Terjerat Dengan Suami Palsu

Terjerat Dengan Suami Palsu
SEMAKIN SAYANG


__ADS_3

💌 TERJERAT DENGAN SUAMI PALSU 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


SATU MINGGU KEMUDIAN.


Frey melihat jam di tangan kirinya. "Aku berangkat dulu sayang. Nanti siang jangan lupa datang ke kantor, aku ingin mengajakmu makan siang bersama."


Yara duduk sambil merapikan rambutnya. "Hmm. Dari tadi kau sudah mengingatkanku sayang. Aku pasti datang."


"Diantar pak Bram."


"Ha? Diantar pak Bram lagi?"


Frey tersenyum. "Hmm. Aku tidak mengizinkanmu datang sendiri. Kau adalah nyonya Miles, banyak cara orang untuk menjatuhkan perusahaan Miles. Jadi aku harap kau mengerti sayang."


Lagi-lagi Yara tidak bisa berkata apa-apa. Semua keputusan Frey tidak bisa diganggu gugat.


"Jangan cemberut seperti itu." Frey mengacak rambut Yara. "Jangan lupa sebelum jam dua belas datanglah, nanti aku mengajakmu ke restoran favoritku." Kembali Frey mengingatkan. Yara hanya mengangguk dengan bibir mengerucut.


Frey melangkah mengambil tasnya. "Tidak perlu mengantarku. Kau tetap disitu dan lanjutkan istirahatmu."


Yara hanya menjepit bibirnya dan mengangguk paham. "Hati-hati sayang,"


"Kamu jangan lupa sarapan. Aku akan meminta ibu Brigitta membawa sarapanmu ke sini saja. Bagaimana?"


Yara tersenyum tipis dan mengangguk lagi.


"Aku mencintaimu, sayang."


"Aku juga mencintaimu." Yara melambaikan tangannya. Suaminya sudah hilang dibalik tembok kamarnya.


Yara menarik napas dalam-dalam sampai kedua bahunya ikut turun. Ia menjatuhkan kakinya ke lantai dan berjalan ke arah balkon sambil membawa teh hangat yang dibawakan suaminya tadi.


Suasananya begitu tenang, tapi tidak dengan suasana hatinya. Perasaannya hampa dan kosong. Menyeruak seolah-olah ia langsung terjatuh dalam sebuah jurang kegelapan yang hampa. Ia begitu merindukan keluarganya. Tapi Frey sampai saat ini belum mengizinkannya bertemu dengan orangtuanya. Apakah ada sesuatu yang disembunyikan Frey?


TOK TOK TOK.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari kamarnya. Yara melepaskan lamunannya dan melangkah masuk ke kamarnya lagi. "Masuk bu."


Ceklek!


"Aku membawakan sarapan anda nyonya." ucap ibu Brigitta tersenyum sambil membawakan baki di tangannya. Sarapan pagi lengkap dengan susu sesuai pesanan tuannya sebelum berangkat.


"Ah...aku sarapan di dapur saja bu. Aku mandi dulu." Ucap Yara membalas senyuman ramah dari wanita paruh bayah itu.


"Oh iya, nyonya!"


Yara berbalik dan memandang ibu Brigitta. "Ada apa bu?"


"Aku lupa, satu minggu yang lalu aku menemukan kartu nama dari celana jeans milik anda dan saya masih menyimpannya."


"Kartu nama?" Yara mengernyit.


"Iya nona, kartu nama."


Tiba-tiba Yara teringat pertemuannya dengan Ethan. "Ahhhh..." Yara mengangguk paham. "Baik bu. Terima kasih karena masih menyimpannya."


"Sama-sama nyonya. Nanti saya akan memberikannya kepada anda."

__ADS_1


"Baik bu. Terima kasih."


Ibu Brigitta mengangguk paham. Wanita itu membungkukkan badannya, dan langsung keluar dari kamar.


Yara pun langsung menuju kamar mandi. Entah mengapa akhir-akhir ini Yara suka sekali berendam di dalam bathtub. Padahal sebelumnya ia tidak pernah seperti itu. Sekarang Yara ingin memanjakan diri dengan mandi campuran air hangat dan minyak aromaterapi. Ia memberikan beberapa tetes minyak lavender dan chamomile. Bisa memberikan ketenangan saat dihirup olehnya. Yara benar-benar menikmatinya. Cukup sepuluh menit saja. Ia langsung keluar dari bathub, lalu menyalahkan shower untuk membilas tubuhnya.


Setelah 20 menit berlalu dia keluar dari kamar mandi. Yara keluar dengan handuk yang melilit di tubuhnya. Wajahnya sudah terlihat segar. Tetesan air di ujung-ujung rambutnya masih terjatuh.


Yara menggunakan pakaiannya. Ia berpenampilan anggun dan fashionable. Kaos fashion item yang branded dari Chanel dan celana jeans yang digunakannya dari merek Louis Vuitton, hadiah dari suaminya.


Kling...kling....


kling...kling....


Tiba-tiba handphone Yara berbunyi. Ia segera mengambilnya dan menatap layar pipih itu. Yara seketika tersenyum simpul saat melihat nama suaminya yang tertera di layar dengan tulisan memanggil.


Yara segera mengangkatnya, sebelum panggilan itu berakhir.


"Hallo sayang, kenapa menelpon, sudah merindukanku ya?" rengek Yara mendayu manja.


"Hmm, aku merindukan istriku yang bahkan setiap hari aku melihatnya, tapi membuatku semakin dimabuk cinta."


"Hahahaha," Yara tertawa awkward. "Pagi-pagi suamiku sudah menggombal, basi!" ledek Yara tersenyum kecil. Tapi wajahnya bersemu merah.


"Pukul 11 aku menunggumu di kantor. Jangan lupa bersiap ya,"


Yara tertawa kecil, "Astaga, kau sudah berkali-kali mengingatkan ku sayang. Aku gak bakal lupa."


"Hmmm aku harap begitu."


"Baiklah, tunggu aku ya."


"Iya."


Yara menjepit bibirnya, "Iya, SUAMIKU..."


Frey menjauhkan handphone dari telinganya dan mengerucutkan wajahnya gemas. Ia kembali menempelkan benda pipih itu ke telinga. "Aku mencintaimu sayang."


"Hmm, aku mencintaimu juga." Kata Yara tersenyum mengakhiri teleponnya. Ia menyandarkan handphonenya ke dada seakan memeluk Frey. "Hmmm, dia benar-benar menggemaskan. Bagaimana aku bisa lupa jika dia sudah mengingatkanku berkali-kali."


⭐⭐⭐⭐⭐


Di dalam lift Yara merapikan baju dan rambutnya lalu naik keruangan pak direktur Miles. Yara menggelengkan kepalanya. Sungguh Ia tak percaya pak Bram sampai mengantarnya ke dalam lift.


TING


Pintu lift terbuka. Yara menegakkan badannya, mengangkat wajahnya untuk tersenyum. Yara keluar dari lift. Ia berjalan elegan. Kecepatan berjalannya pas. Posisi tubuh yang seimbang dan mata yang memandang lurus ke depan. Yara berjalan mendekati meja James.


"Selamat siang pak James." Yara mengetuk meja James sebanyak tiga kali.


James terjengkit dari duduknya. Rasa ngantuknya hilang seketika.


"Selamat siang ibu Jane." Ucap James tidak sadar.


"Ibu Jane?" Wajah Yara mengerut lalu ia menaikkan alisnya menatap James.


"Ahhhhh....maaf nyonya Miles. Kebetulan sekali ibu Jane Austen berada di ruangan pak direktur untuk membicarakan kelanjutan kontrak kerjasama."


"Begitu ya?" Kata Yara sambil menatap jam yang ada di pergelangan tangannya.


"Apa anda mau masuk, nyonya?" tanya James.


"Tidak pak. Lebih baik aku menunggu di sini saja."


Tit!

__ADS_1


Tiba-tiba nada interkom di meja James berbunyi.


"Jangan biarkan istriku menunggu diluar James. Suruh masuk! Apa kau mau di pecat?" Kata Frey lewat interkom.


Yara dan James saling bertatapan. Dengan cepat James menjawabnya. "Baik tuan. Saya akan meminta nyonya Miles masuk."


CEKLEK!


Pintu terbuka dan benar saja seorang wanita cantik keluar dari ruangan pak direktur tanpa menoleh sedikit pun ke arah Yara. James reflek membungkukkan badannya untuk memberi hormat. Wanita itu masih terus menatap lurus sambil berjalan menuju lift khusus.


"Silakan masuk, tuan Miles sudah menunggu anda." Kata James kemudian.


"Terima kasih pak James." kata Yara tersenyum penuh arti. Ia berjalan elegan memasuki ruangan pak direktur.


SEMENTARA DI DALAM RUANGAN DIREKTUR


Belum juga Yara menutup pintu. Frey menarik tangan Yara. Tatapan mereka bertemu dan..


CUP


Ciuman mendarat sempurna di bibir Yara.


"Baru beberapa jam tidak melihatmu, aku sudah merindukanmu sayang."


Yara menahan senyumnya. Ia mengalungkan tangannya ke leher Frey dan memberikan ciuman singkat di bibir lelaki tampan itu. Sebelum Yara menarik bibirnya, Frey dengan cepat memindahkan tangannya ke tengkuk Yara, mendorong kepalanya agar mencium Yara kembali. Frey tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia langsung menciumnya. Bibir mereka bertautan dengan Lmatan yang lembut. Yara memejamkan matanya dan mulai membalas, jari-jarinya menelusuri bagian dalam rambut Frey. Membuat tubuh Frey merinding. Ia pun semakin terbakar. Yara berjinjit agar tidak membuat Frey kesulitan. Ciuman itu semakin dalam, semakin menuntut lebih dalam lagi.


Frey semakin mencengkram pundak Yara agar tubuh mereka semakin rapat, dada Yara membuat Frey semakin nyaman, membuat ciuman itu semakin membara. Ciuman mereka saling terbalaskan. Frey terus mengecup dan terus mengejarnya sampai harus membuatnya membungkuk.


Sensasi yang begitu menggetarkan, mereka sesekali memberi sela untuk menghirup udara dan kemudian Frey melanjutkan aksinya. Terus menjelajahi bibir Yara, saling membelit memberikan sensasi kenikmatan. Tangan Frey terus meraba punggung Yara dari atas sampai ke bawah dan tiba-tiba....


TOK TOK TOK


Ciuman mereka terlepas, napas Yara dan Frey masih memburu dan saling berkejaran.


TOK TOK TOK


Kembali ketukan itu terdengar, tentu saja Yara mengerjap dan ia berlari menuju sofa. Sementara Frey duduk dan terlihat sibuk memeriksa berkas yang ada di mejanya. Agar James tidak curiga. Sementara napas Yara masih terlihat naik turun dan tidak beraturan. Ia masih sangat gugup sambil membolak-balikkan majalah yang ada di tangannya.


Terlihat James masuk dan tersenyum. "Permisi tuan, maaf menganggu." katanya dengan sopan.


"Ehmm, ada apa?" Tanya Frey. Ia tidak mengangkat wajahnya. Perasaannya sama dengan Yara. Frey juga masih terlihat gugup dengan napas yang memburu. Ia tersenyum kecut karena kesenangannya di ganggu James.


James dapat merasakan kegugupan pasangan suami istri itu. "Apakah mereka bertengkar?" Ia mengerutkan keningnya dan merasa heran. Ia menatap Yara dan tuan Miles secara bergantian.


"Saya sudah reservasi restoran yang anda minta, tuan." Ucap James memberitahu.


"Oke, terima kasih James. Sekarang kamu bisa keluar."


"Baik tuan. Kalau begitu saya permisi dulu." ucapnya.


"Silakan James." Kata Frey dengan wajah datar.


Dengan cepat, James membungkukkan badannya lalu memberi hormat. Ia langsung berjalan menuju pintu keluar. Ia merasa tidak nyaman dengan suasana ruangan itu. James yakin ada yang tidak beres dengan pasangan ini. Setelah berada di luar ruangan pak direktur, James membuang napasnya dan tangannya masih berada di kenop pintu. Ia mengembuskan napas panjangnya dan terus berpikir apa yang sedang terjadi.


"Apa jangan-jangan....?"


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kesembilan aku 😍


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^

__ADS_1


__ADS_2