
💌TERJERAT DENGAN SUAMI PALSU💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
.
SATU MINGGU KEMUDIAN.
Dalam perjalanan tenang, Yara membawa mobilnya dengan kecepatan sedang. Di temani dengan alunan musik jazz mengalun lembut yang dinyanyikan oleh Braxton Cook, yang berjudul When You Hold Me. Yara tersenyum sambil bersiul di sana. Lagu ini benar-benar sesuai dengan perasaannya saat ini.
Setelah perjalanan dua puluh menit di tempuhnya, akhirnya Yara tiba dikediaman Wyanet. Pagar kokoh terbuka otomatis saat Yara memberi klakson dua kali. Ia menarik rem tangan dan keluar dari mobilnya.
"Mom...dad..!" teriak Yara memasuki ruang keluarga. Tidak ada sahutan, yang menyambutnya hanyalah saudara perempuan ibunya yang tinggal bersama mereka.
"Selamat sore Yara sayang,"
"Selama sore Aunty. Dimana mommy?" Tanya Yara membuka sepatunya dan menaruhnya di sudut pintu.
"Renata lagi menyiapkan makan malam khusus buat kamu." Bisik Shanty dengan mengedipkan salah satu matanya.
Yara mengerutkan dahinya. "Mommy lagi masak?" tanya Yara memastikan pendengarannya. Tiba-tiba ia teringat, pembantu di rumah sudah dua hari tak pulang, karena ada saudara mereka yang meninggal.
Shanty tersenyum sambil mengangguk.
Yara mendesah. "Aunty tahu, mommy belum bisa capek. Jangan katakan, aunty membiarkan mommy masak sendiri." Kata Yara dengan alis terangkat sebelah.
Shanty terkekeh. "Iya, aunty tahu. Tadi aunty bantu kok. Sekarang kamu mandi dulu. Nanti kamu bisa menyusul ke dapur." Kata Shanty menepuk pundak Yara dengan lembut.
"Ehmmm, baiklah." Kata Yara tersenyum. "Mommy aku mandi dulu, iya." teriak Yara memberitahu.
"Mandilah sayang, habis itu langsung ke dapur, iya?" Kata Renata dari arah dapur. Ia masih duduk di kursi roda. Karena ia belum kuat untuk berjalan, setelah beberapa hari keluar dari rumah sakit karena tiba-tiba ? mendapatkan serangan jantung.
Yara berjalan ke arah kamar, sementara Shanty kembali ke dapur. Yara langsung membersihkan tubuhnya. Tak butuh waktu lama, Yara berjalan keluar dari kamar dengan pakaian kaos polos yang nyaman digunakan. Nampak santai dan terlihat segar.
"Aromanya membuat aku lapar, mom." Yara mendekat ke arah wanita paruh baya dan mencium pipi mommy-nya dengan sayang.
Renata tersenyum, "Kamu pasti lelah sayang, duduklah!"
"Tidak juga, mom. Dimana Daddy?"
"Daddy lagi ngangkat telepon sebentar. Itu, daddy-mu sudah datang."
"Dad..."
"Akhirnya orang yang ditunggu-tunggu sudah datang," Kata Erland tersenyum sambil meletakkan handphonenya di atas meja.
"Apa hari ini, ada yang spesial dad?" Tanya Yara menatap meja makan yang penuh dengan makanan.
__ADS_1
"Tidak juga." Kata Erland tersenyum sambil menatap istrinya sekilas. "Masaknya belum selesai, Shanty?" Tanya Erland kepada adik iparnya yang tengah sibuk memegang spatula.
"Sebentar lagi, duduklah dulu." Shanty sedikit menunduk lalu mematikan kompor.
Kemudian Shanty tersenyum membawa hasil karyanya di meja panjang itu. Satu porsi tumisan sayur dengan campuran brokoli, potongan wortel, kentang, pabrika merah, hijau dan kuning dan juga bawang bombai. Mengeluarkan asap yang mengepul dengan wangi bawang dan saus yang menggugah selera.
"Hmmmm, ini benar-benar wangi sekali, aunty." Ucap Yara menatap semua makanan yang tersaji di atas meja. Ia kemudian berjongkok memegang tangan Renata dengan menepuknya dengan lembut. "Mommy tidak seharusnya repot-repot menyiapkan ini, kesehatan mommy prioritas untukku."
Renata tersenyum, "Kesehatanku prioritas untuk anak mommy?"
"Hmm. Empat hari mommy di rumah sakit, tentu saja membuat Yara dan daddy sangat ketakutan. Mommy tiba-tiba mendapat serangan jantung. Apa ada yang mengganggu pikiran mommy?"
Erland langsung memberi isyarat kepada istrinya. Renata mengerti maksud suaminya. Ia pun tersenyum menatap lembut ke arah Yara. "Mommy sekarang jauh lebih sehat sayang. Kamu tidak perlu khawatir. Aunty dan daddy-mu yang menyiapkan ini semua. Mommy hanya duduk-duduk saja."
"Sungguh? Sejak kapan daddy mau terjun ke dapur? biasanya tugas daddy hanya mengurusi kantor saja. Bukankah seperti itu dad?" Yara mencondongkan tubuhnya menatap Erland dengan senyum manis.
"Kau tidak tahu, daddy jauh lebih hebat sekarang." Ucap Erland menepuk dadanya. Ia bangga bisa membantu urusan rumah tangga.
Tawa itu seketika pecah di dapur. Kehangatan keluarga terlihat jelas di sana.
"Sekarang kita makan, aku sudah tidak sabar ingin menikmati makanan buatan kalian." Kata Yara menarik kursinya dan duduk di sana.
Setelah melakukan doa bersama, seperti yang biasa mereka lakukan. Mereka mulai menikmati makanannya dengan tenang. Begitu nikmat, apalagi bersama dengan orang-orang yang disayanginya. Makan malam pun usai sudah. Mereka masih duduk di sana sambil bercerita.
Erland mencondongkan tubuhnya dan menaikkan sikunya ke atas meja. Tangannya mengunci. Dagunya diletakkan di atas punggung tangannya. Ia melihat ke arah Yara yang tengah asyik mengupas buah apel.
"Daddy bangga denganmu sayang."
Yara seketika tersenyum sambil mengangkat wajahnya menatap ke arah lelaki yang sangat dihormatinya itu. "Bangga apanya dad? Aku masih mengharapkan uang dari kalian. Nanti, kalau Yara sudah bekerja dan bisa membahagiakan kalian, itu namanya membanggakan keluarga. Bukankah begitu mom?"
"Bukankah begitu mom?" Tanya Yara lagi.
Renata tersenyum. "Maksud daddy-mu, menyukai dalam arti kata itu banyak. Dari hal terkecil seperti ini kau sudah memperhatikan kami. Teruslah seperti ini. Berbuatlah yang terbaik untuk keluarga kita. Itu sudah membahagiakan kami sayang."
Yara mengerti maksud dari ucapan mommy-nya. Ia tersenyum sambil mengangguk. "Tentu saja mom. Sekarang, Yara fokus menyelesaikan kuliah dulu. Nanti, kalau Yara lulus kuliah, aku bisa menggantikan posisi daddy di perusahaan Wyanet. Daddy bisa istirahat menghabiskan hari tua bersama mommy. Keliling dunia mungkin, pokoknya mana yang membuat kalian bahagia."
Erland menarik napas singkat. Ia memegang tangan Yara. Memberikan sentuhan kasih sayang lewat tatapannya.
"Tapi saat ini, perusahaan Wyanet sedang bermasalah." Erland memberanikan diri mengatakannya kepada Yara. Masuknya Renata ke rumah sakit, karena kabar kebangkrutan perusahaan Wyanet sudah tersebar kemana-mana. Mungkin hanya Yara yang tidak tahu permasalahan ini.
"Ma-maksudnya bermasalah apa dad?"
"Perusahaan Wyanet terancam bangkrut dan tidak bisa diselamatkan lagi."
DEG!
"Bagaimana bisa? Bukankah selama ini perusahaan Wyanet baik-baik saja?" Yara benar-benar tidak mengerti. Bagaimana mungkin dalam hitungan jam perusahaan Wyanet bisa terancam bangkrut?" Yara begitu shock, sampai untuk menelan salivanya saja ia sangat susah. Wajahnya tegang menatap daddy dan mommy-nya secara bergantian.
"Masalah yang dialami perusahaan Wyanet sudah dua bulan dan ini titik yang paling berat." terangnya.
"Iya, tapi apa masalahnya dad? Kenapa perusahaan Wyanet tidak bisa diselamatkan?" Memikirkan itu saja Yara tak ingin. Bagaimana kalau perusahaan Wyanet benar-benar tidak bisa diselamatkan. Itu seakan mimpi buruk baginya.
Erland menarik napasnya dalam-dalam, kemudian berkata. "Awalnya, karena produksi barang mikroprosesor karena tidak datang sesuai schedule. Jadi produksi berhenti. Karena kekecewaan beberapa investor. Mereka menarik semua modalnya. Pada satu sisi, stabilitas perusahaan, recovery citra perusahaan, dan berbagai hal tentunya akan dilakukan supaya perusahaan bisa kembali pada performa awal atau pun rebound dengan memanfaatkan kondisi krisis. Namun yang terjadi, beberapa konsumen mem-posting kekecewaannya melalui media sosial dan masalah ini merebak kemana-mana."
__ADS_1
Yara nampak menarik napasnya dalam-dalam. Sebegitu krisisnya perusahaan Wyanet. Kini perusahaan Wyanet benar-benar di ujung kehancuran. Yara tetap bersikap tenang. Walau ekspresi wajahnya terlihat jelas gugup. Ia meremas tangannya yang terasa dingin. "Apa tidak ada cara lain dad? Mungkin mencari pinjaman lain, agar produksi kembali berjalan?"
"Sejauh ini daddy sudah berusaha. Mencari pinjaman kemana-mana. Tapi karena issue yang sudah merebak kemana-mana. Mereka tidak berani menerima konsekuensinya."
Yara memejamkan matanya sesaat. Rasa sakit dirasakannya saat ini. Daddy sejauh ini sudah melakukan yang terbaik untuk memulihkan kondisi perusahaan. Lalu Yara menarik napasnya lagi. Ia pun berbicara dengan pelan, tatapannya nanar dan napasnya tersendat. "Kalau Yara tahu, berapa uang yang diperlukan untuk memulihkan perusahaan Wyanet, dad?"
"100 miliar."
"Apa? 100 miliar." Napas Yara berembus cepat karena terkejut. "Sekarang apa yang akan terjadi dengan perusahaan Wyanet? Apa tidak ada cara lain untuk memulihkannya dad?"
"Ada cara lain sayang, dan mommy yakin dengan cara ini bisa menyelamatkan perusahaan Wyanet." Akhirnya Renata angkat bicara.
Dahi Yara mengerut. "Cara lain? Kenapa tidak menggunakan cara itu, jika memang bisa menyelamatkan perusahaan Wyanet?"
Sementara Erland terkejut saat istrinya terang-terangan mengatakan itu. Dari awal istrinya lah yang menentang persyaratan itu. Ia menggeleng menatap istrinya agar tidak mengatakan yang sebenarnya.
Namun, Renata tidak perduli dengan isyarat yang diberikan suaminya. Ia menatap Yara dengan yakin. "Hanya kamu yang bisa menyelamatkan perusahaan Wyanet."
"Heuh? Aku bisa menyelamatkan perusahaan Wyanet? Maksudnya apa mom, Yara tidak mengerti?"
"Perusahaan Miles memberikan pinjaman asalkan kau menikah dengan pemilik perusahaan itu." Ucap Renata akhirnya.
DEG
DEG
DEG
"A-apa? Me-menikah?"
"Aku tahu kau pasti terkejut mendengarnya. Tapi itulah persyaratan yang diberikan kepada daddy-mu agar mendapatkan pinjaman itu."
"Menikah? Saya harus menikah di usia saya seperti ini? Itu tidak mungkin mom. Memikirkan saja aku tidak ingin."
Erland mengembuskan napas panjang. Ia sudah menduga putrinya tidak akan menerima persyaratan itu. Tapi Erland mencoba membujuknya. "Kau tidak perlu khawatir sayang, lelaki itu hanya status sebagai suami palsu. Setelah perusahaan keluar dari krisis, kau bisa menceraikannya."
"Mommy juga mendengar pria tua itu sudah sering sakit-sakitan. Hidupnya sudah tidak lama lagi sayang. Kau tidak akan terikat lama dengan pria itu." Renata menimpalinya.
"Apa? Maksud mommy lelaki itu sudah tua?" Mulut Yara terbuka karena sangat terkejut. Ia mencoba mencerna kata-kata itu kembali. Ia tidak percaya dengan semua ini. Tangannya gemetar mengepal kuat.
"Kenyataannya memang seperti itu. Daddy tidak bisa berbuat apa-apa. Perusahaan Wyanet tidak ada pilihan lagi."
Napas Yara keluar terbata-bata, ia menarik cepat napasnya. Bibirnya gemetar. Menikah? Haaaaah... Ia menunduk, matanya berkaca-kaca tapi tidak menangis. Hanya kesal dan sangat kesal. Masalah ini terlalu berat untuknya.
Sementara Erland dan Renata mengembuskan napas sampai bahu turun. Mereka hanya terdiam menunduk.
Suasana menjadi tegang meliputi ruangan itu.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kesembilan aku 😍
__ADS_1
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^.