Terjerat Dengan Suami Palsu

Terjerat Dengan Suami Palsu
MENJERATMU SANGAT ERAT.


__ADS_3

💌 TERJERAT DENGAN SUAMI PALSU 💌


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Ethan mengacungkan tangannya memberi isyarat kepada pelayan yang berdiri tidak jauh dari mereka.


"Sebaiknya kita makan dulu, aku tidak ingin kamu kelaparan, Yara." ucap Ethan kembali tanpa mempedulikan ucapan Yara.


"Apa makanannya mau di siapkan sekarang, tuan?" Tanya pelayan itu.


"Iya, siapkan sekarang." Jawab Ethan. "Apa kau ingin menambah menu pesanan?" Tanya Ethan ramah, mengulas senyum di bibir manisnya yang terlihat merah muda dan lembab.


Yara mengembuskan napas singkat sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Tidak. Terima kasih." Jawab Yara singkat. Saat ini tidak bisa berbuat apa-apa. Mengingat Ethan adalah memegang kendali untuk saat ini. Meski rasa haus akan informasi terus menyerang Yara. Namun, ia harus tetap sabar. Menunggu adalah pilihan yang tepat untuk saat ini.


"Baik itu saja." Ethan mengonfirmasi pelayan yang mengurus mereka. Lalu mengembalikan menu di tangannya.


Pelayan itu kembali mengambil buku menu dan memeluknya dengan sebelah tangan. "Baik pak, jika butuh sesuatu, bisa tekan tombol di meja untuk memanggil saya. Terima kasih." pamit pelayan itu.


Sembari menunggu pesanan mereka, Ethan tersenyum sambil melayangkan pandangannya melihat sekitar. Ia kemudian berbicara.


"Apa kau ingat, kita pernah merayakan anniversary pertama kita di sini. Aku sengaja membawamu jauh-jauh ke cafe ini karena tempat ini begitu nyaman dan romantis." Ethan membuka memori itu kembali.


Yara kembali menatap Ethan. Arah pembicaraan mereka tidak seharusnya mengingat masa lalu lagi. "Ethan, apa kita bisa langsung saja membicarakan hal yang tadi?"


Ethan tersenyum sambil mendesah. Kepalanya sedikit tertunduk di antara kedua tangan yang melipat di atas meja. "Tapi kita baru bertemu. Aku akan menceritakan semuanya setelah kita makan."


Yara lagi-lagi mengembuskan napas panjang. Ia mulai gelisah karena sejak ia pergi, Yara sengaja tidak mengaktifkan handphonenya. Ia tidak mau Frey melacak keberadaannya.


Makanan yang sudah di pesan sebelumnya, mulai disajikan pelayan resto. Gerak-gerik Yara masih saja gelisah. Beberapa kali ia mencoba untuk tenang. Tapi rasanya sangat sulit. Pikirannya terus tertuju kepada Frey.


"Yara, makanlah dulu!" Ucap Ethan menatap Yara yang sejak tadi tidak tenang itu.


"Kamu harus janji dulu, setelah makan, kamu akan menceritakan semuanya kan?"


"Hmmm. tentu saja Yara."


"Baiklah. Aku makan." Yara dengan cepat menyantap makanan yang tersaji dihadapannya. Memasukkan semua makanan hingga membuatnya terbatuk-batuk.


Melihat hal itu, Ethan mengerutkan keningnya, menatap Yara dengan kesal. Ia mendesah, lalu berbicara.

__ADS_1


"Sampai kapan kau akan seperti ini?" ucapnya pelan, namun menusuk.


"Heuh?"


"Kau bukan Yara yang aku kenal dulu. Kau sekarang berubah menjadi wanita penakut."


"Apa maksudmu?"


"Jika Frey mencintaimu, dia tidak akan membuatmu seperti ini. Apa kau sadar, Frey mencoba untuk menjeratmu menjadi wanita bodoh. Kau bodoh, Yara!"


Deg!


Yara menghentikan makanannya. Tangannya mengepal kuat saat Ethan mengatainya wanita bodoh. "Apa?"


Ethan tersenyum kecut sambil melipat kedua tangannya di atas meja. Ia menatap Yara dengan sorot tak terbaca. "Aku sudah katakan sebelumnya. Frey bukan lelaki baik untukmu. Dia adalah manusia berujud iblis. Dia lelaki brengsek yang sudah merusakmu dengan cara yang lembut. Dia seolah-olah mencintaimu padahal tidak. Dia hanya menyukaimu hanya karena ambisinya saja. Selebihnya dia penuh dusta. Yara ..." Ethan mengusap wajahnya dengan kasar. Ia mencoba mengurangi volume suaranya.


"Ingat Yara, Frey berkata manis agar kamu bisa memberikan dirimu dan perasaanmu untuk ia hancurkan perlahan-lahan. Lelaki brengsek itu juga mencoba untuk merusak akhlakmu dengan kata cinta yang seolah-olah kau adalah segalanya. Dan akhirnya ia menjeratmu sangat erat."


Heeeehhh...Yara membuang napas sambil menutup matanya. Berusaha bersikap tenang dan mencoba menahan diri untuk tidak marah kepada Ethan. "Frey bukan lelaki seperti itu. Jangan mencari alasan Ethan. Aku tahu kau terluka saat aku meninggalkanmu. Maafkan aku! Sekarang Frey adalah hidupku. Jangan mencoba untuk memisahkan aku darinya."


Ethan menghela napas singkat. Dari wajahnya ia berusaha bersikap tenang. Ethan mengembuskan napasnya. Mengunci pandangannya kepada Yara. "Apa aku terlihat seperti itu Yara?"


"Ya, apalagi tujuanmu kalau bukan itu." ucap Yara dengan ketus.


Ethan tak berselera lagi. Ia meminta pelayan untuk membersihkan semua makanan yang bahkan belum disentuhnya itu.


"Sejujurnya aku tidak mau ikut campur masalah ini Yara. Tapi karena uncle memintaku untuk membebaskanmu dari jeratan Frey, maka aku diam-diam mengirim seseorang untuk masuk kekediaman Miles."


"Kita sudah pernah membicarakan itu dan Frey tahu semua itu dan membunuh anak buahmu. Sekarang apa masalahnya?"


Ethan mengangkat wajahnya dan menatap Yara dengan sendu. "Masalahnya sekarang adalah ini menyangkut aunty dan uncle. Kau tahu...." Ethan menahan diri untuk tidak langsung mengatakan sebenarnya. Ia melarikan pandangannya ke arah lain.


Yara diam dan menunggu Ethan selesai berbicara. Jantungnya tak bisa berbohong jika itu menyangkut orangtuanya.


"Masalahnya Frey datang kekediaman Wyanet...."


Yara semakin menatap dengan serius. Ia bahkan mengunci tatapannya kepada Ethan. "Frey tidak pernah menceritakan ia pernah mengunjungi Daddy dan mommy."


Ethan menarik napasnya lalu melanjutkan kalimatnya. "Frey datang untuk menghabisi uncle dan aunty."


Waktu terasa berhenti. Yara merasakan keheningan yang mencekam. Kalimat itu begitu cepat menyelusup masuk ke dalam sanubarinya, membuat hatinya dengan cepat terkoyak. Tapi Yara tidak semudah itu percaya. Dan sepersekian detik Yara tertawa awkward. Sekaligus berharap Ethan hanya bercanda. "Hahahaha. Jangan bercanda Ethan. Bagaimana mungkin Frey bisa menghabisi Daddy dan mommy." tekannya.


"Aku tidak bercanda Yara." Ethan menjawab tegas dengan tatapan serius. Ia sama sekali tidak sedang terlihat bercanda. Ethan mengeluarkan amplop coklat dari tas ranselnya dan mengeluarkan beberapa foto dan memberikan kepada Yara.

__ADS_1


Deg!


Wajah Yara menegang, ia begitu shock. tangannya gemetar saat melihat foto-foto penembakan mommy dan daddynya. Jantungnya berdetak kencang saat melihat semua foto-foto itu silih berganti. Darahnya seperti mengalir cepat hingga membuatnya sulit bernapas. Napasnya berembus cepat tidak beraturan. Ia diam membeku di sana.


Melihat kebekuan Yara, Ethan kembali melanjutkan kalimatnya. "Yara....uncle dan aunty sudah meninggal. Foto ini aku dapatkan dari polisi yang menangani kasus ini."


Bibir Yara bergetar, napasnya berhembus semakin cepat. Ia saat ini sangat kebingungan. Kepalanya menunduk dan menggeleng pelan. Yara meletakkan kembali foto itu. Berusaha mencerna apa yang terjadi.


"Frey melakukan itu untuk membalaskan dendamnya."


Yara menggeleng cepat. "Tidak mungkin! Bagaimana mungkin Frey melakukan itu?" Yara menutup mulutnya dan bangun dari duduknya. Kursi yang didudukinya sampai terjatuh. Yara memundurkan langkahnya ke belakang dan hampir terjatuh.


Melihat itu Ethan dengan cepat bangun dari duduknya.


"Yara, kau tidak apa-apa?" Ethan mencoba mendekat.


Yara menggeleng dengan pandangan kosong. Ia masih tak percaya kalau orangtunya sudah meninggal. Apa karena itu Frey selalu melarangnya untuk bertemu dengan orangtuanya. Yara terus melangkah mundur. Matanya memandang tangannya yang gemetar.


"Yara?" Panggil Ethan berusaha mendekat.


Tiba-tiba sekujur tubuh Yara mulai merinding. Keringat dingin membasahi tengkuknya. Napasnya makin tidak teratur. Dadanya berdebar kencang. Kepalanya mendadak sakit. Semua orang, meja, kursi, buku menu, bunga-bunga dan penghias yang ada di dalam cafe seperti semburat. Kaki Yara terasa lemas namun ia masih mencoba melangkah.


Melihat itu, Ethan mengikutinya. Dia yakin Yara sedang tidak baik-baik saja.


"Yara, tunggu!"


Yara tidak menjawab. Wajah semua orang yang ada di sana berubah.


"Yara?"


Tiba-tiba mata Yara berubah sayu dan ....


BRUKKKKKK.


Tubuh Yara oleng dan terjatuh. Ethan begitu terkejut segera menangkapnya dalam pelukannya.


"Yara ...Yara... Yara, bangun...." Panggil Ethan begitu khawatir. Ia menepuk pipi Yara berulang kali. Tanpa berpikir panjang, Ethan menggendong tubuh Yara dengan kedua tangannya. Suaranya bahkan menggema meminta bantuan kepada pelayan untuk mengubungi 211.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kesembilan aku 😍

__ADS_1


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^


__ADS_2