
đ TERJERAT DENGAN SUAMI PALSU đ
Â
đ HAPPY READING đ
.
.
FREY MILES.
Setelah Yara benar-benar tertidur pulas, Frey melangkah meninggalkan kamar dan masuk ke ruangan kerjanya sambil membawa botol wiski untuk menemaninya malam ini. Frey butuh waktu untuk menenangkan pikiran sebelum mengatakan yang sebenarnya kepada Yara.
Frey berjalan menuju balkon. Matanya menerawang menembus tatapan terjauh di sudut kota ini. Tatapannya kosong, udara terasa dingin menusuk kulitnya. Langit cerah dihiasi bintang-bintang yang bertebaran menemani gagahnya raja malam dan bersinar terang menebar cahaya berkilauan tak mampu untuk menerangi hatinya. Bahkan membuat kalbunya serasa ditusuk-tusuk seribu sembilu. Pedih, pilu dan ngilu. Sengilu jiwanya yang bimbang tak terperikan. Lamunannya mulai berkelabut seiring tatapan matanya yang kosong. Saat ini Frey benar-benar tak berdaya. Ia tidak mungkin merahasiakan masalah ini. Suatu saat pasti Yara akan tahu hal ini.
Tapi, bagaimana ia harus menjelaskan kepada Yara. Frey mendongak ke atas. Ia berulang kali menarik cepat napasnya. Namun yang di dapatnya hanya sesak tak berperi. Frey terdiam sejenak, merenung dengan kepala menunduk. Lalu ia kembali mendongak ke atas. Ia tidak tahu harus berbuat apa, saat ini Frey benar-benar frustasi. Dendamnya kepada keluarga Wyanet serasa hilang ditelan bumi. Yang tersisa hanyalah rasa sedih dan keprihatinan yang mendalam.
Frey mengambil minuman yang dibawanya tadi. Ia kembali menatap pohon-pohon di setiap pinggir jalan sambil memutar-mutar gelasnya. Mengeluarkan bunyi gemericik es batu yang saling bertabrakan dengan dinding gelas. Emosi Frey satu bulan yang lalu menjadi saksi bisu meninggalnya orang tua Yara di tangannya. Frey benar-benar khilaf saat mengetahui informasi dari salah satu anak buahnya, bahwa ayah Yara juga pernah menyukai Victoria. Dendam yang harus dibayar tuntas.
FLASH BACK ON.
Langkah kaki yang berbenturan dengan lantai yang dingin itu membuat sepasang suami istri yang dalam keadaan terikat ketakutan. Frey mengeraskan rahangnya dengan sepasang mata elangnya yang tertuju pada sepasang suami-istri yang tidak lain adalah orang tua Yara. Raut wajahnya yang datar menyiratkan amarah yang tak terbendung. Posisinya sekarang sedang berhadapan dengan Erland dan Renata yang terikat dengan rantai. Satu single sofa bertekstur kulit coklat disediakan anak buahnya. Frey duduk di sofa dengan kedua kali menyilang. Siku tangan ia letakkan di tangan sofa serasa jaringan mengusap dagunya. Postur duduk Frey memperlihatkan ia lelaki yang berkuasa.
"Aaarrggggg.....lepaskan kami! Siapa sebenarnya kalian? Aku tidak pernah berurusan dengan komplotan preman seperti kalian!" Erland begitu marah karena mereka tiba-tiba diculik dan diikat.
Frey tersenyum miring mendengar makian yang ditujukan kepadanya. "Kau tidak mengenalku?"
"Siapapun kau, aku tidak perduli! Sekarang lepaskan istriku. Kau tidak lihat, dia sudah sangat kesakitan."
"Bagaimana denganku? Kau tidak pernah memikirkan bagaimana sakitnya ini...." Frey menepuk dadanya. "Hatiku menyimpan banyak kesedihan setelah ayahku pergi untuk selamanya."
Erland mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu?"
"Aku rasa kau pasti mengenal Miles?"
"Miles?????" wajah Erland berubah.
Frey lagi-lagi tersenyum miring saat melihat keterkejutan Erland. "Aku tidak perlu lagi menjelaskan siapa itu Miles. Tapi yang perlu kau ketahui bahwa aku sudah lama mencari tahu tentang kehidupanmu. Kebangkrutan perusahaan Wyanet adalah bagian dari rencanaku untuk menghancurkan Wyanet."
Deg!
Pasangan suami istri itu saling berpandangan karena begitu terkejut. "Aa-aapa?"
"Jadi saya membawa kalian ke sini untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatanmu Erland."
"Kau salah faham. Masalah informasi perusahaan Miles aku tidak pernah membocorkannya dan..."
"Kau pikir aku akan percaya itu? Semua yang kau lakukan aku tahu. Dari kau menyukai Victoria. Aku tahu." ucap Frey dengan nada pelan namun menusuk.
__ADS_1
Mendengar itu Renata begitu shock, ia menatap suaminya untuk memastikannya apa yang di dengarnya. Sementara Erland menggeleng cepat. Ia menyakinkan istrinya dengan gestur tubuhnya bahwa yang dikatakan Frey itu tidak benar.
"Victoria yang menjebakku. Aku tidak pernah mengencani ibumu!"
"TUTUP MULUTMU!"
Dor!
Satu timah panas menembus perut Erland. Saat mendengar suara tembakan Renata menjerit histeris. Ia menangis ketakutan. Air matanya seketika jatuh membasahi pipinya.
"Aku mohon jangan sakiti suamiku!" Renata memohon. Tubuhnya seketika menggigil karena begitu shock.
Erland merintih kesakitan. "Aku tidak pernah membunuh ayahmu. Saat itu aku hanya melakukan..."
Frey mendekat dan berjongkok agar sejajar dengan Erland. Ia mencengkram rahang Erland. Erland merasakan kesakitan yang cukup hebat di tambah luka tembakan semakin membuatnya tak berdaya.
"Aku sudah bilang aku tak perlu penjelasanmu lagi. Aku sudah cukup bukti untuk membuatmu menerima konsekuensi atas semua perbuatanmu." Gigi Frey saling bergesekan menahan amarahnya.
"Setidaknya aku ingin mengatakan yang sebenarnya anak muda, kau tidak tahu bagaimana aku berjuang untuk menyelamatkan perusahaan Miles dan...."
Belum juga Erland selesai melanjutkan kalimatnya. Frey sudah dikuasai emosi. Ia memberi pukulan dan tendangan bertubi-tubi seperti seorang atlet yang berlatih dengan sebuah samsak dan Erland hanya meraung kesakitan. Sementara Renata menggeleng dengan jeritan minta tolong. Tapi tidak seorangpun yang mendengarkannya.
"Aku mohon, jangan sakiti Erland." Teriak Renata dengan air mata yang terus menderai.
Frey tidak perduli. Kali ini ia mantap untuk menghabisi Erland.
"Tapi aku tidak terlibat dalam hal itu. Aku mohon kasihani aku. Istriku tengah mengandung dan Yara akan memiliki adik. Setidaknya kasihani kami. Yara juga masih membutuhkan kami." pinta Erland memohon.
"Jangan...jangan aku mohon..." ucap Erland menggeleng dan Renata menangis ketakutan.
Frey tersenyum sinis, matanya memancarkan sorot tajam. Ia perlahan-lahan mengangkat tangannya dan mengarahkan pistolnya tepat ke dada pria itu, dengan seringai iblis ia menarik pelatuknya. Dan....
DOR DOR ...
Dua tembakan berhasil keluar dengan sempurna, tepat bersarang di jantung pria itu dan susul ke dada wanita itu. Melihat Renata masih bergerak. Frey kembali mengarahkan pistolnya dan terdengar suara tembakan yang membuat Frey tersenyum puas. Dan ia mengarahkan lagi ke Erland. Tepat sasaran pas mengenai jantung dan kepalanya. Ia akhirnya membalaskan dendamnya kepada keluarga Wyanet.
"Pergilah ke neraka. Aku akan sampaikan kepada putrimu tercinta untuk menerima kematian kalian dengan ikhlas." kata Frey dengan tatapan iblisnya.
Setelah mengatakan itu, Frey berjalan meninggalkan ruangan itu yang diikuti oleh anak buahnya. Sungguh entah apa yang merasuki Frey malam itu.
BEBERAPA HARI SETELAH KEJADIAN ITU.
TOK....TOK...TOK...!
James mengetuk pintu. lalu masuk ke dalam ruangan Frey. Begitu melihat gagang pintunya berbunyi dan bergerak. Frey segera mendongak dari kesibukannya. Ia melihat James melangkah masuk. Seperti biasa hanya ada ulasan senyum tipis yang terukir di wajahnya.
James berdiri tepat di depannya dan segera membungkukkan badan. "Selamat sore tuan,"
"Ehmmm."
"Tuan ada yang ingin saya sampaikan."
__ADS_1
"Apa itu?" Kata Frey tanpa memandang James.
"Ini mengenai tuan Wyanet."
Frey menarik napas singkat dengan menekuk siku, melipat tangan di atas meja. Kini wajah dan tatapannya fokus menatap ke arah James. "Bukankah masalah itu sudah selesai? Untuk apa kau mencari tahu lagi."
"Maafkan saya tuan. Tapi ada seseorang yang datang menemui saya. Beliau adalah security yang pernah bekerja di perusahaan Miles."
"Apa yang dia katakan?" tanya Frey tanpa ekspresi.
James maju perlahan lalu sedikit menunduk dihadapan Frey. "Beliau mengatakan bahwa tuan Miles dan Tuan Wyanet cukup dekat. Ada beberapa foto album beliau berikan kepada saya." James maju dan mengambil foto album yang diberikan James. Frey membolak-balikkan album itu.
"Maafkan saya tuan. Saya juga mencari tahu sendiri mengenai bahwa tuan Wyanet sebenarnya dijebak."
Tangan Frey seketika berhenti saat membolak-balikkan beberapa foto yang ada di tangannya. Tangannya mengepal kuat hingga buku-buku tangannya terlihat memutih.
"Apa maksudmu?" Frey mengangkat wajahnya, dahinya berkerut dalam.
"Ini ada beberapa video yang menyatakan bahwa tuan Wyanet dijebak." James memberikan flashdisk kepada Frey.
Wajah Frey menegang. Ia begitu shock. "Sekarang kau boleh keluar!" Kata Frey dengan suara terendahnya.
"Baik tuan,"
James membalikkan tubuhnya dan bergegas meninggalkan ruangan itu.
"James," Panggil Frey menghentikan langkah James.
"Iya, tuan!" James kembali memutar badannya dan menghadap kepada Frey lagi.
"Saya tidak ingin Yara tahu soal kematian orangtuanya."
"Baik, tuan!" Jawab James cepat. Ia lalu membungkukkan badannya untuk memberi hormat, James pun meninggalkan ruangan itu.
Setelah kepergian James langsung memeriksa flashdisk yang diberikan James kepadanya. Frey langsung mengusap wajahnya dengan kasar. Ia berusaha menguasai perasaannya. Berulang kali Frey harus menghembuskan napasnya yang terbata-bata. Seakan karbon dioksida tertahan di dalam dada.
"Bagaimana aku harus mengatakan semua ini kepada Yara. Apakah aku harus berpura-pura tidak tahu mengenai kematian Erland dan Renata?"
Aaaaahhhhhhhh
Frey mencoba untuk bernapas dan mencoba untuk memahami. Hatinya kini remuk, terkoyak bahkan hancur. Ia menutup wajahnya dengan tangan. Ia masih posisi terpejam, berusaha menekan segala perasaannya. Hanya wajah Yara yang terlintas dibenaknya.
BERSAMBUNG.....
AKHIR-AKHIR INI GAK KONSEN đâšī¸đ
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kesembilan aku đ
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
__ADS_1
^_^.