Terjerat Dengan Suami Palsu

Terjerat Dengan Suami Palsu
MENCARI ALASAN


__ADS_3

💌 TERJERAT DENGAN SUAMI PALSU 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Pukul 02.00 dini hari Yara mengendap-endap keluar dari kamarnya. Untuk memastikan semuanya aman, Yara menoleh ke kiri dan ke kanan. Aman. Semua penghuni rumah sudah benar-benar terlelap. Yara memandang ke bawah untuk memastikan bahwa tidak ada orang di ruang tamu.


Diam-diam dia melangkahkan kakinya menuruni anak tangga. Yara sedikit deg-degan. Harusnya dia berhenti, namun ia tidak bisa mundur lagi. Kali ini ia mantap dengan rencananya. Yara menarik napas panjangnya lalu mengembuskanya. Ritual yang biasa ia lakukan jika sedang nervous.


Sampai di lantai bawah, Yara melangkah menuju dapur. Ia membuka pintu mewah itu perlahan-lahan agar tidak menimbulkan bunyi. Ia lalu menutup pintu itu dengan pelan. Begitu ia berhasil keluar.


"Hkk!!!" Yara terkesiap sambil memegang dadanya saat melihat Billy sedang berada di dapur.


"Nona Yara," Billy mengernyitkan keningnya menatap Yara.


Yara menaruh telunjuknya di mulut. Memberikan gestur untuk tidak berisik. "Sssstttt...suaramu, nanti ada yang mendengarnya."


"Heuh?" Billy masih bingung. "Apa yang anda lakukan? apa anda membutuhkan sesuatu?" Tanya Billy.


"Aku hanya ke toilet sebentar." jawab Yara.


Lagi Billy mengerutkan dahinya. Merasa aneh. "Bukankah di kamar anda ada toilet?"


"Emmm...Emmm..." Yara mengerutkan wajahnya. Jantungnya berdegup kencang saat ini. Kalau sampai tuan Miles tahu Yara berkeliaran di jam seperti ini, ia akan mendapatkan masalah. Yara dengan cepat memutar kepalanya mencari jawaban yang masuk akal.


"Sebenarnya aku ingin makan mie ramen Bill. Bisakah aku memasaknya?" ucap Yara dengan wajah memelas, wajahnya mengerucut sambil memainkan kuku tangannya. "Kamu tahu sendiri jika aku memintanya ke ibu Brigitta, beliau tidak akan mengizinkannya. Karena ibu Brigitta menganggap mie ramen itu makanan tidak sehat. Jadi, aku diam-diam ingin memasaknya."


Bill pun mengangguk paham. "Bagaimana jika aku yang memasaknya, kebetulan sekali aku juga ingin makan mie ramen."


"Ha?" Yara terbelalak tak menyangka. Sesungguhnya makan mie ramen itu hanya alasannya saja.


Billy memiringkan kepalanya menatap Yara. "Bagaimana?" Ucapnya sambil menaikkan kedua alisnya bersamaan dengan ulasan senyum menawan.


"Astaga, bagaimana ini?" Ini artinya berbohong membawa petaka. Ia tidak bisa menolak. Jika ia berbohong lagi, yang ada Billy tidak akan percaya. Ia pun akhirnya mengiyakan.


"Tapi tunggu dulu, sebelum kita masak mie ramennya, aku ke toilet dulu ya..." Yara tidak perlu konfirmasi dari Billy. Ia dengan cepat meninggalkan Billy. Kaki telanjangnya dengan lincah melangkah cepat di lantai marmer. Setengah berlari menuju toilet yang ada di dapur. Billy yang melihat Yara terburu-buru tidak menaruh curiga sama sekali.


Yara mengembuskan napas dengan mulut begitu sampai di toilet. Ia memegang dadanya yang berdetak dengan kencang. Napasnya masih terbata, namun Yara mencoba untuk tenang. Dengan hati-hati, Yara mengarah ke kloset yang terbuat dari keramik dan berwarna putih itu. Yara meraba-raba mencari sesuatu. Dan benar ada catatan yang dicarinya di sana. Sebuah kertas yang dilipat dengan ukuran yang sangat kecil dan ditempel dengan double tip agar tidak basah.

__ADS_1


Yara bernapas lega saat melihat catatan itu tidak rusak. Dengan senyuman tipis, Yara mencabutnya dan memasukkannya ke dalam kantong celananya. Yara kembali mengembuskan napas panjang. Setelah cukup tenang, Yara mengamati dirinya di depan cermin sambil merapikan rambutnya. Ia pun keluar dari toilet melangkah dengan santai. Billy melihat ke arah Yara. Dengan pintarnya Yara mengatur napasnya agar tidak terlihat gugup. Tapi bagaimana pun, aksi ini selalu menjadi scene yang paling menegangkan baginya. Setidaknya kertas itu sudah ada di tangannya.


Yara tersenyum saat melihat Billy sedang menyiapkan mie ramen. Billy adalah anak ibu Brigitta yang tinggal di kediaman Miles juga. Mereka saling mengenal saat Yara ditugaskan menyiapkan makanan untuk Frey. Billy adalah petugas kebun yang merawat tanaman kesukaan nyonya Victoria.


⭐⭐⭐⭐⭐


Yara menyiapkan mie ramen yang sudah masak. Melihat Yara tengah sibuk, Billy tersenyum. Ia memerhatikan Yara yang sedang melakukan food plating. Yara begitu serius memperhatikan posisi dan komposisi makanan agar menunjukan nilai seni dan kualitas yang tinggi. Biasanya seni plating ini ia lihat di acara televisi yang dilakukan oleh professional chef yang memang terlatih dan berpengalaman. Sekarang ia seperti menyaksikan langsung. Walau hanya sekedar mie ramen, tapi Billy melihat bahwa Yara memasaknya dengan hati yang tulus.


"Pantas saja tuan Miles tidak ingin pelayan lain untuk menyiapkan makanannya." Batin Billy.


Yara menyiapkan dua mangkuk mie ramen untuk mereka nikmati.


Dua mangkuk mie ramen tersaji dengan asap masih mengepul di atasnya. Ia menyajikannya di atas meja yang ada di dapur. Tak lupa bawang goreng, saos tiram, irisan lombok, ia siapkan di atas meja sebagai teman bersantap ramen.


"Sekarang kita makan Billy," Yara menaruh satu mangkok ramen di depan Billy.


Seketika wajah Billy berbinar melihat mie ramen yang tersaji di hadapannya. Sajian ramen begitu menarik hingga menggugah selera untuk segera memakannya. Serasa mie ramen yang pernah ia makan di restoran jepang yang terkenal di tengah kota.


"Ini benar-benar seperti di restoran Jepang, nona Yara."


"Tentu dong, siapa dulu chef-nya." Yara tersenyum memuji dirinya.


Billy tertawa renyah dan mengendus asap yang tengah mengepul.


"Pantas saja tuan Miles menyukai masakanmu." Kata Billy.


Billy mengajak Yara ber-selfie ria sebelum mengiringi detik demi detik waktu menyantap ramen. Setelah mengambil beberapa foto untuk menjadi kenangan. Yara mempersilahkan Billy untuk mencicipi masakannya.


"Bagaimana?" Yara sedikit mencondongkan tubuhnya dan tersenyum. Wajahnya terlihat serius menunggu penilaian dari Billy.


"Astaga, rasanya benar-benar enak. " Billy menunjuk gestur oke dengan menghubungkan ibu jari dan telunjuknya.


"Benarkah?" Yara lagi-lagi tersenyum mendapat pujian dari Billy.


Tangan kanan mereka memainkan sumpit sementara sebuah sendok setia bersama tangan kirinya.


"Kamu seperti chef handal, nona Yara."


"Ahhhhh.... Aku benar-benar tersanjung. Dan kau tau, hidangan ramen tergolong makanan rumit lho." Kata Yara dengan ekspresi serius.


"Benarkah?"


"Hmmmm, ciri ramen di Jepang terlihat dari tekstur mie, lauk, aroma, hingga kekentalan kuah dan bumbu yang terkandung di dalamnya. Jadi kita sendiri memang harus benar-benar penentu kualitas ramen itu sendiri."

__ADS_1


"Aku baru tahu itu, apa kamu pernah kursus belajar masak? yang aku lihat sepertinya kau ahli dalam hal memasak."


"Kalau untuk masak sehari-hari tentu saja aku bisa. Karena mommy memang bisa masak. Aku pernah masuk ke dapur restoran jepang untuk mengintip bagaimana memasak mie ramen yang enak."


"Memang bisa masuk ke dapurnya? "


"Chefnya itu kebetulan sahabatku."


"Oh, ya?"


"Kau tahu, dari racikan dan takaran bumbu, kualitas tekstur mie, hingga cara mengaduk kuah kaldunya, semuanya berbeda. Untuk menghasilkan ramen yang berkualitas, penyaji perlu memperhatikan detail pembuatannya kata chef restoran mie ramen." Jelas Yara begitu antuasias. Mereka seperti sahabat yang cukup dekat.


"Pantas saja mie ramen yang aku nikmatin ini berbeda sekali. "


"Jika sekadar memproduksi ramen saja mungkin outputnya mie ramennya enak. Tapi, kalau menambahkan passion ke dalamnya, hasilnya adalah mie ramen menjadi lebih enak dan mengena di hati penikmatnya." Kata Yara melipat kedua tangannya di atas meja. Menghentikan sejenak aktifitasnya untuk menikmati mie ramen buatannya.


"Luar biasa, mungkin saja malam ini aku tidak bisa tidur karena begitu bahagia menikmati ramen yang kamu buat ini."


"Ahhhh.....kamu bisa saja." Yara tersenyum sambil menutup mulutnya dengan tangan.


Di sela-sela menikmati mie dengan sumpitnya, Yara menyeruput kuah ramen. Ia meniru gaya ala korea yang pernah ia tonton.


"Kuahnya juga harus dinikmati seperti itu?" Billy menautkan ke dua alisnya, mengernyit bingung memperhatikan setiap gerakan Yara.


"Yes... Coba saja..."Kata Yara terkekeh.


Billy mengangguk dan melakukan seperti yang dilakukan Yara, menyeruput kuah ramen.


Setelah puas menyantap semangkuk ramen, Yara dan Billy kompak menyebut satu kata.


"Kenyang..."


"Hahahaha."


Mereka saling menatap dan tertawa. Masing-masing memperlihatkan susunan gigi yang putih dan yang rapi disertai wajah bahagia yang tidak dapat dilukiskan. keduanya tertawa bersama. Makan ramen bersama, tentu momen ini akan selalu mereka ingat. Setelah Yara membereskan mangkuk mie dan membersihkan meja. Yara dan Billy akhirnya memilih tidur di kamar masing-masing.


Sementara di sisi lain. Sejak Yara keluar dari kamar. Frey sudah mengawasi gadis yang sudah menjadi istrinya itu. Di seluruh ruangan yang ada di rumahnya terpasang cctv. Tak terkecuali di kamar Yara. Bahkan saat Yara sedang tidur atau melakukan aktivitas lain pun, Frey dengan jelas bisa melihatnya.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kesembilan aku 😍

__ADS_1


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^.


__ADS_2