Terjerat Dengan Suami Palsu

Terjerat Dengan Suami Palsu
PERTEMUAN TAK TERDUGA.


__ADS_3

💌 TERJERAT DENGAN SUAMI PALSU 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Mata Yara berkaca-kaca mengedip pelan. Ia hanya membuka mulutnya tanpa mengeluarkan suara. Hatinya begitu bahagia. Itu artinya ia akan bebas dari jeratan suami palsu ini.


"Thanks God, akhirnya aku bisa kembali ke rumah."


"Apa yang kau pikirkan?" suara bariton milik Frey membuyarkan lamunan Yara.


"Heuh?" Yara mengerjap kaget saat kepalanya disentil oleh Frey.


"Aku tanya apa yang kau pikirkan?" ulang Frey.


"Tidak ada!" Kata Yara cepat, dengan senyum yang dipaksakan. Deretan giginya yang putih dan rapi terlihat dengan jelas diantara senyumnya yang manis.


Frey tersenyum miring. "Baguslah kalau begitu. Aku harap kau tidak memikirkan untuk kembali rumah."


"Maksudnya?" Dahi Yara berkerut.


"Aku tidak ingin mengulangi perkataanku Yara. Aku tidak pernah mengizinkanmu kembali kepada keluargamu."


"Tapi....?" Belum juga Yara melanjutkan kalimatnya, Frey sudah menyela.


"Bukankah kita pasangan sudah menikah? kau pasti mengerti maksudku." Frey mendekat sambil mencondongkan tubuhnya.


Yara mengerjap mundur. Ia terdiam sejenak. Otaknya tiba-tiba blank. Saat ini, ia seperti orang bodoh.


Frey tersenyum. Ia memang harus membuat Yara semakin dekat dengannya. Frey tidak mengizinkan Yara kembali kepada keluarganya. Ada satu hal yang tidak boleh diketahui Yara.


Tidak ada lagi pembicaraan setelah itu. Frey akhirnya memutuskan tidak kembali ke acara party perusahaan Miles. Frey memilih menyelesaikan pekerjaannya di ruangannya.


⭐⭐⭐⭐⭐


Frey bergelut dengan pekerjaannya. Ia memeriksa ulang pekerjaan semua karyawannya. Ia terlihat serius dengan berkas-berkasnya. Mengevaluasi kinerja para pemimpin cabang. Memeriksa beberapa email yang masuk.


Matanya memicing dan berkonsentrasi pada dokumen yang dipegangnya. Ia bahkan terlalu tegang untuk mengalihkan perhatian dari pekerjaannya. Apalagi untuk melihat Yara Wyanet yang sedari tadi gelisah karena lapar. Frey tidak menyadari bahwa Yara sejak tadi siang belum makan. Ia tidak mempunyai kesempatan untuk menoleh ke arah Yara. Pekerjaan yang menumpuk membuatnya seperti itu. Frey adalah tipe lelaki pekerja keras. Sehingga perusahaan Miles berkembang dengan omset tertinggi dan di pandang terbaik oleh perusahaan luar.


Sementara di sofa, Yara hanya membolak-balikkan majalah bisnis yang dipegangnya sejak tadi. Ia mengumpat Frey yang tidak punya perasaan itu.


"Apa maksudnya? Oh my God aku bisa gila." umpat Yara.

__ADS_1


"Masalah sudah selesai, tapi dia menahanku seperti ini."


Yara lagi-lagi mengembuskan napas dengan pipi mengembung. "Apa dia memang tidak punya hati? Setidaknya, ia mengizinkanku bertemu dengan mommy dan daddy? aku merindukan mereka." Yara meringis ingin menangis. Hatinya begitu sakit karena terlalu merindu.


"Apa yang sebenarnya dia rencanakan?" Yara menatap Frey dengan penuh amarah. Ia bahkan sengaja membolak-balikkan majalah dengan kasar agar Frey melihatnya. Namun, hal itu percuma. Pria berhati dingin itu bahkan tidak menoleh sedikit pun kepadanya.


Semakin Yara mengingat semuanya, Ia semakin kesal. Yara melirik jam yang ada di tangannya. Sudah menunjukkan pukul lima sore. Ia membuang napasnya dengan lesu. Kenapa jam di tangannya bergerak selambat siput sih? Apakah hanya jam di tangannya yang begitu lambat? Benar-benar membosankan. Cuaca di luar terlihat gelap yang mulai turun bersama gerimis.


Seperti biasa, jika ia bersama teman-teman satu kampusnya dan mengharuskan mereka untuk bertahan karena tugas kuliah yang tak kunjung rampung. Rhanie akan membawa makanan untuk timnya. Mereka akan berkutat di depan komputer diiringi dengan tawa dan candaan untuk membuang rasa lelah.


Ahhhh.. Tiba tiba ia merindukan sosok sahabatnya itu.


Yara mengembalikan pikirannya. Ia menatap ke arah Frey, tak juga ada respon darinya. Yara sedikit mengantuk setelah satu jam duduk terdiam tanpa ada kejelasan.


"Hoamm...." Yara menutup mulutnya, ketika rasa kantuk itu datang lagi.


"Astaga ngantuk sekali." Yara memijit pelipisnya.


"Kalau kamu mengantuk, kau bisa membuatkan kopi. Pantry-nya berada di dekat ruangan James." kata Frey tanpa memandang Yara.


Seketika Yara langsung bangun dari duduknya. "Aku bisa membuat kopi, tuan?"


Frey mengangkat wajahnya, ia memandang ke arah Yara yang berdiri dengan semangat.


"Hmmm. Hanya membuat kopi." Kata Frey dengan intonasi yang jelas. Ia tahu Yara pasti mengerti maksud perkataannya.


"Boleh, kalau kamu tidak keberatan." Kata Frey tanpa ekspresi. Ia kembali menatap laptopnya yang terbuka stand bye. Ia kembali serius memeriksa beberapa laporan penting.


Yara langsung membuat gestur yes! Dengan semangat, Yara keluar. "MERDEKA!" teriaknya dalam hati. Ia tersenyum bahagia, seakan baru lepas dari kandang singa. Ia menegakkan badannya dengan posisi tubuh yang seimbang, langkah kakinya terdengar nyaring, sampai Frey mengangkat wajahnya dan menatap Yara sampai hilang di balik pintu. Frey menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya.


Sementara Yara berjalan keluar dari kantor menuju pantry. Namun Langkahnya terhenti ketika ia melihat sepasang kekasih sedang berjalan ke arahnya. Dan wanita itu begitu dikenal Yara. James tersenyum lebar menatap Rhanie. Mereka terlihat serius berbicara.


Yara masih tak percaya bahwa yang dilihatnya adalah sahabatnya. Ia segera membalikkan badannya dan bersembunyi agar tak terlihat James dan Rhanie.


"Apa jangan-jangan?"


Yara masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia mengintip dari balik dinding tempat persembunyiannya. Ekor matanya bergerak cepat mencari sosok sahabatnya itu. James terlihat masuk ke dalam ruangan pak direktur, sementara Rhanie sedang duduk di ruang tunggu tepatnya diluar ruangan pak direktur.


Menurutnya ini peluang baik. Akhirnya Yara keluar dari tempat persembunyiannya.


"Ra-rahnie..." Panggil Yara dengan suara parau dan gemetar.


Saat mendengar namanya dipanggil. Rhanie mengangkat wajahnya dan melihat ke sumber suara.


"Yara?" ucap Rhanie dengan ekspresi terkejut. Ia bangun dari duduknya. "Benarkah itu kau, Yara?" Rhanie masih begitu terkejut, Ia tak menyangka Yara sahabatnya ada di sana. Tatapan mereka bertemu dan saling mengunci.


Yara melangkah dengan perlahan. Mata Yara langsung berkaca-kaca. Mulutnya terbuka dan gemetar. Hidung dan matanya mulai memerah. Ia menarik napasnya lagi. Mencoba menahan perih yang mulai terasa di hidungnya. Yara semakin mendekat. Saat itu juga air mata Yara tergelincir membahasi pipinya. Matanya tak lepas menatap ke arah Rhanie. Sahabat yang begitu dirindukannya.

__ADS_1


"Aaahhhhhh..." Yara melepas napas panjang dan berhenti di depan Rhanie. Mereka saling berpelukan. Ia masih tak percaya saat melihat Rhanie ada di kantor Miles.


"Yara." Suara Rahnie ikut gemetar. Air matanya tanpa diundang kembali terjatuh lagi.


"Astaga Yara ternyata benar itu kamu." Rahnie melepaskan pelukannya dan menangkup kedua pipi Yara.


"Apa kabar? Apa kau bahagia? dimana lelaki tua yang pernah kamu ceritakan itu?" beberapa pertanyaan langsung terlontar dari bibir tipis milik Rahnie.


Tak ingin Rahnie mencemaskannya. Yara pun berpura-pura bahagia. "Kabarku baik. Aku hidup bahagia, Ran..."


Wajah Rahnie memelas sendu. "Sungguh?"


"Hmmm...." Yara mengangguk cepat, tapi raut wajahnya tidak bisa disembunyikan. Mata Yara seketika berkaca-kaca. Ia berusaha kuat di depan sahabatnya itu. Karena ia tahu seperti apa Rhanie, jika dia tahu bahwa Yara tidak bahagia. Dia akan mengatakan kepada orangtuanya. Dan mereka akan semakin bersalah.


"Hei kamu bilang kamu bahagia, tapi kenapa kamu menangis?" Kata Rhanie menangkap ekspresi wajah sedih Yara.


"Aku menangis karena bahagia. Aku senang bisa bertemu denganmu lagi."


"Sungguh kamu tidak apa-apa? kau tidak menyembunyikan sesuatu, kan?"


Yara mengangguk cepat, menarik cairan hidungnya dengan cepat. "Hmmm. Aku tidak apa-apa, Rahnie. Aku hidup bahagia sampai aku tidak ingin mengakhiri pernikahan ini." ucap Yara tersenyum. Ia berusaha menahan sesak yang menghimpit dadanya. Bibirnya sampai gemetar, napasnya keluar tidak stabil.


Rhanie memegang tangan sahabatnya. Mengusapnya dengan lembut. "Baguslah kalau begitu. Beberapa bulan tak mendengar kabarmu. Aku sangat mencemaskanmu. Tapi melihatmu bahagia. Aku juga ikut bahagia."


"Tentu saja, aku akan bahagia dengan pilihan hidupku." Kata Yara mencoba menahan air matanya agar tidak terjatuh. Ia tersenyum sumringah di sana.


"Hmm. Kau harus pegang janjimu. Kau harus bahagia." kata Rahnie menepuk punggung tangan Yara.


"Tapi ngomong-ngomong kenapa kamu ada di sini?" Tanya Yara mengalihkan pembicaraan. Ia pura-pura tidak tahu dengan kejadian tadi.


"Aku datang bersama James. Dia adalah tunanganku."


"Hah? Kamu sudah tunangan?"


Rahnie tersenyum sendu. "Hmmm." Dan sepersekian detik wajahnya tiba-tiba berubah sedih. "Maafkan aku Yara, karena di acara lamaranku. Aku tidak bisa datang melihat uncle dan aunty untuk terak...."


CEKLEK!!!!


Pintu tiba-tiba terbuka dan di balik pintu muncul sosok James di sana. Rahnie tidak bisa melanjutkan kalimatnya lagi. Sementara Yara sudah lebih dulu berlari ke pantry untuk menyiapkan kopi. Yara tidak ingin James melihat kedekatannya dengan Rhanie. Kejadian surat rahasia itu sudah membuat Yara ketakutan. Lelaki yang menempelkan kertas di toilet itu habis dihajar oleh anak buah Frey dan dibuang ke tempat terpencil.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kesembilan aku 😍


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.

__ADS_1


^_^


__ADS_2