
💌 TERJERAT DENGAN SUAMI PALSU 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Yara mengecup bibir Frey dengan singkat. Ia pun bergegas turun dari atas kasur sambil membawa handphonenya keluar. Saat berada diluar kamar, Yara langsung membuka pesan itu dan.....
Deg!
Yara terbelalak saat melihat dilayar handphone-nya telah tercantum sebuah nama yang pernah mengisi hatinya itu.
"Ethan?" Yara berbicara tanpa mengeluarkan suara.
Reflek Yara menatap pintu kamarnya yang sudah tertutup. Ia pun melangkah cepat menuruni anak tangga sambil memeluk handphonenya. Sampai di lantai bawah, Yara melangkah menuju ke kamar ibu Brigitta. Ia membuka pintu itu perlahan-lahan agar tidak menimbulkan bunyi. Ia lalu menutup pintu itu dengan pelan, begitu ia berhasil masuk.
"Hkk!!!" Yara terkesiap sambil memegang dadanya saat melihat ibu Brigitta sedang berada di kamarnya.
"Nona Yara," Brigitta mengernyitkan keningnya menatap Yara.
Yara menaruh telunjuknya di mulut. Memberikan gestur untuk tidak berisik. "Sssstttt...suara ibu, nanti ada yang mendengarnya."
"Heuh?" Brigitta masih bingung. "Apa yang nona lakukan? apa anda membutuhkan sesuatu?" Tanya Brigitta.
"Aku hanya pinjam kamar ibu sebentar." jawab Yara.
Lagi ibu Brigitta mengerutkan dahinya. Merasa aneh. "Untuk apa nona? bukankah di rumah ini banyak kamar? Kenapa harus kamar di dapur?"
"Emmm...Emmm..." Yara mengerutkan wajahnya. Jantungnya berdegup kencang saat ini. Kalau sampai Frey tahu ia ada di kamar ibu Brigitta, bisa-bisa Frey curiga. Frey sudah memberikan kepercayaan kepadanya. Jangan hanya karena ia mendapatkan pesan dari Ethan, ia menjadi mendapatkan masalah. Yara dengan cepat memutar kepalanya mencari jawaban yang masuk akal.
"Sebenarnya aku ingin menghubungi teman. Ibu tahu seperti apa tuan Miles. Beliau belum mengizinkanku untuk menghubungi siapapun." ucap Yara dengan wajah memelas, wajahnya mengerucut sambil memainkan kuku tangannya. "Bisakah aku menggunakan kamar ibu?"
Ibu Brigitta pun mengangguk paham. "Baiklah. Silakan nona."
"Jika tuan Miles mencariku, katakan saja aku sedang menyiapkan sarapan."
Ibu Brigitta mengangguk tersenyum. "Baik nona."
Wanita paruh baya itu pun meninggalkan Yara di dalam kamar. Yara mengembuskan napas dengan mulut begitu pintu tertutup. Ia memegang dadanya yang berdetak dengan kencang. Napasnya masih terbata, namun Yara mencoba untuk tenang. Ia kembali mengembuskan napas panjang. Setelah cukup tenang, Yara merapikan rambutnya dan duduk di tepi ranjang. Yara menatap layar dengan mata dipicingkan. Mencari pesan dari Ethan. Ia pun mengambil inisiatif untuk menghubungi Ethan. Yara segera menekan tombol call.
Sekali, dua kali, hingga lima kali. Panggilannya masuk, tapi tidak diangkat.
Yara mengerutkan kening, menatap handphonenya berulang kali.
"Apa Ethan masih tidur?" bisik Yara menatap layar pipih yang masih posisi terbuka itu.
Tiba - tiba handphonenya berdering. Seketika wajahnya Yara cerah.
"Hallo?" Sapa Yara dengan cepat saat menggeser tombol jawab di handphonenya.
"Maaf Yara aku baru bangun."
"Ohhh..... tidak apa-apa Ethan." Jawab Yara dengan tenang. Walau ia tidak bisa menutupi kegugupannya.
"Yara, bagaimana kabarmu?" Tanya Ethan sambil tersenyum di balik line telepon. Ia begitu bahagia Yara akhirnya menghubunginya.
"Kabarku baik. Bagaimana denganmu Ethan?"
__ADS_1
"Kabarku juga baik."
"Ethan, bukankah ada yang ingin kau sampaikan kepadaku?" Tanya Yara to the point.
"Hmmm. Banyak yang ingin aku ceritakan kepadamu Yara."
"Apa itu?"
"Bisa kita bertemu?"
"Ethan, maaf, aku sedang sibuk akhir-akhir ini. Aku tidak bisa."
"Sungguh? kau sibuk?"
"Aku ..."
"Apa karena suamimu tidak mengizinkanmu keluar?" Sela Ethan dengan cepat sebelum Yara melanjutkan kalimatnya.
Deg!
"Kenapa tidak bicara sekarang saja?"
"Aku tidak bisa menceritakan lewat telepon. Apalagi ini menyangkut keluargamu. Aku ingin kita bicara langsung." Tukas Ethan.
Yara tersenyum sendu, hatinya tersentuh saat Ethan membicarakan soal ayah dan ibunya. Ia tidak bisa membohongi dirinya bahwa Yara begitu merindukan mereka. "Apa mereka baik-baik saja, Ethan?"
"Jika kau ingin mengetahui kabar mereka datanglah..."
"Aku tidak bisa." Jawab Yara dengan cepat.
"Apa dia melarangmu bertemu dengan mereka?"
"Apa kau mencintainya, Yara?"
"Aku rasa aku tidak perlu menjawabnya."
"Tentu saja kau perlu menjawabnya. Jika belum, sebaiknya jangan. Frey bukan suami yang baik untukmu."
"Ethan,"
"Aku berkata serius Yara, ini bukan soal karena dulu kau adalah mantan kekasihku. Itu hanya dalih agar kau menjawab pertanyaanku tadi. Jika kau belum yakin dengan perasaanmu, tinggalkan Frey. Jangan sampai kau menyesali semuanya."
Yara mengerutkan alisnya. "Apa maksudmu?"
"Lebih baik kita bertemu Yara, semuanya akan aku ceritakan kepadamu. Temui aku di cafe Value pukul 11."
"Tapi Ethan....."
Tut!
"Eth....Ethan ... Ethan....hallo...?"
Yara menatap layar handphonenya. Ethan sudah mematikan handphonenya. Yara bernapas gusar.
"Bagaimana ini? Apa maksud Ethan? Apa sebaiknya aku menemuinya?" Ucap Yara sambil mondar-mandir tidak jelas dan mengetuk-ngetuk handphone di telapak tangannya.
Setelah bergelut dengan pikirannya dan merasa cukup tenang, Ia pun keluar dari kamar ibu Brigitta dan melangkah dengan santai. Ibu Brigitta melihat ke arah Yara. Dengan pintarnya Yara mengatur napasnya agar tidak terlihat gugup. Tapi bagaimana pun, aksi ini selalu menjadi scene yang paling menegangkan baginya. Setidaknya hari ini Yara harus bisa mencari alasan agar bisa keluar dari rumah ini. Yara harus bertemu dengan Ethan.
⭐⭐⭐⭐⭐
__ADS_1
Setelah mencari alasan yang tepat. Dengan alasan Yara akhir-akhir ini sering mengeluh nyeri haid tak tertahankan saat tamu bulanannya datang. Ia pun harus bertemu dengan dokter yang biasa menanganinya. Dan ternyata benar, usaha tidak mengkhianati hasil, akhirnya Yara diizinkan keluar membawa mobil sendiri tanpa harus ditemani bodyguard. Yara bersyukur akan itu, awalnya Frey bersikeras untuk menemani Yara bertemu dengan dokter Obgyn. Yara menolak karena tidak ingin mengganggu pekerjaan Frey.
Yara melakukan persiapan dengan tergesa-gesa. Dengan perasaan cemas, Yara segera keluar membawa mobil mewahnya meninggalkan kediaman Miles. Pikirannya larut dalam pembicaraan terakhirnya dengan Ethan. Apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarganya. Apa ada sesuatu yang disembunyikan Frey darinya? Kenapa Ethan mendesaknya untuk bertemu hari ini dengannya?
Semua pertanyaan itu silih berganti muncul dan bermain dibenak Yara. Sekarang ia hanya ingin cepat bertemu dengan Ethan untuk meminta penjelasan lebih lanjut.
Yara akhirnya tiba di cafe Value tepat waktu.
TUK TUK TUK
Yara berjalan dengan elegan menuju pintu yang bertuliskan open.
"Selamat siang nona, apa sudah melakukan reservasi?" Tanya seorang pelayan yang berjaga di bagian pintu masuk.
Yara tersenyum lembut. "Atas nama Ethan?" Jawabnya.
"Oh, tuan Ethan. Silakan lewat sini nona," Pelayan menunjukkan jalan.
"Apa tamu atas nama Ethan sudah datang?" tanya Yara mengikuti langkah seorang pelayan itu.
"Tuan Ethan sudah menunggu anda, nona."
"Baik. Terima kasih."
Pelayan mengantar Yara ke sebuah meja dekat dengan kaca, pada sisi dalam ruangan.
Benar saja Ethan sudah ada di sana. Ethan tidak berubah sama sekali, dari penampilan ia selalu terlihat tampan menggunakan kemeja tanpa motif. Kulitnya yang putih dengan rambut yang disisir dengan rapi. Wajahnya tampak berbinar saat melihat Yara. Ia mengulurkan tangan mempersilakan Yara untuk duduk di depannya.
"Silakan duduk, Yara."
"Terima kasih." ucap Yara menggeser kursi dan duduk di hadapan Ethan. "Sekarang katakan apa yang kau ketahui tentang Frey? Kenapa kau bisa yakin bahwa Frey bukan suami yang baik untukku."
Ethan tersenyum sambil mengacungkan tangannya memberi isyarat kepada pelayan yang berdiri tidak jauh dari mereka.
"Bagaimana kalau kita makan dulu Yara. Ini sudah waktunya untuk makan siang."
"Maaf Ethan, aku tidak bisa lama."
"Tenanglah, kau akan kembali tepat waktu."
"Aku tidak bisa menunggu, Frey akan mencurigaiku."
"Sampai kapan kau akan seperti ini? Kau bukan Yara yang aku kenal dulu. Kau berubah menjadi wanita penakut. Jika Frey mencintaimu, dia tidak akan membuatmu seperti ini. Apa kau sadar, Frey mencoba untuk menjeratmu menjadi wanita bodoh."
Deg!
"Apa maksudmu?"
Ethan tersenyum melipat kedua tangannya di atas meja. Ia menatap Yara dengan lekat. "Frey ...."
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kesembilan aku 😍
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^
__ADS_1