Terjerat Dengan Suami Palsu

Terjerat Dengan Suami Palsu
MEMBERI PELAJARAN


__ADS_3

💌 TERJERAT DENGAN SUAMI PALSU 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Saat mengetahui keberadaan Bastian. Frey langsung mengajak James ke klub ternama yang ada di tengah kota. Frey sudah tidak sabar ingin menghabisi Bastian yang masih berani menggoda mommy-nya.


James keluar lebih dulu dari mobil. Ia menunjukkan kartu VIP kepada petugas yang sedang berjaga di sana. Dua penjaga yang berdiri di sana tersenyum dan mempersilakannya masuk. Frey langsung keluar dari mobil dan mengikuti James.


Melihat Frey dan James datang, para gadis-gadis liar yang penggila uang berusaha merayu dan menggoda. Mereka tahu jika dua lelaki tampan itu adalah pengusaha kaya. Frey berdiri dan diam tanpa ekspresi. Ia melihat jelas tawa para penggila pesta memenuhi ruangan klub. Terlihat keerotisan para penari malam sambil meliuk-liukkan badan di tengah lantai dansa. Seluruh pasang mata beralih fokus pada sekumpulan lelaki tampan dan kaya. Mereka berdansa mengikuti hentakan musik. Kepulan asap putih membumbung ke udara saat beberapa pria mengembuskan napasnya ke udara.


Frey bisa melihat jelas jika orang-orang yang berada di club ini kehausan hiburan. James mengedarkan pandangannya, mencari-cari sosok wanita yang sudah dibayarnya untuk mengikuti pergerakan Bastian.


Mata James langsung tertuju pada sosok gadis cantik yang berpura-pura menari di sana. Ia memberi isyarat kepada James. Tiba-tiba seorang lelaki mendekat dan membisikkan sesuatu kepada James. James mengangguk tanda mengerti. Ia langsung memberi kode kepada bos-nya itu.


Frey hanya mengangguk dan mengikuti langkah James ke arah sudut klub malam yang di desain lebih panjang itu. Di sisi kiri dan kanannya terdapat beberapa kamar untuk para tamu yang menghabiskan malam panjang.


Sementara di dalam kamar Bastian tersenyum menyeringai saat melihat keberanian seorang gadis yang terang-terangan mengajaknya tidur.


"Ini akan menjadi malam panjang untuk kita, tapi tidak lengkap jika kita tidak minum dan menikmati cemilan ringan. Bagaimana tuan tampan?" Bisik gadis itu begitu sensual sambil meraba-raba bagian dada Bastian.


Bastian menggeram. Menepuk pinggul gadis itu dengan tatapan penuh keinginan. "Itu ide bagus, kita tinggal menghubungi bagian bar saja." Ucapnya mendekat ke arah telepon yang ada di kamar.


Dengan cepat gadis itu mencegatnya. "Jangan! maksudku biar aku yang mengambilnya. Kamu tetap di sini. Aku akan mempersiapkannya untukmu." ucapnya dengan tatapan menggoda.


Bastian tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Baiklah, saya tunggu di sini, nona cantik."


Gadis itu tersenyum sambil mengedipkan salah satu matanya. Bastian terkekeh saat melihat keberanian gadis cantik itu. Ia memang mangsa yang tepat untuk membuatnya puas malam ini.


LIMA MENIT TELAH BERLALU.


Bastian mondar-mandir di kamar itu. Baru kali ini ia begitu nervous menghadapi gadis cantik yang baru ditemuinya. Padahal ia sudah sering melakukan dengan wanita malam yang sering ditemuinya di klub. Dan terakhir kali ia melakukan kepada wanita yang jauh lebih tua darinya. Siapa lagi jika bukan Victoria. Wanita yang rela memberikan apapun demi memenuhi hasratnya. Victoria memang cantik, Ia selalu menjaga penampilannya dan merawat tubuhnya dengan baik. Sehingga Bastian saja bisa terpikat dengan wanita paruh baya itu. Bastian terkekeh, bibirnya melengkung ke atas.


"Dasar wanita bodoh, bagaimana bisa ia percaya dan memberikan apapun yang aku minta."


"Oke...oke...jangan pikirkan wanita tua itu, sekarang bagaimana aku bisa menenangkan hatiku yang gugup ini." Bastian mengembuskan napas panjang berulang kali sambil melompat-lompat untuk mengurangi kegugupannya.


"Aku pastikan, kau tidak akan melupakan malam ini."


CEKLEK!


Terdengar suara pintu terbuka.


Bastian membalikkan badannya memberikan senyum penuh keinginan.

__ADS_1


"Heuh?" Sepersekian detik mata Bastian terbelalak saat melihat beberapa pria masuk ke dalam kamarnya. Mereka berbadan besar dan berwajah kasar. Matanya memberikan tatapan paling menakutkan yang pernah Ia lihat. Garis wajah dan air mukanya menunjukkan betapa ia telah lama hidup dalam kegelapan.


"Siapa kalian! Berani-beraninya masuk tanpa mengetuk pintu, gak ada sopan santun," Bentak Bastian dengan wajah gaharnya.


Gadis itu tiba-tiba muncul di sana. Bastian tersenyum menyeringai. "Akhirnya kamu datang juga. Kau mengenal mereka?"


Gadis itu tak menjawab, ia hanya membungkukkan badannya di depan salah satu pria yang berparas keras yang tersenyum angkuh. Bastian tercengang menatap heran.


"Siapa mereka?" Bentak Bastian tidak sabaran, pertanyaan sama sekali tidak di jawab.


"Terima kasih Jennifer, kau sudah menjalankan tugasmu dengan baik."


Jennifer tersenyum, membungkukkan badannya kembali. "Sama-sama tuan,"


Bastian terus mengerutkan dahinya menatap heran ke arah gadis yang baru ditaksirnya itu. "Apa maksudmu, siapa mereka?" Ia menggeram dengan tangan mengepal kuat.


Seorang pria memberikan gestur memerintahkan Jennifer agar meninggalkan kamar itu. Jennifer hanya mengangguk dan segera keluar.


"Hei, kamu mau kemana? urusan kita belum selesai," Teriak Bastian.


Namun Jenifer tak menjawabnya, ia tetap melangkah meninggalkan kamar itu. Bastian menarik napas dengan emosi hingga mulutnya terbuka. Ia membuang d*sahan kesal.


"Sebenarnya siapa kalian?" Tantang Bastian tak sabaran. "Apa jangan-jangan mereka penagih utang? Astaga.... Kenapa hidupku tidak bisa tenang? Aku dijebak gadis sialan itu," Bastian mengumpat kesal dalam hati. Namun, tiba-tiba muncul ide dalam otaknya. "Apa aku hubungi saja wanita tua itu? Aku rasa dia bisa menyelesaikan utangku."


James maju beberapa langkah, menatap malas ke arah Bastian.


James langsung menghalangi langkah Bastian yang hendak pergi. "Kau ingin mati?"


"Kau mengancamku? cih...aku tidak takut. Sekalipun aku mati di tanganmu." Ancam Bastian menatap tajam.


Frey tiba-tiba muncul dari balik punggung pria bertubuh tegap itu. Dengan cepat anak buahnya memberikan akses kepadanya. Pria itu shock saat melihat siapa pria yang berdiri di depannya. Sorot mata Frey begitu tajam, menyatu di antara ke dua hidung mancung yang sempurna. Ia menikam dengan pesona wajah dingin dan tegas.


"Kau tidak berubah," Ucapnya sinis. Pria itu mengerti maksud ucapan Frey. "Apa kurang jelas? Atau aku harus mengingatkanmu lagi?" ucap Frey dengan tegas.


"Kau salah sasaran, seharusnya kau mengingatkan Victoria, dia yang terlalu menginginkanku tubuhku. Aku tidak bisa menolak jika dia memberikan uang banyak kepadaku." Bastian tersenyum jahat.


"Cih...!" Frey berdecak dan sepersekian detik ia tertawa nyaring di sana. Sorot matanya masih terlihat dingin. "Victoria memberimu berapa?"


"Dia memberikan apapun yang aku minta. Mobil mewah, apartemen mewah, bahkan ia sanggup melunasi semua utang keluargaku?"


Frey mengusap keningnya dan tersenyum smrik. "Sebenarnya aku tidak ingin mengeluarkan peluruku kepada orang sepertimu, Bastian. Tapi maafkan aku!" Frey menggeram sampai menggertak giginya. Dengan cepat ia mengarahkan pistolnya dan menarik pelatuknya, menargetkan bagian paha Bastian.


DOR...DOR...


Dua peluru bersarang di paha Bastian.


"Aaarggghh....! Apa yang kau lakukan?" Wajah Bastian tampak kesakitan saat Frey menembaknya.


Frey tersenyum lagi. Ia berjongkok dan menatap ke arah Bastian. "Aku yakin setelah kejadian ini, kau tidak akan pernah bertemu dengan Victoria lagi. Aku bisa yakin itu."

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan?" Bastian ketakutan.


Frey lalu bangun dan memberi kode kepada anak buahnya agar keluar dari ruangan itu. Sementara James masih tetap menunggunya di luar pintu.


Setelah anak buahnya pergi dan tertinggal hanyalah mereka berdua. Frey mengarahkan pistolnya lagi.


Bastian mundur dan ketakutan. "Jangan tembak aku." Ia menggeleng dan mengibaskan tangannya. Bastian semakin ketakutan saat melihat ekspresi wajah Frey. Detak jantungnya tidak mau berhenti berdetak. Garis wajah dan air mukanya benar-benar menyeramkan.


"Sekarang kau pilih antara satu, hidup atau mati. Kalau kau memilih hidup. Terpaksa aku harus menyerahkanmu kepada polisi. Karena identitasmu sudah diketahui polisi."


"Apa maksudmu?"


"Kau tidak tahu atau berpura-pura bodoh?"


"Jangan mengancamku, sekarang katakan apa maumu?"


Frey tersenyum lagi. "Bukankah kau kelompok Vicente yang mengelola bisnis haram?"


Wajah Bastian menegang.


"Kau beberapa kali menjalani operasi plastik untuk kabur ke beberapa negara. Kau sudah berkali-kali mendekam di balik jeruji besi, namun sebanyak itu juga kau berhasil kabur. Mengingat betapa licik dan cerdasnya kau untuk keluar dari penjara, badan anti narkotika langsung meningkatkan kewaspadaan kepadamu. Karena kau merasa diburu selama dua dekade terakhir. Kau akhirnya berpura-pura sebagai lelaki gigolo. Lelaki bayaran yang dipelihara dan disewa oleh seorang wanita sebagai kekasih atau pria sewaan, termaksud itu sewaan Victoria." Bentak Frey dengan suara membahana. Sorot matanya menajam menatap Bastian.


Sementara jantung Bastian tiba-tiba berpacu kuat di rongga dadanya, deras keringat membanjiri kepala hingga kaki. Tubuhnya seakan membeku, suaranya tercekat saat mendengar perkataan Frey.


"Sekarang kau tinggal memilih hidup atau mati?"


"Aa-aku.." dengan susah payah Bastian memohon kepada Frey.


"Bukankah kau tidak takut mati. Kenapa kau begitu takut. Ha?" Suaranya tenang, tetapi menakutkan.


Napas Bastian tersengal, Ia semakin kehabisan napas, wajahnya semakin memerah. Semua rahasianya diketahui Frey.


Frey kembali tertawa. "Hahahaha...aku sudah mengingatkanmu Bastian. Sepertinya kau memang tidak takut dengan ancamanku."


"Aku memilih mati." Ucap Bastian dengan lantang.


"Itu memang lebih baik, Bastian."


Tanpa pikir panjang Frey mengarahkan pistolnya lagi ke arah Bastian. Satu peluru meluncur sempurna menembus jantung pria itu. Ia tersenyum sinis lalu ia pun pergi meninggalkan tempat itu dengan langkah cepat yang diikuti James. Suara musik dalam klub itu membuat orang-orang tidak tahu apa yang terjadi di kamar itu.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kesembilan aku 😍


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^.

__ADS_1


__ADS_2