
💌 TERJERAT DENGAN SUAMI PALSU 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Frey menarik napas singkat dengan pandangan sayu. Ada rasa bersalah saat ia tidak bisa pula bersama istrinya. Ia terus memikirkan wanita yang selalu membuatnya bahagia itu dan kini hidupnya terasa lebih berwarna. Frey hanya diam dan menatap ke luar jendela. Punggungnya menempel ke kursi. Melihat ke arah jalanan yang dilewati. Mereka membelok dan memasuki sebuah cafe yang kabarnya baru di buka satu bulan yang lalu. Cafe ini cukup ramai. James segera turun dan membukakan mobil untuk Frey.
"Silakan tuan,"
"Terima kasih, James." ucap Frey merapikan jasnya.
"Klien kita sudah menunggu anda tuan,"
"Hmmm. Baiklah." Ucap Frey tersenyum.
James ikut tersenyum sambil membungkukkan kembali badannya, lalu masuk ke dalam mobil untuk memarkir mobilnya.
Frey melangkah masuk. Seorang pelayan yang berpakaian rapi langsung menyambutnya. Pelayan langsung mengantarkan Frey ke ruangan VIP yang berada dekat dengan kaca pada sisi ruangan itu. Cafe ini juga dikenal dengan suasana yang tenang dan membuat mood seseorang menjadi lebih baik lagi. Frey sudah melihat kliennya berdiri di sana. Ia langsung melempar senyum kepada Mr Johan yang berdiri menyambut kedatangannya.
"Selamat malam Mr Johan." Sapa Frey dengan senyum menawannya. Pria itu terlihat beberapa tahun lebih tua dari Frey.
Mr Johan membalas sapaan. "Selamat malam tuan Miles. Senang bertemu dengan anda kembali. Maaf, pertemuan ini begitu mendadak." ucapnya kepada Lelaki yang sukses di usia muda dan sangat mandiri itu.
"Tidak masalah Mr Johan. Selagi pertemuan ini tidak merugikan. Saya tidak keberatan." Ucap Frey dengan senyuman. Walau sesungguhnya pertemuan ini membuatnya tidak bisa menikmati kebersamaan bersama istrinya. Ia tidak bisa membatalkannya, yang harusnya dijadwalkan besok pagi dan harus diatur kembali menjadi malam ini. Mengingat Mr Johan harus berangkat ke Irlandia besok pagi.
Mereka saling berjabat tangan. Mr Johan pun membawanya duduk.
"Oke, silakan duduk tuan Miles." Mr Johan menunjuk kursi di samping meja meeting yang telah disediakan.
Mereka pun duduk bersama. Berdiskusi singkat untuk terus saling mengenal secara formalitas. Frey sudah membahas sebelumnya mengenai banding profit. Ia sudah memperhitungkan agar tetap mendapatkan keuntungan dan tidak ingin rugi. Karena dari profit mereka bisa mengetahui bagaimana penjualan dari sebuah perusahaan itu.
Sebelum penandatanganan kontrak, mereka pun membicarakan seputar bisnis, yang marak diperbincangkan atau pun pendapat-pendapat lain terkait investasi, modal, pasar yang bersinabungan dengan hal itu. Frey sangat cerdas soal perkonomian bisnis. Otaknya penuh dengan pengetahuan bisnis. Cara berbicaranya sangat fasih, tenang dan dewasa. Ia tak bisa dipandang sebelah mata. Sementara Mr Johan sangat ramah dan elegan seperti halnya pria berkelas dan berkedudukan tinggi.
James berulang kali melihat jam dipergelangan tangannya. Hidangan belum juga disajikan. Ia nampak gelisah dan terus menatap ke arah pintu.
SEMENTARA DI RUANGAN YANG BERBEDA.
Alea tengah sibuk mereview berapa pencapaian target satu bulan setelah ia membuka cafe ini. Ia melupakan hidangan yang akan disajikannya untuk tamu khususnya malam ini. Sementara pelayan lain tengah sibuk melayani tamu yang lain. Di meja, layar yang ia nyalakan langsung memampang angka. Trend penjualan beberapa bulan ini, warna merah yang jadi alarm pencapaian team yang selalu memberinya support. Setumpuk laporan berdesakan di kiri meja. Grafik, pie chart dan deretan angka terpampang di atasnya.
__ADS_1
Alea masih saja berkutat dengan angka. Menjumlahkan pemasukan masing-masing area. Membandingkan dengan target, dengan pencapaian bulan sebelumnya di cabang di kota A. Suara pesan masuk di handphonenya memberikan sedikit jeda. Alea melihat sekilas ke layar, rupanya itu dari temannya yang bertanya kapan ia pulang. Segera Alea membalas pesan itu.
"Sebentar lagi. Aku sedang mabuk angka." tak lupa Alea membuat gambar emoji wajah dengan stiker tertawa.
Kemudian Alea meletakkan kembali handphonenya. Tak ada balasan lagi. Ia kembali berkutat di depan layar komputernya. Alea tahu betul bagaimana perjuangannya hingga sampai ke titik ini. Ia memanfaatkan uang yang diberikan Victoria kepadanya. Ini menjadi bukti bahwa Alea memang ngotot untuk membuka cafe sesuai dengan impiannya.
Alea menamakannya Cafe Lalo, sebagai tanda bukti cintanya kepada Frey. Lokasi tempat cafenya memang cocok untuk kalangan semua orang.
Saat memasuki pintu utama, para pengunjung akan disambut dengan konsep terbuka. Di depan cafe tersedia dua meja berderet tepat berada di bawah rimbunnya pohon. Dan di belakang cafe hamparan bunga-bunga yang menjadi daya tarik cafe Lalo. Sebuah impian bisa bersantai saat memandang bunga-bunga yang indah. Dan pengunjung bisa meminta kepada pelayan cafe untuk menyajikan kue yang bentuknya bermacam-macam bentuk bunga. Cafe ini benar-benar menjadi tempat peneduh alami, bagi siapa saja yang datang.
Wajah Alea tiba-tiba berubah panik saat mengingat bahwa ia akan menyajikan makanan untuk tamu khususnya. Alea menggebrak meja dan segera berlari keluar dari ruangannya.
"Oh my God, kenapa aku bisa lupa????" Alea meringis sambil menepuk jidatnya berulang kali. Dengan cekatan Alea mempersiapkan hidangan istimewa dari cafenya.
⭐⭐⭐⭐⭐
Embusan napas lega dari mereka akhirnya keluar dengan panjang. Mereka sama-sama tersenyum karena kerjasama bisnis berjalan dengan baik. Penandatanganan kontrak pun berjalan dengan baik. Urusan bisnis pun telah selesai. Mr Johan dan sekretarisnya pun pamit undur diri. Frey bangun dari duduknya sambil melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. Pukul sepuluh malam. Satu jam waktu yang sangat baik untuk membahas kerjasama ini.
"Terima kasih Mr Johan, senang bisa bertemu dengan anda kembali." Frey kembali mengulurkan tangannya dan Mr Johan pun menjabatnya lagi. Lagi-lagi ia memperlakukan hal yang sama.
"Saya yang seharusnya mengatakan itu tuan Miles. Senang rasanya bisa kembali menjalin kerjasama dengan perusahaan anda. Tidak sia-sia saya datang ke sini. Selain mendapat pengetahuan, saya juga bisa bertemu dengan anda langsung."
Frey membalas dengan senyuman formal. Mereka pun berpisah sementara Frey dan James masih duduk di sana.
Terdengar suara ketukan pintu sedikit kasar. Frey dan James saling berpandangan.
CEKLEK!
Pintu terbuka di dorong ke dalam. Seorang wanita cantik sedang mendorong troli makanan.
"Maaf tuan, makanannya terlambat."
Mendengar suara tak asing, Frey langsung mengangkat wajahnya.
Deg!
Sepersekian detik, Frey terjengkit dari duduknya. Jantungnya terpukul kencang. Napasnya ikut tertahan di dada. Ekspresi wajahnya tiba-tiba berubah menegang saat melihat sosok wanita yang berdiri di depannya. Begitu juga James, ia begitu terkejut saat melihat mantan kekasih bosnya berada di depan mereka.
"Alea...." ucapnya pelan hampir tak terdengar.
Dan wanita itu yang awalnya hanya memandang ke arah makanan yang dibawanya, tiba-tiba menoleh ke arah lelaki yang tiba-tiba berdiri dari duduknya.
__ADS_1
DEG!
Jantung Alea tak kalah terpicu cepat. Memukul kencang! Sangat kencang, saat melihat sosok yang ada di depannya. Alea masih terdiam menatap Frey dengan penuh kerinduan yang sangat mendalam. Rasanya ingin berlari memeluknya. Tapi ia menyadari bahwa lelaki itu pasti begitu membencinya. Alea yang tiba-tiba menghilang dan tidak ada kabar.
"F-frey...." Ucapnya dengan bibir gemetar.
Frey membuang napas sedikit kasar. Ia tersenyum miris sambil memalingkan wajahnya. "Kenapa kau ada di sini Alea whiston?" ucap Frey begitu dingin.
Alea hanya diam sambil meremas tangannya begitu erat. Melihat situasi canggung ini, James diam-diam melangkah keluar. Mereka mungkin butuh waktu untuk berbicara.
"Aku sudah mencarimu kemana-mana. Aku hampir gila karena itu? apa kau tahu itu, Alea?"
Alea masih bergeming di tempatnya, napasnya keluar dengan terbata. Tanpa di undang air matanya menetes ke pipinya bahkan tanpa mengedip. Ia terdiam dengan mulut yang terbuka.
"Kau tiba-tiba muncul setelah menggoreskan luka begitu dalam di hatiku. Apa kau sengaja menyiksaku?"
Alea semakin tidak sanggup mendengar perkataan Frey. Hatinya sakit. Tapi ia tidak mungkin mengatakan bahwa Victoria lah yang memisahkan mereka.
"Maafkan aku Frey. Maafkan aku..." Air mata Alea jatuh membahasi pipinya lagi. Hatinya sesak. Ya, dengan minta maaf mungkin bisa membuat Alea lega. Ia juga saat tersiksa setelah perpisahan ini. "Maukah kau memaafkanku?" ucapnya lagi.
Frey menggeleng tegas. "Tidak semudah itu memaafkanmu Alea."
Pandangan Alea nanar menatap manik mata Frey yang begitu dingin. Dia bukan seperti Frey yang dikenalnya. Frey yang begitu mencintainya tidak seperti ini.
"Apa maksudmu Frey? Bukankah kau sangat mencintaiku? Apakah kita tidak bisa memulainya lagi?"
"Kau salah Alea. Kau hanyalah masa laluku."
"Jangan seperti ini Frey, aku tahu kau masih mencintaiku. Kau mengatakan itu hanya untuk menghukumku." Suara Alea parau dan gemetar.
"Tidak. Rasa ini sudah hilang, saat kau pergi meninggalkanku."
Alea tak tahan lagi dengan segala gejolak di dalam dadanya. Ia memajukan langkahnya. Mendekat ke arah Frey, dan....
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kesembilan aku 😍
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
__ADS_1
^_^