
💌 TERJERAT DENGAN SUAMI PALSU 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
DUA HARI KEMUDIAN.
Yara terbangun ketika di sadarkan dari pikiran, tubuhnya tiba-tiba merasakan kedinginan, sampai menusuk tulang. Ia meringkuk mencari sesuatu yang bisa menutupi tubuhnya, ujung kaki dan tangannya terasa membeku. Rasa menggigil itu semakin terasa, seiring malam semakin larut. Lampu penerang di gudang bawah tanah ini hanya menggunakan lampu 5 watt. Di ruang bawah tanah ini, Yara juga tidak melihat secercah cahaya yang menembus ruangan bawah tanah itu. Ia seperti di dalam penjara.
Sudah dua malam, Yara berada di sini. Tidak seorang pun yang datang untuk melihatnya, bahkan sekedar untuk memberinya makan atau minum.
Yara menarik napasnya dengan berat, pandangannya menyapu setiap sudut gudang. Ruang bawah tanah ini pengap dan lembab, membuat Yara tak nyaman. Aroma tidak sedap langsung tercium di hidungnya. Yara bersandar di dinding dengan napas menahan dingin, sambil memeluk kakinya.
Matanya menatap ke atas. Ia tidak bisa keluar dari sini. Pintu tertutup rapat dan jelas dia tahu pintu itu pasti terkunci. Yara mulai menangis, menarik napasnya sesekali. Bagaimana nasibnya bisa seperti ini. Air matanya tergelincir membasahi pipinya. Yara memiringkan badannya meringkuk memeluk kakinya. Ia kembali tertidur.
Tiba-tiba terdengar bunyi kunci dibuka dengan paksa.
BRAKKKK
Pintu tiba-tiba terbuka dengan kasar.
Yara sontak terbangun dan memeluk tubuhnya sendiri. Seorang pria menuruni anak tangga dan tersenyum angkuh di sana. Ia membawa satu piring nasi berisi lauk buat Yara.
"Selamat pagi, nona...aku harap kau menikmati harimu di gudang ini." Ucap pria itu tersenyum sambil meletakkan piring itu di lantai dan ia dengan sengaja menendang pelan piring itu, hingga tergeser sampai ke kaki Yara.
"Keluarkan aku dari sini!" Desis Yara dengan tatapan tajam.
Pria itu mengembuskan napas singkat sambil melipat tangannya di depan dada. "Sesuai perintah nyonya Victoria. Kau tidak akan keluar dari sini, nona cantik. Dan beliau masih berbaik hati memberikanmu makan. Sebaiknya kita berdamai dan jangan mempersulit keadaan, aku tidak ingin kau memancing amarahku. Mengerti!" kata pria itu menekan setiap perkataannya.
"Cih...Kalian yang membuat semua ini sulit. Sampai sekarang aku tidak mengerti dengan semua ini. Pertemukan aku dengan tuan Miles. Kau tidak tahu, aku adalah istri tuan Miles" Ucap Yara dengan tegas. "Dan aku yakin tuan Miles tidak tahu, kalian mengurungku di sini!"
Mendengar itu, pria itu langsung tertawa. "Hahahaha... Kau istrinya tuan Miles?"
Yara mengangguk cepat. "Ya. Saya adalah Istri tuan Miles. Jadi keluarkan aku dari sini!"
"Apa kau sedang bermimpi? Jangan pernah mengatakan omong kosong ini lagi. Tuan Miles tidak mungkin menikah dengan wanita sepertimu. Sekarang makan ini! " Pria itu kembali menendang piring itu dengan kasar agar mendekat ke kaki Yara.
Melihat ia diperlakukan seperti binatang, Yara langsung bangkit dan menatap pria itu dengan tajam.
"Apa yang kau lakukan?"
"Menyuruhmu makan, agar kau tidak berhalusinasi lagi."
Yara melihat nasinya sudah berantakan. Ia menatap pria itu dengan emosi. "Kau lebih buruk dari binatang! Kau manusia berwujud iblis. Aku tidak akan makan. Sekarang pertemukan aku dengan tuan Miles." Bentak Yara.
Pria itu tersenyum dan manggut-manggut, saat melihat Yara begitu berapi-api mengucapkan kata-katanya. Pria itu menganggap Yara seperti kaset rusak dan ia bahkan tidak melihat Yara bicara.
__ADS_1
"Kau menghabiskan energimu nona cantik, nyonya Victoria tidak akan mengeluarkanmu dari sini!" Ucap pria itu tersenyum angkuh. Ia berbalik melangkah meninggalkan Yara.
Namun sebelum itu terjadi, Yara mengambil kayu yang ada di sana. Ia langsung mengejar pria itu.
"Dasar pria brengsek!" Yara memukul punggung pria itu dan mengenai kepalanya.
"Aaarggghh...." pria itu merintih kesakitan. Ia memegang kepalanya yang begitu sakit dan mengeluarkan darah. Matanya juga berkunang-kunang.
"Apa yang kau lakukan!" Geramnya.
Sebelum pria itu melakukan tindakan pembalasan. Yara maju dan menendangnya berulang kali di sepanjang tulang kering kaki pria itu.
"Ahhhhh ...Berani sekali kau?" teriak pria itu dengan suara keras, ia meringis.
"Jangan mendekat! Aku akan membunuhmu dengan kayu ini." Ancam Yara. Sesungguhnya ia sangat ketakutan, takut melawan. Namun entah dorongan dari mana ia seperti memiliki keberanian untuk melawan pria itu. Tangannya masih gemetar, ia memegang kayu untuk melindungi dirinya.
Sorot mata pria itu menunjukkan kemarahan. Ia melangkah mendekat ke arah Yara. "Kalau bukan karena nyonya Victoria. Aku sudah membunuhmu." Pria itu mendekat. Tatapannya begitu mengintimidasi.
Yara begitu ketakutan. Ia mundur dan kayu masih stand bye melindungi tubuhnya. "Aku bilang jangan mendekat!"
Pria itu menarik napasnya, mengontrol emosi agar tidak menyakiti wanita itu. Ia kemudian berbalik meninggalkan Yara yang masih ketakutan.
"Hei ..mau kemana kau!" Teriak Yara. "Keluarkan aku dari sini!" Yara mencoba meraih tangan pria itu.
Namun, belum lagi Yara menarik tangan pria itu, tubuhnya sudah lebih dulu didorong kuat hingga membuat Yara terjatuh.
"Aaahhhhhh!" Yara merintih kesakitan. Ia tidak menyerah. Ia menstabilkan napasnya, yang tersengal karena menahan emosinya. Yara bangun dan menaiki anak tangga itu kembali.
"Jangan tutup!"
Pria itu tidak menjawab, ia memilih keluar dan mengunci Yara di gudang bawah tanah itu.
Yara menggedor-gedor pintu itu berulang kali.
"Buka pintunya.... bukaa....." Teriaknya mengetuk pintu dengan telapak tangannya. Tidak ada satu pun yang mendengarnya.
"Keluarkan aku dari sini!"
"Buka pintunya...!" Teriak Yara dari dalam.
Pria itu hanya tertawa, lalu ia melangkah meninggalkan gudang itu.
"Aku mohon, keluarkan aku dari sini!" Suara Yara semakin pelan.
Tubuhnya menempel di pintu, ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Kakinya terasa lemah. Tubuhnya merosot di daun pintu dan ia terduduk. Tatapannya lemah, ia menatap nasi yang sudah berhamburan di lantai. Saat ini nasibnya begitu buruk.
Apakah sekarang ia menyesalinya?
Yara telah gegabah mengambil tindakan ini. Perasaan ingin membayar utang dan berusaha untuk memberikan yang terbaik agar ia terlepas dari utang ini, justru membuatnya semakin terpuruk, dan semuanya menjadi semakin buruk.
Setidaknya ia bertemu dengan tuan Miles. Tapi kenapa seperti ini?
__ADS_1
"Siapa yang harus aku salahkan di sini? Apakah aku harus menyalahkan diriku?" Pernikahan ini, rasanya seperti sebuah kehancuran bagi Yara. Kedua mata Yara seketika terpejam diiringi cairan bening yang tersapu tersapu bebas membasah wajahnya. Ini adalah dari bentuk rasa sakit yang ia rasakan saat ini.
Sesal datang memang sungguh menyesakkan. Pikiran untuk memutar waktu tak bisa di hindari, keinginan untuk memperbaiki, seribu pengandaian menghampiri, dan ribuan sesal yang hanya bisa ia tangisi. Yara sadar, sekeras apapun keinginannya untuk memutar waktu, semua tidak akan berguna. Bahkan hanya akan membawanya ke dalam keterpurukan.
Yara hanya bisa menangis.
Yara yakin cepat atau lambat awan gelap yang menaungi hidupnya saat ini akan berganti menjadi awan terang yang menemani hari-harinya selanjutnya.
Bukankah mendung tak berarti hujan? Ya, takdir memang di tangan Tuhan. Tapi jalan hidup kita? Kita sendirilah yang menentukan.
Mungkin ini jalan hidupnya dan Yara harus menerima kenyataan itu.
Yara menarik napasnya dalam-dalam sambil memegang dadanya. Mulutnya terbuka dan mendesah. Ia menangis dalam diam tapi tidak mengeluarkan suara. Hanya napasnya terus berhembus dan masuk lewat mulut yang terbuka.
Ia menggeleng berulang kali, Hatinya begitu sakit. Ia tidak tahu kabar orangtuanya. Setidaknya Yara bisa menghubungi mereka. Sesak itu datang lagi.
Yara merebahkan tubuhnya, ia di berada di kamar gudang. Ia berharap besok ada keajaiban untuknya. Mata berubah sayu dan tidak menunggu lama ia terpejam, mengajaknya tertidur untuk melupakan kesedihannya untuk sesaat.
SEMENTARA DI SISI LAIN.
Seusai berenang dan membilas tubuhnya. Frey pergi ke ruangan kerjanya. Laki-laki itu kini duduk tenang di kursi putar dan memfokuskan kedua matanya menatap layar monitor yang ada di hadapannya saat ini.
"Cih...dia termaksud wanita berani." Sudut bibir Frey melengkung ke atas saat melihat aksi nekat Yara dari rekaman cctv.
"Apakah kau berani berkutik saat aku membongkar semua kejahatan ayahmu? Permainan sesungguhnya akan dimulai besok, nona Wyanet." Ucap Frey tersenyum sinis.
Tiba-tiba handphone Frey yang ia letakkan di atas meja berdering. Karena panggilan itu sangat ditunggunya. Dengan cepat telepon Frey mengangkatnya. Ia sudah menunggu sejak tadi.
"Bagaimana?" kata Frey dengan cepat.
"Maaf tuan, kami kehilangan jejak nyonya Victoria. Sepertinya nyonya Victoria sangat terburu-buru. Kami kehilangannya saat di lampu lalu lintas. Kami tidak bisa menerobos lampu merah."
"Apa?" Suara Frey terdengar menggema di dalam ruangan.
"Maaf tuan. Kami benar-benar sudah mempersiapkannya dari awal setelah kita tahu bahwa Bastian mencoba mendekati nyonya Victoria. Sudah lima jam kami menunggunya sampai benar-benar nyonya Victoria keluar dari salon kecantikan. Namun sangat disayangkan kami kehilangan jejaknya."
"Dasar tolol, bodoh..." Tanpa dimatikan. Frey langsung menghempas handphonenya ke dinding.
PRANGGGGG!
Ponsel itu hancur mengenaskan. Serpihan-serpihan tajam yang berterbangan dan berserakan membuat emosi Frey semakin meledak.
"Kau tidak berubah mom. Aku semakin membencimu!" Desis Frey dengan mata menyalang tajam. Ia mengepalkan tangannya begitu kuat. Matanya berkilat. Bibirnya menyungging senyum keji.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kesembilan aku 😍
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
__ADS_1
^_^.