
💌 TERJERAT DENGAN SUAMI PALSU 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Malam mulai meranggas, kota A terasa tenang mengiringi keindahan suasana rumah milik seorang pria tampan berparas rupawan. Rintik-rintik hujan masih setia menemani malam. Udara terasa dingin menyegarkan. Ethan melangkah menuju balkon rumahnya. Beberapa orang terlihat melintasi jalan. Suara gorden jendela terkibas tertiup angin.
Ethan menatap langit. Ia tidak bisa melihat bintang di saat hujan. Bintang tertutup awan tebal yang membawa air hujan. Tiba-tiba tangannya mengepal kuat, rahangnya mengeras. Tiga bulan di bayang- bayangi rasa bersalah karena tidak menemukan solusi untuk mengeluarkan Yara dari kediaman Miles. Ingatannya kembali akan kejadian dimana ibu Yara datang dan memohon kepadanya untuk menyelamatkan Yara.
FLASH BACK ON
Renata meminta bantuan Rahnie untuk menghubungi Ethan dan mengajaknya bertemu di restoran terdekat yang tak jauh dari kampus. Ethan melangkah memasuki rumah makan tempat ia bertemu dengan Rahnie tadi.
Saat melihat pria tampan datang bersama Rahnie, Renata yakin bahwa dia adalah mantan kekasih putrinya. Renata bangun dari duduknya, lalu berjalan menghampiri Ethan. Ia menyambutnya dengan senyuman lembut.
Ethan bernapas gugup saat melihat wanita itu datang mendekat dengan dress polos kombinasi floral, yang tetap membuatnya elegan sekaligus keibuan.
"Kamu Ethan, kan?"
Ethan menganggukkan kepalanya. "Selamat siang aunty." Sapa Ethan dengan senyuman tipis.
"Selamat siang nak Ethan. Kamu tampan sekali. Pantas saja Yara sangat mencintaimu." Puji Renata.
Ah seketika hati Ethan berbunga-bunga tak kala mendengar Yara begitu mencintainya. Tapi sekarang, Yara sudah menjadi milik orang.
"Silakan duduk nak Ethan," Renata membawa tangan Ethan duduk bersamanya.
"Terima kasih aunty." Sahut Ethan dengan sopan.
"Seharusnya saya yang berterima kasih kepadamu, kamu sudah bersedia bertemu dengan aunty." Renata menghela napas singkat, menatap Ethan dengan lembut. "Aku tidak tahu harus memulainya dari mana." Renata menghela napas berat. "Aku benar-benar ibu bodoh, aku mempertaruhkan kebahagiaan putriku."
Mengerti maksud ucapan wanita paruh baya itu, Ethan hanya tersenyum canggung sambil meremas tangannya. "Jangan bicara seperti itu aunty. Aunty sudah menjadi ibu yang terbaik untuk Yara. Yara sering bercerita tentang anda."
Renata mengambil tangan Ethan dan memberikan tepukan lembut di sana. "Kamu tahu? Yara adalah anak yang penurut. Dia melakukan apa saja agar membuat hati orang tuanya bahagia. Sekalipun ia mengorbankan kebahagiaannya. Termaksud itu untuk masa depannya. Oh iya, Yara juga sering menceritakan mengenai hubungan kalian. Kamu anak baik dan penuh perhatian kepada Yara."
Lagi-lagi Ethan tidak nyaman saat diberikan pujian seperti itu. Ia hanya tersenyum sambil melihat ke arah tangannya yang digenggam lembut oleh wanita itu.
__ADS_1
"Maafkan aunty nak Ethan." Renata menunduk sedih.
Ethan mengerutkan keningnya, menatap wanita paruh baya yang duduk di depannya, masih dengan posisi menggenggam tangannya. "Kenapa aunty minta maaf. Aku dan Yara berpisah baik-baik. Walau awalnya ada rasa sakit yang tak bisa aku tutupi saat itu. Tapi sekarang aku ikhlas menerima keputusan Yara dan aku berharap Yara bahagia dengan perjodohan itu."
Renata mengangkat wajahnya, menatap manik mata Ethan dengan lekat. "Tapi aunty sedih, semenjak pernikahan Yara. Aunty tidak bisa menghubunginya. Aku yakin Yara sedang tidak baik-baik saja. Yara tidak bahagia dengan pernikahan. Aku mendengar bahwa Yara sedang di kurung di bawah tanah. Mereka membuat perjanjian dengan Yara." Mata wanita paruh baya itu tiba-tiba berkaca-kaca.
Saat melihat itu, hati Ethan seperti dicengkeram kuat oleh sebuah tangan. Ethan dengan cepat melepaskan napasnya dengan mulut terbuka. Ia terdiam kaku, mematung di sana. Napasnya cepat berganti, menarik dan mengembuskan dengan pola yang tidak normal.
"Tolong selamatkan Yara, keluarkan Yara dari rumah itu. Aku bersedia melunasi semua hutang asalkan Yara terbebas dari pernikahan itu. Aku tidak menyangka Frey Miles adalah orang yang berkuasa di kota ini. Dia bisa melakukan apa saja. Dia juga tidak segan-segan untuk membunuh." Renata menangis di depan Ethan. Ia tidak tahu harus minta tolong sama siapa lagi. Dia hanya berharap Ethan bisa menyelamatkan putrinya.
"Aku hanya ingin Yara kembali kepada kami, aku mohon nak Ethan. Bantu aunty untuk menyelamatkan Yara keluar dari sana." ucap Renata dengan tatapan memohon. Hatinya begitu sakit saat mengetahui putrinya dikurung dibawah tanah.
Ethan terdiam, pikirannya benar-benar kalut. Bagaimana caranya untuk membebaskan Yara dari rumah itu. Apalagi pria itu adalah orang berkuasa. Renata melepaskan tangannya dari tangan Ethan. Ia mengambil sesuatu dari tasnya.
"Ini adalah alamat kediaman Miles. Rumah itu jauh dari tengah kota. Hanya kamu yang bisa menyelamatkan Yara." Renata berusaha bernapas dengan baik. Air matanya dengan cepat tergelincir membasahi pipinya dan dengan cepat ia menghapusnya lagi.
"Tolong bantu aunty nak Ethan. Aunty berharap banyak kepadamu." Setelah mengatakan itu, Renata langsung meninggalkan tempat itu.
Flash back off.
Ethan melepaskan lamunannya. Kata-kata itu seakan menari-nari dalam benaknya. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Sejenak Ethan termenung dalam keheningan. Ia terpaku dengan bertopang dagu di atas lipatan tangannya pada pegangan besi yang dingin di ujung balkon. Angin berhembus sejuk dalam keheningan dan sepi, seolah mencoba berbisik padanya. Ethan kemudian memejamkan matanya. Ia mengatupkan kedua tangan di depan dadanya, seperti melakukan meditasi.
Setelah itu, Ethan langsung melangkah keluar dari kamarnya dengan sedikit terburu-buru. Ethan ingin menenangkan pikirannya. Kini hatinya sedikit tenang setelah ia bertemu dengan Yara. Setidaknya ini langkah pertama untuknya. Ia yakin Yara akan menghubunginya.
"Mau kemana kau brengsek?"
"Tolong!" Gadis itu berteriak ketakutan.
"Kau masih berani berteriak setelah beberapa kali menghilang."
"Apa maksudmu?"
"Jangan berdalih!" Bentak pria itu.
"Aku mohon, lepaskan aku!" Ucap gadis itu ketakutan.
"Cih.... lepaskan?" Ucap salah seorang pria tersenyum kecut.
"Bayar dulu utangmu." timpal temannya lagi dengan geram, mereka kesal karena berapa kali wanita ini selalu lolos dalam pengejaran mereka.
Gadis itu menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Kalian salah orang. Aku tidak tahu siapa pemilik cafe itu. Aku hanya membeli cafe itu melalui temanku dan aku adalah pendatang baru di sini."
__ADS_1
"Kau pikir aku akan percaya? Berapa kali kau menghindari kami dan kali ini kau tidak akan lolos."
"Aku bukan Angel tapi aku Alea. "
"Lepaskan dia!" ucap Ethan berdiri tepat di belakang kedua pria itu.
Reflek dua orang pria itu membalikkan badannya. Melihat seorang lelaki dengan posisi santai seraya bersedekap.
"Siapa kau, berani beraninya....." ucap lelaki itu dengan kalimat menggantung, ia mendekat ingin menghajar Ethan. Namun dengan cepat Ethan memberikan beberapa pukulan dan menghajar kedua lelaki itu bergantian. Hingga membuat mereka tersungkur dan tidak berkutik.
"Ambil ini, jangan pernah datang mengganggu gadis itu lagi." ucap Ethan melempar beberapa uang kertas ke wajah para preman. Dengan cepat mereka mengambilnya dan berlari meninggalkan Ethan.
Ethan berlari kecil melihat keadaan gadis itu.
"Kamu tidak apa apa?" Tanya Ethan seraya memeriksa tubuh gadis itu, apakah terluka atau tidak.
"Saya tidak apa-apa tuan, terima kasih atas bantuannya."
"Kau mengenal mereka?"
Alea menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mengenal mereka."
"Aku harap kamu lebih berhati-hati."
Alea mengangguk. "Maaf saya tidak bawa dompet. Saya berjanji akan mengembalikan uang anda." Ucap gadis itu dengan kepala tertunduk.
"Tidak perlu. Anda tidak perlu membayarnya." Ucap Ethan menebarkan senyumnya. Membuat Alea tersenyum gugup.
"Kalau begitu saya permisi." ucap Ethan membalikkan badannya. Sebelum itu terjadi Alea lebih dulu menghentikan langkah Ethan.
"Tuan, kalau anda ada waktu datanglah ke cafe Lalo. Saya akan mentraktir anda minum kopi terenak buatan saya. Anggap saja itu ucapan terima kasihku." ucap gadis itu setengah berteriak. Membuat Ethan tersenyum dan melambaikan tangannya. Ia menjauh pergi dari gadis itu.
"Astaga aku lupa menanyakan nama pria itu." Ucap gadis itu menepuk keningnya.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kesembilan aku 😍
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
__ADS_1
^_^