Terjerat Dengan Suami Palsu

Terjerat Dengan Suami Palsu
BERUSAHA MELUPAKAN


__ADS_3

💌 TERJERAT DENGAN SUAMI PALSU 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Semenjak kejadian itu, Yara hanya mengurung dirinya di kamar. Sesungguhnya ini terlalu berat untuknya. Ia juga tidak pernah masuk ke kampus lagi. Yara bahkan tidak mengaktifkan handphonenya. Ia masih butuh waktu sendiri. Rhani bahkan datang ke kediaman Wyanet untuk menanyakan keadaannya. Namun, Yara memilih tidak ingin bertemu.


Sementara Shanty mondar-mandir di depan kamar Yara sambil memegang baki di tangannya. Ia diam sesaat, tak lama kemudian Shanty melangkah lagi mendekat kamar Yara. Ini adalah hari ke dua Yara tidak masuk kuliah. Shanty mengerti perasaan Yara saat ini. Tapi Yara tidak bisa seperti ini terus. Ia tidak bisa larut dalam kesedihan. Ini adalah keputusan yang terbaik untuk menyelamatkan perusahaan Wyanet. Sementara Erland dan Renata sudah dua hari ini sibuk mengurus pernikahan Yara.


Tok... tok...tok...!


"Yara, sayang." Panggil Shanty mengetuk pintu kamar Yara dengan pelan.


Belum ada sahutan dari dalam, Shanty kembali mengetuk pintu itu. "Yara, apa aunty bisa masuk? Aunty membawakan spring roll keju kesukaanmu."


Yara hanya tersenyum samar, lalu menarik napasnya dengan singkat. Ia lalu bangun dari duduknya untuk membuka pintu kamar. Raut wajahnya kusam, matanya sembab, rambutnya acak-acakan. Ia bukan seperti Yara yang dikenalnya. Yara adalah anak periang dan ramah.


"Lihat, aunty membawakan makanan ringan kesukaanmu. Aunty lihat beberapa hari ini kau tidak napsu makan, Yara. Jadi aku membelinya." Kata Shanty saat pintu benar-benar dibuka lebar untuknya.


"Terima kasih, aunty." ucapnya datar dan mengambil baki itu dari tangan wanita yang selalu mengerti keinginannya. Yara dan Shanty dan duduk di sisi ranjang.


"Hmmm.. kau bisa rasakan aroma kejunya yang menyergap indera penciuman. Benar-benar membius pikiran untuk cepat-cepat menikmatinya. Kau harus menghabiskannya. Jadi makanlah!" ucap Shanty tersenyum sambil lembut kepada Yara.


Yara tersenyum kecil sambil memandang ke arah Shanty, lalu menatap baki yang berisi spring roll keju yang enak. Tapi ia sedikit pun tidak menyentuhnya.


Shanty mengerutkan keningnya, "Kau tidak suka? Aunty mengantri panjang di restoran Cafeteria, agar bisa mendapat macaroni dan spring roll keju ini." Kata Shanty tersenyum sambil menunjukkan deretan giginya. Ia mengambil satu dan memberikan kepada Yara. "Makanlah sayang, kau tahu hatiku sakit jika melihatmu seperti ini." lanjut Shanty dengan suara terendahnya.


Yara mengangkat wajahnya dan kembali menatap Shanty. Ia segera mengambilnya dari tangan Shanty. "Maafkan aku aunty, aku sudah membuat seisi rumah ini khawatir."


"Ehmm, jika kau tidak ingin kami mencemaskanmu. Kau harus makan, habiskan semuanya."


Yara tersenyum kecil, lalu mengangguk. "Aku akan menghabiskannya." ucapnya memasukkan spring roll ke dalam mulutnya.


Shanty menatap lurus dan membiarkan Yara menikmati makanannya. Ia menarik napasnya dalam-dalam dan berucap lembut. "Yara? Aku tahu bagaimana perasaanmu. Tapi seperti yang dikatakan Erland, hanya Miles yang bersedia membantu perusahaan Wyanet, tapi dengan syarat menikahimu. 100 miliar, tidak sedikit. Aku tahu bagaimana Erland berusaha untuk mencari pinjaman. Karena ia begitu menyayangimu. Erland tidak ingin mengorbankan masa depanmu. Tapi semakin Erland mencoba ingin keluar dari masalah itu, tidak seorangpun membantunya. Percayalah dengan daddy-mu. Cepat atau lambat, Erland akan mengeluarkanmu dari pernikahan itu. Erland sudah menyiapkan rencana."


Yara mengerutkan keningnya. "Menyiapkan rencana?"


"Hmm." Shanty mengangguk. "Pernikahan ini hanyalah sementara. Pria tua itu hanyalah sebagai status suami palsu. Jadi, jangan mencemaskan apapun. Sekarang perusahaan Wyanet sudah mulai stabil, semuanya akan baik-baik saja."


"Jadi kapan pernikahan itu?" Tanya Yara dengan suara berat.


"Minggu depan, sayang."

__ADS_1


Yara menghentikan aktifitas makannya. "Minggu depan?" Mata Yara nanar menatap Shanty. Hatinya kembali diremas. Sakit, sampai untuk bernapas saja ia tidak bisa. Ia diam membeku dengan pandangan kosong.


Shanty kembali menghadap Yara dan mengambil tangannya. Ia memberikan usapan pelan ke tangan wanita yang berhati lembut dan cantik itu. Yara sendiri hanya menunduk dengan mata berkaca-kaca.


"Yara, lihat aku!" Shanty menangkup ke dua pipi Yara.


Yara mengangkat wajahnya dan menatap langsung ke mata wanita yang memilih sendiri dari pada menikah itu.


"Lihat, kau tidak seperti wanita yang aku kenal Yara, kau berantakan. Percayalah, ini hanya pernikahan sementara."


Yara menggeleng dengan pandangan nanar. Sejujurnya ia takut menghadapi kenyataan ini. Hatinya masih bingung dan kalut.


"Aunty, aku butuh sendiri." Ucapnya pelan hampir tak terdengar.


Shanty menarik napas dalam-dalam. "Baiklah, sebaiknya kau istirahat dulu. Tapi besok berjanjilah kepada aunty, jangan larut dalam kesedihan lagi. Jika Erland melihatmu seperti ini, ia akan merasa bersalah."


Yara mengangguk dan tersenyum kecil. "Baik Aunty."


Shanty membalas senyuman itu. Ia memegang ke dua sudut bahu dan mengusapnya dengan lembut. "Istirahatlah," ucapnya memberikan tepukan singkat dan segera bangun dari duduknya.


Yara lagi-lagi mengangguk dengan tatapan nanar. Perasaannya begitu terharu. Karena mendapatkan perhatian setulus ini. Shanty melangkah keluar dan menuntut pintu itu kembali. Saat itu juga Yara menarik napasnya yang terbata-bata. Matanya seketika berkaca-kaca. Hidungnya perih, dadanya sesak.


"Bagaimana aku tidak memikirkan pernikahan ini?" Ucap Yara menangis. Air bening itu tumpah lagi. Menggambarkan betapa sakit hatinya.


"Aku tidak bisa melupakan Ethan yang sangat aku cintai. Aku tidak bisa...." Bahu Yara semakin bergetar menahan isak tangisnya yang semakin terdengar.


"Bolehkah aku sesekali masih melihat fotonya di galeri ponsel?"


"Bolehkah aku masih melihat-lihat pesan dari dia beberapa minggu lalu? Dan bolehkah aku mengganggunya hanya sekedar melihat respon darinya?"


Setelah Ethan pergi saat itu, jelas semua terasa berbeda. Yara hanya berusaha menguatkan apa yang menjadi keputusannya. Bodoh? Iya. Tetapi ada alasan kuat mengapa ia seperti itu.


Melepaskan adalah bukan tentang siapa yang salah dan siapa yang benar, terkadang daun yang telah jatuh dari sebuah ranting pohon akan memiliki kehidupan baru, antara pergi bersama angin, mengalir bersama air atau tetap berada di bawah pohon itu hingga tergerus hujan atau mengering karena sinar matahari. Melepaskan adalah tentang pilihan, tentang harapan, dan tentang kesepakatan.


Yara kembali menyandarkan punggungnya kesandaran kasur. Ia memeluk lututnya, membenamkan wajah di antara kedua kakinya. Yara terus menunduk dan memejamkan matanya. Tidak tahu sudah beberapa banyak air matanya keluar. Semua ia tangisi, Yara tidak bisa jika tidak menangis, hatinya akan bertambah sakit. Kenyataan ini seperti mimpi buruk baginya.


Tiba-tiba panggilan telepon berbunyi di atas nakas. Yara mengambil handphonenya dan melihat dilayar depan tertulis 'Sahabatku Rhany' Yara menggeser tanda terima dari ponselnya.


"Halo, Rhan! " Kata Yara terdengar dengan suara serak habis menangis.


"Apa benar kamu menerima pernikahan itu? " pertanyaan pertama yang keluar dari Rhani.


"Hmmm." jawab Yara dengan gumaman. Ia kembali menutup mulutnya agar Rhani tidak tahu jika ia sedang menangis.


"Kenapa kamu menerima pernikahan itu? Apa kamu sudah menceritakan kepada Ethan agar mengeluarkanmu dari pernikahan konyol itu?"


Sesaat Yara terdiam, Ia takut isak tangis yang sedari tadi di tahannya pecah dan Rhani menjadi khawatir. Dia tahu seperti apa sahabatnya itu, bisa-bisa dalam waktu lima menit dia akan meluncur ke rumah dan memeluknya.

__ADS_1


"Yara, apa kau masih di sana? "


"Aku masih disini, Rhan." Ucap Yara sesenggukan.


"Kamu menangis, Yara?" nada suara Rhani terdengar cemas.


"Siapa yang menangis. Aku hanya flu." Jawab Yara menutup mulutnya. Air matanya kembali terjatuh di pipinya.


"Kenapa kau tidak menolak pernikahan itu. Biarkan saja perusahaan Wyanet bangkrut. Yang penting kau tidak menikahi pria tua yang sudah bau tanah itu. Apa lebih penting menyelamatkan perusahaan Wyanet dari pada perasaanmu?"


Diam tidak ada sahutan dari Yara.


"Yara.....!!!"


"Ya aku tahu. Tapi aku tidak bisa diam dan melihat perusahaan Wyanet hancur. Maafkan aku, Rhan." Ucap Yara terdengar sangat menyedihkan. Air matanya kembali menganak sungai. Ia simalakama di sini. tinggal di sini lagi. Bagaimana ia tidak memikirkan daddy dan mommy-nya. Nasib perusahaan benar-benar berada di tangannya.


Terdengar Rhani mengembuskan napas panjang. "Apa kau juga akan berhenti kuliah? Apa hari-harimu akan kau habiskan mengurus lelaki penyakitan itu?"


"......" Yara lagi-lagi terdiam.


"Maafkan aku Yara. Aku hanya tidak bisa melihatmu seperti ini." Ucap Rhani dengan suara terendahnya.


"Aku mengerti Rhan. Kau melakukan itu demi aku. Tapi maafkan aku, aku tidak bisa menghentikan ini lagi. Perusahaan Wyanet sudah stabil dan semua utang ke bank lunas. Produksi barang juga sudah kembali normal."


"Jadi kapan pernikahanmu dilangsungkan."


"Minggu depan."


Rhani menarik napasnya dengan berat. "Aku harap keputusan ini menjadi pilihan terbaik untukmu. Hubungi aku kapan saja jika kau memerlukan bantuanku. Kau mengerti?"


"Hmm, pasti itu."


"Bye Yara. Sampai bertemu lagi."


"Bye Rhan."


Tiba-tiba panggilan terputus, Yara kembali menangis, Rangsangan untuk mengeluarkan air mata tak bisa ditolaknya. Air mata yang dari tadi di tahannya tumpah begitu saja. Terasa sakit dan meninggalkan bekas luka yang sulit untuk sembuh. Ia memikirkan semuanya. Memikirkan Ethan, lelaki yang sangat dicintainya itu.


Yara tak tahan lagi, ia mengambil bantal untuk menutup wajahnya. Yara semakin menangis tersedu, air matanya terus berlinang membasahi bantal. Bahunya sampai bergetar. Ia berusaha menghapus bayangan Ethan yang selalu datang kepikirannya. Yara mengerang dalam tangisannya. Semua kepedihan yang ia rasakan tergambar jelas.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kesembilan aku 😍


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.

__ADS_1


^_^.


__ADS_2