
💌 TERJERAT DENGAN SUAMI PALSU 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Seika pun segera pamit saat mengantarkan Frey dan Yara di depan kamar hotel. Seakan paham dengan situasi dan kondisi ini.
"Saya permisi tuan dan nyonya. Senang rasanya bisa menemani perjalanan anda. Selamat beristirahat."
"Sama-sama Seika, perjalanan hari ini lumayan melelahkan." Yara terkekeh sendiri sambil menganggukkan kepalanya.
Frey menaikkan alisnya tersenyum saat melihat istrinya mulai gugup. Di mobil tangan Frey merayap menyentuh bagian yang membuat istrinya menahan napas dan gelisah selama perjalanan pulang ke hotel.
Seika hanya tersenyum mengangguk. Ia pun berlalu pergi meninggalkan kamar Frey dan Yara.
"Sayang, aku mandi dulu ya." Kata Yara mengalihkan tatapannya suaminya itu. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Sebelum Yara pergi, Frey menangkap tangan Yara dengan kekuatan penuh. Tubuh Yara tertarik sampai membuat badannya memutar terjatuh dan mendarat di dada Frey. Yara tersentak, mereka saling menatap.
"Siapa yang menyuruhmu mandi di jam seperti ini?"
"Heuh?"
Frey tersenyum. "Aku masih tak percaya kau benar-benar mencintaiku Yara. Apakah aku bermimpi?" Lirih Frey.
Yara menelan salivanya dan berkedip cepat. Mata Frey masih menguncinya. Jantungnya kembali terpompa lebih kencang. Hembusan napas Frey terasa dekat di wajahnya.
"Aku tidak ingin terluka lagi Yara, di saat aku benar-benar tulus mencintai, dia bahkan pergi meninggalkanku. Aku tidak ingin kau seperti itu Yara."
"Siapa yang akan meninggalkanmu suamiku. Bukankah aku sudah berjanji akan mulai hidup baru denganmu?" Ucap Yara pelan hampir tak terdengar.
"Hmmm. Aku berharap seperti itu." Kata Frey memejamkan matanya, memeluk tubuh Yara dengan erat.
"Tapi aku tidak bisa bernapas, Frey."
Frey sontak melepaskan pelukannya, memeriksa tubuh Yara. "Apa ada yang sakit? Bagian mana yang sakit?" kata Frey panik.
Yara terkekeh melihat reaksi dari Frey." Aku tidak apa-apa, tuan tampan."
"Kenapa memanggil tuan lagi?"
__ADS_1
"Karena kamu adalah tuan Miles yang berkuasa. Kau berkuasa memikat hatiku." Jawab Yara dengan lugas.
"Bisakah jangan memanggilku tuan atau sebutan nama, sayang?" Keluh Frey. Wajahnya tiba-tiba berubah masam.
Yara tersenyum, lagi-lagi ia berhasil membuat hati Frey kesal. Ia memang sengaja melakukannya karena lelaki yang tampan berkuasa, bisa cemberut juga. "Jadi aku harus memanggilmu suamiku?" Goda Yara.
"Hmmm. Panggil my love atau bisa my hubby."
"Hubby?" Yara tertawa. "Ihhh....norak. Aku gak mau. Bisa-bisa semua orang akan mencibir kita dengan panggilan itu. Panggil sayang aja." ucap Yara akhirnya.
"Oke. Asalkan jangan panggil tuan atau nama."
Yara mengangguk sambil terus menatap Frey. "Sayang?" panggil Yara dengan suara terendahnya.
"Hmm?"
"Aku...."
Alis Frey naik dari pangkalnya. "Aku apa, sayang?"
"Aku..." Yara menunduk tak berani menatap Frey. "Aku menginginkanmu." Akhirnya kata-kata itu lolos ia ucapkan tanpa hambatan.
DEG!
Frey terkejut. "A-apa?" Ia mencoba meyakinkan kembali pendengarannya. Apakah ia hanya berhalusinasi?
Jantung Frey terpukul kencang saat Yara menginginkan lebih dari itu. Ia berulang kali menelan salivanya karena gugup. Dengan penuh kasih sayang, Frey menatap ke arah mata Yara
"Apa kau serius sayang? Apa kau tidak takut?"
Yara menganggukkan kepalanya, "Hmm aku serius. Kita akan melakukannya pelan-pelan dan aku mempercayaimu."
Tanpa berpikir panjang Frey langsung mengangkat tubuh istrinya dengan lengannya.
"Ahhhhh...." teriak Yara begitu terkejut. Lalu kemudian ia tersenyum dan berpegangan pada suaminya itu. Hari ini demi cinta ia akan menyerahkan hatinya kepada Frey.
Frey melepaskan Yara ke tempat tidur yang beraroma bersih itu. Frey merayap ke atas istrinya, ia menatap Yara dengan penuh kasih sayang. Mereka saling menatap dalam dan penuh cinta. Tubuh Yara bergetar saat di tatap Frey dengan penuh hasrat.
Frey bernapas terengah dari mulut, seakan menahan dirinya untuk tidak langsung menyerang istrinya. Ia membelai pipi istrinya dengan sayang. "Apa kau siap?"
Yara menganggukkan kepalanya dengan pelan.
"Sekarang bukalah," ucap Frey begitu lembut.
Yara menahan napas, lalu membuka kancing baju kemeja Frey. Kemeja itu terlepas dan Yara membuangnya ke lantai. Frey langsung menangkap tangan Yara. Ia mengecup singkat tangan istrinya itu sambil terus menatap. Gerakan kecupan singkat membuat getaran di seluruh tubuh Yara bereaksi dengan cepat.
__ADS_1
Yara mengecup bibir Frey dan Frey membalasnya dengan lembut juga. Gerakan mereka sangat anggun dan saling menyayangi dengan perlahan. Frey kemudian membelai lembut rambut Yara dan mengecup kening istrinya itu, dari pelipis, pipi, hingga turun ke dagu dengan punggung tangannya. Yara menutup matanya sejenak merasakan sentuhan itu. Lalu membuka matanya dengan binar yang hangat dan Indah.
Mereka saling menatap dalam dan penuh cinta. Tubuh Yara bergetar saat di tatap Frey dengan penuh hasrat.
Tangan Yara dikalungkan ke leher Frey. Frey memajukan wajahnya lagi dan mengecup bibir ranum itu. Kecupan pelan dan sangat ringan. Frey membuka dress yang dikenakan Yara. Yara mengangkat tangannya, bersikap kooperatif untuk melepas.
"Sayang.." Frey berucap dengan nada serak sambil memegang rahang bawah dengan garis yang tegas itu.
Frey hanya diam dan memberikan kecupan singkat. Ia lanjut membuka kaitan yang menutupi bagian padat yang begitu indah dari tubuh istrinya. Frey terdiam menatap istrinya lagi. Ia terus menunduk dengan posisi itu. Tangannya lurus menopang tubuh, menjadi pilar di sisi kiri dan kanan tubuh atas Yara yang kini polos. Ia ingin menatap keindahan istrinya itu dari jangkauan pandangan yang luas.
Napas Yara berembus semakin tidak stabil, saat Frey mulai menelusuri setiap lekuk tubuhnya. "Sayang...." Suara Yara parau karena gairah terpancing.
Frey membungkuk lagi menatap istrinya dengan kekuatan cintanya. Perlahan Frey menarik keluar celana pendek yang dikenakan Yara. Melucutinya dan menjatuhkannya begitu saja di lantai. Frey kembali mengendus tubuh istrinya. Dengan napas-napas panjang. Ia tersenyum sambil berbisik. Napasnya panas, suaranya sangat dalam dan begitu sensual. "Aku ingin kau menikmati dan merasakan setiap pertarungan ini."
"Heeeehhh...per-tarungan?'' Yara mendesah panjang dengan ekspresi gugup.
Hanya mendengar kata-kata itu saja, Yara seperti merasakan sensasi yang berbeda. Ia benar-benar tidak tahu pertarungan itu seperti apa. Ia hanya pasrah dan menunggu dengan gairah yang semakin terbakar dan membara. Bisikan penuh hasrat dengan kata-kata sensual membuat hatinya semakin bergejolak dan batinnya semakin menjerit. Dada Yara semakin naik turun ketika Frey bermain-main di dadanya. Tubuhnya melengkung ke atas. Suara Yara keluar semakin terbata.
"Sayang...." Hanya itu yang sanggup keluarkan dari mulut Yara.
Ciuman dan gerakan tangan Frey begitu seirama. Tubuh Yara melengkung lagi ke atas, menahan aliran listrik di setiap sentuhan suaminya. Napas Yara semakin tersendat-sendat.
"Aku sudah tidak kuat lagi." Yara menangkup pipi suaminya. "Aku mohon, lakukan secepatnya." Ucap Yara saat merasa tubuhnya terbakar dengan sengatan dahsyat.
Frey mengusap rambut istrinya ke atas. Lalu mencium bibir Yara kembali. Dengan Lmatan dan jelajah lingual yang dalam. Frey pun tidak kuat lagi. Ia mengerang dan menyatukan dirinya dengan istrinya.
Frey ikut mengerang di sana, dagunya terangkat ke atas, punggungnya melengkung menjauhi kasur. Rasa keram yang berakar menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia mencengkram lengan Frey begitu kuat. Ia sampai sulit bernapas, matanya tertutup rapat. Frey terus memenuhi tubuh istrinya dan irama gelombang cinta yang semakin bergelora. Membuat Yara mengeluarkan suara erangan panjang. Ia mengencangkan rahangnya. Matanya nanar menatap suaminya.
"Aku mencintaimu, suamiku...." ucap Yara saat tubuhnya mengejang setiap kali terjadi dorongan.
Gelora asmara ini semakin cepat dan menuntut. Hingga saatnya tuntunan itupun terlepas. Mereka sama-sama mengeluarkan keringat yang membasahi tubuh. Mereka mengeluarkan napas panjang dan tersenyum bahagia.
Frey menurunkan tubuhnya dan bersandar di dada istrinya. Tangannya mengelus masuk ke bawah punggung Yara. Ia memeluk dengan hangat. Saling menatap dengan penuh cinta.
"Aku juga mencintaimu, istriku." Ucap Frey tersenyum dan menangkup pipi istrinya, mengecup bibir Yara secara singkat dan berulang-ulang. Sampai membuat Yara tertawa menikmati kebahagiaan yang sempurna.
"Apa kita bisa melakukannya lagi?" Ucap Frey dengan senyuman nakalnya.
"Apa????"
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kesembilan aku 😍
__ADS_1
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^