Terjerat Dengan Suami Palsu

Terjerat Dengan Suami Palsu
MELARIKAN DIRI


__ADS_3

πŸ’Œ TERJERAT DENGAN SUAMI PALSU πŸ’Œ


Β 


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


.


KEDIAMAN FREY MILES.



Selama tiga hari Yara memulihkan kondisi kakinya yang terluka karena perbuatan istri dari tuan Frey. Lukanya kembali berdarah karena Yara tidak bisa diam. Bagaimana ia bisa diam, Yara sudah mencoba sekuat tenaga agar bisa bertemu dengan lelaki yang menjadi suaminya itu. Namun, tak seorang pun mengizinkannya.


Di saat seperti inilah Yara mencari-cari cara agar ia keluar dari kamar ini. Dari pengamatannya, diluar selalu dijaga dengan ketat. Namun, pada jam makan malam diluar sangat lenggang. Kira-kira kurang sepuluh menitan. Yara mondar-mandir dengan gelisah di kamarnya. Ia mengepalkan tangannya berkali-kali. Memegang dagu, menjepit bibir, menggigit jari, berkacak pinggang, melepas lagi dengan frustasi. Hampir semua gerakan kebingungan ditunjukkan Yara.


Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalanya. Yara pun langsung melihat ke arah jendela kamar yang menghadap ke arah taman belakang. Ia langsung menghampiri jendela itu. Menimbang jarak antara daun jendela dengan tanah.


"Kurang lebih enam meter. Apa aku bisa meloncat ke bawah?" gumam Yara, matanya memicing menatap ke bawah. Sepersekian detik Yara menggeleng.


"Tidak mungkin, bisa patah kakiku. Aku harus mencari sesuatu agar aku bisa turun ke bawah."


Dengan sigap, Yara mengambil tiga sprei yang ada di dalam lemari. Yara mengikatnya agar bisa ia gunakan.


"Tidak sia-sia kamu disekolahkan Yara." Yara tersenyum memuji dirinya sendiri.


Tepat jam makan malam, Yara melancarkan aksinya. Tak perlu waktu lama, Yara sudah berdiri di pinggir jendela dan mengambil ancang-ancang. Β Ia turun perlahan dengan bantuan sprei yang ia ikat dari atas. Setelah kira-kira tinggal sedikit lagi berpijak dengan tanah, Yara melompat. Merayap sebentar, mengambil napas, dan mengamati sekitar. Setelah dirasakan aman, Yara mengendap-endap memutari tembok rumah mewah itu.


Di saat yang sama, asisten rumah tangga datang membawa makan malam untuk Yara. Saat membuka pintu kamar, wanita paruh baya itu mendapati kamar kosong dengan tiupan angin dari jendela yang terbuka.


"Gawat, wanita itu kabur!"


Tanpa pikir panjang wanita itu berlari keluar kamar untuk menekan alarm rumah. Alarm di dalam kediaman miles tiba-tiba berbunyi, pertanda ada sesuatu terjadi di dalam rumah itu. Para pengawal dengan cepat berpencar mencari tahu apa yang terjadi di kediaman Miles.

__ADS_1


Jantung Yara berdegup kencang saat mendengar suara alarm yang terdengar berulang-ulang itu.


"Shittt!!!!!" Yara mengumpat kesal. Ia berlari cepat ke arah belakang dan menjauh dari rumah itu. Ia sedikit menunduk. Takut jika pengawal melihatnya. Kali ini ia harus berhasil kabur dari rumah ini. Yara tidak akan menyerah. Ia berlari cepat dan bersembunyi di balik pohon. Jantungnya terpukul keras saat melihat dua orang pria berlari masuk ke dalam rumah. Yara Mengatur napasnya yang semakin memburu karena takut. Yara memejamkan matanya, berharap kali ini kebaikan berpihak kepadanya.


Sementara Frey yang sedang menikmati makan malamnya mengernyit saat mendengar bunyi alarm yang terdengar memekakkan telinga itu.


"Apa yang terjadi?" Ucapnya dingin dengan tangan mengepal kuat.


Wanita paruh baya tergopoh-gopoh berlari seraya membungkukkan badan. Dia tak berani menatap tuan Miles. Dan bersamaan itu pula, anak buah Frey masuk dan masih bertanya-tanya apa yang terjadi di kediaman Miles.


"Aku tanya, apa yang terjadi?" kali ini perkataan Frey begitu tegas. Tatapannya begitu mengintimidasi.


"Ma-maafkan saya tuan, nona Yara berhasil kabur dari rumah." Akhirnya wanita itu berhasil mengatakannya. Walau di awal ia begitu takut sekali.


"Apa?" Suara Frey terdengar menggema di dalam ruangan. "Kenapa dia bisa kabur?" Gigi Frey bergesekan menahan geram.


"Maaf tuan. Sebelumnya nona Yara ingin bertemu dengan anda. Beliau berjanji akan melunasi semua utangnya asalkan dia pulang."


"Dasar tolol, bodoh..." Frey menggebrak meja kuat-kuat, membuat sup jamur dalam mangkuk berguncang dan sebagian kuahnya ruah ke atas meja.


"Kau mau cari mati?" Desis Frey dengan mata menyalang tajam.


"....." Diam tidak ada sahutan. Wanita itu benar-benar ketakutan.


Frey menarik napas dengan mata terpejam. "Saya tidak mau tahu, temukan dia sekarang?" teriak Frey dengan wajah gahar. Rahangnya mengeras saat mengetahui wanita yang dinikahinya berhasil kabur dari rumah.


"Baik tuan." ucap anak buah Miles dengan tegas. Mereka dengan sigap mengarahkan anak buah yang lainnya untuk berpencar mencari keberadaan Yara.


"Kau akan berada di tanganku. Aku tidak akan membiarkanmu kabur begitu saja, sebelum kau berurusan denganku!" Desis Frey dengan mata menyalang tajam. Ia mengepalkan tangannya begitu kuat lalu tersenyum jahat.


"Kau akan menderita. Lihat saja, kau akan mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatan ayahmu." matanya berkilat. Senyum di bibirnya semakin keji.


SEMENTARA ITU.


Yara kembali bergerak untuk bergeser tempat. Ia mencari posisi aman untuk bersembunyi, agar tidak terlihat anak buah Frey. Sama sekali ia tidak perduli lagi dengan luka kakinya. Dia hanya ingin kabur dari sini. Ia kembali sedikit menunduk dan berlari lagi.

__ADS_1


Yara hanya butuh jalan raya atau orang lain saat ini. Tapi ia tidak menemukan siapa-siapa yang bisa membantunya. Tempat apa ini? dan sekarang dirinya berada dimana? Kenapa ia hanya bisa menemukan pepohonan saja. Apakah tanah ini milik tuan Frey juga? pantas saja dengan mudahnya ia mengeluarkan uang untuk membantu perusahaan Wyanet.


"Siapa saja! ada orang di sini, aku mohon tolong aku!" Pinta Yara frustasi dan terus memohon dalam hati. Ia hanya terus berlari. Rambutnya berkibar kebelakang. Bahkan ia melompat saat melihat sesuatu yang menghalangi jalannya.


Sementara anak buah Miles berpencar mencari Yara. Seketika hujan mengguyur dengan derasnya. Petir menggelegar dan terus bersahut-sahutan di atas sana. Yara tidak perduli yang ia butuhkan hanya pulang. Ia menangis lagi.


"Mom, dad, aku ingin keluar dari tempat ini." Napas Yara semakin memburu. Air matanya bercampur dengan air hujan yang semakin deras membasahi bumi.


Hingga Yara menemukan gubuk yang sangat sempit dan kecil yang hanya terdapat atap melingkar dan satu kursi yang telah usang. Gubuk tua, bahkan pintunya sudah tidak bisa di tutup lagi. Yara masuk ke dalam gubuk itu. Pertolongan pertama berteduh dari hujan yang sedari tadi turun dengan derasnya. Yara memeluk dirinya sendiri. Napasnya terdengar tidak stabil, ia mulai kedinginan, bibirnya gemetar. Semua pakaiannya basah. Yara menarik napasnya yang terbata-bata. Matanya seketika berkaca-kaca. Hidungnya perih dan dadanya sesak. Ia takut dan sangat takut. Ia tidak pernah merasakan seperti ini. Bahkan orangtuanya tidak pernah membiarkannya sendiri. Heekkksss....Heeekkkssss Yara menangis dalam diam di sana.


Di mulutnya hanya terus menyebut dua nama dengan suara parau dan gemetar. "Mom...Dad..."


Air mata Yara terus tergelincir membasahi pipinya. Hingga Ia tidak bisa bernapas dengan baik. Ia sampai menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Dia hanya berharap. Semoga anak buah Miles tidak bisa menemukannya. Yara hanya ingin pulang. Masalah utang, ia tidak perduli lagi.


Rintik-rintik hujan tidak terdengar lagi di atap gubuk tua itu. Hujan yang sedari tadi turun dengan derasnya, kini benar-benar berhenti. Yara bangun dari duduknya untuk melanjutkan pelariannya. Namun langkahnya mendadak berhenti. Ia mendengar suara langkah mendekati gubuk itu.


Yara menutup mulutnya. Ia melihat ke kiri dan ke kanan mencari jalan pintas untuk kabur. Langkah kaki suara sepatu yang semakin mendekati gubuk semakin terdengar. Mereka menaiki tangga kayu sampai gubuk itu terasa bergetar. Jantung Yara semakin terpukul kencang. Dengan langkah mengendap-endap, Yara menemukan jalan lewat belakang. Belum lagi melangkah, anak buah Miles sudah mendobrak pintu.


"Berhenti di sana! atau kau ku tembak!"


Reflek Yara menegakkan punggungnya dan mengangkat tangannya ke atas, menandakan dirinya menyerah. Begitu menyadari seorang lelaki sudah mengarahkan pistol ke arahnya.


Pria yang memakai pakaian serba hitam itu, menggoyangkan senjatanya dengan gestur mengusir. Yara menahan napas dengan pandangan nanar sambil terus menggelengkan kepalanya.


"Cepat jalan! Atau kepalamu meledak saat ini juga." Pria itu mengarahkan pistolnya ke arah pelipis Yara.


Yara gemetar mendengar ancaman itu. Memejamkan matanya sesaat, air matanya terjatuh saat menutup matanya. Lalu memilih pasrah. Ia melangkah pelan dan tangannya masih ke atas. Harapannya hilang lagi, entah apa yang akan terjadi pada hidupnya.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kesembilan aku 😍


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.

__ADS_1


^_^.


__ADS_2