
💌 TERJERAT DENGAN SUAMI PALSU 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
"Sudah bangun?"
Yara langsung mengerjap dan melihat ke sumber suara tersebut. Dengan cepat, ia berbalik dan terjatuh dari tempat tidurnya.
"Aaahhhhhhhhh..." Yara mengerang kesakitan. Sementara Frey tersenyum sinis, ia bangkit menatap Yara yang sedang kesakitan.
Yara tidak perduli dengan rasa sakit. Ia kembali fokus untuk menyelamatkan diri. Yara terus mundur untuk mencari tempat yang aman baginya. Tubuhnya terhenti ke dinding dekat jendela kamar. Ia menekuk kakinya seakan melindungi diri.
Mata Yara memicing saat melihat sosok pria berdiri tepat di depannya. Posisinya santai dengan memasukkan tangannya ke dalam kantong celananya. Sorot matanya terlihat dingin. Postur tubuhnya tegap, atletis, tampan, rambutnya saja disisir rapi ke atas memperlihatkan dahi dengan bentuk yang sempurna. Hidungnya mancung, garis rahang yang tegas dengan garis yang menawan.
"Siapa lagi dia?"
"Apakah dia anak tuan Miles?"
"Apa yang dia lakukan di sini?"
"Apa jangan-jangan dia ingin menyelamatkanku?"
"Jika itu terjadi, aku harus lebih banyak mengucap syukur kepadamu, Tuhan..."
Yara berbicara dalam hati sambil terus memperhatikan sosok pria yang ada di depannya.
"Apa yang kau pikirkan?" Frey bersandar, merubah posisinya dengan setengah duduk di atas nakas yang terletak di samping tempat tidur.
"Kenapa kau ada di kamarku?" erang Yara dengan tatapan tajam. Wajahnya mengerut serius dan menatap Frey dengan tatapan permusuhan.
"Ck! kenapa aku ada di kamarmu?"
"Apa yang kau lakukan di sini?" ulang Yara. Kesabarannya sudah mulai hilang. Dia tidak mau terperangkap di rumah neraka ini lagi. Sudut bibirnya melengkung ke atas menatap sinis ke arah Frey. "Apa jangan-jangan kau suruhan nenek sihir itu?"
Frey kembali tersenyum miring. "Nenek sihir?" kalimat itu begitu menggelitik hatinya.
Yara bangun dari duduknya, memberanikan diri menatap lelaki yang ada di depannya itu. "Ya....aku yakin wanita itu adalah ibumu. Dia tidak ubahnya seperti nenek sihir. Dia jahat dan tidak punya hati."
Frey menunduk dan mengusap keningnya. Lagi-lagi kata-kata itu begitu menggelitik hatinya. Ya benar, kalimat itu memang tepat untuk ibunya. Frey kembalikan mengangkat wajahnya menatap Yara tanpa ekspresi.
__ADS_1
Yara menarik napasnya dengan kasar, dari tadi lelaki yang ada di depannya sama sekali tidak meresponnya. Yara tetap bersikap tenang, dia tidak ingin menyulut emosi pria yang tengah duduk santai itu. Setidaknya ia bisa mengharapkan pria ini untuk menyelamatkan hidupnya.
"Oke..aku tidak ingin membahas wanita itu lagi. Sekarang yang aku tanyakan, dimana tuan Miles?" Yara menggigit bibir bawahnya, sedikit takut ketika kalimat itu lolos dari bibirnya.
"Bantu aku!" Tangannya mengatup di depan dada. "Pertemukan aku dengan tuan Miles. Sejak aku menikah dengan lelaki tua bangka itu. Sekali pun beliau tidak pernah menunjukkan batang hidungnya. Apa dia sedang sakit? Setidaknya aku harus tahu kabar tuan Miles."
Frey tidak menjawab, entah mengapa tatapan itu membuatnya seperti kehilangan kesadaran. Tatapan memohonnya mengingatkannya kepada seseorang. Ia seperti tak bisa bergerak dari tempatnya.
Wajah Yara memelas sendu. Ia harus bisa berakting di depan pria itu. Yara menunduk sambil meremas kedua tangannya. "Ya...ya...aku tahu, aku salah...aku menikahi lelaki tua itu demi menyelamatkan perusahaan keluargaku. Tapi coba bayangkan bagaimana jika kamu berada di posisiku? aku rasa kamu juga akan melakukan hal yang sama. Kamu akan bersedia menikahi wanita yang jauh lebih tua darimu. Lebih tepatnya itu adalah nenekmu." Yara berjalan mondar-mandir di depan Frey, menunjukkan kegalauan hatinya. Kemudian ia berhenti dan menatap Frey lagi.
"Aku yakin perbedaan umur kita tidak terlalu jauh. Kamu pasti mengerti apa yang aku rasakan. Jadi tolong bantu aku, pertemukan aku dengan tuan Miles. Hmmm! Aku ingin keluar dari rumah ini, aku merindukan keluargaku. Aku tahu mereka sangat mengkhawatirkanku. Mereka sama sekali tidak bisa menghubungiku! Jadi aku mohon, Bantu aku keluar dari rumah ini." Ucap Yara dengan tatapan memohon. Tangan kembali mengatup di depan dada.
Mendengar kalimat terakhir Frey langsung bangun dari duduknya.
"Apa? membantumu keluar dari rumah ini?"
Mendapat respon baik, Yara menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Hmm, aku ingin keluar dari rumah ini. Aku ingin bertemu dengan keluargaku." ucap Yara lagi.
"Kau ingin bertemu dengan keluargamu?" Frey tersenyum sinis. Ia menatap Yara yang terus memohon. "Dan bagaimana kau bisa tahu keluargamu sangat menghawatirkanmu?" Sorot mata Frey begitu tajam mendominasi. Ia melangkah mendekat ke arah Yara.
Jantung Yara tiba-tiba terpukul keras saat melihat ekspresi wajah gahar pria itu. Perlahan-lahan Yara mundur ke belakang. Napasnya keluar terbata dan benar-benar tidak stabil. Ia kemudian menarik napasnya dalam-dalam. Untuk memenuhi paru-parunya dengan oksigen.
"Setelah kekacauan yang kau buat, kau ingin pergi? Apa kau pikir semudah itu? Cih..." Frey berdecak sambil menaikkan sudut bibirnya. Ia menggeram. Rahangnya mengencang kuat dan sorot matanya menajam seakan ingin menerkam Yara.
Yara tidak terima. Ia membalas menatap tajam ke arah Frey. Tatapannya penuh penghakiman. Ia sudah siap meledakkan lahar yang tertumpuk di dadanya.
"Ya...ya.. aku salah, aku menikahi suaminya. Tapi aku sungguh-sungguh tidak tahu kalau keadaannya akan seperti ini!" ucap Yara dengan sorot mata semakin menantang.
"Aku tidak mau tahu, sekarang pertemukan aku dengan tuan Miles, hanya beliau yang bisa mengeluarkan aku dari neraka ini." Kata Yara dengan mata menyalang tajam.
Habis kesabarannya, Frey mencengkram rahang Yara cukup keras. Yara mengerjap dan mundur.
"Eeeh....Eeeggghhhh...apa yang kau lakukan?" Yara terkejut. Ia merasa kesakitan saat jari-jari pria itu menekan kuat sisi rahang bawahnya.
Frey mengangkat wajah Yara ke atas. "Jangan pernah mencoba-coba ingin keluar dari rumah ini. Aku tidak akan segan-segan melakukan hal yang lebih buruk dari ini." Desis pria bermata biru dengan suara yang mendominasi. Suaranya terdengar berat, membuat Yara semakin ketakutan.
"Lepaskan aku, aku hanya ingin bertemu dengan tuan Miles. Aku hanya ingin pulang." Yara memohon dengan tangisan. Kali ini ia salah menilai. Ia pikir lelaki ini bisa menyelamatkan hidupnya. Ternyata ia jauh lebih buruk dari ibunya.
"Pulang katamu? Ch!" Frey berdecak sambil mengangkat wajah Yara ke atas lagi. Sorot matanya tajam, menyatu di antara kedua hidung yang mancung sempurna. Ia menikam dengan pesona wajah yang dingin tegas.
"Dengarkan aku baik-baik, aku tidak akan menyakitimu selagi kami menurut. Jangan pernah memikirkan untuk kembali kepada keluargamu. Itu tidak akan mungkin. Kau mengerti?" Tatapan Frey berair dan penuh kepedihan. Dengan cara seperti ini, ia bisa membalaskan dendamnya kepada keluarga Waynet.
"Eeeggghhhh...." Lirih Yara merasakan rahangnya semakin dicengkram kuat.
"Apa kau mendengarkanku?" Ucapnya sambil men*esah penuh dengan penekanan. "Ja...wab...aku! Apa kau mendengarkanku?" Suaranya menggema penuh penekanan dan menusuk ke telinga.
__ADS_1
Nyali Yara seketika menciut, keberanian yang sejak tadi ia pupuk hilang entah kemana.
"JAWAB!!!!!" Suara Frey kembali menggema di dalam kamar.
Yara terpaksa menganggukkan kepalanya. Frey tidak tersenyum meski telah dituruti. Sorot matanya masih terlihat dingin. Ia melepaskan cengkraman tangannya.
"Heeee...." Yara hanya bisa men*esah dengan terbata-bata. Kini matanya nanar menunjukkan ketakutan.
"Brigitta!" Panggil Frey kepada kepala pelayan yang sedang berjaga diluar.
Mendengar suara panggilan dari dalam kamar, wanita itu segera masuk. "Iya, tuan....! ada yang bisa saya bantu?"
"Dia ingin bertemu dengan tuan Miles." Frey menatap sinis ke arah Yara yang sedang menunduk.
Sementara Brigitta menatap bingung kepada tuannya. "Maksudnya bagaimana tuan?"
"Persiapkan dirinya dengan baik. Malam ini dia ingin menghabiskan malam panjang dengan tuan Miles."
Saat itu juga Yara mengangkat wajahnya, menatap pria itu dengan ekspresi gugup dan takut. Ia mengerti arti ucapan itu.
"Apa kau mendengarkanku, Brigitta?"
"Ba-baik, tuan." Ucap Brigitta dengan menunduk hormat. Ia masih bingung dengan perintah tuannya. Untuk bertanya langsung ia tidak berani.
"Hmmmm...." Frey mundur beberapa langkah, lalu memasukkan tangannya ke dalam kantong celana hitam yang menjuntai lurus ke kakinya yang panjang. Ia mengangkat wajahnya, rahangnya terlihat bergaris tegas.
"Aku harap malam ini, kau tidak mengecewakan tuan Miles." Setelah mengatakan itu, Frey langsung berjalan meninggalkan kamar. Ia pergi dengan langkah tenang. Sepatu pantofel hitamnya terdengar menggema di rumah yang besar itu.
Sementara Yara menarik napasnya dengan terbata-bata. Ada rasa sesak yang tidak bisa ia tutupi.
"Nona, sekarang ikut aku! sebaiknya anda mempersiapkan diri untuk bertemu dengan tuan Miles."
Yara tidak menjawab, ia hanya melangkah menghentakkan kakinya meninggalkan kamar itu. Untuk saat ini Yara harus melupakan niat untuk kabur. Yang harus ia pikirkan saat ini, bagaimana caranya untuk menaklukkan hati tuan Frey.
🌟🌟🌟🌟🌟
Maaf ya my readers tersayang, beberapa hari ini tidak nulis karena saya SAKIT. Ini saya mencoba untuk menulis kembali. Kalau pun masih terlambat, itu karena masih pemulihan. Terima kasih atas perhatiannya 😍🥰
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kesembilan aku 😍
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
__ADS_1
^_^.