Terjerat Dengan Suami Palsu

Terjerat Dengan Suami Palsu
DISELIMUTI KEBAHAGIAAN


__ADS_3

💌 TERJERAT DENGAN SUAMI PALSU 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Hari terakhir mereka di kota Tokyo. Yara sudah membuat jadwal pagi sampai siang ini mereka akan berburu oleh-oleh. Tak lengkap rasanya tanpa membawa oleh-oleh khas nagara ini untuk di bawa pulang. Dengan antusias, Yara menarik tangan suaminya. Seika membawa mereka ke pasar Ameyo.


"Tempat ini menjadi nomor satu rekomendasi para turis yang ingin berbelanja oleh-oleh khas Jepang, nyonya Miles." Ucap Seika memberitahu. Ia berjalan beriringan dengan Yara dan Frey.


"Benarkah?" Wajah Yara berbinar bahagia sambil memeluk tangan suaminya.


"Semua barang, termasuk pernak-pernik khas Jepang ada di sini dan kualitasnya tidak diragukan lagi. Anda pasti menyukainya." kata Seika pemandu wisata Yara dan Frey.


"Terima kasih, Seika. Kau sudah banyak membantu kami menikmati keindahan di kota ini."


Seika hanya tersenyum mengangguk. Itu memang sudah tugasnya. Ia akan setia menemani pasangan ini kemana pun mereka inginkan. Seika selalu membawa mereka menikmati keindahan nagara sakura ini. Seika dipercaya karena ia bisa menguasai banyak bahasa. Ia keturunan dari negara A juga dan Ia sudah menetap di Jepang selama dua puluh tahun.


"Sayang, tidak apa-apa kan aku beli oleh-oleh banyak. Aku ingin membeli oleh-oleh untuk semua pelayan di rumah. Termaksud itu ibu Brigitta dan Billy. Pasti mereka suka." Ucap Yara seperti anak kecil. Ia memeluk tangan suaminya dengan erat.


Frey tersenyum, ia mencubit lembut hidung Yara. "Jika itu yang membuatmu bahagia, semuanya kita bawa pulang." Kata Frey terkekeh sambil mencium pelipis istrinya.


"Hahahaha." Yara tertawa sambil menutup mulutnya." Yara semakin mengeratkan pelukan tangannya di tangan Frey. Sementara Seika tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Musim semi menjadi yang paling menyenangkan. Karena di musim ini suhu yang dingin sudah berubah menjadi lebih hangat dan nyaman bagi orang yang ingin berjalan-jalan dan menikmati bunga sakura yang bermekaran. Yara juga tidak harus repot-repot mengenakan pakaian tebal. Ia memilih merek MILLE hadiah dari Frey. Dress bertema musim semi terbaik. Ia mengenakan dress yang bermotif floral berwarna tosca. Bahan jacquard mix brukat yang nyaman di kulitnya. Dengan resleting belakang dan aplikasi kancing belakang leher, dress regular yang benar-benar nyaman digunakan untuk berburu oleh-oleh hari ini.


Di sana terdapat rentetan toko-toko di sepanjang lorong jalan selebar lima meter di Ameyo. Yara memasuki setiap toko itu. Ia sampai bingung harus memilih oleh-oleh yang mana. Mulai dari kaos anak-anak hingga dewasa bertuliskan Tokyo menggunakan huruf kanji, mainan anak-anak, kipas bercorak bendera Jepang, hingga makanan ringan khas Jepang tersedia di pasar tersebut. Beberapa pedagang di Ameyo meneriakkan barang dagangan mereka dengan iming-iming harga murah sekaligus potongan harga untuk menarik para calon pembeli. Yara tersenyum melihat pemandangan itu.


Seika memilih menunggu di mobil. Ia tidak ingin mengganggu pengantin baru yang sedang di mabuk cinta itu. Yara dan Frey terus berjalan di sana. Mereka masuk ke toko yang menjual dompet dan tas tradisional Jepang hingga patung-patung kucing juga di jual di toko itu. Karena tidak ada yang pas sesuai di hati, Yara keluar lagi dari toko itu.


Berbelok ke simpang jalan bagian kanan, satu toko menggelar barang dagangan berupa kimono untuk anak-anak dan dewasa dengan harga bervariasi dengan bahan yang lebih tebal. Yara tidak tertarik. Bibirnya mengerucut sambil menggeleng. Frey hanya tersenyum. Mereka berjalan santai menikmati terpaan angin. Saling bergandengan tangan seakan berbagi keintiman mereka. Menikmati hari terakhir mereka di sini.


"Mana yang bagus Frey, ini atau ini?" Yara menunjuk pakaian yang ada di tangannya.


"Karena tidak ada jawaban, Yara membalikkan badannya menatap Frey yang diam di sana.


"Frey kenapa menjawabku? Kamu capek?"


Frey menggeleng. Yara tambah dibuat bingung.


"Terus kamu kenapa?"


Frey menghela napas panjang. "Jangan memanggil Frey, sayang. Panggil suami atau sayang kek."


Yara menahan senyumnya saat melihat ekspresi wajah Frey. Ia mendekat dan memberikan ciuman singkat di pipi Frey. "Maafkan aku suamiku, jadi di antara yang aku pegang ini, mana yang bagus sayangku?" Yara mengangkat kedua tangannya, agar Frey bisa memilih.

__ADS_1


"Semuanya bagus."


"Jadi, aku ambil semua ya?"


"Hmm," Jawab Frey dengan gumam, ia membawa beberapa hasil buruan istrinya dan menghubungi Seika untuk membawa barang mereka ke mobil.


"Apa kau lapar? tadi pagi kau tidak menghabiskan sarapanmu." Tanya Frey memandang istrinya.


Yara melihat jam yang ada dipergelangan tangannya. Ternyata jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang. "Wah empat jam berbelanja rasanya masih kurang cukup. Kita mau makan apa?" Ucap Yara dengan bibir tersenyum sumringah.


"Bagaimana kalau kita makan mie ramen saja, kebetulan di persimpangan ada restoran Jepang yang menyediakan mie ramen."


"Boleh juga, dimana Seika? kita ajak juga bersama kita."


"Dia kembali mengantar oleh-oleh ke hotel yang penuh satu mobil. Nanti dia kembali lagi."


"Sebanyak itu? pasti Seika kerepotan." Yara terkekeh. Mereka pun melangkah saling bergandengan tangan menyebrang jalan menuju restoran Jepang yang khusus menyediakan mie ramen.


⭐⭐⭐⭐⭐


Setelah makan siang Frey membawa Yara mengunjungi Showa Memorial Park. Sebuah tempat yang terbaik di tengah kota untuk menikmati indahnya pemandangan bunga sakura saat bersemi.


"Indah sekali sayang, tolong ambilkan Fotoku!" Seru Yara berjalan menjauh dari Frey. Ia berpose di depan suaminya. Frey hanya tersenyum saat melihat tingkah istrinya.


"Mundur lagi sayang, agar bunga sakuranya terlihat." Pekik Yara dengan antusias. Frey hanya terkekeh, ia mundur seperti yang diperintahkan istrinya.


"Oke, satu dua tiga!"


Frey mengambil foto Yara dari handphonenya.


"Bagaimana sayang?" Teriak Yara dari jauh.


Frey hanya tersenyum sambil menunjukkan jempolnya kepada Yara, bertanda foto yang diambilnya bagus semua.


Frey berlari kecil menyusul istrinya,


"Kamu suka?" tanya Frey mengikuti langkah istrinya dari belakang.


"Suka sekali, tempat ini benar-benar indah sayang." ucap Yara takjub.


Frey lagi-lagi tersenyum bahagia. Ia mengecup punggung tangan Yara dengan lembut.


"Kalau kamu suka kita bisa datang kesini lagi bersama anak-anak kita nantinya." Kata Frey seraya membelai rambut istrinya dengan sayang.


"Benarkah?" Sahut Yara dengan sorot matanya yang berbinar.


Frey tersenyum teduh, istrinya benar-benar cantik, perasannya sangat bahagia saat ini. Sampai-sampai Frey tidak bisa menggambarkannya dengan kalimat indah.


"Kamu tidak lelah sayang, bagaimana kalau kita kembali ke hotel?"

__ADS_1


"Kita jalan lagi ya, sepertinya ada tempat indah lagi di sana! aku ingin ke sana."


"Dimana?" Tanya Frey mengernyitkan keningnya.


"Di sana!" Tunjuk Yara melihat keramaian orang.


"Oke, kita ke sana." ajak Frey memegang tangan istrinya.


Mereka melangkah beriringan. Butuh dua puluh menit mereka berjalan menuju kerumunan orang.


"Tempat apa ini?" Tanya Frey mengernyitkan keningnya, tangannya masih melingkar di pinggang istrinya, memeluknya dari samping.


"Tempat ini dikenal sebagai salah satu taman terindah di Jepang. Taman ini dikenal sebagai ladang gandum. Gandum ini merupakan bahan utama pembuatan mie soba yang terkenal di sini." Yara menjelaskan.


"Kamu sudah pernah kesini?"


"Tidak sih, aku hanya baca sebelum masuk ke sini. Sepertinya tempat ini banyak disukai orang juga." ucap Yara.


Mereka menyusuri jalan menuju jembatan gantung yang berada diketinggian pohon masih berada di area taman ladang gandum.


"Bagaimana kamu suka?" Tanya Yara.


Frey hanya mengangguk. Yara kembali memeluk suaminya, mereka berhenti di tengah jembatan menikmati keindahan tanaman hijau yang ada dibawah.


"Kamu gak lelah sayang?" tanya Frey mulai cemas, dari tadi mereka sudah berjalan lumayan jauh.


"Tidak, aku justru senang apalagi menikmati tempat indah seperti ini. Suasananya membuatku tenang." senyum Yara tidak mau lepas dari bibirnya.


"Aku mencintaimu." Ucap Yara berbisik.


Frey tertegun sesaat saat Yara akhirnya mengungkapkan perasaannya. "Apa aku tidak salah dengar Yara?"


Yara tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Tidak sayang. Perasaan ini tulus untukmu. Aku benar-benar mencintaimu."


Frey terharu. Ia menatap istrinya dengan pandangan nanar. Frey benar-benar bahagia. Ia mengangkat dagu Yara. Frey mencium kening istrinya dengan penuh perasaan, beralih ke mata, hidung dan pipi, lalu mendaratkan ciuman ke bibir Yara. Ciuman yang dalam tapi tidak ada napsu. Ia tidak perduli jika orang melihat mereka. Frey benar-benar sangat bahagia.


Mereka melepaskan tautan bibirnya, saling menempelkan kening mereka. Yara mengatur napasnya, Ia memeluk suaminya.


"Aku berjanji akan menyerahkan hatiku untukmu." ucap Yara menatap suaminya dengan teduh.


"Aku sangat bersyukur akan itu Yara. Aku berjanji akan membahagiakanmu."


Yara menganggukkan kepalanya. Kebagian ini begitu lengkap saat Yara benar-benar membuka hatinya untuk Frey. Mereka kembali berjalan menyusuri jalan sambil menautkan tangan mereka. Frey mencium punggung tangan istrinya. Sesekali Frey meletakkan tangannya ke pinggang Yara dan mencium kepala Yara dengan sayang. Perasaan cinta yang begitu besar membuat hati mereka selalu di selimuti rasa bahagia.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kesembilan aku 😍

__ADS_1


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^


__ADS_2