Terjerat Dengan Suami Palsu

Terjerat Dengan Suami Palsu
PERKELAHIAN


__ADS_3

💌 TERJERAT DENGAN SUAMI PALSU 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


PAGI HARI MENYAPA YARA.


Ketika matahari belum beranjak dari peraduannya. Pikirannya sudah terbangun dari tidur lelapnya tapi tidak dengan tubuhnya. Suasana pagi sebenarnya dalam keadaan sedikit mendung bahkan sempat beberapa menit terjadi gerimis dan sekarang secara perlahan mendung di langit mulai menghilang. Yara masih malas membuka matanya. Ia masih nyaman dengan tidurnya. Yara menyusuri seprei lembut.


"Apa aku berada di kamar kesayanganku? Kasur ini begitu nyaman dan tenang. Aahhhh...." Yara merasa ia sedang tidur di ranjangnya yang empuk di rumahnya. Ia tersenyum sendiri dengan mata terpejam. Tangannya menelungkup dan ia gerakkan untuk meraba area yang begitu lembut itu.


Yara pun perlahan-lahan membuka matanya. Mata Yara membulat penuh. Ia langsung mengerjap dan melihat sekitarnya.


"Ternyata ini bukan kasurku? tapi kenapa aku tidur di sini? Bukankah aku tidur di sofa?"


"Atau jangan-jangan?"


"Tidakkkkk mungkin!!!!!"


Mata Yara terbelalak dengan mulut terbuka.


Yara mencoba mengingat. "Apa mungkin aku tidur sambil berjalan?" Kemudian ia menggelengkan kepalanya.


"Tidak mungkin! Seumur hidup aku tidak pernah mengalami somnabulisme." Ucap Yara dengan yakin.


"Atau jangan-jangan..." Yara menangguhkan kalimatnya. Matanya terbelalak dengan mulut terbuka.


"Lelaki itu tidak bisa dipercaya. Dia saja Berani merenggut ciuman pertamaku. Bahkan dia seenaknya mengungkapkan perasaannya. Dia pikir aku akan percaya? Cih...aku bukan wanita bodoh!"


Yara mencoba mengingat lagi apa yang terjadi semalam. Ia mengerucutkan wajahnya seakan meringis. Dengan cepat Ia memeriksa bagian tubuhnya. Pakaiannya lengkap sempurna. Baju tidur panjang tak terlihat sobek atau di buka paksa. Yara mengeluarkan napas lega sampai kedua bahunya ikut turun.


Tak puas dengan bukti pertama, Yara memejamkan mata. Meningkatkan Indra perabanya. Ia mencoba mendeteksi bila mana ada sisa-sisa rasa sakit pada aktivitas yang dicurigainya. Yara memfokuskan pikiran di setiap bagian sensitif tubuhnya. Tidak ada yang dirasanya sakit, atau bekas stempel merah yang tertinggal di bagian dadanya.


"Ya, Tuhan. Apa yang aku pikirkan?"


Yara merutuki kebodohannya. "Bagaimana mungkin aku bisa berpikir seperti itu. Jangan gila Yara. Pria arogan itu tidak mungkin melakukannya, bisa kiamat dunia ini."


Yara mencoba meyakinkan dirinya. Mengingat begitu jahatnya Frey Miles. Lelaki itu bahkan tidak punya hati.


Ia menggeleng dan mencoba mengembalikan pikirannya. Membayangkan wajah Frey saja membuatnya merinding ketakutan. Yara memalingkan wajahnya lalu melihat ke arah jam.


"What! ya Tuhan!! Aku terlambat menyiapkan sarapan!!!!" Wajah Yara seketika panik. Ia meremas rambut di kepalanya dan segera bersiap. Yara segera melompat dari tempat tidur dan melangkah ke kamar mandi.


⭐⭐⭐⭐⭐


Saat melihat Jenifer tiba-tiba muncul di dapur, Brigitta terkejut. "Nona, apa anda butuh sesuatu?"


Jennifer tersenyum angkuh sambil membengkokkan bibirnya. "Hmm. Aku butuh sesuatu."


"Apa itu non, agar aku bisa mempersiapkannya."


"Aku butuh kamu,"


"Heuh? Saya non?" Brigitta menunjuk ke dirinya sendiri.


"Iya," Jennifer mencondongkan tubuhnya dan berbisik. "Aku ingin kau melakukan sesuatu kepada wanita sialan itu."

__ADS_1


Brigitta mengernyit dan sedikit menjauhkan tubuhnya. "Apa maksud anda nona?"


"Saya ingin kau memberikan cairan ini ke minuman Yara." Jennifer memberikan sesuatu ke tangan Brigitta.


Namun dengan cepat Brigitta menolaknya. "Saya tidak bisa melakukan itu. Nyonya yara adalah kesayangan tuan Miles."


Jennifer bersedekap dan menatap sinis ke arah Brigitta. Ia menyandarkan bokongnya di meja panjang yang ada di dapur. "Kesayangan Frey?" Jennifer tertawa hambar. "Sejak kapan wanita sialan itu menjadi kesayangan Frey?" Sorot matanya berubah tajam. Membuat Brigitta ketakutan.


"Yara adalah Istri tuan Miles jadi wajar saja beliau menjadi kesayangannya."


"Jaga mulutmu! Jangan sampai aku mengadu ke aunty Victoria. Kamu bisa dipecat! Ingat itu."


"Pecat bagaimana maksud anda non?" Brigitta semakin ketakutan.


Jennifer tertawa kecil, ia begitu menikmati perubahan wajah Brigitta. "Jika kau tidak mau di pecat, sekarang lakukan perintahku."


Brigitta menggeleng cepat. "Saya tidak bisa melakukan itu."


"Kau tahu, aku tidak ingin mengulang ucapanku."


"Saya tidak mau, nona." Brigitta mundur beberapa langkah ke belakang.


Jennifer begitu kesal saat melihat sikap Brigitta yang tidak mau mendengarkannya. Dengan emosi ia mengambil air dan...Gyyyyyyuuuurrrrrr!


Tubuh Brigitta sudah basah oleh air. Brigitta terkejut ketika mendapati tubuhnya basah.


"Kau terlalu banyak bicara. Kau hanya menjalankan perintahku saja. Apa susahnya?" Ia menggeram dengan mata menyalang tajam.


"Apa yang anda lakukan nona? anda benar-benar gila."


"Aku bisa melakukan lebih dari ini. Jadi jangan bicara, apalagi membantahku. Kau mengerti!" Ancam Jennifer. "Dan ingat satu hal lagi, masalah ini hanya aku dan kamu yang tahu. Jika sampai Frey tahu, kau akan tahu akibatnya."


Brigitta menelan salivanya begitu susah. Baru kali ini, ia mendapat perlakuan tidak enak selama bekerja dua puluh tahun di kediaman Miles. Bahkan seluruh keluarga ini menganggap Brigitta seperti keluarganya sendiri.


"Apa yang kau lakukan?"


Jennifer berbalik dan melihat Yara mendekat ke arah Brigitta.


"Ibu tidak apa-apa?" ucapnya lagi kepada wanita paruh baya itu.


"Akhirnya pahlawan datang juga." Jennifer tersenyum sambil tepuk tangan.


Yara melemparkan tatapan tajamnya kepada Jennifer. "Aku tanya, apa yang kau lakukan kepada ibu Brigitta?"


"Menyadarkan wanita tua ini agar tahu posisinya apa di rumah ini. Pembantu saja sudah berlagak tuan rumah."


"Jaga ucapanmu..."


"Apa???" Jennifer mengalihkan pandangannya, ia menatap Yara dengan tajam. "Kau...! " Jennifer mengambil wadah air dan menyiramnya ke tubuh Yara juga. "Jangan ikut campur. Aku tidak pernah bicara denganmu!" sengit Jennifer menatap tajam, Ia tidak perduli dengan tubuh Yara yang sudah basah.


"Dasar wanita sinting!" kata Yara mengeraskan rahangnya, terlihat jelas kilatan kemarahan terpancar dari wajahnya. Ia begitu kaget ketika air membasahi tubuhnya. "Apa karena kau kesayangan Victoria, kau seenaknya menindasku? Hmmm..." Yara mengangkat dagunya, seakan menunjukkan kemarahannya, ia melangkah maju, membuat Jennifer mundur kebelakang. Tangan kanannya memegang spatula untuk mengancam Jennifer.


"Aku tidak takut, kenapa?" Jennifer membalas dan maju untuk mendorong tubuh Yara hingga tubuhnya terdorong dan...


PRANG...TANG...TING...TUNG...


Semua barang yang ada di dapur terjatuh begitu saja. Tak terkecuali air teh yang baru dibuat ibu Brigitta tumpah dan mengenai tangan Yara.


AAAAHHHHHH


Yara mengeluh kesakitan. Dengan cepat ia bangkit dan menjambak rambut Jennifer dengan waktu yang lama. Kepala keduanya saling beradu, tak menyisakan jarak di antara tubuh mereka.

__ADS_1


Ibu Brigitta terkejut. "Astaga.... hentikan nona Jennifer. Cukup!!!" Ibu Brigitta berusaha memisahkan Yara dan Jennifer. Pembantu lainnnya tidak bisa berbuat apa-apa saat melihat keributan di dapur. Mereka tidak berani memisahkan. Ibu Brigitta saja yang sudah menjadi kepala dapur tak mampu melakukannya.


Sementara Jennifer, Ini benar-benar kesempatan baik untuknya. Tangannya begitu konsisten menarik rambut Yara, kaki keduanya terlihat menendang-nendang udara untuk menyakiti lawan sekalian membuat jarak.


"Cukup nona. Aku mohon, tuan Miles bisa marah jika melihat ini!" Ibu Brigitta mencoba memisahkan tubuh mereka.


Mereka terlepas sebentar saja, namun Jennifer kembali menyerangnya. Mereka menjadi tontonan para pelayan yang ada di kediaman Miles.


"Apa yang kalian lakukan?" Tiba-tiba suara bariton terdengar berat di sana. Ia begitu terkejut saat mendengar suara keributan dari arah dapur.


Mendengar panggilan dari suara yang tidak asing, sontak mereka terkejut.


Dengan napas yang memburu karena masih emosi, mereka berbalik dan melihat Frey sudah berdiri di belakang mereka.


Yara mengedarkan pandangannya, ia menggigit bibir bawahnya, menyadari perkelahiannya dengan Jennifer menjadi tontonan seluruh pelayan yang ada di rumah ini.


Wajah mereka nampak berantakan, kulit kepala salah satu di antara mereka luka, muka keduanya lecet-lecet karena terkena cakaran kuku.


Tanpa sadar Billy berlari mendekati Yara dengan raut wajah cemas. "Yara, apa yang terjadi?" Billy sendiri begitu terkejut saat mendengar ada keributan.


Ibu Brigitta terkejut saat melihat sikap Billy yang berani menyentuh istri tuan Miles. Ia sudah memberikan kode tapi Billy tak juga mengerti.


Billy memeriksa luka Yara, ada bekas cakaran tergores di wajahnya dan tangannya juga begitu.


"Nanti kita obati, lukamu banyak sekali." Kata Billy memberikan perhatiannya.


"YARA! " Suara Frey terdengar begitu tegas dan berat di sana. Ia sudah tidak tahan lagi.


Brigitta dan pelayan lainnnya langsung menundukkan kepala. Menyadari akan itu, Billy pun reflek menurunkan tangannya dari wajah Yara.


"Astaga apa yang aku lakukan?" Billy merutuki kebodohannya. Ia tidak berani mengangkat wajahnya saat pancaran mata Frey menunjukkan kemarahan.


Melihat kemarahan Frey, Jennifer pun angkat bicara. "Frey, dia yang mencari-cari keributan. Dia bahkan berani mengancamku." Ucap Jennifer membela diri.


Mata Yara membulat mendengar perkataan Jennifer, napasnya tertahan ketika melihat senyuman Jennifer seakan mengejeknya.


Frey tidak menanggapi Jennifer sama sekali. "Sekarang ikut aku!" Kata Frey menatap Yara. Frey langsung maju nak menarik tangan Yara.


"Frey, apa kau mendengarkanku?" Kata Jennifer dengan kesal. Awalnya ia menduga Frey akan memegang tangannya.


"Aku tidak bisa." Yara angkat bicara. Ia sedikit protes karena ia belum menyiapkan sarapan Frey.


"Ibu Brigitta, bereskan semua kekacauan ini." tegas Frey menekan setiap kalimatnya dan terus menarik Yara hingga memunggungi Jennifer.


Frey membalikkan badannya dan terus menarik tangan Yara menuju ruang kerjanya. Dahi Yara mengerut, ia terus melihat tangannya di tarik oleh Frey.


"Lepaskan aku, tanganku sakit." Keluh Yara melihat pergelangan tangannya sudah memerah.


"Masuk!" ucap Frey datar saat ia membuka kenop pintu.


Yara hanya pasrah, ia pun masuk ke dalam ruangan itu.


BRUKKKK!


Yara terkejut saat Frey menutup pintu dan menguncinya.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kesembilan aku 😍

__ADS_1


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^.


__ADS_2