
💌 TERJERAT DENGAN SUAMI PALSU 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
"Sudah lama tidak bertemu Yara Wyanet."
Tatapan Yara yang awalnya turun tiba-tiba terangkat dan menangkap suara yang begitu di kenalnya dan sepersekian detik,
Deg!
"Ethan?" Yara terbelalak tak percaya saat melihat Ethan sedang berdiri tidak jauh darinya. "Sungguh kamu Ethan?" Yara mendekat dan menggoyangkan badan Ethan untuk memastikan bahwa Ethan yang ada di depannya adalah teman kuliahnya sekaligus mantan kekasihnya.
Ethan tersenyum sumringah. "Ya, aku adalah Ethan satu kuliahmu dulu."
"Astaga...aku hampir tidak mengenalmu. Kau berubah sekali Ethan." Yara menatap Ethan dari atas sampai ke bawah.
"Benarkah? berubah seperti apa?" tanya Ethan menggoda Yara. Wanita yang pernah mengisi hatinya dan sekaligus wanita yang sangat dicintainya hingga sampai saat ini.
Yara membengkokkan bibirnya. Ia mengetuk dagu sambil membuat gestur berpikir. "Kau lebih tampan dan berwibawa." jawab Yara menaikkan ke dua alisnya.
"Hahahaha...." Ethan tertawa awkward. Ia sedikit menunduk dan mengusap keningnya. Hatinya begitu senang saat Yara mengatakan itu. "Kau juga lebih cantik dan berkelas, Yara."
"Ngomong-ngomong, kenapa kau ada di sini?"
Ethan memasukkan salah satu tangannya ke dalam kantong celananya. Menatap Yara begitu dalam, kemudian sepersekian detik ia menarik napas panjangnya. "Aku bekerja di Central Japan Railway. Aku mengikuti rapat penting mewakili direktur perusahaan tempatku bekerja. Besok aku kembali, karena hari ini adalah rapat terakhirku di sini."
"Wah...kau hebat Ethan. Tidak sia-sia kau memiliki IP tertinggi saat kuliah dulu. Dan sekarang, kau bisa menikmati hasilnya. Aku bangga padamu." Yara menepuk lengan Ethan dengan senyuman bahagia.
Ethan tersentak saat merasakan sentuhan dari Yara. Hatinya seketika berbunga-bunga. Ethan memang belum bisa melupakan Yara. Semenjak Yara memutuskan hubungan mereka, Ethan begitu frustasi. Sampai detik ini nama Yara masih terpatri indah di dalam hatinya.
"Bagaimana kabarmu Yara?" Tanya Ethan kemudian. "Kau sepertinya bahagia dengan lelaki yang dijodohkan uncle dan aunty."
Yara tersenyum. "Kabarku baik Ethan. Maafkan aku, karena kejadian pengiriman surat yang selalu kau kirim. Suamiku marah dan memecat security dan semua pekerja kebun di rumah."
Ethan mengerutkan keningnya, "Apa maksudmu, aku tidak pernah mengirim surat untukmu Yara."
"Heuh?" Wajah Yara seketika berubah. "Bukankah kau yang menulis surat itu untukku? Bahkan aku masih mengingat isi suratnya. Kau mengatakan bahwa kau sudah menerima suratku. Kau berharap agar aku tetap bertahan di sana. Dan kau juga baru memasukkan orang yang akan membantuku keluar dari kediaman Miles. Kau memintaku untuk bersabar karena dua hari yang lalu, kau melihat dengan mata kepalamu sendiri, bahwa Frey membunuh anak buahnya yang berkhianat. Jadi kau memintaku untuk tetap berhati-hati. Kau berjanji akan mengeluarkanku dari sana. Bertahanlah sebentar lagi. Oh iya, aku punya kabar baik. Ayah dan ibumu baik-baik. Jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan mereka. Itu isi suratmu Ethan."
Ethan menggeleng. "Aku tidak pernah mengirim surat atau apapun itu. Setelah kau datang dan memutuskan hubungan kita, aku tidak pernah bertemu dengan Rhanie atau teman yang berhubungan denganmu. Aku sibuk menyelesaikan kuliahku saat itu. Jadi apa maksudmu? aku benar-benar tidak mengerti Yara." Ethan tertawa tapi tidak mengeluarkan suara.
Deg!
Yara mengernyit heran sambil mengigit jari jempolnya. Ia masih berusaha mencerna apa yang dikatakan Ethan. "Bukankah di kertas itu jelas ada nama Ethan. "Jadi siapa yang mengirimkan surat itu?" Gumam Yara pada dirinya. Pikirannya berkecamuk dan mencoba menebak-nebak.
"Yara, apa kau baik-baik saja?"
"Oohhhh ..." Yara tersentak sambil melepaskan lamunannya. "Aku tidak apa-apa?"
"Wajahmu tiba-tiba pucat. Sungguh kau tidak apa-apa?" Ethan menyentuh kening Yara sambil terus memperhatikan wajah wanita yang ada di depannya.
"Aku tidak apa-apa Ethan." Yara menjauhkan wajahnya, Ia tidak nyaman saat Ethan terus memperhatikannya.
Menyadari bahwa ia sudah terlalu lama di toilet. Yara tersenyum miris sambil melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Maafkan aku Ethan, aku tidak bisa berlama-lama."
__ADS_1
"Yara tunggu!" Ethan menyentuh lengan Yara saat hendak melangkah.
"Heuh?" Yara tersentak saat lengannya di pegang.
"Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan. Tapi tidak di sini Yara. Aku tahu suamimu akan marah saat melihatmu bersama denganku." Ethan mengeluarkan kartu nama dan memberikan ke tangan Yara. "Hubungi aku saat kau ada waktu."
Yara mengulurkan tangannya, menerima kartu nama yang diberikan Ethan. Ia mengangguk sambil tersenyum. "Baiklah. Aku akan menghubungimu."
Ethan melepaskan senyumannya saat Yara menerima kartu nama itu dan menyimpannya di dalam kantong celananya.
"Sampai bertemu kembali Ethan."
Ethan hanya mengangguk dan membiarkan Yara berlari meninggalkannya. Ia menarik napas berat, lalu melepaskannya dengan perlahan.
"Aku bahagia bisa bertemu denganmu lagi Yara."
⭐⭐⭐⭐⭐
Yara tersenyum saat melihat Frey tampak gelisah di kursinya. Ia melangkah cepat mendekat ke arah Frey.
"Maafkan aku, tadi aku tersesat." Yara langsung duduk di samping Frey.
"Astaga sayang, kau membuatku cemas. Aku hampir menyusulmu."
Yara tersenyum sambil menunjukkan deretan giginya. Sebisa mungkin Yara bersikap biasa saja agar Frey tidak curiga. "Maafkan aku, aku lupa jalan dan aku benar-benar tersesat." Yara mengerucutkan bibirnya ke depan.
Melihat ekspresi menggemaskan itu, Frey langsung tersenyum sambil membelai puncak kepala Yara. "Baiklah aku memaafkanmu. Tapi, jangan ulangi lagi, apalagi membuatku cemas. Aku benar-benar takut."
Yara tersenyum sambil mengangguk kepalanya. Ia juga bersyukur Frey tidak sampai menyusulnya ke toilet.
"Sekarang kita pulang?"
"Baiklah, apa yang tidak untukmu, sayang." Keduanya tersenyum bersamaan.
Setelah melakukan pembayaran, Yara dan Frey keluar dari restoran Jepang.
"Dimana Seika?" Yara mengedarkan pandangannya mencari Seika.
"Seika sudah pulang, besok dia kembali lagi."
"Ohhhh...." Yara langsung memeluk tangan Frey. Mereka melangkah pelan menyusuri jalanan.
SEMENTARA ITU.
Ethan melangkah pelan saat melihat Yara dan Frey keluar dari restoran.
"Apa dia wanita yang kau ceritakan itu?" Tanya Leon menatap Ethan sekilas. Leon adalah lelaki yang ditugaskan Ethan untuk mengirim surat kepada Yara.
Ethan tidak menjawabnya, ia hanya terus menatap ke punggung Yara yang semakin menjauh meninggalkan restoran.
"Apakah dia tidak tahu mengenai orangtuanya, Ethan?" tanya Leon lagi.
"Bukankah aku sudah bilang, jangan membuat namaku di kertas itu? Kenapa kau masih menulisnya?" Ethan bukannya menjawab, ia masih kesal karena Leon menulis namanya.
"Bukankah dia harus tahu..."
"Jangan panggil dia.., panggil Yara."
"Ups! Maaf."
__ADS_1
Ethan berdecak kesal. Ia membuang napasnya dengan kasar. "Yara belum tahu apa-apa. Frey begitu gigih membuat Yara jatuh cinta kepadanya."
"Dari mana kau tahu?"
"Aku bisa melihat dari matanya. Yara sepertinya menyukai pria brengsek itu. Dan aku tidak mau, Yara semakin jatuh ke pelukan lelaki yang telah membunuh orang tuanya." Ethan mengepalkan tangannya dengan erat.
"Apa yang kau rencanakan? Kau penguntit handal, Ethan. Kau mengejarnya sampai ke jepang, apa kau sadar itu?"
Ethan menarik napasnya lagi. "Kau sudah tahu sendiri, Frey tidak mengizinkan Yara keluar. Ia bahkan mempersiapkan bodyguard untuk mengawasi Yara. Aku tidak ingin membuang kesempatan ini dan aku yakin Yara akan menghubungiku."
Leon melepaskan napasnya. "Oke... semoga saja Yara menghubungimu, Ethan. Sekarang kita kembali ke hotel." Leon memutar bola matanya. Ia lebih dulu keluar dari restoran dan setelah itu di susul Ethan.
⭐⭐⭐⭐⭐
Yara dan Frey berjalan menyusuri jalanan menuju taman. Mereka diam dan hanya mengukir senyum di wajahnya masing-masing. Angin sejuk berhembus sore hari. Langit sore ini memang indah. Ia terhampar anggun tanpa awan yang menggantung. Yara memejamkan kedua mata. Merasakan belaian angin senja di sore hari. Damai. Yara membuka kedua matanya lagi. Ia menatap lagi hamparan biru itu.
"Sayang?"
"Hmmm." Yara hanya menjawab dengan gumam singkat.
"Apa kau bahagia?"
Yara tersenyum kecil. "Pertanyaan konyol." Ia menggeleng sambil terus menatap langit biru. "Bukankah aku sudah berjanji untuk membuka hatiku? Aku siap bahagia hidup bersamamu."
Frey tersenyum lembut saat mendengar jawaban Yara. Ia memasukkan jari-jarinya tangannya ke jari-jari tangan Yara. Ia mencium tangan istrinya dengan lembut.
Di taman itu mereka menemukan kursi di sana.
Mereka duduk di sana. Pemandangan di sana begitu menyejukkan mata. cukup lama mereka terdiam di sana. Seakan susana tempat itu menghipnotis mereka.
"Kita bisa berjalan-jalan lagi? Sepertinya di sana ada tempat yang jauh lebih indah."
"Oke, sayang." Frey mengiakan.
Mereka kembali berjalan, menyusuri taman itu, Yara menatap lurus dan mulai berbicara.
"Bagaimana perasaanmu saat melihat langit biru?"
"Perasaanku saat melihat langit biru?"
"Hmmm."
Sejenak Frey berpikir untuk mencari jawaban. "Apa ya?" Kemudian ia tersenyum lalu berbicara. "Langit biru bisa dikaitkan dengan ruang terbuka, kebebasan, intuisi, imajinasi, luas, inspirasi, dan kepekaan. Biru juga mewakili makna kedalaman, kepercayaan, kesetiaan, ketulusan, kebijaksanaan, kepercayaan, stabilitas, iman, surga, dan juga kecerdasan."
Yara tersenyum sambil manggut-manggut. "Jawaban yang bagus. Tapi kenapa saat aku melihat langit biru, aku merasakan rindu dan sedih. Aku..." Yara sesaat terdiam.
Frey pun mengerutkan keningnya, menatap Yara dengan lekat. Ia menarik napas singkat dan membiarkan istrinya melanjutkan kalimatnya.
"Aku merindukan orangtuaku Frey. Aku sangat merindukan mereka. Bisakah aku bertemu dengan mereka?"
Deg!
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kesembilan aku 😍
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
__ADS_1
^_^.