
💌 TERJERAT DENGAN SUAMI PALSU 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Mobil yang mengantar Yara berhenti di halaman kediaman Miles. Ia tidak pulang bersama Frey, karena Frey tiba-tiba ada urusan mendadak di kantor. Yara menarik napas dalam-dalam, menatap rumah mewah yang ada di depannya.
Bram keluar terlebih dulu dari mobil, untuk membuka pintu untuk nyonya Miles.
"Silakan nyonya,"
"Terima kasih pak Bram," ucap Yara keluar dari mobil.
"Semoga hari anda menyenangkan nyonya Miles. Jika ada membutuhkan sesuatu, anda bisa menghubungi saya."
"Bisakah anda tidak memperlakukan saya seperti ini, pak." Yara menatap malas kepada pria yang usianya sekitar empat puluhan itu.
Bram tersenyum. "Saya sudah digaji untuk melayani keperluan anda."
"Tapi aku tidak suka pak, anda membuntuti setiap langkah saya." Protes Yara tidak suka.
Bramsa bisa memaklumi sikap nyonya Miles itu. Siapapun yang berada di posisinya tentu saja tidak nyaman diperlakukan seperti itu. Tapi itu sudah perintah, Bram harus melaksanakannya.
"Jika anda tidak membutuhkan apa-apa lagi, saya permisi nyonya." Kata Bram akhirnya. Ia tersenyum kecil sambil membungkukkan badannya.
Yara hanya menarik napas berat tidak memberi jawaban. Ia mundur beberapa langkah ke belakang agar mobil itu bisa memutar.
Bram kembali masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi. Lalu menginjak pedal gas untuk membawa mobilnya ke luar dari halaman kediaman Miles.
Setelah mobil itu berlalu dari hadapannya. Yara tidak langsung bergegas masuk. Ia berdiri di depan rumah yang memiliki desain interior mewah itu. Yara mendongak ke atas menatap ke arah rumah yang menjulang tinggi itu. Pandangannya teralih ke arah bintang-bintang bertaburan di atas langit. Ada harapan terselip kala ia memandang bintang itu. Harapan paling indah sekaligus paling kosong yang disadarinya. Harapan menyadarkan kalau dia tidak akan pernah menemui seseorang yang selama ini dirindukannya. Ada titik di mana ia tahu bahwa dirinya harus berhenti berharap. Hanya saja satu kata yang dijanjikan membuat Yara kembali berharap penuh. Dan menjadikan harapan itu seolah tidak pernah berakhir.
Yara menghela napas berat. Semilir angin berhembus damai menerpa wajahnya. Lagi-lagi Yara menarik napas dalam-dalam. Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari dan begitu juga hari berganti minggu. Yara berharap, semoga harapannya segera terkabulkan. Ia percaya Frey akan mempertemukannya dengan orangtuanya.
Yara pun tersenyum kecil lalu berjalan memasuki rumah itu. Ia melangkah masuk ketika Ibu Brigitta membukakan pintu untuknya.
"Selamat malam nyonya," sapa Brigitta menunduk sopan.
"Selamat malam bu, anda bisa istirahat sekarang." kata Yara tersenyum dan melangkah lagi.
Namun panggilan Brigitta menghentikan langkah Yara. "Nyonya,"
Yara membalikkan badannya untuk melihat ke arah ibu Brigitta. "Hmmm? kenapa bu?"
__ADS_1
"Ini kartu nama yang saya temukan di kantong celana anda." Tangan Brigitta mengulur memberikan kartu nama yang memiliki Logo yang menarik dan di dalamnya terdapat informasi kontak.
Yara tersenyum menerima kartu nama itu. "Terima kasih Ibu Brigitta." ucapnya sambil mengusap kartu nama yang ada di tangannya. Tulisan nama Ethan dan nomor telepon bertinta emas tertera di sana.
"Dan nyonya Victoria Miles sedang menunggu anda di kamarnya." ucap Ibu Brigitta kemudian.
Yara terdiam mengangkat wajahnya menatap ibu Brigitta. Ia mematung di tempatnya. Suara bahkan napasnya tertahan di dada. Tercekat di sana. Ia menarik napas singkat dan tersenyum ke arah ibu Brigitta.
"Baiklah, aku langsung ke sana. Terima kasih bu."
"Sama-sama nyonya. Kalau begitu saya permisi nyonya." Ibu Brigitta membungkukkan badannya memberi hormat.
Yara hanya mengangguk dan tersenyum ke arah ibu Brigitta. Ia menunggu sampai wanita itu benar masuk ke dalam kamarnya. Yara menarik napasnya lagi, lalu melangkah ke arah pintu kamar Victoria.
Tok...tok...tok...
Yara mengetuk tiga kali pintu itu.
"Masuk!" Terdengar sahutan tegas dari dalam.
Yara menyiapkan hatinya kembali. Ia melakukan ritualnya. Menghembuskan napasnya lewat mulut. Mencoba menstabilkan napasnya untuk menenangkan diri. Ia pun lalu membuka pintu tersebut secara perlahan.
CEKLEK!
Yara melihat Victoria sedang duduk santai sambil meneguk wine yang ada di tangannya. Posisinya sedang memangku kakinya ke atas. Sengaja memperlihatkan bentuk pahanya yang kencang dan terawat di balik rok mininya yang mencengkram sempit.
Victoria tersenyum sinis, menatap ke arah Yara dari atas sampai ke bawah. "Kau sudah datang, nyonya besar." Victoria sengaja menekan kalimatnya, seakan mengandung nada ejekan.
"Sepertinya kau begitu bahagia mendapat perlakuan baik dari Frey dan aku dengar kalian baru pulang dari jepang. Apa itu artinya kau sudah memberikan hatimu?"
"Seperti yang ibu lihat." Jawab Yara dengan wajah tenang.
Namun tidak bagi Victoria. Mendengar kata ibu, Victoria langsung mengambil botol wine dan menyapa dinding sampai menjadi serpih, dentingnya begitu menggetarkan dinding.
Yara shock dan sangat terkejut. Botol wine yang masih berisi terbang melayang. Victoria mengusap lehernya yang urat-uratnya mengencang, menegang, dipadati cekam.
Suara yang memekakkan telinga itu sayup-sayup berhenti, sekarang yang tertinggal hanya rasa keheningan yang mencekam. Genang merah menetes di lantai kamar. Yara melihat bayang-bayang lampu di atasnya, benderang. Yara seperti tak melihat sosok Victoria. Sorot matanya begitu tajam. Ia seperti manusia berwujud iblis. Tangannya terlihat terkepal, bundar. Tak cukup puas Victoria mengayunkan tangannya dan menyambar pipi Yara, sampai membuat Yara terhuyung ke belakang. Lagi-lagi Victoria menamparnya untuk kesekian kali. Sorot matanya yang tajam seakan mampu menembus jantung Yara saat ini.
"Jangan memanggilku ibu, aku tidak pernah menerimamu sebagai menantuku di rumah ini."
Yara terdiam dengan posisi memegang pipinya, rasa panas bekas tamparan yang menjalar di pipinya menyisakan rasa sakit yang teramat sangat. Telinganya sampai berdengung dan pandangannya masih berkunang- kunang.
"Kau tidak tahu seperti apa Frey. Dia bisa melakukan apa saja untuk membuatmu mencintainya. Setiap pergerakanmu diawasi cctv. Itu artinya kau tidak bebas."
"Bagaimana anda bisa mengatakan itu? Frey sungguh-sungguh mencintaiku. Aku bisa melihat itu."
"Hahahaha." Victoria tertawa hambar. "Benarkah?" Senyum Victoria tiba-tiba hilang. Wajahnya berubah. "Kau tahu kenapa Frey sampai saat ini tidak mengizinkanmu bertemu dengan keluargamu?" Victoria berucap tegas dengan tatapan serius.
__ADS_1
Deg!
Jantung Yara terpukul kencang saat mendengar kalimat terakhir. "Apa maksudmu, apa kau mengetahui sesuatu mengenai orang tuaku?" sorot mata Yara berubah tajam.
"Apa kurang jelas? Frey bisa melakukan apa saja untuk mengikatmu."
"Mengikat?" Yara tertawa kecil. "Tentu saja Frey mengikatku dengan ikatan pernikahan dan aku percaya Frey tidak pernah berbohong dengan perasaannya."
"Kau terlalu naif Yara. Jika Frey sungguh-sungguh mencintaimu, ia tidak mungkin melarangmu bertemu dengan keluargamu."
"Kenapa anda bersikap seperti ini nyonya Miles? Bukankah anda harusnya ikut bahagia bahwa Frey mencintai wanita pilihannya." Bentak Yara menatap tajam.
"Tidak. Aku tidak pernah bahagia jika Frey mencintai wanita rendahan seperti kamu."
"Sebenarnya apa yang anda inginkan?"
"Cukup kau tinggalkan Frey."
Yara memejamkan matanya, ia menarik napasnya dalam-dalam yang terasa begitu menyesakkan. "Aku tidak akan pernah meninggalkan Frey. Aku mencintainya. Jadi jangan pernah mencoba untuk memisahkan kami." Yara bangun dari duduknya ingin meninggalkan kamar itu.
"Jika kau mengetahui kebenaran mengenai Frey. Apa kau masih mencintai Frey?" Kata Victoria dengan lantang dan berhasil menghentikan langkah Yara. Ia diam membeku dan tidak berbalik, langkahnya seperti terpaku. Tangannya mengepal kuat dengan posisi memunggungi Victoria.
"Aku akan tetap mencintai Frey." ucap Yara dengan yakin tanpa membalikkan badannya.
Victoria lagi-lagi tertawa. "Aku harap juga begitu Yara Wyanet." Ucap Victoria dengan senyum ejekan.
Yara mengepalkan tangannya dan segera keluar dari kamar itu. Ia langsung menuju kamarnya.
CEKLEK!
Yara membuka pintu dan sedikit membantingnya.
BRUKKK!
Yara berusaha menguasai perasaannya. Ia menghembuskan napasnya terbata-bata. Segala perkataan Victoria seakan menari-nari di dalam otaknya.
"Apakah Frey benar-benar menyembunyikan sesuatu dariku?" Yara menarik napas dalam-dalam dan membuangnya dari mulut. Ia menutup rapat matanya.
Sepersekian detik Yara tiba-tiba teringat kartu nama yang diberikan ibu Brigitta kepadanya. Ia langsung mengambilnya dari dalam tasnya.
"Ya.... Ethan... Ethan pasti tahu kabar daddy dan mommy."
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kesembilan aku 😍
__ADS_1
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^