
💌 TERJERAT DENGAN SUAMI PALSU 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
VISUAL ETHAN JACOB.
Sore hari di universitas Saint Louis.
Beberapa hari ini Ethan tak bisa menghubungi Yara. Ethan cemas dan kalut. Untuk bertemu di kampus saja, Ethan tidak ada waktu. Ia tengah sibuk mempersiapkan Magang Praktik Kerja Bisnis di perusahaan ternama di tengah kota. Semua mahasiswa diberikan waktu magang selama satu bulan. Kerja praktek yang akan dilakukan mulai besok. Praktek Kerja Bisnis yaitu mahasiswa melakukan kerja nyata di perusahaan pada bagian pekerjaan dasar ilmu pengetahuan bisnis dan jadwal kerja praktek sesuai kesepakatan dengan perusahaan yang sudah lama menjalin kerjasama dengan universitas Saint Louis. Ethan memiliki IP tertinggi, Ia terpilih menjadi mahasiswa yang bisa menyelesaikan kuliahnya dengan cepat.
"Rhani, beberapa hari ini aku tak pernah melihat Yara di kampus. Ia juga tidak bisa dihubungi. Apakah dia sakit?" Tanya Ethan mengimbangi langkah Rhani saat keluar dari kelasnya.
Rhani tak menjawab, ia bahkan mempercepat langkahnya agar Ethan tak mengikutinya.
"Rhani, tunggu!"
"Aku tidak tahu!" Rhani mempercepat langkahnya lagi.
Melihat gelagat Rhani yang mencurigakan. Ethan langsung menarik tangan Rhani.
Rhani begitu terkejut saat tangannya dicengkeram kuat oleh Ethan. "Apa yang kau lakukan, Ethan?" Mata Rhani mendelik tajam.
"Kau mencoba menghindariku, apa ada yang kau sembunyikan?"
"Menyembunyikan apa? Kau lihat sendiri kan, aku sedang sibuk mempersiapkan magang untuk besok." sahut Rhani menatap Ethan.
"Apa kau pikir aku juga gak sibuk? tapi kau berbeda Rhan, aku yakin kau menyembunyikan sesuatu." Ethan meyakinkan perasaannya. Rhani tak pernah seperti ini.
"Itu hanya perasaanmu saja." Kata Rhani menjawab Ethan. Ia melirik jam yang ada di tangannya. Lalu kembali berjalan menuju perpustakaan. Dengan cepat Ethan menyusulnya.
"Sekarang yang aku tanya, apa kau tahu kabar Yara? setiap aku telepon, dia tidak mau mengangkatnya. Hatiku sakit, Rhan!" Keluh Ethan menunjukkan wajah cemasnya.
Rhani menghentikan langkahnya, membalikkan badannya dan menatap Ethan.
"Apa kau pikir aku bodyguard Yara? Kurang kerjaan banget sih!" Kata Rhani disertai tarikan napas yang panjang dan membuangnya dengan kasar. Ia berpura-pura kesal. Walau sesungguhnya ia kasihan dengan Ethan. Tapi Ia sudah berjanji akan merahasiakan ini dari Ethan.
"Bukankah kalian cukup dekat. Makanya aku tanya sama kamu. Gak mungkin juga aku tanya sama pak Dekan, kan gak lucu." kata Ethan.
Rhani merasa jengah mendengar perkataan Ethan itu. "Aku tidak tahu Ethan, lebih baik kau bolos saja dan cari tau sendiri apakah Yara ada di rumah atau tidak..!" Kata Rhani memutar bola matanya dengan bibir mengerucut. Rhani kembali melangkah menuju perpustakaan. Ia ingin mempersiapkan tugas yang diberikan dosen pembimbingnya.
Ethan terdiam sesaat, lalu beberapa detik kemudian ia menghembuskan napas panjang. Ethan berbalik ingin kembali kelasnya untuk mengikuti mata kuliah dari dosen pembimbingnya. Namun, belum juga melangkah ia terkejut melihat Yara sudah berdiri di depannya dengan jarak sepuluh meter.
"Yara?"
Yara tersenyum lembut di sana, lalu berkata. "Bukankah kau mencariku?"
__ADS_1
Ethan melangkah mendekat ke arah Yara. "Astaga yara! Kenapa kau tidak bisa dihubungi? Kau tidak tahu, aku begitu mencemaskanmu."
"Sekarang aku sudah di sini. Apa kau masih mencemaskanku?"
Ethan tersenyum lembut, ia memasukkan jari-jarinya tangannya ke jari-jari tangan Yara. Ia mencium tangan wanita yang dicintainya itu dengan lembut. "Jangan membuatku cemas lagi, hmmm..."
Yara tak menjawab. Ia hanya membawa tangan Ethan menuju taman kampus. Tangan satunya mengepal kuat. Saat ini Yara seperti berada di ruang yang hampa. Penuh tekanan, kekangan dan paksaan. Ia menutup mata dan menahan napasnya sejenak. Ia menguatkan hatinya agar Ethan bisa menerima keputusannya nanti. Di taman itu mereka menemukan kursi di sana. Ethan tersenyum membawa Yara duduk. Cukup lama mereka terdiam di sana.
"Ethan, aku ingin kita mengakhiri hubungan ini." Awal kata yang ia ucapkan dan berhasil membuat Ethan terkejut.
"A-apa maksudmu sayang?"
"Aku ingin berpisah!" Ucap Yara dengan bibir gemetar. Suaranya hampir tak terdengar.
"Hahahaha. Selera humormu bisa aja sayang. Bagaimana kau bisa mengatakan itu." ucap Ethan tertawa awkward.
"Aku tidak bercanda, Ethan. Aku ingin kita mengakhiri hubungan ini." Yara menjawab tegas dengan tatapan serius.
Deg!
Ethan menatap Yara dengan sejuta perasaan. "Berpisah? Kenapa kau ingin berpisah dariku? Bukankah hubungan kita baik-baik saja?"
"Aku hanya tak ingin melanjutkan hubungan ini lagi."
"Aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak bisa berpisah darimu, Yara. Dan itu tak pernah terpikirkan olehku. Aku sangat mencintaimu." Ethan mempertegas ucapannya.
Yara kelu, membuang muka, menatap kejauhan. Tentu saja Ethan tidak bisa menerima keputusannya, karena Ethan sangat mencintainya. "Ya, aku tahu itu pasti menyakitkan untukmu. Tapi hubungan ini membuatku jenuh. Aku bosan!" Kata Yara berbohong.
Ethan menggeleng. "Jenuh? Membosankan? Soal itu, aku berjanji untuk memperbaikinya. Apapun aku lakukan untukmu. Aku pastikan bisa membahagiakanmu."
Ethan mengencangkan rahangnya. Jantungnya seperti terhantam saat ini. Ia memejamkan matanya dengan sejuta rasa sakit di dalam dada.
"Apa kau mencintai pria lain?" suara lirihnya menyimpan getar.
"Tidak ada pria lain. Ini soal hatiku," tukas Yara.
"Apa karena statusku? bukankan kau menerima keadaanku?" kejarnya. Ethan lembut dan halus mendadak emosional. Nada suaranya meninggi.
Yara diam, masih sulit mencari alasan. Ini juga sulit untuknya.
"Yara, jawab aku sayang, kita sudah melaluinya bersama-sama. Jangan seperti ini, aku mohon!" Ucap Ethan masih menatap Yara yang beku dan kelu yang tidak juga bicara. Ada bayang bening di matanya, yang siap jatuh dalam satu kedipan saja.
"Kamu bukan lelaki yang tepat untukku." kecam Yara kemudian. Rasa nyeri itu kembali menggigitnya.
Ethan tertawa tapi tidak mengeluarkan suara. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. "Tidak mungkin!" desisnya parau dengan wajah terluka.
Kata-katanya pasti menyilet di hati Ethan. Yara memalingkan wajahnya tidak ingin menatap Ethan.
"Setelah semua yang kita jalani bersama, kamu bisa mengatakan itu?" suaranya lirih dan terbata. Hampir menyerupai bisikan.
"Aku baru sadar, kamu adalah lelaki yang tidak pantas untukku." tegas Yara. Ia merasa telah menjadi orang yang tak berperasaan. Keinginan untuk menyakiti perasaannya begitu kuat, agar Ethan bisa melepaskannya.
"Kenapa kau harus membohongi perasaanmu? Jangan seperti ini Yara, aku...." Ethan tak bisa melanjutkan kalimatnya. Matanya terlihat merah menahan semua perasaan yang membuncah. Pedih, sakit dan kecewa. Semuanya bercampur menjadi satu. Ia sendiri tidak tahu harus bagaimana lagi. Kenyataan ini terlalu menyakitkan.
__ADS_1
Yara tergugu. Lidahnya terlalu kelu untuk berujar. Ia hanya bisa mendesah. Mengurai ikatan resah di hatinya. Ia masih diam, Yara masih merasakan getar itu di dalam hatinya. Tapi, demi menyelamatkan perusahaan Wyanet Ia harus siap terluka.
Yara menghela napas singkat. Dari wajahnya ia berusaha bersikap tenang. Ia mengembuskan napasnya. Mengunci pandangannya kepada Ethan, meyakinkan lelaki itu bahwa mereka tidak bisa bersama. "Aku sudah dijodohkan." Akhirnya Yara berkata jujur.
Waktu terasa berhenti. Ethan merasakan keheningan yang mencekam. Kalimat itu begitu cepat menyelusup masuk ke dalam sanubarinya.
"Kau tidak bisa menahanku. Karena aku yakin pria itu bisa membuatku bahagia. Sedangkan kau, kau tidak pernah sekalipun bisa memenuhi keinginanku."
DEG!
Jantung Ethan berdetak kencang di dalam rongga dadanya. Wajahnya menegang dan tidak bisa bicara. Yang bisa dilakukannya hanya menarik napasnya yang terasa sesak.
"Jangan seperti ini, Yara. Aku tahu siapa kamu." Ethan menunduk sedih.
"Kau harus tahu dan memahami, bahwa memaksakan sesuatu yang mustahil, tak akan mendatangkan kebaikan untuk hubungan kita. Kau harus terima keputusanku."
Heeeeeee Ethan membuang napasnya sambil menutup matanya, berusaha menenangkan perasaannya. Ia menarik napas panjang dan menelan salivanya berulang kali. Bagaimana ia bisa berpisah dengan wanita yang dicintainya secepat ini? Ethan membuka mulut, menarik napas dan mendongak ke atas. Ia begitu frustasi saat ini.
"Apakah harus seperti itu?" ucap Ethan dengan suara terendahnya. Hidung dan matanya mulai memerah, menahan rasa perih yang mulai terasa di hidungnya. Ethan kembali menarik cepat napasnya. Matanya berair menahan tangis, ia mendongak ke atas menahan air matanya agar tidak keluar.
Saat mendengar itu, Yara hanya bisa mengepalkan tangannya begitu kuat. Rasanya ingin menangis. Tapi Ia menahannya. Ia hanya mampu menarik napasnya sambil memejamkan matanya. Sakit begitu sakit sampai bernapas saja ia tidak mampu.
"Yara,,, aku mohon kita bisa..."
"Tolong hentikan! kenapa kau menjadi egois Ethan. Aku sudah bilang tidak bisa melanjutkan hubungan ini lagi." Yara meninggikan suaranya dan menangis di sana. Ia sudah tidak tahan lagi.
Ethan menarik napasnya, menguatkan batinnya. Apakah sesakit ini? Jantungnya berdegup kencang. Ia bangun dan menghadap ke arah Yara. Mengunci pandangannya kepada wanita yang membuatnya lemah. Lemah terhadap cinta dan tangisan Yara.
"Baiklah, jika itu yang kamu inginkan. Aku akan melepaskanmu. Tapi bagiku mungkin butuh waktu untuk menghentikan perasaan ini."
DEG..
DEG
DEG
Jantung Yara berdetak kencang. Semua rasa seketika berkecamuk dalam batinnya. Ia tidak bisa bernapas dengan baik saat mendengarkan kata-kata itu. Yara menatapnya dengan pandangan nanar. Perasannya kini tak menentu.
Mata Ethan berkaca-kaca. "Maafkan aku tak bisa menjadi lelaki seperti yang kau inginkan." Ethan menundukkan kepalanya. Air mata kepedihan menetes di pipinya.
Yara semakin sulit bernapas, jantungnya semakin terpukul kencang.
"Semoga hidupmu bahagia dengan lelaki pilihan orangtuamu." Ethan tidak mampu membendung sakit hatinya lagi. Dengan segera ia membalikkan badannya dan meninggalkan Yara di sana.
Sementara Yara terdiam terpaku di sana. Matanya berkaca-kaca. Pasokan oksigen seakan enggan masuk ke dalam paru-parunya. Ia semakin sulit bernapas, saat melihat bayangan Ethan semakin jauh meninggalkannya.
Aaahhhhh... Air matanya tergelincir membasahi pipinya. Kepalanya menunduk. Ia membiarkan rasa di hatinya hancur berkeping-keping. Putus asa seperti tidak jalan untuk memulihkan hatinya yang sudah tak utuh. Semua ini ia lakukan untuk menyelamatkan perusahaan Wyanet. Ia siap melepaskan cintanya demi suami palsu.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kesembilan aku 😍
__ADS_1
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^.