Terjerat Dengan Suami Palsu

Terjerat Dengan Suami Palsu
MENEBUS KESALAHAN


__ADS_3

💌 TERJERAT DENGAN SUAMI PALSU 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Saat ibu Brigitta meninggalkan kamar, Yara dengan cepat mengunci pintu dari dalam. Ia bersandar di daun pintu. Yara masih memegang dadanya. Tatapan dan wajahnya berpindah dan terus menggeleng. Ia masih belum percaya dengan semua ini. Yara menarik napasnya dalam-dalam. Mencoba menahan perasaan yang sulit ia jelaskan.


"Bagaimana Frey sialan itu menutupi indentitasnya saat di hari pernikahan mereka?"


"Apa motifnya?"


"Apa dia memang sudah tidak waras? Ahhhhh...."


Yara kembali terbayang dengan wajah lelaki tua yang dinikahinya beberapa minggu yang lalu. Ini seperti mimpi buruk untuknya. Yara menggeleng, berusaha menepis bayang-bayang pria tua itu yang terus melintas dalam pikirannya.


"Heeeeh." Yara m*ndesah. Perasaannya kembali. Ia mencoba menstabilkan napas yang semakin naik turun tak beraturan. Hal yang paling menyakitkan baginya.


"Apakah daddy dan mommy tahu bahwa pria yang dinikahinya bukanlah lelaki tua seperti yang daddy katakan?"


Ia mendongak ke atas sambil memejamkan matanya. Ia memukulkan bagian belakang kepalanya ke pintu.


"Apa jangan-jangan, ada rahasia besar yang tidak aku ketahui?"


Yara berusaha bernapas dengan mulut terbuka. Ia sangat takut. Ia sangat kecewa pada keadaan. Jantungnya terus berdetak dengan sangat kencang. Sesak yang menghimpit dadanya tidak bisa ia tutupi.


"Ini terlalu sakit? Aku benar-benar sudah terjerat dengan pernikahan ini." Lirih Yara.


"Mom, apa yang harus Yara lakukan? Yara semakin tidak mengerti dengan semua ini."


Yara pun menarik napas dalam-dalam. Menahan sesak yang teramat sangat. Ia menguatkan hatinya dan kembali berucap.


"Aku akan mencari tahu sendiri?"


Yara pasti bisa melewati semua ini. Yara harus bangkit dan harus lebih kuat. Menunggu sampai pria itu mengatakan semuanya. Walau pernikahan ini hanyalah sementara. Tapi ia percaya, Frey akan melepaskanya dari jeratan pernikahan ini.


⭐⭐⭐⭐⭐


Jam sudah menunjukkan pukul 23.00 wib. Yara terus gelisah. Ia berusaha memejamkan matanya, namun tidak bisa. Yang dia lakukan hanyalah membolak-balik kan badannya ke kiri dan ke kanan. Ia duduk lagi, tak berapa lama ia menjatuhkan tubuhnya lagi. Yara masih melakukan aktivitas gelisah di tempat tidur. Memeluk bantal guling dan melepaskannya lagi.


"Aaarggghh" Yara mengacak rambutnya sendiri dan duduk di tepi ranjang tempat tidurnya.


"Aku tidak bisa tidur dan terus memikirkan masalah ini."


"Apakah aku harus menemuinya dan bertanya langsung kepdanya?" Ucapnya dengan bibir mengerucut.


Tadi ia sempat mendengar pembicaraan Ibu Brigitta dengan pelayan lain bahwa Frey masih lembur di ruang kerjanya.


Wajah Frey tiba-tiba terlintas dibenaknya. Yara bergidik ngeri. Dengan cepat ia menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Ahhhh....Yara benar-benar frustasi. Ia bangun dan mondar-mandir dengan gelisah di dalam kamar. Ia masih mencoba mengerti. Semakin ia mencoba memenangkan hatinya, Yara semakin gelisah.


"Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus bertanya langsung kepadanya." Tiba-tiba Yara memantapkan hatinya menemui Frey.


"Tidak ada yang harus ditakuti di sini. Setidaknya aku minta penjelasan darinya. Berani-beraninya dia menipu keluarga Waynet."


Tidak ingin menunggu lagi. Yara melangkah keluar dari kamarnya. Ia ingat ruangan dimana tuan Miles menghabiskan waktunya bekerja. Dengan hembusan napas panjang Yara berjalan pelan menuju ruangan itu. Ia melangkah sambil mengedarkan pandangannya. Langkah kakinya seiring dengan bunyi detakan jantungnya yang ikut memukul cepat. Ujung-ujung tangannya tiba-tiba terasa dingin. Padahal ia sudah bersiap untuk bertemu dengan pria yang sekarang sudah menjadi suaminya itu. Namun, kenapa perasaan ini aneh....Astaga apa yang aku pikirkan? Yara menarik napas dalam-dalam. Lalu mengembuskannya lewat mulut untuk menghilangkan rasa gugupnya. Meski demikian debaran di dada bukannya bertambah pelan. Namun, bertambah kencang.


Yara menghentikan langkahnya tepat di depan pintu ruang kerja Frey. Ia mengangkat tangan untuk mengetuk pintu itu.


TOK TOK TOK!


Frey menatap sekilas ke arah pintu. "Masuk!" lalu menunduk serius lagi dengan tabletnya.


Pintu terbuka. Jantung Yara langsung terpukul kencang saat melihat pria itu begitu serius menatap berkas yang ada di atas meja. Ia menggunakan kaos polos berwarna biru hingga menampilkan postur tubuh yang tegap dan atletisnya.


"Siapa sebenarnya dia? apa hubungannya dengan Wyanet? Bagaimana mungkin ia dengan mudahnya membantu perusahaan Wyanet jika tidak ada maksud dan tujuannya?"


"Tapi jika ia memang mempunyai niat baik untuk membantu keluarganya, kenapa ia harus merahasiakan identitasnya?"


Yara maju perlahan dan berhenti tidak jauh dari pria yang masih belum menyadari siapa yang masuk ke ruangannya.


"Kopinya letakkan saja di atas meja." ucap Frey tanpa memandang siapa yang berdiri di depannya. "Apa wanita itu sudah pulang?" Tanya Frey lagi.


"Wanita siapa maksudnya?" Yara terus bermonolog dalam hati sambil terus memperhatikan Frey.


Karena tidak ada jawaban, Frey mengangkat wajahnya dan menatap lurus ke depan. Pandangan mereka bertemu.


DEG!


"Heuh? Siapa yang memintamu ke sini?" tanya Frey menatap Yara dari atas sampai ke ujung kaki. Ia tadi berpikir bahwa yang masuk itu adalah pak Bram.


"Tidak ada. Saya datang ke sini untuk menemui anda." ucap Yara memberanikan diri.


Frey mendengkus, "Untuk apa?"


Yara mencengkram tangannya sendiri. Kalimat itu seperti tertampar untuknya. Rasa gugupnya membuat jantungnya memukul tidak stabil. Ia bernapas dengan kecepatan dua kali lipat dari biasanya. Tatapan lelaki itu begitu mengintimidasinya.


"Saya...." Kalimat itu menggantung.


Frey meletakkan pulpen sedikit kasar. Dengan suara bariton yang mendominasi. Frey berkata dengan pelan dan dipenuhi dengan intonasi yang penuh keseriusan. "Apa kau datang ke sini untuk memastikan kejadian tadi?"


Wajah Yara terasa panas. Ia masih diam tidak menjawab. "Kenapa setiap aku bertemu lelaki ini, nyaliku langsung menciut. Oh my God, ini sangat memalukan..."


Karena Yara tidak menjawab. Frey bangun dari duduknya dan melangkah mendekat kepada Yara. Ia bersandar, dengan posisi setengah duduk di atas meja, menatap Yara yang terus menunduk.


"Katakanlah apa yang ingin kau ketahui, nyonya Miles?"


Deg!


"Nyonya Miles?"


Yara meremas tangannya dengan erat. Ia seperti orang bodoh jika berada di dekat lelaki ini. Yara membuang napas singkat. Tak ingin lama-lama terperangkap dengan situasi ini, Ia pun mengangkat wajahnya menatap ke arah Frey.

__ADS_1


"Apa yang kau inginkan dariku?"


Alis Frey menukik tajam. "Apa yang aku inginkan darimu?" dahinya mengernyit.


"Ya, pasti ada yang kau inginkan dariku. Kau dengan mudahnya membayar semua utang perusahaan Wyanet. Apalagi jika bukan ada sesuatu dari itu."


Frey tersenyum samar, Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, lalu berkata.


"Kau ingin tahu?"


"Ya...aku ingin tahu semuanya." Yara semakin memberanikan diri untuk menatap Frey.


"Aku hanya ingin melihatmu menderita."


DEG!


Yara terdiam kaget, jantungnya berdegup kencang. Kalimat itu seperti terhantam di dadanya. Ditambah hembusan napas Frey semakin membuatnya takut. Mata pria itu begitu tajam mendominasi. Seakan memenjarakannya dengan situasi ini.


"Apa maksudmu?"


Frey menatap kebawah sambil mengusap keningnya sekilas. "Aku ingin membuatmu menderita sebagai wujud pembalasanku kepada Erland Wyanet."


Mendengar kalimat itu. Hati Yara tercabik-cabik. Layaknya tangan besar yang meremas hancur hatinya dengan sengaja. Ia diam membatu di sana. Meremas tangannya begitu kuat karena gugup.


"Wujud pembalasan? Aku semakin tidak mengerti maksudmu."


Frey tersenyum kecil melihat ekspresi wajah terkejut Yara. Ia merubah posisinya, memasukkan tangannya ke dalam kantong celananya. "Aku membenci Erland. Jadi aku menggunakanmu untuk membalaskan dendamku dengan cara menyakitimu."


Emosi Yara tersulut. "Iya? tapi kenapa?" Suaranya sudah memenuhi ruangan itu. Yang dia tahu, daddy-nya begitu baik dan penyayang.


"Karena Erland sudah melakukan kesalahan besar. Dia menghilangkan nyawa seseorang dan membuatku kehilangan sosok seorang ayah."


DEG!


Yara menutup mulutnya. Ia memundurkan langkahnya ke belakang, kepalanya menunduk dan menggeleng pelan, ia tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Ekspresi wajahnya menegang kaku.


"Itu tidak mungkin." Ucap Yara dengan bibir gemetar. Suara bahkan napasnya tertahan di dada. Tercekat di sana. Yara menggeleng kepalanya dengan cepat. Napasnya yang terasa sesak. Bagaimana bisa lelaki yang ia hormati tega melakukan itu.


"Apa perlu aku memberikan buktinya agar kau percaya? Ayahmu menggunakan cara kotor untuk mendapatkan sesuatu yang ia inginkan."


Jantung Yara semakin terpompa lebih kencang, ia seperti tidak sanggup untuk berdiri. Yara masih tidak percaya dengan semua ini. Ia menatap nanar ke arah Frey dengan mata berkaca-kaca.


Dengan bibir gemetar Yara berucap. "Apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahan daddy?"


Duarrr.....badai petir terjadi di part ini.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kesembilan aku 😍


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.

__ADS_1


^_^.


__ADS_2