
💌 TERJERAT DENGAN SUAMI PALSU 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
"Apa yang sebenarnya diinginkannya?"
Yara mengembuskan napas panjangnya. Namun itu tidak sedikit pun menenangkan kerisauan yang timbul dalam hatinya. Perkataan Frey membuat otaknya benar-benar kosong. Ia kembali menatap pintu yang sudah tertutup itu.
Yara berpikir sejenak.
"Apa dia sekarang sedang..." Yara menangguhkan kalimatnya. Ia segera menggeleng cepat.
"Apa yang kau pikirkan Yara..."Yara menepuk-nepuk pipinya berulang kali.
Dengan tarikan napas panjang, Yara mondar-mandir dengan gelisah di ruangan itu sambil memeluk kemeja yang ada di tangannya. Ia mengepalkan tangannya berkali-kali. Memegang dagu, menjepit bibir, menggigit jari, berkacak pinggang, melepas lagi dengan frustasi. Hampir semua gerakan kebingungan ditunjukkan Yara.
Yara kembali menghembuskan napasnya. Dia takut jika tidak menuruti perintahnya, bisa-bisanya Frey akan marah dan memaki semua pelayan di rumah ini. Kemarahan yang tak jelas itu tidak akan berhenti sampai disitu dan akan berlanjut ke hari-hari berikutnya.
"Arrggggghhh." Yara menggeram pada dirinya sendiri. Ia menepuk-nepukkan kakinya dengan gelisah.
"Biasanya tugasku hanyalah menyiapkan semua keperluannya saja, setelah itu aku meninggalkan kamar ini dan dia tidak pernah mempermasalahkannya?"
"Dan Sekarang? dia memintaku untuk menunggunya?" Ia menutup matanya sekejap dan kembali mencoba sadar dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak, ini tidak bisa dibiarkan. Mau dia marah, terserah dia saja! Yang jelas tugasku hari ini hanyalah menyiapkan pakaianya saja."
Yara mantap dengan pendirinya. Ia langsung bergegas meninggalkan ruangan itu. Namun saat tangannya ingin membuka kenop pintu. Pintu sudah lebih dulu terbuka dan yang membukanya tidak lain adalah Frey. Yara terkejut dengan mata terbelalak saat melihat Frey sudah berdiri di depannya dengan telanjang dada sambil menggunakan handuk.
Deg....Deg....Deg....!
Jantung Yara langsung bergemuruh. Terpukul sangat kencang. Rambut Frey terlihat masih basah dan jatuh menjuntai secara berkelompok. Sebagian menutup dahi dan pelipisnya. Wajahnya terlihat sangat segar. Ia menatap ke arah Yara sambil sedikit memicing.
Yara benar-benar tertegun. Baru kali ini ia melihat pemandangan seperti ini. Sejuk dan menyegarkan mata, namun membakar di dalam dada. Bagian otot dadanya yang bidang terlihat menonjol dan sedikit basah. Sepertinya air nakal dari rambutnya belum ingin lepas dan mengalir dari pelipis, jambang tipis di depan telinganya, terus turun ke rahang, leher, tulang selangka sampai kebagian dada atasnya.
Frey berkacak pinggang dengan posisi santai. Ia memakai handuk putih itu sedikit ke bawah. Memperlihatkan otot perutnya yang mengontak sempurna. Bahkan garis lekukan pinggul yang menyambung dari bawah pinggang dan melingkar hingga ke perut bagian depan terlihat begitu jelas.
Yara melihatnya dengan samar. Ia masih termangu dengan mulut sedikit menganga menatap Frey. Frey masih mengerutkan alisnya.
__ADS_1
"Kau sudah menyiapkan pakaianku?" Tanya Frey datar.
Yara mengedip pelan. Tidak merespon.
"Yara Wyanet?"
"Eh!" Yara mengerjap dan langsung membalikkan badannya agar tidak melihat Frey lagi. "Maaf, tadi anda
bilang apa?"
"A-anda?"
"Ma-maaf." Yara tergagap. "Maksud saya..." Kalimat Yara lagi-lagi menggantung. "Astaga Yara...bisa-bisanya kamu menikmati tubuh lelaki brengsek itu."
"Apa pakaianku sudah siap?" tanya Frey lagi.
"Su-sudah tuan." Lagi-lagi Yara tergagap.
Frey mengembuskan napas kesal saat melihat satu pakaian yang siap hanyalah kemeja yang ada di tangan Yara. "Apa kau menyuruhku hanya memakai kemeja itu saja?" Frey mengangkat alisnya sambil berdecak.
Yara masih bergeming. Ia tidak juga membalikkan badannya, yang dia lakukan hanyalah meremas kemeja yang ada di tangannya.
Frey berjalan pelan mendekati Yara. Ia memiringkan kepalanya agar bisa melihat Yara yang sedang menunduk. "Apa apa denganmu? Apa kau baik-baik saja?" Tanya Frey nyaris berbisik.
Frey membengkokkan bibirnya sambil mengangguk paham. "Ya sudah, kalau kau tidak apa-apa. Sekarang lanjutkan pekerjaanmu. Lakukan dengan baik, jangan sampai ada kesalahan lagi."
"Ba-baik." Ucap Yara tak berani mengangkat wajahnya. Ia terlalu malu untuk melihat lelaki ini. Bagaimana mungkin ia bisa menikmati tubuh lelaki itu. Yara seakan melihat dewa dari cerita mitologi Yunani yang datang mendekat dengan penuh kilauan cahaya.
Dengan segera Yara menaruh kemeja yang dipegangnya ke atas meja. Ia mengambil sesuatu dari dalam laci lemari di sisi seberang. Baru tiga bulan melayani keperluan Frey. Ia sudah tau setiap posisi yang ada di semua lemari ruangan itu. Dulu ia bahkan harus menghafalkan saat tugas itu diserahkan kepadanya. Sekarang? tentu saja ia sudah lihai. Yara dengan cekatan menyusun pakaian yang akan dikenakan Frey. Mengambil dasi, rompi dan celana dengan warna yang senada. Ikat pinggang, kaos kaki dan sepatu. Dan yang terakhir jam tangan. Sempurna! semua sudah lengkap di atas meja.
"Sudah siap, tuan. Silakan berganti pakaian. Sekarang saya akan keluar." Yara membungkukkan badannya memberi hormat.
Namun, belum beberapa langkah Frey mengehentikan langkah Yara. "Apa kau pikir aku memintamu menungguku hanya untuk menyiapkan ini?"
DEG!
Langkah Yara mendadak berhenti saat mendengar suara bariton lelaki itu.
Yara membalikkan badannya, menatap Frey dengan kerutan dahi. "Apa ada yang salah dengan pemilihan warna, tuan?"
Frey mengangkat alis sambil memiringkan kepalanya. Menatap Yara dengan senyuman kecut. "Kau tidak boleh pergi sebelum memakaikan baju untukku, begitu juga dasi dan sepatu."
DEG!
__ADS_1
"A-aapa?" Yara terbelalak shock. "Bukankah tugasku hanya menyiapkan pakaian saja?"
"Apa kurang jelas perkataanku tiga bulan yang lalu, Yara? Layani aku seumur hidupmu. Itu artinya kau harus siap melakukan apa saja yang aku perintahkan. Bukan hanya menyiapkan makanan dan segala keperluanku saja. Tapi, kau juga harus siap menemaniku jika ada urusan penting diluar sana."
"Tapi, saya...."
"TIDAK ADA PENOLAKAN!" Ucap Frey tegas dan penuh tekanan. "Jangan sampai membuatku marah," desis Frey begitu dingin.
Yara menarik napas dengan mata terpejam. Rasanya ingin menangis, tapi Yara harus menahannya. Ia tidak mau menangis di depan lelaki brengsek ini. Dengan butuh perjuangan yang berat, akhirnya Yara mengiakan. "Baiklah, saya akan kembali setelah tuan menggunakan celana itu."
"Kamu tidak perlu keluar. Tunggu disitu!" Frey berjalan menuju kamarnya.
Huuuuh.....Embusan napas kesal langsung keluar dari mulut Yara. Ia menyapu rambutnya berulang kali.
"Apa dia sudah gila?" Yara mengerutkan dahinya protes sambil mengembuskan napasnya ke atas sampai anak-anak rambutnya melambai ke atas. Yara ingin melampiaskan amarahnya, tapi untuk siapa?
"Huuuui...huuuu....kenapa panas sekali," Yara mengibas-ngibaskan tangannya ke leher seakan menarik angin untuk mengurangi rasa kesalnya. Pelipis Yara berkeringat. Frey semakin semaunya. Tapi mau gimana, ia tidak bisa menolak ini semua. Demi orangtuanya. Yara siap menerima perlakuannya.
Tidak butuh waktu lama, Frey sudah keluar dari kamar. Seperti tugas yang diperintahkan kepadanya. Yara melangkah mendekat ke arah Frey. Ia dengan sigap mengancingkan kemeja Frey. Lalu meraih dasi bermotif garis serong berwarna biru dongker dari atas nakas dan membuka gulungannya. Yara langsung memasang dasi itu ke leher Frey. Ia tidak menatap wajah Frey. Namun, embusan napas Frey membuat Yara panas dingin. Lagi jantung Yara memukul. Meski batinnya kuat untuk bertahan. Jarak tubuh mereka hanya berjarak sekitar lima sentimeter. Sangat dekat hingga membuat Yara tiba-tiba gugup. Ia menutup mata sejenak dan mencoba kembali berkonsentrasi. Yara mengikat simpul dasi dan langsung siap dipakai hanya dengan cara dikalungkan dengan tarikan pada ujungnya. Karena ia baru saja selesai membentuknya. Yara kembali mengencangkan dasi di kerah baju Frey.
Yara kemudian mundur beberapa langkah, memberikan akses kepada Frey untuk melihat penampilannya. Frey tersenyum memiringkan wajahnya untuk menatap dirinya di depan cermin. Ia mengambil parfum beraroma woddy Frey menyemprotkannya ke beberapa titik tertentu.
Kemudian Frey mengangguk, tanda ia puas. Yara pun mengambil jas dan membukakannya untuk Frey. Frey tersenyum membalikkan badannya menyambut jas itu dari Yara. Frey berbalik menatap Yara dengan lekat. Tatapannya begitu intens.
Yara lagi-lagi terjebak. Frey tersenyum sambil mengancing jasnya di depan. Ia berbisik dengan lembut tepat di depan wajah Yara. Wangi fresh aroma pappermint dari napas Frey menyambar wajah Yara.
Diawali dengan senyuman samar, Frey pun berkata dengan pelan. "Ini akan menjadi tugas tambahanmu, mulai hari ini dan seterusnya."
Yara memalingkan wajahnya, tidak ingin melihat Frey. Frey menarik kembali wajahnya. Ia masukkan tangannya ke dalam kantong celananya.
"Aku harap kau mengerti dengan semua tugasmu itu. Jika kau tidak ingin terjadi sesuatu kepada orang yang kau sayangi. Jangan membuatku marah." Frey tersenyum begitu dingin sambil menatap Yara. Raut wajahnya seketika berubah datar. Frey segera melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Meninggalkan Yara begitu saja ditempatnya.
Yara kembali terdiam dan mematung di posisinya. "Kamu wanita kuat Yara, kamu harus kuat! kamu pasti bisa melalui ini semua." ucapnya lirih dengan tarikan napas berat.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kesembilan aku 😍
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^.
__ADS_1