenyum, memandang Yara dengan sayang. "Ini sudah pagi sayang." Bisik Frey dengan lembut.
"Tidak, ini masih malam."
"Ini sudah pagi," tegas Frey lagi. "Bukankah hari ini kita ingin jalan-jalan?" Kata Frey dengan senyuman begitu menawan.
Yara begitu terpesona dan membuatnya reflek menjauhkan diri untuk melihat senyum itu kembali. Ia menahan dada suaminya.
"Kenapa tidak menjawabku? Hmm?" Frey menarik kembali tubuh istrinya agar semakin mendekat. Frey membawa wajah dan bibir Yara menyentuh dan melekat ke wajahnya.
"Aku masih ngantuk, Frey." Suara Yara medayu manja membuat Frey semakin gemas dengan istrinya. Apalagi Yara sengaja bersembunyi di dadanya yang bidang.
"Kita tidak mungkin hanya di kamar saja, bukankah kau ingin melihat bunga sakura?"
"Hmmm. Benar juga. Tapi rasanya benar-benar malas." Kata Yara dengan suara serak bangun tidur. Ia menatap Frey dengan senyuman tipis.
__ADS_1
Frey langsung memberikan kecupan singkat di bibir istrinya. Kepala Yara berbantalkan lengan kirinya, menambah ketinggian agar ia bisa menatap istrinya dengan jelas. Sebelah tangannya membelai lembut puncak kepala hingga ke punggung Yara.
"Apa kita di kamar saja, aku rasa kita bisa melakukan sesuatu yang membuatmu tidak malas lagi. Bagaimana?" Senyuman nakal Frey membuat Yara terbelalak.
"Tidak. Hari ini kita jalan. Aku sudah tidak sabar menikmati tempat wisata di sini. Ya, aku ingin kita jalan-jalan, aku tidak mau di kamar." kata Yara dengan yakin.
Frey tertawa awkward. Ia kembali menghadiahi pemilik mata indah itu dengan ciuman lembut dengan sedikit mlumatnya. Begitu lembut dan penuh cinta. "Kau sangat cantik, jika memakai ekspresi seperti itu." Kata Frey menyapu dahi Yara.
"Jangan menggodaku. Aku tetap memilih jalan. Sekarang kita bersiap." Yara membengkokkan bibirnya. Sejujurnya ia sangat deg-degan dengan kedekatan ini.
"Tidak sayang, buat apa aku menggodamu. Kau wanita tercantik dan sempurna dan itu benar adanya."
Wajah Yara merona merah. "Benarkah?"
"Ehmm, aku sangat bersyukur,"
"Kau juga tampan, walau kadang membuat hatiku ku kesal." Yara menimpalinya dengan senyuman manis sambil menunjukkan deretan giginya.
"Jangan pernah mengungkit itu lagi Yara. Aku membawamu ke sini untuk menunjukkan keseriusanku agar kita bisa memulai hidup baru."
Yara menarik napas dan kemudian tersenyum. Setidaknya ia ingin membuka hatinya dan memberi kesempatan untuk Frey.
Frey pun tersenyum dan mencium kening istrinya lagi. Lalu mendekapnya lagi dalam rangkulan pelukannya. "Karena aku mencintaimu, aku hanya ingin membuatmu bahagia. Dari semuanya tidak ada satupun alasannya membuatku berhenti mencintaimu. Bahkan setiap detik aku bernapas aku tidak akan berhenti mencintaimu, Yara."
Yara merasa terharu. Ia bisa melihat ketulusan di mata Frey. "Terima kasih Frey atas cintamu yang sebesar ini. Aku berjanji akan membuka hatiku untukmu."
⭐⭐⭐⭐⭐
Setelah sarapan yang benar-benar sangat terlambat. Akhirnya Seika membawa Frey dan Yara melakukan perjalanan ke kota Nara. Mereka menggunakan kereta. Keluar dari Stasiun Nara mereka berjalan kaki sambil bergandengan tangan. Melempar senyum bahagia dan menyusuri jalan khusus pedestrian Sanjo-dori street, Nara Park, Gate of Todaji sampai ke Koujou Shrine untuk melihat kota Nara dari ketinggian. Frey sesekali mengambil foto Yara di sana. Berselfie bersama untuk diabadikan. Berbagai pose depan kamera mereka lakukan. Sesekali Seika mengambil foto mereka.
Lagi-lagi seulas senyum manis terukir di wajah mereka. Frey dan Yara mengambil tempat duduk. Setelah puas berjalan-jalan dan menikmati tempat wisata kota Nara. Frey dan Yara melanjutkan perjalanan mereka. Seika membawa Frey dan Yara ke restoran masakan tradisional menikmati makanan asli yang memiliki suasana seperti Jepang pada zaman dahulu. Masa ketika masih ada samurai dan orang-orang menggunakan kimono.
Yara dan Frey berjalan memasuki koridor panjang mirip jembatan itu. Begitu unik dan memanjakan mata.
"Tradisionalnya masih kental sekali." kata Yara sambil mengedarkan pandangannya.
"Hmm, sepertinya begitu, tidak salah Seika membawa kita ke sini." Sahut Frey tersenyum.
Koridor ini dihiasi dengan lampu mirip chochin, salah satu jenis lampu Jepang kuno. Batu yang menutup lantai pada kedua sisi koridor, dan bambu-bambu di beberapa sudut yang didukung dengan penerangan remang-remang. Desain koridor ini akan membuat Yara dan Frey merasa seperti sedang berjalan pada malam hari di Jepang 400 tahun yang lalu. Bagian Dalam restoran ini memberi kehangatan karena terbuat dari kayu Lokal.
Frey dan Yara memilih lantai satu yang memiliki bar, di sini mereka bisa melihat juru masak yang sedang membuat soba dan membuat sushi dari bahan seafood segar di konter dengan interior kayu sederhana yang indah. Frey memesan makanan yakitori yang di bakar dengan sepenuh hati menggunakan arang.
"Harum sekali, ini benar-benar menggugah selera." Yara sudah tidak sabar menunggu pesanan mereka.
"Sepertinya enak, ini juga pertama kali aku menikmati makanan Jepang, selain mie ramen."
__ADS_1
"Hmm." Yara mengangguk.
Tidak beberapa lama pesanan mereka tiba. Menu yang mereka pesan kali ini lumayan banyak ada Edomae Ebi dan satu set Mini Teuchi Soba yang populer di Gonpachi di G-Zone Ginza. Ada menu tambahan teppan-yaki, daging dan sayuran yang di panggang yang disajikan di atas hot plate. tempura ini baru diangkat dari wajan dan langsung disajikan di depan mereka.
Seika memberikan petunjuk bagaimana cara menikmati makanan ini. Mereka mengikuti arahan Seika dengan memakan sobanya terlebih dahulu untuk merasakan wangi dan rasa asli soba. Setelah makan satu suapan. Tekstur soba yang lembut membuatnya meluncur melewati tenggorokan. Kemudian, makanan soba itu mereka celupkan di saus tsuyu. Wajah Yara tersenyum saat merasakan sensasi berbeda.
"Apa kau merasakan sesuatu?" Tanya Yara kepada Frey.
"Hmmm."
"Sama. Aku juga merasakan makanan ini serasa berbeda ketika sudah melewati tenggorokan dan membuat kita ingin menikmatinya lagi. Bagaimana denganmu?" Tanya Yara mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Frey.
"Aku juga menemukan rasa yang berbeda apabila memakannya bersama wasabi dan daun bawang yang dicelupkan ke dalam saus tsuyu."
"Pikiran kita sama. Ini makanan terenak." ucap Yara menopang dagunya dengan tatapan elegan.
"Aku rasa kau tidak mau pulang lagi setelah ini." Goda Frey saat melihat Yara menikmati makanan itu dengan baik.
Yara tertawa sampai bahunya terangkat. Ia menutup setengah wajahnya dengan telapak tangannya. "Kok tahu?"
"Aku bisa baca pikiranmu."
"Hahahaha." Lagi-lagi Yara tertawa, Kebahagiaan jelas terpancar nyata di sana.
Hal itu membuat Frey tersenyum hangat saat melihat Yara begitu bahagia. Dan itu akan selalu diperjuangkannya seumur hidup. Ya, membuat Yara bahagia.
"Aku toilet dulu." Kata Yara, bangun dari duduknya.
"Oke sayang," Jawab Frey tersenyum.
Yara melangkah anggun menuju toilet restoran itu. Ia berjalan dengan tempo teratur. Yara langsung masuk ke toilet. Saat itu toilet sedang sepi. Hanya ada Yara di sana. Setelah keluar dari toilet, Ia menuju wastafel. Yara membuka kran air dan membasuh wajahnya dan kembali merapikan rambutnya. Setelah dirasa rapi Yara keluar dari toilet.
"Sudah lama tidak bertemu Yara Wyanet."
Tatapan Yara yang awalnya turun tiba-tiba terangkat dan menangkap suara yang begitu di kenalnya dan sepersekian detik,
Deg!
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kesembilan aku 😍
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
__ADS_1
^_^.