Terjerat Dengan Suami Palsu

Terjerat Dengan Suami Palsu
MENGUBUR MASA LALU


__ADS_3

💌 TERJERAT DENGAN SUAMI PALSU 💌


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Alea tak tahan lagi dengan segala gejolak di dalam dadanya. Ia memajukan langkahnya. Mendekat ke arah Frey. Namun,


Frey melangkah menjauh dari Alea. Wajahnya terlihat dingin dan kaku. Tangannya Ia masukkan ke kantong celananya.


Alea mengencangkan rahangnya. Jantungnya seperti terhantam saat melihat Frey menjauh darinya. Ia memejamkan matanya dengan sejuta rasa sakit di dalam dada. "Frey, kita sudah pernah melaluinya bersama-sama. Jangan seperti ini, aku mohon!" Ucap Alea masih menatap Frey yang beku dihadapannya. Ada bayang bening di matanya, yang siap jatuh dalam satu kedipan saja.


Frey menarik napas dalam-dalam dan berbicara. "Jangan bicara seperti itu Alea, aku melakukan itu untuk menjaga jarak darimu."


Alea mengerutkan keningnya. Mencoba mengerti maksud Frey, walau sesungguhnya hatinya begitu sakit. Frey yang dulu mencintainya tidak seperti ini. "Apa maksudmu Frey?"


Frey tersenyum sinis. "Aku tidak suka melihatmu seperti ini, seolah-olah kau adalah wanita yang paling terluka. Kau pikir aku tidak tahu semuanya? pertemuanmu dengan Victoria dan kau mengambil uang darinya. Aku tahu semuanya, Alea."


DEG


DEG


DEG


Jantung Alea terpukul kencang. Wajahnya menegang kaku. Napasnya berembus cepat keluar dari mulutnya. Seakan karbondioksida tertahan dan terbakar oleh keterkejutannya. Untuk menelan salivanya saja ia begitu susah. ia terdiam dan terus menatap Frey. Tangannya terlihat gemetar karena begitu terkejut.


"Aa-ku tidak mengerti maksudmu?" Alea pura-pura bingung.


Frey melangkah mendekat dan mengunci tatapannya ke arah Alea. "Kau tidak mengerti?" Frey menekan ucapannya.


"Apa yang kau bicarakan? Aku tidak pernah menerima uang apapun dari ibumu. Aku pergi hanya karena ancaman Victoria." Ucap Alea berbohong. Sebisa mungkin ia tetap tenang. Walau sejujurnya ia tak bisa menutupi kegugupannya. Frey tahu bahwa ia menerima uang yang diberikan Victoria. Hal itu sangat dibenci Frey.


"Heh!" Frey melepaskan napas singkat, ia melarikan tatapan kesalnya. Ia tidak suka dengan sikap Alea. Ia kembali menatap ke arah Alea. "Sudahlah aku tidak ingin membahas itu lagi. Hubungan kita sudah berakhir Alea dan aku harap ini pertemuan terakhir kita."


"Tidak Frey. Aku tidak ingin mengakhiri hubungan ini. Aku tahu kau masih mencintaiku. Jangan seperti ini Frey." Kata Alea dengan napas terbata-bata. Air bening seketika terkumpul di kelopak matanya, namun tidak terjatuh membasahi pipinya.


"Jangan menggunakan air matamu untuk meluluhkan hatiku, Alea. Sejak kejadian kau pergi meninggalkanku, aku bersumpah tidak akan pernah memaafkanmu."


Alea menggeleng cepat, air mata yang terkumpul di kelopak matanya tergelincir bebas membasahi pipinya. Ia tidak mau disalahkan dalam hal ini. "Seharusnya yang kau tanya ibunya, Frey. Dia yang seharusnya disalahkan dalam hal ini. Dia datang mengancamku. Aku sangat takut saat itu Frey dan aku terpaksa melakukannya."


"Jangan mencari-cari alasan lagi Alea. Seharusnya kau mengerti seperti apa Victoria dan semuanya sudah jelas, saat kau menghilang dan meninggalkan surat dan mengatakan hubungan kita sudah berakhir." bentak Frey tak tahan lagi. Ia menatap Alea dengan tatapan tajam.

__ADS_1


Alea memejamkan matanya sambil menarik napas panjang. "Baiklah, aku yang salah dan aku minta maaf karena meninggalkanmu. Tapi mari kita mulai dari awal lagi."


"Memulai dari awal lagi? Untuk apa? Aku sudah menikah Alea. Jadi jangan pernah bermimpi untuk memulai hubungan kita lagi."


Deg..deg..deg...!


Jantung Alea berdetak begitu kuat. Wajahnya menegang, matanya membulat sempurna dengan mulut yang terbuka. Napasnya terdengar naik turun. Tangannya ikut gemetar. Wajahnya terlihat pucat. Ia mundur beberapa langkah dan menggeleng. Fakta yang menyakitkan baginya, Frey sudah menikah? Ini tidak mungkin!


"Kau sudah menikah? apakah wanita itu pilihan ibumu?" Ucap Alea masih tak percaya.


"Dia wanita pilihanku dan aku mencintainya." Ucap Frey datar.


Alea tertawa hambar. "Tidak mungkin Frey. Aku mengenalmu. Kau sulit untuk membuka hatimu untuk wanita lain. Aku tidak akan percaya." Alea menggelengkan kepalanya.


Frey tersenyum samar saat melihat reaksi Alea. "Ya. Kau mungkin tidak percaya itu. Jadi anggap saja aku belum menikah. Tapi aku gak bisa kembali kepada hubungan yang pernah membuatku terluka." Frey mengunci tatapannya ke arah Alea. Tangannya bersedekap di depan dada. Pembawaannya begitu tenang.


"Tapi A-aku...aku mencintaimu Frey..." Alea terbata-bata melanjutkan kalimatnya. Ia meremas tangannya begitu kuat. Frey tidak lagi mencintainya. Hatinya begitu terluka mengetahui kebenaran ini.


Frey tersenyum tipis, tatapan matanya turun ke bawah. "Tapi aku tidak mencintaimu lagi. Aku sudah mengubur rasa cintaku yang dulu tanpa sisa."


"Ahhhhh...." Alea lagi-lagi hanya bisa mengeluarkan napas terbata.


"Sa-sayang...? Bukankah itu panggilanku untukmu."


Alea tak sanggup untuk bicara. Sungguh sikap tenang Frey membuat Alea semakin tidak berdaya. Jantungnya semakin terpukul kencang. Rasanya tak sanggup untuk berdiri. Matanya seketika berkaca-kaca. Satu tetes air mata jatuh ke pipinya. Alea mengusapnya dengan cepat.


Frey mengedarkan pandangannya, menyadari sesuatu. "Apakah ini cafe impianmu? Kau pernah mengatakan ingin mempunyai cafe impian bersama?" Frey tersenyum sinis menatap Alea. "Dunia memang sempit Alea, kenapa Mr Johan mengajakku bertemu di sini? Atau jangan-jangan ini adalah bagian dari rencanamu juga?"


Deg...


Lagi-lagi jantung Alea bagaikan tertancap pisau. Ia menghembuskan napasnya meski kini keluar terbata-bata. Ia hanya terdiam dan menangis. Napasnya tersendat-sendat. Mencoba menyalurkan segala rasa buruk yang meluap begitu perih.


"Frey, jangan...jangan seper..." Lagi-lagi Alea tidak bisa melanjutkan ucapannya. Ia hanya bisa bicara melalui air matanya.


"Cukup Alea. Jangan pernah menyalahkan dirimu lagi. Aku berharap kau bisa menemukan lelaki yang jauh lebih baik dariku."


Alea terus menggeleng dan terus menatap Frey dengan pandangan nanar. Air matanya terus mengalir membasahi pipinya. "Tolong, Maafkan aku Frey. Aku sangat mencintaimu."


Frey tidak mengatakan apa-apa lagi, ia langsung meninggalkan cafe itu.


Seketika badan Alea lemas seperti tak bertulang. Ia lunglai dan langsung terduduk di lantai. Bahunya bergetar dan terus menangis.


"Jangan lakukan itu Frey. Aku sangat mencintaimu." ucap Alea pelan dengan air mata berurai. Tangisannya pilu dan menyedihkan. Sekarang ia sangat membutuhkan Frey. Hidupnya sudah tidak lama lagi.

__ADS_1


⭐⭐⭐⭐⭐


Sementara di sisi lain.


Yara mengambil handphonenya untuk menghubungi Ethan. Ia memasukkan nomor Ethan ke handphonenya dan menekan tanda panggil.


Tut... tut...tut...


Panggilan tersambung dan terdengar suara Ethan dari seberang.


"Hallo,"


Yara bernapas gugup. "Hallo, apa kabar Ethan? Saya Yara Wyanet."


"Hei... Yara, apa kabar?" Terdengar senyum bahagia di ujung telepon.


"Kabar baik. Maaf baru bisa menghubungimu."


"Ah...tidak apa-apa Yara, tidak perlu minta maaf." Ucap Ethan tersenyum.


Yara menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ethan, sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan padamu."


"Soal apa Yara?"


"Soal ..."


Tit... tidak ada suara.


Yara melihat layar handphonenya dan layarnya hitam. Panggilan pun mati. Handphone Yara kehabisan baterai. Dia lupa mengisi daya. Ia menarik dan mengembuskan napas panjang dengan kepala tertunduk.


"Astaga, bagaimana aku bisa lupa mengisi baterai handphoneku." Yara menghela napas singkat sambil menatap handphonenya yang sudah mati.


Yara segera melangkah untuk mengisi baterai handphonenya. Ia lalu duduk di kasur sambil memijat punggungnya yang terasa pegal. Ia memutarnya berulang-ulang agar otot-ototnya tidak tegang lagi.


Yara kemudian menyimpan kartu nama milik Ethan, ia tidak ingin Frey mencurigainya hanya karena kartu nama itu. Setelah menyimpan kartu nama itu, Yara pun pergi ke kamar mandi. Membasuh lelah tubuhnya dengan air hangat. Bulir-bulir air shower mengguyur kepalanya hingga mengalir deras ke kaki. Ia sengaja membesarkan volume air yang keluar. Hingga perlu membuka mulut agar dapat menarik oksigen untuk bernapas. Yara mengusap sabun ke wajah dan seluruh tubuhnya sambil memejamkan mata. Tak ingin berlama-lama. Ia pun membersihkan tubuhnya dengan air hangat. Tubuhnya jauh lebih segar. Yara segera memakai handuk piyama dan keluar dari kamar mandi. Ia melihat jam yang tergantung di dinding kamar. Frey belum juga pulang. Istirahat adalah pilihan yang tepat untuk saat ini.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kesembilan aku 😍


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.

__ADS_1


^_^


__ADS_2