Terjerat Dengan Suami Palsu

Terjerat Dengan Suami Palsu
BERLIBUR


__ADS_3

💌 TERJERAT DENGAN SUAMI PALSU 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


DUA BULAN KEMUDIAN.


Yara masih mencoba mengerti Frey. Setelah kejadian malam itu, Frey memberikannya kebebasan untuk menggunakan handphone. Tapi handphone itu digunakan hanya untuk menghubungi Frey saja. Frey juga memberikannya kebebasan untuk belanja ke mall tapi harus dikawal oleh bodyguard. Awalnya Yara merasa bahagia, tapi lama-lama kebebasannya seperti dibatasi. Dan yang paling anehnya, Yara masih dilarang untuk menemui orang tuanya. Itu yang membuat Yara kesal. Tapi Yara tidak bisa diam, Ia harus melakukan sesuatu agar Frey mengizinkannya bertemu dengan orang tuanya.


⭐⭐⭐⭐⭐


Yara mengeluarkan beberapa pakaian yang akan dibawanya dari dalam lemari baju, dan juga beberapa keperluan lainnya yang sudah ia persiapkan sebelumnya.


Hari ini Frey mengajaknya liburan. Jepang adalah tujuan mereka. Yara dan Frey memang baru pertama kali berkunjung ke negara ini. Frey mendapat rekomendasi dari James, mengatakan kota Jepang memiliki destinasi fantastis yang sempurna untuk para newlyweeds. Daya tarik lain dari negeri matahari terbit ini adalah panorama alamnya yang menakjubkan. Ada banyak tempat wisata menarik dengan pemandangan romantis yang siap menciptakan kenangan indah. Selain bunga sakura dan tempat ini juga mempunyai kuliner yang unik dan enak. Suasana pegunungan yang romantis berpadu dengan keindahan alam. Dibutuhkan waktu kurang lebih tujuh jam untuk menuju ke sana. Bukan waktu yang sebentar dan itu pasti akan terasa sangat melelahkan. Mereka berdua akan menghabiskan waktu selama 5 hari di sana.


"Tuan, apa yang harus aku siapkan?" Yara berteriak dengan cukup kencang sambil memasukan barang-barang bawaannya ke dalam koper. Saat ini Frey sedang mandi, dia bangun kesiangan karena semalam sibuk menandatangani berbagai berkas sehingga tidur larut.


"Aku sudah bilang jangan panggil tuan, Yara. Apa aku harus mengigitmu pagi ini?"


Yara reflek menutup mulutnya. "Ups, maaf." Dua bulan waktu yang berat dilalui Yara, setiap ia membuat kesalahan, Frey tidak segan-segan menggigit pipinya. Itu hukuman untuknya jika Yara masih memanggilnya dengan sebutan tuan. Yara mengembuskan napas panjang. Kebiasaannya memanggil Frey tuan tak bisa lepas dari bibir mungilnya itu.


"Apa yang harus aku siapkan suamiku yang tampan?"


Mendengar itu seketika Frey tersenyum. "Terserah kamu saja sayang. Pilihanmu selalu yang terbaik." Balasnya dengan teriakan keras.


"Aish, terserah? Hem, mungkin beberapa bajunya saja yang akan aku siapkan. Sisanya biar dia yang memilih sendiri."


Yara meraih sebuah koper berwarna biru dari dalam lemari kemudian meletakkannya di atas ranjang. Ia membuka lemari yang menjadi daerah kekuasaan Frey.


"Hem, kami berangkat untuk liburan, bukan untuk urusan bisnis. Jadi tidak usah membawa pakaian formal." Yara mengetuk dagunya memperhatikan pakaian dari atas sampai ke bawah.


"Baiklah, Jeans, hoodie, t-shirt, hem apa lagi yang harus aku bawa? Jepang saat ini lagu musim semi." Gumamnya sembari menurunkan beberapa pakaian dari dalam lemari. Yara mengambil celana jeans dan juga sebuah hoodie dengan warna biru gelap yang terlihat sangat lucu.


"Kenapa dia tidak pernah menggunakannya? Pasti akan terlihat sangat keren jika dia menggunakan hoodie ini."


Yara juga mengeluarkan kaus lengan panjang warna abu-abu dan juga kemeja santai motif kotak lengan panjang berwarna hijau toska.

__ADS_1


"Oh iya, aku lupa aku juga harus membawa baju tidurnya, baju tidur berwarna biru muda dengan garis putih. Entah kenapa aku sangat suka jika dia menggenakan baju tidur setelan seperti ini, benar-benar lucu." Yara terkekeh.


"Hem tapi tunggu sebentar, kenapa warna biru mendominasi seperti ini? haha, sudahlah. Semua akan terlihat menarik jika dia yang mengenakannya."


"Aish, aku lupa dengan satu hal yang harus dibawa. Yap, passport."


"Suamiku, dimana kau menyimpan passport?" Yara kembali berteriak dengan volume tinggi, agar dia bisa mendengarnya dengan jelas. Harus memastikan benda penting itu tidak ketinggalan, karena pasti akan sangat merepotkan jika sudah sampai di bandara tanpa membawanya.


"Cari di laci meja kerjaku!" Frey balas berteriak dari dalam kamar mandi.


Yara segera melangkah menuju ruang kerja Frey. Saat berada di ruangan itu, kakinya langsung melangkah menuju meja kerja. Ia menarik gagang laci dan mencari benda tersebut di dalamnya. Yara hanya menemukan beberapa kartu ataupun surat-surat penting lainnya yang terlihat berantakan.


"Astaga dimana dia meletakkannya?" Yara membungkukkan badannya agar bisa memeriksanya dengan jelas.


Dahi Yara seketika mengerut saat menemukan amplop coklat dengan ukuran 11x24 yang isinya lumayan tebal. Yara membolak-balikkan amplop itu. "Apa ini?"


"Apa kau menemukannya?" Frey menyentuh pundak Yara dari belakang.


Dan saat itu juga Yara terkejut dan meletakkan amplop itu ke dalam laci. Dapat ia rasakan tangan dinginnya karena baru saja selesai mandi.


"Aku tidak menemukannya." Yara membalikan badannya menghadap Frey yang tepat berada di belakangnya. Tapi kemudian Yara menyadari bahwa saat ini Frey tidak memakai baju ketika keluar dari kamar.


"Kau kenapa, Sayang?" Frey tersenyum saat melihat Yara menutup matanya dengan kedua tangannya.


"Bagaimana kalau pelayan melihatmu seperti ini? Kau juga mencemari penglihatanku."


Frey terkekeh. "Tidak ada yang melihatku sayang. Percayalah!" Frey mencoba menarik kedua tangan yang menutupi wajah istrinya itu. Tapi kemudian Yara segera menundukkan wajahnya dan menutup matanya rapat-rapat.


"Aku tidak boleh melihat pemandangan yang tidak seharusnya aku lihat."


"Aku suamimu Yara. Kau bebas melihatnya."


"Aku belum siap. Cepat pakai bajumu! Mengapa keluar dalam keadaan seperti itu?" Yara membalikan badannya dan membelakangi Frey, agar bisa membuka mata dan bernafas lega. Tapi bukannya pergi Frey malah memeluknya dari belakang dan menyangga dagunya di bahu Yara. Yara yang benar-benar merasa terkejut. Ia dapat merasakan napasnya yang terasa menggelitik di lehernya. Membuat Yara merinding selama beberapa saat.


"Astaga...apa ada seorang yang mati hanya karena sebuah pelukan. Tapi aku benar-benar merasa sangat sesak dengan perlakuannya seperti ini. Bukan karena pelukannya yang terlalu kencang. Hanya saja, aku merasa jika pelukannya ini bisa menghentikan detak jantungku."


"Kenapa kau gugup?" Frey berbicara masih dalam posisi yang sama, dan napas yang keluar dari mulutnya terasa hangat masuk ke dalam telinga Yara.


"........" Yara hanya diam, ia memang benar-benar gugup dengan perlakuannya seperti ini. Jantungnya jadi berdebar tidak karuan. "Mom, tolong gadis kecilmu yang masih sangat polos ini!" Teriaknya dalam hati.


"Lalu kenapa sayang. Kenapa kau tiba-tiba diam seperti ini, huh?" Frey menyingkirkan rambut panjangnya yang menjulur ke depan, kemudian mengecup leherku dari samping.

__ADS_1


Demi Tuhan, Yara benar-benar tidak dapat bergerak saat ini. Kedua kakinya terasa lemas, Ia bahkan kesulitan untuk mengartikulasikan kata-kata dari mulutnya.


"Bagaimana mungkin dia bisa melakukan ini padaku. Mengapa Frey tiba-tiba menjadi mesum seperti ini?"


"Feeee...Frey...."


"Bodoh kamu Yara, kenapa kau menjadi gugup seperti ini. Setidaknya kau harus bisa menyembunyikan perasaanmu."


"Sepertinya kita masih punya banyak waktu untuk bersenang-senang pagi ini sayang." Frey mencoba memancing Yara, karena selama ini Yara selalu menghindarinya jika Frey ingin menyentuh Yara.


Yara tidak dapat berkata-kata ketika bibirnya mulai menjelajahi leher dan bahunya yang terbuka, karena saat ini Yara masih menggunakan dress tidur dengan satu tali. Ia hanya bisa terdiam sambil menggigit bibir bawahnya, menahan suara menjijikan yang mungkin akan keluar begitu saja dari mulutnya.


"Ah… hentikan. Aku…." Dengan sekuat tenaga Yara menghentikan Frey yang mulai menggila. Kedua kakinya terasa sangat lemas, tapi Yara berusaha melangkah untuk maju dan menjauhi tubuhnya. Kedua tangannya masih melingkar di perutnya tapi Yara segera melepaskannya.


"Hahahahaha."


Yara mengerutkan keningnya saat mendengar suara tawa yang menggema di ruangan itu. "Berhenti tertawa. Aku tidak mau membantumu membereskan barang-barang bawaanmu. Aku juga tidak mau mencari passport. Merepotkan saja. Sudahlah, aku mau mandi." ucap Yara dengan kesal dan langsung keluar dari ruang kerja Frey.


Dan saat itu juga senyum Frey seketika hilang saat Yara sudah hilang di balik pintu. Ia menatap amplop coklat yang benar-benar belum di buka Yara. Frey langsung mengembuskan napas panjang. Meraih amplop itu dan menyimpannya ke dalam lemari yang menurutnya aman. Frey memang harus melenyapkan isi amplop itu sebelum Yara mengetahuinya.


SEMENTARA ITU.


Yara menarik napas dalam-dalam dan membasuh wajahnya berkali-kali untuk menghilangkan bayangan aneh yang berkeliaran di otaknya. Bagian dari tubuh Frey benar-benar keras bergesekan dengan bokongnya. Jika Yara tidak langsung mendorong tubuh Frey, pasti akan terjadi hal yang tidak diinginkan pagi ini. Yara belum siap. Ia akan memberikan hatinya ketika Frey membawanya bertemu dengan orangtuanya.


Yara dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Bagaimana mungkin aku berpikiran seperti itu? Astaga...hanya merasakan sentuhannya saja sudah benar-benar membuatku gila."


"Fiuhhhhh…" Yara menghembuskan napas berat dan melihat bayangannya sendiri di cermin. Ia merapikan rambut panjangnya yang sedikit berantakan.


"Oh my God...." Yara benar-benar kaget ketika melihat beberapa tanda merah di lehernya.


"Bodoh, apa yang dia lakukan padaku sampai seperti ini? Apa dia itu vampir. Aish, bagaimana aku bisa keluar dalam keadaan seperti ini. Sekarang musim panas. Jika aku menggunakan scraft pasti akan terlihat aneh, dasar bodoh seenaknya saja berbuat seperti ini padaku."


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kesembilan aku 😍


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^.

__ADS_1


__ADS_2