Terjerat Dengan Suami Palsu

Terjerat Dengan Suami Palsu
MEMBERI HUKUMAN


__ADS_3

💌 TERJERAT DENGAN SUAMI PALSU 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Tangan Yara gemetar. Wajahnya terlihat pucat. Semua kejadian tadi malam terlihat jelas di dalam video itu. Ia mundur beberapa langkah dan menggeleng. Matanya sayu dan terus melihat ke bawah.


"Apa jangan-jangan dia mengetahui surat itu?"


Jantung Yara semakin terpukul kencang. Ia tidak berani menatap mata Frey Miles. Fakta ini terlalu menyakitkan, pria ini mengetahui semuanya.


"Apa yang harus aku lakukan?" Yara hanya bisa berucap dalam hati. Ia meremas kedua tangannya dengan erat.


Frey tersenyum samar saat melihat reaksi Yara. "Apa bisa kau menjelaskan itu?" Frey mengunci tatapannya ke arah Yara. Tangannya di lipat di atas meja. Ia terlihat begitu tenang. Frey bersabar menanti jawaban dari Yara.


"S-s-saya... saya..." Yara terbata tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Lagi Ia hanya meremas tangannya begitu kuat.


Frey tersenyum tipis, tatapan matanya turun ke bawah. Berusaha tetap tenang untuk meredam emosinya. "Kau tidak bisa menjelaskannya?" Rahang Frey mengencang. Kesabarannya mulai habis.


"Tu-tuan...?" Lirih Yara dengan suara pelan.


Sungguh sikap tenang Frey membuat Yara semakin tidak berdaya. Jantung Yara semakin terpukul kencang. Ia merasa gugup. Apalagi yang dia tahu, Frey tidak segan-segan membunuh jika ada yang berkhianat kepadanya. Tiba-tiba terlintas wajah Billy. Yara semakin bersalah. Dan kertas itu? bagaimana ia bisa menjelaskannya nanti. Apa Frey akan membunuh Billy? Ketakutan Yara semakin terlihat jelas. Satu tetes air mata jatuh ke pipinya. Yara mengusapnya dengan cepat.


"Aku tahu semuanya Yara Wyanet. Jadi di sini aku hanya ingin mendengar langsung darimu. Sekarang kau jelaskan padaku?"


Deg...


Lagi-lagi hati Yara bagaikan tertancap pisau. Ia menghembuskan napasnya meski kini keluar terbata-bata. Ia hanya terdiam dan menangis. Napasnya tersendat. Mencoba menyalurkan segala rasa buruk yang meluap begitu perih.


"Tuan, aku...aku..." Lagi-lagi Yara tidak bisa melanjutkan ucapannya. Ia hanya bisa bicara melalui air matanya. Sungguh tatapan Frey membuatnya ketakutan.


"Baik, jika kau tidak ingin menjelaskannya. Tidak apa-apa Yara. Aku akan membuat Billy kehilangan pekerjaannya."


"Apa? maksud tuan Billy dipecat?" Yara terkejut bukan main. Sepersekian detik, ia menggeleng dan terus menatap Frey dengan pandangan nanar. Air matanya terus mengalir membasahi pipinya.


"Tolong, Maafkan saya. Tuan. Jangan pecat dia. Billy tidak bersalah."


"Cih..." Frey berdecak. "Kenapa kau begitu membelanya?"


"Maafkan saya," Yara menunduk lagi.


"Saya tidak menerima alasan. Billy hari ini juga saya pecat. Kau harus terima konsekuensinya. Kau berani melanggar perintahku."


Seketika badan Yara lemas dan tidak bertulang. Ia lunglai dan langsung terduduk di lantai. Bahu Yara bergetar dan terus menangis.


"Jangan pecat dia, tuan. Saya mohon! " Pinta Yara dengan air mata berurai. Tangisannya pilu dan menyedihkan. Bagaimana nasib Billy. Dia tidak punya keluarga kecuali ibu Brigitta. Ahhhhh... membayangkannya saja hatinya sudah sakit.


"Kenapa juga malam itu, Billy ada di sana. Ohhh, ya Tuhan bantu aku!" pinta Yara dalam doanya.


"Kau bisa keluar!" ucap Frey dingin.

__ADS_1


Yara tertunduk sedih, ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Pemecatan Billy benar-benar bukti nyata bahwa Frey tidak mengampuni kesalahannya. Tiba-tiba terbesit sebuah ide di kepala Yara. Ini tidak bisa dibiarkan, Yara harus melakukan sesuatu. Dengan cepat ia menghapus sisa-sisa air matanya. Yara bangun berdiri. Ia menatap Frey dengan berani.


"Kenapa anda begitu marah kepada Billy. Kami tidak melakukan apa-apa di rumahmu. Kami hanya sebatas pelayan di rumah ini. Kami hanya lapar dan makan bersama layaknya seorang pelayan. Apa itu salah?" Tutur Yara dengan lantang. Yara berharap setelah mengatakan ini, Frey tidak akan semena-mena kepadanya. Dia hanyalah sebatas pelayan yang melayani kebutuhan tuannya.


Tapi sepertinya Yara harus menyesali perkataannya.


"Apa?" Tanya Frey dengan geraman rendah sarat akan kemarahan. Dia mendengar apa yang dikatakan Yara, namun ia ingin memastikannya. Frey berdiri dari tempatnya dan mendekati Yara.


"Billy tidak bersalah, jika kamu marah, seharusnya kamu marah kepadaku saja. Bukan memecat Billy yang tak bersalah." Ucap Yara lagi, tatapannya semakin berani.


Frey memiringkan kepalanya, ia berjalan pelan dan semakin mendekat ke arah Yara. Kini menghunuskan tatapan tajam kepadanya, seolah Yara adalah pencuri yang sedang tertangkap basah. Alis Frey menukik tajam, matanya berubah Devil saat melihat ekspresi Yara yang semakin berani kepadanya. Karena marah, Frey mencengkram rahang Yara dengan kasar. Memaksanya untuk mendongak dan menatap mata tajam Frey yang dipenuhi amarah.


"Aaahhhh....." Yara kesakitan. Ia merasa tercekik. Rahangnya sungguh sakit. Dia berusaha melepaskan tangan Frey dari rahangnya dan tak berhasil. Justru, pemberontakan Yara membuat cengkraman Frey semakin kuat.


"Apa? ulangi?" Desis Frey nyaris berbisik.


Deg!


Jantungnya kembali berdetak, kali ini bergemuruh lebih cepat. Suara Frey terdengar begitu menakutkan di telinganya.


"Sa-sakit," Rintih Yara. Dia tak mampu.


"Ulangi!" Bentak Frey dengan suara nyaringnya.


Yara tidak menjawab. Dia tak mampu berkata lagi karena sibuk dengan rasa sakit di rahangnya. Ia yakin bekas cengkraman tangan Frey akan membekas. Dan kalau ia mengulanginya lagi, Yara yakin Frey akan melakukan lebih dari itu. Lebih baik diam.


Mata Frey yang tajam dan merah, dia mirip iblis dan itu membuat Yara takut.


"Katakan sekali lagi dan aku remukkan rahangmu, Yara!!!!" Seru Frey dengan marahnya.


"Kau tidak boleh dekat-dekat dengan siapapun, termaksud itu Billy atau siapapun itu. Kau mengerti?"


"Sa-sakit tuan. Le-lepaskan!!" Yara sudah tidak tahan. Rasanya rahangnya akan remuk dan terlepas dari tempatnya. Belum lagi tangannya yang ditahan oleh Frey.


"Sakit? Kau kesakitan, hmmm?" Tanya Frey dengan nada penuh ejekan.


"Aku minta maaf...aku tidak akan makan bersama siapapun itu, termaksud Billy."


Frey membisu. Dia tidak mengindahkan rintihan Yara. Frey menatap Yara tanpa ekspresi dengan udara dingin yang menyelimutinya, seperti hantu.


"Jadi kau tidak ingin Billy di pecat?"


"Hmmm." Yara mengangguk cepat.


"Bagaimana dengan ayahmu?"


Deg!


Bagai disambar petir. Jantung Yara langsung terpukul kencang setelah mendengar ayahnya yang sebut Frey.


"Apa yang kau inginkan? Kenapa kau selalu menggunakan ayahku." Mata Yara menyalang tajam.


"Karena aku ingin melihatmu menderita ketakutan. Kau begitu menyayangi mereka, bukan?" Ucap Frey tersenyum sinis. Kemudian Frey melanjutkan kalimatnya. "Melihatmu seperti orang bodoh seperti ini, sangat menghiburku Yara Wyanet."


Yara menatap nanar. Ia tidak tahan dengan semua ini. Wanita bodoh? Yara begitu membenci kata itu. Tapi ia mencoba bersabar, ia tidak mau menyulut emosi Frey lagi.

__ADS_1


Sudut bibir Frey melengkung ke atas. "Kau tidak mau Billy di pecat dan kau juga tidak mau ayahmu diusik. Jadi Sebagai hukumanmu. Kau harus tidur bersamaku."


Mata Yara terbelalak tak percaya. "Apa?"


"Itu hukuman bagi orang yang melanggar perintahku." Ucapnya tepat di telinga Yara sembari melepaskan cengkramannya dari rahang gadis itu.


Yara tidak bisa berbuat apa-apa. Yara yakin, ancaman Frey tidak main-main. Demi menyelamatkan daddy dan Billy, terpaksa Yara menyetujuinya.


"Dia benar-benar sudah gila! dia lelaki tak punya hati!" Teriak Yara dalam hati. Rasanya ingin menangis. Tapi Yara berusaha menahannya.


"Tapi, Frey tidak membahas surat itu? apa itu artinya dia tidak tahu surat itu?


⭐⭐⭐⭐⭐


DUA MINGGU KEMUDIAN.


Victoria memasuki rumah dengan keadaan marah. Ia disambut ibu Brigitta.


"Dimana wanita sialan itu?" tanya Victoria kesal.


Ibu Victoria hanya bisa diam berdiri melihat nyonya Miles datang dalam keadaan marah.


"Kemana Frey dan wanita sialan itu?" ucapnya lagi dengan posisi berdiri dan berkacak pinggang, ia menatap sekelilingnya.


"Maafkan saya nyonya. Tuan Frey lagi keluar bersama nona Yara."


"Keluar?" Tiba-tiba Victoria teringat acara perusahaan Miles. "Apa maksudmu mereka ke acara party Miles?"


Ibu Brigitta menunduk takut. Ia ragu untuk menjawabnya.


"Jawab aku Brigitta!" Victoria menekan kalimatnya.


"Be-benar nona."


Tangan Victoria mengepal kuat. "Berani-beraninya Frey mengajak wanita murahan itu ke perusahaan Miles. Aku tidak terima!"


Victoria melangkah meninggalkan ruang tamu. Dengan cepat Ibu Brigitta menyusulnya.


"Nyonya anda mau kemana?"


Tidak ada sahutan. Victoria sudah masuk ke dalam mobil dan membanting pintunya dengan keras.


"Astaga...aku sungguh tidak percaya ini. Bagaimana Frey bisa mengajak wanita itu ke acara party Miles. Sungguh memalukan!" Victoria memundurkan mobilnya keluar dari rumah mewah itu.


"Apa sebenarnya yang dia inginkan? Apa jangan-jangan Frey menyukai wanita sialan itu? Ini tidak bisa dibiarkan."


Victoria menginjak pedal gas lebih dalam lagi. Memacu mobilnya begitu cepat, agar Ia tiba di kantor Miles.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kesembilan aku 😍


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.

__ADS_1


^_^.


__ADS_2